Gadis Bercadar Milik CEO Tampan

Gadis Bercadar Milik CEO Tampan
Bab 29


__ADS_3

"Kenapa kamu ngomong gitu.? Aku nggak suka kalau kamu ngomong seperti itu" ucap Areksa sedikit kesal dengan ucapan yang di katakan Zayna barusan.


Entahlah, ia seperti merasa bahwa sesuatu akan terjadi nantinya. Tapi semoga itu hanya perasaannya saja.


"Apapun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu.! Dan kamu nggak akan ninggalin aku.!" Ucap Areksa lagi


.


.


.


Dua hari kemudian


Kini Zayna sedang bersiap akan pergi ke kantor tunangannya. Siapa lagi kalo bukan Areksa.? Ia tadi sudah bilang dengan Areksa ingin ke kantor Areksa.


Dengan senang hati, Areksa menyuruh Zayna ke kantornya. Sebenarnya Areksa ingin menjemput Zayna, tetapi Zayna kekeuh ingin berangkat dengan mobilnya sendiri.


"Hayyoooo.... Mau ketemu sama tunangannya nih.!" goda Anis yang sedang duduk di sofa sembari memakan cemilan


"Apaan sih Bund, Zayna cuma ingin jalan-jalan aja di kantornya Areksa.! Bosen di rumah terus" ucap Zayna


"Bosen atau pengin ketemu.?" goda Anis lagi


"Tau ahh.!" Zayna menggerutu kesal


"Kamu naik mobil sendiri .? Nggak suruh Areksa jemput aja.?" tanya Anis


"Nggak lah, Areksa pasti lagi sibuk, tadinya sih dia mau jemput Zayna tapi Zayna mau bawa mobil sendiri aja" ucap Zayna


"Kamu hati-hati ya bawa mobilnya.! Bunda khawatir sama kamu, perasaan Bunda mendadak gak enak.! Mending kamu pesan taksi aja" ucap Anis


"Zayna nggak papa kok Bund, tenang aja.! Zayna bisa jaga diri"


"Apa kamu di antar sama pengawal Ayah mu saja.?" tawar Anis, karena ia begitu khawatir dengan putrinya. tiba-tiba saja perasaannya jadi nggak enak.

__ADS_1


Zayna menggeleng cepat. "Now.! Zayna bakal baik-baik aja kok Bund. Nanti Zayna bakal kabarin Bunda deh" ucap Zayna


Akhirnya Anis mengangguk dengan ragu. Lalu Zayna mencium punggung tangan Bundanya dan pergi.


"Semoga saja, Zayna beneran baik-baik saja.!" gumam Anis menatap punggung Zayna yang semakin menjauh.


.


.


.


Di perjalana, Zayna fokus menyetir. Ia pelan-pelan menyetir mobilnya. Karena pesan Bundanya tadi.


Dddrrrttt..


Ponsel Zayna berbunyi, lalu ia mengambil ponselnya yang berada di tas selempang yang ia bawa. Saat hendak meraih ponsel tersebut, ponselnya malah terjatuh membuat Zayna kesal.


Ternyata yang menelpon adalah Areksa. Zayna menatap depan. Aman. Tidak ada kendaraan, jadi Zayna sedikit berjongkok untuk mengambil ponselnya yang jatuh di dekat rem mobil.


Zayna segera mengangkat telpon itu. "Iyaa halo Sa"


Zayna kembali fokus menyetir, tetapi ia mendapati mobil box yang melaju di depannya secara mendadak.


Zayna panik, ia tak sempat menginjak rem mobilnya. Karena saking paniknya mobil box itu sudah berada di depannya.


Zayna membanting setir ke kanan untuk menghindari mobil box itu. Tetapi ia malah menabrak pembatas jalanan, beton.


"Aaaaaaaaa"


Bruukkk


.


.

__ADS_1


.


Seorang gadis sedang berbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Dengan bantuan peralatan rumah sakit. Layar monitor berbunyi secara teratur menandakan gadis itu masih bernafas.


Sedangkan di luar ruangan IGD tersebut, sudah ada pihak keluarganya yang sedang menunggu dengan cemas.


Ya, gadis yang tadi berada di brankar adalah Zayna Aghnia.


Pihak rumah sakit langsung menghubungi salah satu keluarga. Sudah hampir 2 jam Zayna belum sadar juga. Membuat mereka semua cemas.


"Hiks... Hiks... Mas.! Zaynaa.....!" Anis sedari tadi tak henti-hentinya menangis di pelukan sang suami.


"Percaya sama Mas, Zayna pasti baik-baik saja.!" ucap Indra menenangkan istrinya.


Walau ia sendiri hatinya sakit, melihat putri semata wayangnya kecelakaan. Tapi nanti siapa yang akan menenangkan istrinya jika ia ikutan sedih.?


"Gimana keadaan Zayna, Yah.?" tanya Areksa dengan tergesa-gesa


Ia panik sekaligus khawatir saat ia di kabari oleh orang tua Zayna. Jika Zayna mengalami kecelakaan. Hati Areksa berdenyut nyeri. Ia ingin menangis sekarang juga rasanya.


Tapi image nya nanti bisa jatuh. Ia hanya bisa menguasai diri agar terlihat tenang.


"Dokter belum keluar" jawab Indra serak


Ia sebenarnya menahan kesedihannya agar tak terlihat oleh istrinya.


Areksa mendesah berat, ia mondar mandir di depan ruangan IGD. Ia jadi teringat oleh ucapan Zayna di tempo hari lalu.


'Misal suatu saat nanti kita mendapat musibah bagaimana.?'


'Kamu nggak akan ninggalin aku apa yang terjadi kedepannya kan.?'


'Kamu pasti sama si Fanya Fanya itu.?'


Ucapan Zayna tempo hari membuat Areksa semakin frustasi. Masih terngiang-ngiang dalam fikiran Areksa. Mata tajam itu sekarang berubah menjadi merah.

__ADS_1


__ADS_2