
Ia tidak mau membuat gadis itu kecewa dengannya atau menjauhinya.
Zayna terdiam, bingung untuk menjawab pertanyaan dari Sagara. Gadis itu hanya Mengangguk pelan. Sagara terlihat mendesah berat. Tetapi pada akhirnya cinta pertama itu bukan berarti jodoh bukan.? Ia sudah sejak lama menyukai Zayna. Tepatnya Zayna adalah cinta pertamanya.
Tetapi sekarang apa.? Gadis itu menjadi milik lelaki lain.? Sangat pengecut, pikirnya.
Sagara tersenyum paksa. "Udah... Jangan nangis lagi.! Sekarang mending cari tunangan Lo itu, terus ajak ngomong baik-baik" ujar Sagara sembari mengelus-elus pucuk kepala gadis itu.
"M-Maaf" gadis itu menunduk merasa bersalah.
"Ini bukan salah Lo, gue gak papa kok.! Jangan pikirin perasaan gue, yang terpenting sekarang Lo harus cari tunangan Lo itu, sebelum dia kembali marah" ujarnya tersenyum kecut.
Zayna kemudian memeluk lelaki itu kembali. "Makasih.! Makasih karena Lo gak egois.! Gue yakin, Lo pasti akan dapet gadis yang jauh lebih baik dari gue"
Sagara tersenyum kecil lalu membalas pelukan yang tak selamanya itu.
_____________
Lelaki dengan mata tajam sedikit memerah itu berada di sebuah atap gedung. Memandangi ribuan bintang bersama bulan yang menerangi malam.
Areksa.! Lelaki itu terlihat frustasi. Marah, emosi, kecewa semua menjadi satu. Mengapa ia harus mengenal Zayna Aghnia.? Melepaskan.? Sepertinya tidak, karena ia sudah terlanjur cinta dengan gadis itu.
__ADS_1
"Gue nggak nyangka, gadis yang gue kira gadis tertutup ternyata...." Areksa tersenyum kecut menatap lurus ke depan.
"Gue yang bodoh atau dia yang cerdik.?"
"Mengapa hal sepenting ini gue nggak tau" lelaki itu mendesah berat.
Dan ia ada sedikit rasa kasihan pada gadisnya ketika ia membentaknya. Gadis itu tadi menangis, tetapi Areksa tidak berniat menghibur karena ia sedang di kelilingi oleh emosi yang memuncak.
"Aaaaakkkhhhh......" Areksa menggeram kesal.
"Bego... Bego.. Lo Areksa.! Lo bego.! Kenapa sampek Lo gak tau kalo gadis itu nyembunyiin sesuatu yang bikin.... Aaakhhh...." Areksa tak melanjutkan ucapannya, ia merunduk.
"Apa gue harus akhiri hubungan gue sampe sini.?" gumamnya dengan mata memerah, tak siap untuk melepas gadis yang menjadi cinta pertamanya.
"Aaaaakkkhhhh..... Brengs*k" umpatnya menahan tangannya yang hendak meninju ubin.
"AREKSA"
Lelaki itu menoleh ketika mendengar suara seseorang yang ia kenal. Gadis cantik dengan balutan hoodie hitam sedang berjalan ke arahnya. Mata gadis itu tampak sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
"M-Maaf....." Gadis itu berhambur memeluk Areksa yang kini hanya diam saja tanpa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Zayna datang ke gedung tepatnya pada gedung paling atas untuk menemui Areksa. Ia diberitahu oleh temannya tempat kebiasaan lelaki itu mengurung pasti berada di atap gedung tersebut.
"G-gue salah...... Maafin gue" Zayna kembali menangis di pelukan Areksa yang tidak membalas pelukannya.
Areksa melepas pelukan tersebut lalu menatap dingin gadisnya. "Kenapa Lo bohong sama gue.? Nyembunyiin rahasia Lo dari gue.?" tanyanya dingin
Zayna merunduk. "G-gue belum siap Lo tau.... Lo pasti marah kalo Lo tau identitas gue" ucapnya di tengah-tengah isakannya.
Areksa tersenyum kecut. "Lo pikir gue gak marah, kecewa.? Lo tau...."
"Iya, gue akui gue gadis brengs*k, gadis gak tau diri.! Gue cuma mau jelasin ini ke elo.! Gue harap Lo mau dengerin gue" ucapnya memotong cepat ucapan Areksa.
Lelaki itu menatap lurus ke depan, enggan untuk menatap gadis di sampingnya. Masih marah dan kecewa dengan gadis ini. Bisa-bisanya ia menyimpan sesuatu yang besar kepadanya.
Zayna menghapus air matanya sendiri. "Gue.... Dari dulu udah seperti ini" gadis itu mulai menjelaskan.
Areksa masih diam, menatap lurus ke depan. "Sebelum kenal elo, gue emang udah jadi seperti ini" ucapnya lagi
"Dari kecil gue emang udah pengen jadi gadis pembalap"
"Dan salah pergaulan.? itu maksud Lo pengen jadi pembalap.?" tanya Areksa dingin, ia masih menatap lurus ke depan
__ADS_1
Zayna menggeleng. "Nggak.! Itu karena ide gue dulu pengen membentuk sebuah genk"