
"Rita, hanya kamu yang bisa aku andalkan untuk memulihkan keadaan putriku, kamu juga menyayanginya juga kan.?" ucap Rena memohon
"Aku memang menyayangi Fanya, tetapi aku tidak bisa membantu mu jika itu bersangkutan dengan Areksa. Pasti kamu sudah tau kan jawaban Areksa apa.? Ia saja tidak mau di sentuh oleh Fanya, apalagi harus menemui Fanya di rumah sakit jiwa. Nanti Areksa ilfil" ucap Rita.
Itu hanya sebuah alasan Rita agar ia tidak terlibat dalam masalah ini. Ia tidak mau jika putranya itu menemui Fanya yang sekarang gila itu. Apa nanti kata orang.? Pikirnya.
Rena menatap Rita tak percaya. "Ta, kenapa kamu sekarang berubah.? Kenapa kamu sekarang nggak mau bantu Fanya.? Ohh... Aku tauu... Apa karena Fanya seperti itu makanya kamu nggak mau bantu.?" tebak Rena
"Areksa sekarang sudah punya tunangan bukan.? Sebentar dia akan menikah, jadi.... Aku nggak berani meminta Areksa untuk menemui Fanya. Maaf kalo sekarang ini aku nggak bisa bantu kamu, Ren" jelas Rita membuat Rena menatap Rita tidak suka.
"Okey.! Nggak papa kalo kamu nggak mau bantu aku" Rena berdiri, sebelum itu ia sempat mengambil tas nya lalu berjalan meninggalkan Rita.
"Cuiihhh,, dia pikir aku mau begitu jika Fanya sudah seperti itu.! Gila ya tetap aja gila.!" ucap Rita seorang diri.
Kini Rena sedang bingung memikirkan bagaimana ia bisa membuat Fanya kembali seperti dulu.? Dan... Bagaimana ia akan menjelaskannya kepada suaminya nanti.?
"Dasar Rita.! Gak guna banget,! Sekarang dia nggak mau bantu aku lagi.!" geram Rena
.
.
.
Sekarang Zayna ingin ke kantor Areksa``Group. Entah mengapa rasanya ingin sekali memberi surprise kedatangannya. Ia tidak bilang terlebih dulu pada Areksa jika ia ingin ke perusahaannya. Ia juga membawa paper bag berisi makanan karena ini jam makan siang. Pasti Areksa belum makan.
Sedangkan di perusahaan Areksa``Group. Areksa terlihat sangat sibuk setelah habis meeting dengan clien dari luar negeri. Ia kini sedang menatap layar laptop nya dengan serius.
__ADS_1
Tokk
Tokk
Tokk
Fokusnya buyar ketika mendengar suara ketukan pintu ruangannya. "Masuk" titahnya.
Terlihat Fatir berada di ambang pintu. "Ada yang mencari anda Tuan. Katanya ingin bertemu dengan Tuan" ucap Fatir
"Siapa.?"
"Saya tidak tau Tuan"
"Hmmm, suruh masuk" titahnya pada Fatir
Beberapa menit, ruangan pintu Areksa terketuk kembali lalu perlahan terbuka.
Areksa saat ini masih fokus pada layar laptop nya. Sehingga ia tidak melihat siapa yang datang menemuinya.
"Haii Areksa.!"
Degh
Areksa langsung mendongak menatap siapa yang memanggilnya. Netra tajamnya itu menatap seorang gadis dengan pakaian tidak terlalu seksi. Karena gadis itu tau Areksa tidak menyukai wanita berbaju seksi.
"Gue ke sini cuma nganterin makan siang ini. Gue tau pasti elo belum makan kan.?" ucap gadis itu yang tak lain Bianca
__ADS_1
Areksa berdiri. "Gue nggak butuh.! Pergi" titah Areksa pada Bianca
Tetapi Bianca jika tidak bisa mendapatkan keinginannya. Ia akan menggunakan cara apapun untuk mengambil hati Areksa.
"Kenapa.? Gue udah susah-susah buat masakin makan siang ini, tapi elo nggak mau" ucap Bianca
"Ck, siapa yang nyuruh buat masakin.? Gue nggak nyuruh elo kan.?" Areksa menatap gadis di depannya dingin
Bianca meletakkan rantang itu di atas meja dekat sofa. Lalu ia berjalan ke arah Areksa yang masih berdiri di dekat meja kerjanya.
"Sa.! Terima pemberian gue kali ini aja" Bianca berjalan mendekat ke arah Areksa.
"Jangan mendekat atau elo gue paksa untuk keluar" sentak Areksa geram. Matanya sudah memerah menahan amarah. Mengapa harus wanita sialan ini yang datang ke perusahaannya sih.? Bikin gak mood aja.
Bertepatan itu, ada yang membuka pintu ruangan itu tanpa di ketuk dahulu. Sedangkan dua orang di dalam tidak tau.
Bianca tidak peduli dengan sentakan Areksa tadi. Ia tetap berjalan mendekati lelaki itu. Hingga Bianca tidak dapat mengimbangi dirinya, sehingga ia jatuh menubruk dada bidang Areksa. Membuat lelaki itu terduduk, posisi Bianca sekarang berada di pangkuan Areksa dengan tangannya melingkar di leher lelaki itu.
Ceklek
Seorang gadis dengan cadar serta hijab panjang itu sedang menyembulkan kepalanya di pintu ruangan milik Areksa. Siapa lagi kalo bukan Zayna Aghnia.?
Zayna terpaku ketika melihat pemandangan yang sangat tidak terduga. Dimana Bianca sedang menatap manik mata tunangannya. Entah mengapa dada Zayna terasa sesak seperti terhimpit batu besar ketika melihat adegan kedua kalinya.
'I-ituu kan wanita yang sama' batinnya
Bahkan ia tidak sadar menjatuhkan paper bag yang ia bawa untuk Areksa.
__ADS_1