
"Emang kenapa.? Emang nggak boleh cium tangan tunangannya.?" Tanya balik Areksa
"I-iyaa tapi nggak gitu juga kali"
"Biarin"
"Ehh.. Gue mau ngomong sesuatu sama Lo.!" Ucap Zayna
"Apa.?"
"Elo pernah pacaran sebelumnya.?" Tanya Zayna
"Kenapa elo nanya gitu.?"
"Jawab ihh, jangan balik nanya" kesal Zayna
"Nggak, gue nggak pernah pacaran" jawab Areksa
Zayna menyipitkan matanya tidak percaya
"Kenapa.? Nggak percaya.?" Tanya Areksa melihat gelagat Zayna
"Iyaaa.. gue nggak percaya"
"Terserah Lo mau percaya atau tidak, intinya gue nggak pernah pacaran" ucap Areksa meyakinkan
"Aneh aja gitu, masak cowok kek Lo gak ada yang naksir.? Padahal elo kaya, tajir melintir, udah tam---" Zayna menggantung ucapannya, hampir saja keceplosan, bisa besar kepala nanti Areksa.
"Apa.?" Tanya Areksa menunggu ucapan Zayna yang menggantung
"Emm, maksud gue, mana mungkin nggak ada cewek yang naksir cowok kek Lo" ucap Zayna sedikit kikuk
"Banyak sih, tapi gue nya aja yang nggak mau"
"Kenapa.?"
"Yaa karena gue nggak suka sama mereka" jawab Areksa
"Menurut gue, cewek itu hanya menyusahkan dan membebani doang, makanya gue nggak pernah pacaran" lanjut Areksa.
Zayna menoleh ke arah Areksa "Apa.? Cewek hanya menyusahkan dan membebani.? Lah terus gue.?"
"Nggak, Lo beda" Zayna yang mendengar ucapan Areksa jadi bingung, beda apanya coba.?
"Maksudnya"
__ADS_1
"Intinya gitu, udah lupain aja" ucap Areksa
Dddrrrttt
Suara dering ponsel milik Zayna berdering, segera ia mengangkat telepon itu menjauh dari Areksa
"Bentar, gue mau angkat telepon dulu dari Bunda" bisik Zayna
Kini Zayna berada di balkon kamar Areksa
"Iyaa.. hallo Bund"
[ Assalamu'alaikum, kamu selalu lupa setiap Bunda telepon, kamu harus mengucapkan salam dulu ] omel Anis pada putrinya
"Iya iya maaf Bund, Zayna lupa"
[ Ayok cepat ucap salam dulu ] titah Anis di sebrang sana
Dengan malas Zayna menuruti ucapan sang Bunda, jangan lupa Zayna ini anak sedikit berandalan dan bar bar. ia di suruh berhijrah oleh Bunda dan Ayahnya. Jadi ia belum sepenuhnya seperti wanita bercadar.
"As-assal ehh Assalamu'alaikum Bunda" salam Zayna kikuk
[ Wa'alaikumsalam, nah gitu, tapi jangan salah salah okey. ]
"Iyaa Bund"
"Kan Zayna udah bilang, Zayna main ke rumah Nabil"
[ Halah Nabil.? Tadi aja Nabil dateng ke sini nyariin kamu ]
Gleeekkk
Tenggorokan Zayna tercekat, kalau sudah seperti ini bagaimana ia akan mengelak.?
[ Kenapa diem aja.? Bener kan apa yang Bunda katakan ]
Zayna masih belum menjawab, ia bingung harus menjawab apa.?
"Emm.. m-maaf Bund, Zayna memang nggak ke rumah Nabil"
[ Terus, pasti kamu ke markas berandalan mu itu kan.? ]
"Nggak Bund, Zayna cuma jalan jalan di -- taman" ucap Zayna berbohong
[ Sama siapa.? ]
__ADS_1
"Sendiri"
[ Bunda nggak bisa kamu bohongi, kemarin Bunda sama Ayah tau kamu habis berkelahi lagi kan sama preman.? Itu berbahaya Na.! Bunda takutnya kamu kenapa napa ]
Sedangkan Zayna sudah menelan ludahnya susah payah. Pasti orang tuanya mengirim orang untuk memata-matai nya
"B-bunda i-itu --"
[ Pulang Sekarang ] titah Anis tidak mau di bantah
"I-iya Bund"
Zayna segera mematikan sambungan teleponnya, bahkan ia lupa mengucapkan salam terakhirnya.
"Areksa gue pamit pulang dulu, Bunda nyariin " ucap Zayna lesu
Areksa bisa melihat raut wajah Zayna yang tidak bersemangat.
"Are you Okey.?"
Zayna hanya mengangguk
"Gue anter"
.
.
.
.
Saat ini, Zayna sudah sampai di tempat mobilnya yang terparkir. Zayna melangkah menuju mobilnya berada. Tetapi sebelum itu, Areksa menahan tangan Zayna, membuat Zayna berbalik badan.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Zayna, membuat jantung Zayna kembali berdetak tak karuan, untung di sini suasananya sepi. Jika tidak, ia sudah malu.
Sudah kedua kalinya Areksa menciumnya
"Udah, jangan di tekuk lagi tuh muka" ucap Areksa
Zayna rasanya ingin menghilang saja saat ini, karena ia malu, salting, semua campur menjadi satu.
Zayna segera berlari kecil ke arah mobilnya, ia sama sekali tidak menoleh ke arah Areksa yang saat ini tengah mengulum bibirnya menahan senyum, melihat Zayna yang menggemaskan menurutnya.
__ADS_1
'Gue harap, Lo punya persiapan yang sama' batin Areksa
Kini Zayna sudah berada di perjalanan, ia terus saja salting. Mengingat kejadian tadi.