
Ucapan Zayna tempo hari membuat Areksa semakin frustasi. Masih terngiang-ngiang dalam fikiran Areksa. Mata tajam itu sekarang berubah menjadi merah.
Areksa sudah sangat mencintai Zayna, walau cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Tapi ia akan berusaha membuat Zayna agar mencintai nya.
Areksa mendongak, agar air matanya tak jatuh. Walau ia itu terkenal kejam, dingin tapi setiap manusia itu pasti ada kelemahannya. Tidak mungkin akan terlihat kuat terus.
"Indra, Anis.! Bagaimana keadaan Zayna.?" tanya Abriel panik, ia tadi sempat di hubungi oleh Fatir atas perintah Areksa.
Rita juga ikut datang, ada sedikit rasa khawatir di wajahnya. Tetapi semua orang tak menyadari itu. Indra hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Abriel.
Areksa merogoh ponsel di saku jasnya. Lalu menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang kecelakaan yang di alami Zayna.
Mobil yang di kendarai oleh Zayna tadi, sudah hancur di bagian kap depan mobil. Mobil itu rusak parah.
Ceklek
Pintu ruangan IGD terbuka, menampakkan seorang dokter dengan seragam serba putihnya.
Areksa langsung mendekat ke arah sang dokter. Begitu juga dengan para orang tuanya.
"Bagaimana keadaan Zayna dok.?" tanya Areksa tak sabar
"Keadaan pasien saat ini sedang kritis, benturan yang cukup parah di bagian kepalanya sudah kami perban. Dan.... Beberapa luka di tubuh pasien juga.?" jelas dokter tersebut.
__ADS_1
Kedua orang tua Zayna yang mendengar jika putrinya kritis, sangat terpuruk. Apalagi Anis yang semakin terisak.
"Mas.! A-aku mau lihat kondisi Zayna.! Hiks..." pinta Anis teriak kembali
Kini kedua matanya sudah sembab akibat terlalu lama menangis.
"Dok... Apa boleh kami masuk.?" tanya Indra
"Tentu.. tapi hanya satu orang yang boleh masuk.! Karena pasien sedang kritis dan butuh ketenangan. Setelah nanti pasien sadar, kami akan memindahkan di ruang rawat.! Kalian boleh masuk secara bergantian " jelas dokter
Anis melemas, entah mengapa tubuhnya lemas untuk berdiri saja. Tiba-tiba Anis pingsan, untung saja Indra dengan cepat menangkap tubuh sang istri.
"Bangun Nis.! Dok istri saya kenapa.?" panik Indra
"Sepertinya istri bapak pingsan, mari ikut saya.!"
"Kalian boleh masuk, tapi bergilir" ucap sang dokter lalu pergi dengan di ikuti Indra di belakangnya.
"Yang sabar Sa.! Papa yakin Zayna akan baik-baik saja." ucap Abriel menenangkan putranya yang diam mematung.
Areksa meninggalkan kedua orang tuanya, ia berjalan ke ruang IGD untuk melihat kondisi Zayna.
Ceklek
__ADS_1
Areksa membuka pintu ruang IGD. Ia dapat melihat wajah pucat Zayna yang sedang terbaring di atas brankar tak sadarkan diri. Tetapi wajahnya tetap terlihat cantik.
Tubuh Areksa rasanya melemas melihat kondisi gadis yang ia cintai sedang terbaring tak sadarkan diri.
Areksa mendekat ke arah Zayna, lalu duduk di samping brankar yang terdapat kursi. Mata Areksa memanas melihat Zayna dengan bantuan peralatan rumah sakit.
Tes
Bulir bening jatuh begitu saja di pipi mulus Areksa. Entah mengapa ia menjadi cengeng seperti ini hanya karena seorang gadis.
Padahal sebelumnya ia tak pernah nangis. Ini lah pertama kalinya ia di buat menangis dengan seorang gadis. Mungkin ia takut kehilangan cinta pertamanya.
"Zayna... kenapa bisa seperti ini.? Aku nggak bisa lihat kamu seperti ini, jadi please Na.! Cepet sadar" ucap Areksa dengan suara seraknya menahan isak tangis.
Areksa meraih tangan kanan Zayna yang begitu dingin. Lalu menggenggamnya. Hatinya seperti di tusuk oleh ribuan anak panah. Begitu sakit melihat kondisi gadisnya seperti ini.
Cup
Areksa mengecup tangan Zayna dengan sayang. Ia bisa merasakan betapa dinginnya tangan Zayna saat ini.
"Na.! Kamu tau kan aku cinta sama kamu.? Walau kamu belum mencintai ku, aku tetap akan berjuang agar kamu bisa mencintai ku.! Aku nggak mau kehilangan kamu Na" tangis Areksa pecah setelah mengatakan itu.
Siapa sangka seorang Areksa bisa menangis seperti ini.? Ia sudah tidak memikirkan image nya lagi. Ia hanya ingin Zayna cepat kembali sembuh.
__ADS_1
"A-akuu... Menyayangi mu lebih dari apa pun Na.! Kamu adalah wanita yang membuat ku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kalau kamu pergi ninggalin aku di dunia ini, aku bakal ikut kamu pergi juga Na.!" Areksa masih terisak
Air matanya membanjiri seluruh wajah tampannya.