Gadis Bercadar Milik CEO Tampan

Gadis Bercadar Milik CEO Tampan
Bab 25


__ADS_3

Tetapi yang tidak bisa di tembus datanya adalah identitas Zayna yang sengaja Zayna kunci. Membuat Tino tidak bisa meretas data itu, yang hanya ia dapat adalah Zayna Aghnia anak dari Indra dan Anis.


"Ya udah, Papa ke sana dulu, Mama jaga Areksa di sini.!" Ucap Abriel


Dokter Rubert pun sudah pulang


'Setelah Papa tau rumah asli Zayna, apa Papa masih berfikir kalau pekerjaan orang tua Zayna itu hanya penjaga toko.?' batin Areksa menatap Abriel yang semakin menjauh


"Areksa.! Kok malah ngelamun sih.?" Ucap Rita


"Nggak kok Ma"


"Kenapa nggak suruh Fanya aja ke sini.?" Tanya Rita


Areksa memutar bola matanya malas. "Kekasih Areksa itu Zayna, bukan Fanya" ucap Areksa dingin


.


.


.


Sedangkan di sisi lain, seorang gadis cantik sedang bersantai di kamarnya yang tak lain dan adalah Zayna. Ia sedang membaca novel, sesekali ia tersenyum ketika membaca novel yang sedikit lucu.


Tok... Tok... Tok...


Zayna menoleh ketika pintu kamarnya di ketuk. Terpaksa Zayna menutup novelnya lalu ia berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek


"Bunda.! Kenapa nggak panggil Zayna aja.!" Ucap Zayna ketika mendapati sang Bunda yang mengetuk pintunya


"Ahh iyaa, Bunda ke sini karena ada tamu" ucap Anis serius


"Siapa.?"


"Bunda juga nggak tau, Tapi dia nyariin kamu"

__ADS_1


Anis dan Zayna berjalan ke ruang tamu, saat mereka berdua sudah sampai di ruang tamu. Zayna mematung seketika saat orang tua Areksa sedang duduk di sofa single.


"Apa kamu kenal dengan laki-laki itu.?" Tanya Anis sedikit berbisik


Zayna mengangguk ragu, lalu ia menghampiri Papa Areksa walau langkahnya terasa berat untuk melangkah.


"Om" sapa Zayna membuat Abriel yang sedang fokus dengan ponselnya mendongak.


"Zayna"


Sedangkan Anis hanya terdiam, entah ada hubungan apa putrinya dengan lelaki itu, pikirnya.


Kini Zayna dan Anis duduk berhadapan dengan Abriel. 'Ketahuan deh kalo gue waktu itu bohong tentang pekerjaan orang tua gue.!' batin Zayna gelisah.


"Ada perlu apa ya Anda ke sini.?" Tanya Anis


Abriel menghembuskan nafasnya, lalu mulai berbicara


"Kedatangan saya ke sini, karena ingin mengajak putri anda untuk datang ke rumah saya.! Ohh iya, sebelum itu perkenalkan saya Abriel, saya orang tua Areksa.!" Ucap Abriel memperkenalkan diri


"Areksa.! Jadi... Anda Tuan Abriel pemilik perusahaan yang terkenal itu.?" Tanya Anis terkejut, pasalnya ia tak asing dengan nama itu.


Abriel hanya mengangguk


"Ohh iya Om, bagaimana keadaan Areksa.?" Tanya Zayna


"Jadi kamu tau Areksa sakit.?" Tanya balik Abriel


"I-iya Om, kemarin Areksa sama saya kehujanan waktu --- di taman" jawab Zayna sedikit gugup, karena sekarang Bundanya itu sedang menatap ke arahnya.


"Tunggu... Areksa siapanya kamu.?" Tanya Anis


"Areksa putra saya, dan Zayna calon tunangannya. Pasti anda sudah di beri tahu oleh putri anda bukan.?"


Zayna menunduk sambil memainkan jemarinya. Ia benar-benar takut oleh respon Bundanya, apalagi jika Indra dengar juga.?


"Hahh.? Apa maksud anda.?" Tanya Anis terkejut dengan ucapan Abriel barusan.

__ADS_1


"Lohh... Anda belum di beri tahu oleh Zayna tentang pertunangan yang akan di adakan seminggu lagi.?" Tanya Abriel


Zayna semakin menunduk karena takut kena omel Bundanya, ia kemarin tidak sempat bicara dengan kedua orang tuanya tentang pertunangannya dengan Areksa.


"Zayna.. apa maksudnya ini.? Kamu yang tidak pernah punya pacar, tiba-tiba tunangan seminggu lagi.? Kenapa kamu nggak omong sama Bunda dan Ayah.? Kenapa.?" Tanya Anis begitu kesal


Ia tidak masalah jika putrinya akan bertunangan dengan lelaki pilihannya, tetapi kenapa putrinya ini tidak bicara tentang tunangannya yang akan di langsungkan seminggu lagi.? Padahal seminggu itu sangat cepat.


"B-bunda.! S-sebenarnya Zayna udah menjalin hubungan ini sudah 3 bulan, Zayna belum sempet ngomong sama Bunda dan Ayah.! Maaf Bund, maafin Zayna.!" Ucap Zayna sembari menunduk


"Ayah mu harus tau ini"ucap Anis yang sudah cukup pusing, sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Zayna, tetapi saat ini ada Abriel yang masih berada di rumahnya.


"I-iyaa Bund"


"Jadi bagaimana.? Apa Zayna boleh ikut saya untuk bertemu Areksa.? Ia sedang demam dan mengigau nama Zayna terus.!" Ucap Abriel


Zayna yang mendengar jika Areksa mengigau namanya jadi membulatkan matanya sempurna. Ia tidak percaya jika Areksa, lelaki yang cuek itu mengigau namanya.


Anis berpikir sejenak sembari memijat pelipisnya.


"Tentu saja boleh Tuan, silahkan.!" Anis tidak bisa menolak ucapan orang yang cukup penting itu.


"Jangan panggil saya Tuan, kita calon besan.!" gurau Abriel


Anis hanya bisa tersenyum kikuk


Visual Zayna Aghnia




Visual Areksa Sigh



__ADS_1


__ADS_2