
Air matanya membanjiri seluruh wajah tampannya.
"Aku nggak mau kehilangan kamu Na.! Tidak ada wanita yang mengisi hati ku selain kamu" Areksa menelungkupkan wajahnya di brankar samping Zayna
Ia seolah-olah sedang mengadukan isi hatinya pada Zayna. Tetapi hanya keheningan yang menjawab setiap ungkapannya.
Begitu besarnya cinta Areksa pada Zayna, sampai ia menangis seperti ini. Dimana sikap dan sikap cool nya.? Dimana sifat kejam, dingin, datar dan cueknya.? Semua itu sekarang tidak terlihat saat Areksa menangis.
Tidak percaya bukan seorang Areksa Sigh menangis.? Tapi itu kenyataannya sekarang ia sedang menangis.
Areksa mendongak dengan wajah sembabnya. Tangannya terulur untuk mengelus pucuk kepala Zayna yang di perban. Tetapi masih mengenakan hijab pasien.
"Sebentar lagi kita akan menikah, tapi kamu malah seperti ini.! Aku harap kamu cepat sadar.! I love you Zayna.!" lirih Areksa
Areksa mengusap wajahnya yang sembab secara kasar. "Aku jadi cengeng gegara kamu, Na" ucapnya tersenyum getir
Tiba-tiba layar monitor itu berbunyi tak beraturan. Membuat Areksa menoleh cepat, ia panik karena nafas Zayna seperti tersendat.
Areksa segera berlari keluar mencari dokter
Ceklek
"Gimana Sa keadaan Zayna.?" tanya Abriel
Ia menatap putranya. Sudah ia duga pasti Areksa habis menangis karena terlihat matanya yang sedikit membengkak serta hidung yang memerah.
"Pa, dokternya dimana.? Kondisi Zayna Pa" panik Areksa, ia bahkan hampir menangis lagi
Sebelum Abriel menjawab, dokter yang ia cari datang "Ada apa.?"
__ADS_1
"Dok, kondisi Zayna dok.? Cepat periksa dok.!" titah Areksa
Sang dokter mengangguk lalu meminta semua menunggu di luar.
Dokter itu juga memanggil suster untuk membawa alat pacu jantung atau defribrilator. Dengan perasaan yang di selimuti rasa gelisah, Areksa tak bisa tenang, dia takut terjadi sesuatu pada Zayna.
Tak lama Indra datang sembari menuntun Anis, karena tubuh Anis masih sedikit lemas. Setelah sadar tadi ia terus memikirkan Zayna.
"Apa Zayna sudah sadar.?" tanya Anis penuh sadar
"Kita tunggu kabar dari dokter, karena ---" ucapan Abriel menggantung, ia tak mau membuat Anis khawatir dan jatuh pingsan lagi.
"Karena apa.?"
"Karena masih kritis, dokter mencoba memeriksa kembali" ucap Abriel
"Sholat.?" gumam Areksa, ia memang jarang mendekatkan diri kepada Tuhan nya
"Baiklah, ayoo kita berdoa untuk kesembuhan Zayna.!" jawab Abriel setuju
Mereka semua berjalan ke mushola terdekat.
.
.
.
Kini mereka sedang melaksanakan sholat berjamaah. Memang ini sudah waktunya Ashar. Setelah semua orang pergi, tinggallah mereka berlima, mereka berdoa dalam hati masing-masing.
__ADS_1
'Ya Allah.. sembuhkan Zayna putri ku ya Allah. Lindungilah putri ku ya Allah...' Do'a Anis dalam hati, ia bahkan sudah meneteskan air mata.
Semua mendoakan kesadaran Zayna. Termasuk Areksa, yang kini sangat nyeri di bagian dadanya. Rasanya sesak sekali untuk berucap sedikit pun, seperti tercekat dalam tenggorokan nya.
'Aku memang tidak pernah mendekatkan diri pada mu.! Aku janji setelah ini akan berubah dan menjadi imam yang baik untuk Zayna Aghnia' ucapnya dalam hati
'Aku mohon.! Berikan Zayna kesadaran dan kesembuhan.! Hati ini sakit begitu sakit melihat gadis yang ku cintai seperti itu kondisinya.! Aku sangat mencintainya.! Jadi... Ku mohon jangan ambil dia dari ku. Aku masih ingin bahagia dengannya.!'
Setetes bulir bening kembali jatuh di pipi Areksa. Ia sudah menahannya agar tidak jatuh air matanya. Tetapi tidak bisa, matanya semakin memanas.
"Areksa.! Kamu kenapa.?" tanya Indra melihat Areksa yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Areksa bersujud, ia benar-benar merasa runtuh dunia nya. Ketika mengingat kondisi Zayna.
"Hey... Kenapa.?" Kini Abriel memegang kedua bahu Areksa agar menghadap nya.
Abriel memeluk putranya yang ia ketahui sedang menangis. Areksa menangis dalam diam, sedangkan tiga orang di dekatnya terbengong melihat tingkah Areksa.
"Papa tau kamu khawatir sama Areksa, kita doa kan saja, semoga Zayna baik-baik saja.! Papa yakin itu.!" ucap Abriel mengelus punggung putranya untuk menenangkan pemuda itu.
"P-pa Areksa t-takut Zayna ---" Areksa tak melanjutkan ucapannya, ia merasa sangat terpuruk.
"Iyaa Papa ngerti kok, kamu emang cinta banget sama Zayna.? Sampek nangis gini.?" Celetuk Indra, membuat Areksa segera melepaskan pelukannya dari Abriel, lalu mengusap wajahnya.
Kenapa ia bisa tak sadar menangis di tempat seperti ini.? Untung yang melihat ia menangis hanya orang tuanya dan orang tua Zayna.
"Kamu sayang sama Zayna.?" tanya Abriel
Areksa diam sejenak, lalu berikutnya mengangguk. Ia berharap, jika ia kembali ke rumah sakit nanti, Zayna sudah sadar. Itu harapannya saat ini. Ya semoga saja seperti itu.
__ADS_1