
Ceklek
Zayna menoleh mendengar pintu ruangan terbuka. Apa itu Areksa.? Pikirnya. Setelah pintu ruangan itu terbuka ternyata bukan Areksa melainkan perawat.
Zayna yang melihat itu menjadi mendengus kesal.
Perawat itu berjalan menghampiri Zayna. Gerak geriknya mencurigakan, tetapi tidak di sadari oleh Zayna.
"Bagaimana kondisi Nona.?" tanya perawat itu dengan tersenyum
"Seperti yang anda lihat. Tolong jangan panggil gue Nona, agak aneh" ucap Zayna
Perawat itu hanya mengangguk. Lalu mengeluarkan sebuah suntik. Melihat itu, Zayna langsung membulatkan matanya sempurna. Karena dari dulu Zayna takut yang namanya suntik.
Saat ia masih SD saja ketika petugas imunisasi datang. Zayna langsung kabur karena tidak mau di suntik. Katanya jarum suntik itu pasti akan menembus tulangnya. Membayangkan saja ia sudah ngilu.
"Dokter bilang untuk menyuntik anda, agar cepat sembuh" ucap perawat itu sudah siap menyuntik nya.
"Nggak.! Gue nggak suka di suntik.!" tolak Zayna
"Tapi ini demi kebaikan anda.!"
Zayna menatap perawat itu secara intens. Seperti ada aura yang tersembunyi dari perawat ini pikirnya.
"Saya bilang nggak ya nggak" tolaknya lagi
__ADS_1
"Ini tidak sakit.! Agar anda tenang.!" kilah perawat itu
"Kenapa sih Lo maksa.? Gue bilang nggak ya berarti nggak"
"T-tapi ---"
"Pergi.! Bilang sama dokter, gue nggak mau di suntik" titah Zayna kesal
Perawat itu menunduk, ia bingung harus membujuk Zayna bagaimana lagi.? Ia melakukan ini juga karena terpaksa.! Ia di bayar seseorang.
Siapa lagi kalau bukan Rena.? Ia sengaja membayar perawat yang sangat membutuhkan uang. Perawat itu sebenarnya tidak ingin mengambil tawaran Rena tetapi uang itu sangat penting, menunggu gajinya terlalu lama.
Dengan ragu ia menerima saja tawaran Rena. Semoga saja tidak ketahuan oleh pihak rumah sakit.
Rena sudah menunggu Zayna di suntik oleh racun yang sudah berada dalam suntikan tersebut.
"Gue bilang pergi.!" ucap Zayna sekali lagi
Ia merasakan ada yang tidak beres dengan perawat ini. Ia sedikit curiga.
Dengan berat hati, perawat itu keluar dengan lesu. Ia gagal.! Itu tandanya ia tidak mendapat bayaran dari Rena bukan.?
Sedangkan di sisi lain, Areksa tengah berada di mall terdekat dengan rumah sakit yang di tempati Zayna.
Ia membeli setangkai bunga mawar merah. Pasti gadisnya itu sudah menunggunya, ia menjadi semakin tak sabar ingin memberikan Bunga ini pertanda ia benar-benar mencintai Zayna.
__ADS_1
Tak lupa ia membawa paper bag entah isinya apa. Areksa dengan langkah tak sabar ingin segera menemui Zayna.
Bruukkk
Areksa tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Membuat bunga yang ia pegang jatuh. Lalu Areksa hendak memungut nya tetapi sebuah tangan menyentuh punggung tangannya.
"Sorry" ucap gadis yang tertabrak olehnya tadi
Areksa dengan cepat menarik tangannya kembali. Lalu mengambil bunga itu.
Gadis itu menatap bunga yang di ambil Areksa. Lalu gadis menatap Areksa.
"Loh ---- Areksa.!" pekik gadis itu yang tak lain adalah Bianca
Areksa yang mendengar suara itu pun langsung menatap gadis di sampingnya. Areksa menaikkan sebelah alisnya lalu berdiri.
"Lo masih kenal kan sama gue.? Nggak mungkin elo lupa.!" ucap Bianca
Ya, gadis itu yang tadi berada di rumah sakit karena menjenguk temannya yang berada di rumah sakit itu juga. Ia juga yang tak sengaja melihat Areksa dengan gadis yang berada di atas brankar.
"Gue Bianca teman SMA elo dulu.!" ucap Bianca, ia bahkan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Areksa. Berharap Areksa menerima uluran tangan itu, tetapi sepertinya tidak.
Bianca yang tidak mendapat uluran tangan kembali menariknya. Memalukan.!
Areksa hanya menatap datar gadis di depannya ini. Wajahnya memang tidak seperti Fanya yang seperti ondel-ondel. Bianca memang cantik, di sekolahannya dulu ia bahkan menjadi primadona.
__ADS_1
Tetapi kecantikan Bianca dengan Zayna Aghnia.? Entahlah, Zayna jika tidak menggunakan hijab pasti kaum Adam akan terpesona melihat ciptaan Tuhannya.
Selain Fanya yang menyukai Areksa, Bianca juga menyukai Areksa tetapi dalam diam. Ia tak berani mengutarakan isi hatinya pada Areksa. Ia takut jika di tolak. Ia lebih memilih memendam perasaan ini sendiri.