
"Udah puas lihatinnya.?" suara berat nan serak itu berhasil membuat Zayna terciduk. Karena ketahuan telah memandangi wajah tampan milik Areksa.
"G-Gak---"
"Aku udah tau kalau aku memang tampan" narsisnya. Sejak kapan seorang Areksa bisa narsis seperti itu.
"Waahhh... PD nya gede banget" celetuk Zayna, tapi memang ia orangnya tampan.
"Hmmm" Areksa malah lanjut tidur lagi dengan posisi masih sama
"Sa.! Bangun, nanti kalau ada perawat atau dokter masuk gimana.?" ucap Zayna berusaha melepas pelukan dari tangan Areksa.
"Biarin"
"Nanti kalo mereka lihat kita seperti ini gimana.? Nanti mereka pikir kita macem macem lagi,"
Areksa mendongak. "Nggak papa, itu bagus.! Nanti kita nikahnya di percepat kan.?" senyum lelaki itu mengembang.
"Hehh, aku baru saja kecelakaan mau kamu nikahi aja gitu.?"
"Kenapa.? Lebih cepat maka lebih baik"
Percakapan mereka terhenti kala pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan pria paruh baya dan wanita paruh baya.
"Astaga.! Pantesan Mas, kita nggak boleh ke sini, ternyata mereka mau pelukan seperti ini.!" sindir Anis
Zayna langsung menjauhkan tangan Areksa yang masih memeluknya. "I-ini nggak seperti yang bu--"
"Areksa.! Kamu apain anak Bunda, hahh.?" cerca Anis berkacak pinggang
Areksa mengernyitkan dahinya, emang ia ngapain Zayna.? pikirnya.
"Nggak ngapa-ngapain" jawab Areksa dengan wajah polos
__ADS_1
"Jangan bohong kamu, emang kamu mau nikahnya nanti di percepat.?"
"Malah bagus itu Bund" ucap Areksa berbinar membuat Anis mendengus.
"Anaknya Abriel sama Rita benar-benar ya..!"
"Bagaimana keadaan kamu Nak.?" tanya Indra
"Udah mendingan Yah" jawab Zayna
Anis lalu mendekati putrinya. "Bunda lupa bawain makanan buat kamu. Ahh kenapa Bunda sekarang sedikit pelupa sih.? Saking nggak sabarnya pengen ketemu putrinya sampek lupa" Anis menepuk jidatnya.
"Udah tua sih" celetuk Indra
Anis menatap suaminya "Nggak nyadar tuh.?"
"Udah udah, Zayna belum laper kok" lerai Zayna ketika Bundanya hendak membalas ucapan Ayahnya
"Nanti Areksa yang beliin makanan buat Zayna.!" ucap Areksa kemudian
Setelah ini, Indra akan pergi ke kantor. Karena hari ini ada meeting yang tidak bisa di tunda.
Seorang gadis cantik sedang berjalan melewati koridor rumah sakit. Ia ingin menjenguk temannya yang sedang sakit. Netranya tak sengaja melihat lelaki yang sangat ia kenal. "Areksa" gumamnya.
Areksa berjalan berlawanan arah dengannya. "Areksa.! Mau kemana.?" sapanya membuat lelaki itu menoleh sekilas lalu fokus pada jalanan saja.
"Tunggu Sa.! Gue mau cerita sesuatu sama Lo.!" ucap Bianca
"Sa, dengerin gue dulu, ayo kita ke taman belakang rumah sakit" ajaknya
"Apa.? Nggak perlu ada yang di bicarakan.!" tekan Areksa dingin
"Gue mau bicara penting sama Lo, Sa.! Apa segitunya sampek elo nggak ada waktu buat gue.?"
__ADS_1
"Hmmm,," Areksa berjalan terus meninggalkan Bianca, tapi gadis itu tetap saja mengejar lelaki itu.
"Sa.! Tunggu.!" Ia menyamai langkah lebar milik lelaki itu, tetapi kesulitan.
"Jangan ikutin gue" desisnya tajam
"G-gue cuma ingin bicara sesuatu sama Lo" Bianca menunduk, ia takut dengan tatapan tajam itu.
Entah mengapa, Areksa menuruti permintaan gadis itu untuk ke taman belakang rumah sakit.
Bianca yang melihat itu ingin seperti melompat girang. "Ayoo" Bianca hendak meraih lengan Areksa, tetapi dengan cepat Areksa menepisnya secara kasar.
"Jangan sentuh gue.!" ucapnya dengan suara sedikit menyentak.
Membuat gadis itu menunduk takut.
Kini mereka sampai di taman itu, Areksa hanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke samping gadis itu.
Mereka berdua berdiri berdampingan, tetapi masih ada jarak di antara mereka.
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis menggunakan kursi roda sedang di bantu mendorong oleh Bundanya. Siapa lagi kalo bukan Zayna dan Anis.?
Tadi Zayna meminta untuk keluar menghirup udara segar. Rasanya suntuk dan bosan di dalam ruang rawat itu, tentunya ia keluar sudah dapat ijin dari dokter. Jadilah kini Zayna ke taman belakang rumah sakit dengan kursi roda. Tetapi Anis tiba-tiba berhenti membuat Zayna bingung.
"Kenapa Bund.?"
"Kamu di sini sebentar nggak papa.? Apa mau ikut Bunda lagi.? Ada yang ketinggalan di ruangan itu.!" ujar Anis, Zayna hanya menghela nafas, Bundanya memang pelupa.
"Zayna di sini aja nungguin Bunda, Areksa juga masih lama kan.?" ucap Zayna
"Benaran di sini sendiri nggak papa.?" tanya Anis memastikan
Zayna hanya mengangguk kecil, lalu Anis pergi untuk mengambil sesuatu. Entah mengambil apa ia tak tau.
__ADS_1
Merasa bosan, Zayna mendorong kursi rodanya sendiri menuju taman. Nanti Bundanya biar menyusulnya.