
Zayna langsung melirik Areksa yang kini menunduk. Mungkin ia malu. Zayna hampir saja tertawa melihat Areksa yang seperti itu.
"Kalian semua keluar dulu, Zayna mau bicara empat mata.!" ucap Zayna melirik Areksa.
"Tapi bunda masih ingin ---"
"Udah Nis.! Ayoo, mereka mau berduaan. Jadi jangan ganggu dua pasutri ini" bisik Indra membuat Anis terkekeh geli
Akhirnya mereka semua keluar, tinggallah di sini Areksa dan Zayna.
Zayna hanya diam saja sembari menatap langit-langit ruangannya. Areksa sendiri bingung dengan Zayna. Bukannya tadi Zayna yang ingin bicara empat mata.? Mengapa ia sekarang hanya diam saja.?
"Ekheemmm.. kamu tadi mau ngomong apa.?" tanya Areksa kemudian
Zayna jadi bingung sendiri, mengapa ia tadi bicara seperti itu.?
Zayna menoleh ke arah lelaki di sampingnya ini. Zayna mempunyai ide buat ngerjain Areksa.
"Aduuuhhh.. kok kepala ku pusing ya.?" akting Zayna menyentuh kepalanya yang di perban.
Areksa seketika panik, lalu menyentuh kepala Zayna. "Aww.. jangan di pegang.! tambah sakit nihh" keluh Zayna masih dengan mode aktingnya.
"Aku panggilkan dokter ya.? Aku takut terjadi sesuatu sama kamu.!" Areksa yang khawatir langsung hendak pergi, tetapi tangannya di tahan oleh Zayna.
Membuat Areksa menoleh ke arah Zayna.
"Nggak usah.!" tolak Zayna
"Kamu harus di periksa lagi"
"Nggak.! Aku.... Cuma nge-prank kamu..." ucap Zayna cengengesan
Membuat Areksa sedikit geram dengan Zayna, bisa-bisanya ia di buat panik dan khawatir, tetapi malah Zayna cuma berbohong.
__ADS_1
"Kamu marah yaa.? Maaf.." lirih Zayna, ia jadi merasa bersalah karena sudah nge-prank Areksa.
Karena wajah Areksa yang semula ceria menjadi datar.
"Kamu suka bikin aku khawatir.?" tanya Areksa dengan nada dinginnya.
"B-bukan begitu aku cuma ---"
Ting
Terdengar suara ponsel milik Areksa berbunyi, ia merogoh ponselnya. Lalu membuka pesan yang di kirim oleh seseorang.
[ kita sudah menemukannya Tuan, sekarang sudah ada di tempat yang sudah kami siapkan seperti perintah Tuan ]
Itulah pesan yang di kirim oleh anak buah Areksa.
Areksa lalu menoleh ke arah Zayna yang masih diam. "Aku mau pergi sebentar.! Kamu di sini sama bunda dulu, ada sesuatu yang harus ku kerjakan" ucap Areksa memandang Zayna.
"Kamu nggak perlu tau, aku cuma sebentar kok$.!" ucap Areksa dengan tersenyum paksa dan mengelus pucuk kepala Zayna yang mengenakan hijab. Sebenarnya Areksa masih ingin bersama Zayna, tetapi keadaan yang sangat mendesak.
Zayna hanya mengangguk, lalu Areksa keluar dari ruangan itu.
'Apa Areksa marah ya, gegara aku gue tadi.?' batin Zayna menatap Areksa yang sudah tak terlihat.
.
.
.
Di sisi lain, seorang gadis sedang di ikat di kursi serta mulutnya yang di sumpal dengan lakban. Gadis itu sedari tadi berontak minta di lepaskan. Tetapi ia hanya sendiri, karena ia berada di ruang yang sepi.
Seperti ruang bawah tanah. Gadis itu di masukkan di dalam jeruji besi seperti tahanan.
__ADS_1
"Hhmmmppptt...!" Ia terus berusaha berteriak, tetapi tidak bisa karena mulutnya yang di sumpal.
Tak lama, datang lah dua orang berbadan kekar melangkah mendekati gadis yang di ikat tersebut, lalu membuka jeruji itu untuk seseorang.
"Ini Tuan" ucapnya mempersilahkan
Gadis itu mendongak, menatap tiga orang itu dengan nyalang.
'Siapa mereka.? Berani-beraninya nyulik gue.?' batin gadis itu
Lelaki dengan postur tubuh tinggi sekitar 180 cm itu menghampiri gadis yang masih terikat dengan kursi.
Lelaki itu seperti tidak asing di mata gadis itu. Dari postur tubuhnya sangat ia kenali. Tapi siapa.? Karena lelaki itu memakai topeng berwarna putih untuk menutupi wajahnya.
"Bagaimana rasanya di sekap.?" tanya lelaki itu, gadis itu sangat familiar dengan suara nya.
"Hhmmmppphhhtt....!"
"Ohh iya, Lo nggak bisa ngomong.!"
Lelaki bertopeng itu lalu berjalan mendekat ke arah gadis yang terikat. Lalu dengan kasarnya, ia menarik lakban itu dengan sangat kasar.
Membuat gadis itu merintih, serta bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"SIAPA LO.? LEPAS BANGS*T.?" teriak gadis itu murka
"Berani Lo bicara seperti itu lagi ke gue.! Gue akan buat Lo bakal nggak bisa ngomong untuk selamanya.!" geram lelaki itu.
"Gue nggak takut.! Coba aja kalo berani.!" ucap gadis itu menantang
"Ternyata seorang Fanya berani juga" ucap lelaki itu tersenyum miring.
Lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaket hoodie nya.
__ADS_1