
______________
Seorang lelaki tampan dengan tampang yang selalu dingin itu sedang melajukan mobilnya ke suatu tempat. Lalu memarkirkan mobilnya itu tepat di depan sebuah gedung tinggi yang sudah lama terbengkalai.
Apalagi gedung itu jauh dari kota, gedung itu berada di dekat hutan. Lelaki itu turun dari mobilnya lalu melangkah berjalan masuk.
"Selamat datang Tuan" penjaga gedung itu membungkukkan sedikit badannya ketika melihat sosok yang di segani itu.
Lelaki itu tak menjawab, terus melangkah masuk dengan sorot mata tajam siap menghunus siapa saja.
"T-Tuan sudah dat....."
Bugh
Lelaki itu tanpa aba-aba langsung memberi bogeman mentah pada anak buahnya yang di percaya.
"KENAPA ELO BISA GAGAL HAH.? LO ITU NIAT KERJA NGGAK.?" lelaki itu menatap tajam anak buahnya yang bernama Tommy
Sedangkan Tommy hanya menunduk takut menatap Tuannya. "T-Tuan Areksa.! Saya sudah meretas data-data itu tetapi tetep tidak bisa menembusnya" jelasnya takut-takut sembari menyentuh pipinya yang habis di beri tonjokkan.
Lelaki itu adalah Areksa. "Bagaiman pun caranya Lo harus bisa dapetin informasi itu" desisnya tajam
"T-rapi Tuan. S-sepertinya pelaku itu bekerja sama dengan orang yang pandai seperti hacker" jelasnya lagi dengan suara gemetar
Areksa mendesis. "Gue nggak mau tau.! Lo harus bisa dapetin pelaku brengs*k itu, lalu bawa ke hadapan gue" ucapnya tegas.
Tommy hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Satu lagi, jika elo nggak dapetin siapa pelaku itu.! Maka gue akan buat hidup Lo nggak akan bertahan lama" setelah mengatakan itu Areksa pergi.
"Bagaimana ini.?" gumam Tommy lirih
________
Kini Zayna Aghnia sedang duduk santai di sofa sembari bermain ponsel. Ahh iya, Zayna baru ingat.! Hari ini sudah sore, pasti motor yang ia bawa ke bengkel Bang Jamal sudah siap.
"Apa gue ke sana dulu ya.?" gumamnya sembari mengetuk-ngetuk meja kaca dengan jemarinya.
Saat ia hendak bangkit, suara ponselnya berdering. Lalu ia menatap layar ponselnya. Seketika netranya membulat sempurna ketika melihat 'Areksa' ingin Video call dengannya.
Bukan.! Bukan karena ia malas, tetapi sekarang ini penampilannya sedang tidak memakai hijab. Bisa gawat nanti, pikir Zayna.
"Aduuuhhh... Angkat nggak ya.?" gumamnya gelisah
"Kenapa nggak di angkat.? Lagi sama siapa.?" cerca lelaki itu dengan nada kesal.
"Ohh, t-tadi gue habis mandi, jadi nggak kedengaran" dustanya.
Wajah Areksa dari balik ponsel Zayna terlihat kesal dan cemberut. "Kenapa.?, Marah.?" tanya Zayna
"Menurut kamu.?" Areksa malah balik tanya dengan wajah sok juteknya.
"Ya.... Maaf.!, Gue nggak tau tadi"
"Baby girl apa aku boleh ke sana.?" tanya Areksa mengabaikan ucapan Areksa.
__ADS_1
"B-boleh, emang nggak kerja.?"
"Nggak"
"Kenapa.?"
"Mager"
"Iisshhh... Kok gitu sih.?" Sekarang giliran Zayna yang cemberut
"Kenapa.? Takut kalo nggak bisa nafkahi calon istri.?" Areksa tersenyum menggoda membuat gadis itu memalingkan wajahnya.
"Apaan sih"
"Cantik" ucap Areksa keceplosan membuatnya gugup seketika
Zayna menaikkan sebelah alisnya. Lalu menatap wajah tampan lelaki itu di balik ponselnya.
"Ohh iya dong, gue ini emang sejak lahir udah cantik, makanya gue sekarang cantik.! Iya kan.?" Zayna kembali ke dirinya yang PD
Areksa terkekeh mendengar ucapan gadisnya yang memuji dirinya sendiri. Biasanya gadis lain akan malu atau salting saat di puji seperti itu. Tetapi tidak dengan Zayna Aghnia.
"Hmmm, calon istri ku memang cantik"
Zayna sebenarnya salting sih di puji seperti itu. Tapi ia berusaha untuk menutupinya. "Ohh iyaa, makasih gue ini emang cuuaantik" Zayna berlagak sok cantik.
Areksa kembali terkekeh geli. "Ya udah, aku ke sana baby girl" setelahnya sambungan telpon pun terputus.
__ADS_1
Zayna berguling-guling di atas kasurnya seperti orang kesurupan. "Aaakkkhhh...... Kenapa sih, tuh orang cuma ngomong gitu aja bikin gue salting, aaaarrrggghhhh......" wajah Zayna sudah merona seperti kepiting rebus.