
"Iya Bund" jawab Areksa
"Ayah mana.?" tanya Zayna karena tidak mendapati Indra
"Tadi ayah mu habis nganter bunda ke sini langsung pergi ke kantor, katanya ada sedikit masalah dan tidak bisa di handle selain ayah, nanti juga ke sini" jawab Anis
Zayna hanya mengangguk, Anis meletakkan tas itu di sofa. Netranya tak sengaja melihat dua buah keranjang pemberian kedua sahabat Zayna. Ia menoleh ke arah putrinya.
"Ini siapa yang ngasih buah.?" tanya Anis
Zayna lantas menatap Bundanya, harus jawab apa dia.?
"I-ituu.. dari Areksa.! Ya kan, Sa.?" Zayna melotot ke arah Areksa lalu mencubit lengannya untuk menjawab 'Iya'.
Areksa menatap Zayna, mengapa ia tak jujur saja.? Pikirnya. Areksa mengangguk sebagai jawaban.
"Ya ampun, kenapa belinya dua.? Satu aja sudah cukup" ucap Anis percaya
Mereka berdua tak menjawab karena bingung.
.
.
.
Di sisi lain, seorang gadis sedang di borgol oleh polisi atas kasus yang menyebabkan kecelakaan. Gadis itu tak lain adalah Fanya. Tadi Areksa menghubungi anak buahnya untuk membawa Fanya ke kantor polisi.
Karena tadi Areksa tidak bisa datang ke tempat di mana Fanya di sekap. Ia lebih ingin menjaga Zayna dari pada harus bertemu dengan Fanya, ia risih melihat sikap Fanya yang selalu mengejarnya.
"LEPAS" berontak Fanya saat ia akan di bawa di jeruji penjara
__ADS_1
"Diam" sentak polisi yang sudah kesal olehnya, karena Fanya sedari tadi terus berontak dan teriak.
"Ucapkan salam ku pada Areksa" ucap polisi muda pada anak buah Areksa, siapa lagi kalo bukan Bima.
Kini Fanya di masukkan ke dalam sel tahanan. Ia tak sendiri, masih ada beberapa tahanan juga.
"Woyy, buka.. gue nggak mau ada di sini.! Papi.! Mami.!" histerisnya.
Para tahanan yang lain merasa terusik oleh suara Fanya. Mereka berjumlah sekitar 5 orang dan di tambah Fanya menjadi 6 orang yang ada di dalam sel tersebut.
Salah satu wanita berbadan sedikit berisi berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Fanya yang masih teriak-teriak tidak jelas.
"Bisa diem nggak sih Lo.? Ganggu kita aja.?" sentak wanita itu geram. Fanya menoleh.
"Bukan urusan Lo.!" balas Fanya santai
Ke empat wanita yang masih duduk lesehan seketika berdiri mendengar ucapan Fanya yang terdengar menantang.
"Lo belom tau siapa kita.? Haahhh.!" tanya salah satu dari mereka.
"Nantangin nih orang" geram mereka
Tanpa basa-basi, wanita yang berbadan kurus berjalan melangkah ke arah Fanya, lalu menarik rambut Fanya secara tiba-tiba.
"Aauusshhh.! L-lepas sakit.!" teriak Fanya saat kini rambutnya di tarik kuat oleh wanita itu.
"Rasain Lo.! Ini akibatnya karena Lo udah berani sama kita" hardiknya
Lalu mereka menghajar Fanya secara bersama-sama. Membuat Fanya kelimpungan karena mendapat serangan bersama dari mereka.
Ingin membalas.? Tidak bisa, karena kedua tangannya kini di pegang oleh dua wanita. Ada yang menampar pipi Fanya, ada juga yang memberi bogeman di perut Fanya. Membuatnya mengaduh kesakitan.
__ADS_1
Kepala Fanya juga di benturkan ke tembok sampai keningnya mengeluarkan darah segar.
"Hahaha... Rasain.! Siapa suruh nantangin kita.?" ucap mereka di selingi tawa
Kini keadaan Fanya sudah tak bisa di katakan baik-baik saja. Seluruh tubuhnya sudah sakit semua.
"Apa yang kalian lakukan.?" suara tegas itu berasal dari polisi yang tadi sempat mendengar keributan di sel para wanita.
"Mau di tambah hukuman kalian.?" tegasnya lagi seraya membuka gembok. Lalu menghampiri Fanya yang sudah terkulai lemas tak berdaya.
.
.
.
Saat ini Fanya sudah berada di rumah sakit karena tubuhnya yang luka-luka. Lumayan parah juga, karena pelipisnya berdarah akibat ia di benturkan di tembok tadi.
Ceklek
"Fanya" pekik Rena histeris melihat kondisi putrinya yang seperti ini. Ia tadi di beri kabar oleh pihak rumah sakit jika putrinya yang bernama Fanya berada di rumah sakit.
"Bagaimana dok keadaan putri saya.?" tanya Rena khawatir
"Keadaan putri ibu tidak perlu di khawatirkan, hanya luka di keningnya saja tetapi sudah saya obati" ucap dokter
"Terima kasih dok"
Lalu dokter itu pun mengangguk dan pamit keluar
"Fanya apa yang terjadi pada mu.?" tanya Rena, karena kini Fanya masih menggunakan baju tahanan berwarna biru tua
__ADS_1
Fanya hanya bergeming, apa dia harus jujur.?
"Fanya.! Jawab Mami.!" ucap Rena sekali lagi