Gadis Bercadar Milik CEO Tampan

Gadis Bercadar Milik CEO Tampan
Bab 48


__ADS_3

"Lepas" desisnya dengan suara yang di buat buat. Areksa yang sadar langsung melepas cekalan di tangan Zayna. Ia ingin tau, siapa orang yang berada di balik helm ini.


"Lo ---- cewek kan.?"


Zayna tidak menanggapi pertanyaan Areksa, padahal sudah jelas dari postur tubuhnya cewek. Mengapa masih bertanya.? Pikirnya.


Zayna tak mau membuang kesempatan, ia segera berjalan dengan sedikit berlari menuju motornya.


"Tunggu.!" Areksa ingin mengejar gadis itu. Tetapi Zayna sudah tancap gas meninggalkannya. Kini Zayna mengendarai sport motornya seperti kesetanan.


"Hampir aja gue ketahuan" gumamnya


Sedangkan kini Areksa mengotak-atik ponselnya menghubungi seseorang. Lalu kembali mengendarai mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


.


.


.


Keesokan harinya, seorang gadis cantik sedang asik bergelung di dalam selimutnya. Siapa lagi kalo bukan Zayna Aghnia. Malam tadi ia menelpon kedua orang tuanya meminta ijin menginap di rumah temannya. Padahal ia sudah berjanji untuk segera pulang malam itu.


Tetapi ia harus mengantarkan motor sport nya ke apartemen miliknya. Zayna memang memiliki apartemen sendiri. Bahkan kedua orang tuanya saja tidak tau jika Zayna memiliki apartemen.


Ia membeli apartemen itu dengan uangnya sendiri hasil menang perlombaan. Sebenarnya Anis tidak memberikan ijin untuknya. Tetapi Zayna terus saja memohon untuk di ijinkan dengan cara apapun. Akhirnya Indra memberi ijin, betapa senangnya Zayna mendapatkan ijin dari Ayahnya.


Ayahnya memang sangat pengertian, tidak seperti Bundanya yang harus mematuhi ucapannya.


Zayna masih saja bergelung dengan selimutnya sembari memeluk guling.


Dddrrrttt


Zayna tidak mendengarkan dering ponselnya, ia masih menyelam ke dunia mimpi.


Dddrrrttt

__ADS_1


Lagi, dering ponsel milik Zayna berbunyi lagi, hingga membuat gadis itu terusik, ia menggeliat.


"Eeuuugghh..." lenguh nya.


Dengan malas ia meraba ponselnya yang berada di atas nakas.


"Mana sih.?" gumamnya meraba-raba ponselnya tetapi tidak ada.


Ia malas membuka mata karena masih terasa ngantuk.


Dddrrrttt


Ponselnya kembali berdering. Ternyata ponsel itu berada di sampingnya. Ia segera mengambil ponsel itu.


Ia tidak melihat dulu siapa yang menelponnya. Ia dengan malas menggeser ikon berwarna hijau.


"Hmm.?"


"...."


Zayna langsung membulat ketika mendengar suara Areksa yang menelponnya ia segera bangkit dari tidurnya menjadi duduk. Zayna mengucek matanya yang masih terasa berat. "I-iyaa.? Apa.?"


"......"


"....."


"Nggak usah, nanti aku pulang sendiri kok" jawab Zayna cepat ketika Areksa akan menjemputnya


"......"


"Belum"


"....."


"Nanti, lagian aku belum laper"

__ADS_1


"....."


"I love you too" balas Zayna sedikit berbisik


Lalu ia mengakhiri panggilan teleponnya. Tungguuuu...


Zayna tadi mengatakan apa pada Areksa.? Ia menggelengkan kelapanya cepat.


"Aaakkkhhh.... Apa yang Lo katakan ke Areksa, Na.?" frustasinya.


Ia benar-benar tidak sadar saat mengatakan itu, tadi ia saja menerima telepon sambil memejamkan mata.


"Iisshhh... Kalo gini udah nggak bisa tidur lagi" gerutunya beranjak dari kasur.


Zayna masih mengenakan piyama, kalau di apartemen ia bisa bebas melakukan apapun. Kini ia saja tak memakai cadar atau pun hijab. Zayna berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri agar terlihat lebih fresh.


.


.


.


Di sisi lain, seorang gadis dengan baju tahanan sedang di bawa oleh satu anggota polisi. Ia akan di bawa ke kantor polisi lagi setelah pulang dari rumah sakit. Gadis itu berfikir sejenak, bagaimana caranya agar ia bisa kabur.? Ini kesempatan yang bagus, karena hanya ada satu polisi saja yang membawanya.


"Aduuhhh Pak.! Saya kebelet nih, mau ke toilet dulu bentar" alasannya pada polisi itu.


"Kenapa nggak tadi pas di rumah sakit.?" tanya polisi itu


"Kan tadi belum ke belet Pak" jawab gadis itu yang tak lain adalah Fanya.


"Saya nggak percaya sama kamu.!" ucap polisi itu dengan tegas.


"Iihhh, kok gitu sih Pak.? Nanti kalo saya buang air kecil di sini emang bapak mau tanggung jawab.?" desaknya


Polisi itu nampak menghela nafas, ia tidak mau di kecoh oleh tahanannya. Tapi apakah Fanya beneran ingin buang air kecil.? Pikirnya.

__ADS_1


"Ya sudah.! Tapi saya pantau.! Awas kalau kabur, hukumannya akan di tambah.!" ancam sang polisi


Fanya mengangguk tersenyum sumringah. 'Dasar polisi payah' batinnya.


__ADS_2