
"Sebentar lagi Kak meetingnya di mulai, mungkin 10 menitan" ucap resepsionis itu
"Ruangan meetingnya di mana kalau boleh tau.?" Tanya Zayna sekali lagi
"Ada di lantai 3, di sana ada 4 ruang. Ruang meetingnya ada di sebelah kanan pojok"
Zayna mengangguk tidak lupa ia mengungkapkan terima kasih.
Sesampainya di lantai 3, ia mencari Ayahnya dan mendapati Aris yang masih berada di depan ruang meeting.
"Yah" panggil Zayna
Aris lantas menoleh, lalu menghampiri putrinya "Ada apa Nak.?" Tanya Aris
"Ini Yah, katanya Bunda berkas Ayah ketinggalan, dan kata Bunda ini sangat penting" Zayna menyodorkan sebuah Map kepada Aris
"Ohh iya Ayah lupa, terima kasih. kalau berkas ini nggak ada mungkin meetingnya akan tertunda" ucap Aris lega
Zayna hanya tersenyum
"Bisa kita mulai sekarang Tuan Aris meetingnya" ucap seseorang dari belakang
Lantas Zayna dan Aris menoleh bersamaan
Glekk
Zayna terpaku kala ia bertatapan dengan Areksa. Mata mereka bertemu.
Fatir dan Aris yang melihat itu jadi bingung "Tuan kenapa.?" Tanya Fatir
Seketika lamunan Areksa buyar, begitu pun dengan Zayna. Mereka sama sama membuang muka ke arah lain. Maluku
Areksa tidak menjawab pertanyaan Fatir. Areksa segera berjalan dan ia sempat melewati Zayna
'Kenapa elo sekarang nggak pakek cadar.?' batin Areksa melirik Zayna yang hanya menggunakan hijab dan mulut hidungnya menggunakan masker.
"Ayah meeting dulu ya, kamu pulang saja" ucap Aris
Zayna mengangguk, lalu pergi dari sana
__ADS_1
Saat Zayna ingin melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Nona tunggu.!"
Zayna berbalik badan, mendapati satu orang lelaki yang sedang menghampirinya.
Zayna menaikkan sebelah alisnya
"Nona di suruh Tuan untuk menunggu di ruangannya" ucapan lelaki itu membuat Zayna bingung
Tuan.? Tuan siapa.? Pikirnya
Dan ruangan mana.? Di mana.?
"Tuan.? Tuan siapa.?" Tanya Zayna
"Tuan Areksa, tadi Tuan chat saya untuk memberitahu Nona untuk menunggu di ruangannya" jelas lelaki itu
"Ruangan yang mana.?"
"Mari saya antar Nona"
Kenapa coba, Areksa menyuruh menunggunya di ruangannya.? Padahal dia meeting.
"Nona ini apanya Tuan ya.? Nggak biasanya loh Tuan ngijinin seorang wanita masuk ke ruangannya" oceh lelaki itu sepanjang perjalanan
Zayna yang juga baru tau, kalau perusahaan ini milik Areksa, padahal sudah jelas nama perusahaannya Areksa``Group.
Zayna tidak berniat menjawab pertanyaan lelaki di depannya, Mau jawab apa dia.?
"ini ruangan Tuan Areksa, silahkan masuk Nona" ucap lelaki itu membuka pintu
"Nona harus menunggu Tuan selesai meeting"
Setelah mengatakan itu, lelaki itu pergi meninggalkan Zayna sendiri di ruangan luas milik Areksa.
Sumpah Zayna bingung harus ngapain di sini sendiri, lagian ngapain coba Areksa nyuruhnya menunggu di sini.? Kurang kerjaan aja.
Zayna duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Ruangan yang luas, dan semua tertata rapi.
__ADS_1
"Bosen gue mau ngapain.? Mau main hp.? Ketinggalan"
Zayna tadi tidak sempat membawa hp, karena Bundanya terus mendesaknya untuk mengantarkan berkas milik Aris
"Awas aja tuh si Areksa.! Ngapain coba nyuruh gue nunggu di sini.?" desisnya
Zayna pun hanya duduk di sofa, seperti orang hilang. Tak terasa matanya tiba-tiba berat, tadi malam ia pulang dari masjid bersama ustadzah Hanum pukul 20.30 malam.
Setelah sampai rumah, Zayna malah nonton drakor, jadi ia begadang kurang tidur.
Zayna pun berbaring di sofa memejamkan matanya.
.
.
.
Areksa kini sudah selesai meeting, ia pergi ke ruangannya.
Ceklek
Saat ia menoleh, ia terkejut mendapati Zayna tertidur pulas di sofa. ia baru ingat jika tadi ia menyuruh seseorang untuk memberitahu Zayna agar menunggunya.
Areksa mendekat ke arah Zayna yang sedang tertidur pulas, rasanya tidak tega membangunkan Zayna saat masih tertidur nyenyak.
Areksa berjokok lalu menatap wajah damai Zayna saat tertidur
"Gue harap, elo bisa mencintai gue seperti gue mencintai elo" ucap Areksa lalu tersenyum tipis
Karena Areksa tidak tega melihat Zayna tidur di sofa. Ia lantas menggendong tubuh mungil Zayna untuk di bawa ke sebuah ruangan.
Sepertinya Zayna memang mengantuk, sampai di gendong pun ia tidak sadar.
Areksa meletakkan tubuh Zayna hati-hati di atas kasur, di ruangan Areksa, memang ada kamar tersembunyi, hanya ia yang tau.
Kemudian Areksa pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, Zayna mengerjapkan matanya. Ia mengernyitkan dahinya melihat sekeliling
__ADS_1