
Tetapi ia sembunyikan hal itu, kalau ketahuan bisa malu dia dengan Areksa, Zayna wajahnya sudah memerah, untung ia memakai cadar.
"Panggil apa sih.?" Tanya Areksa pura-pura lupa
"Lupain ahh.! Bikin kesel aja" gerutu Zayna melipat kedua tangannya di depan dada
"Ohh... Yang gue panggil ‘Sayang‘ tadi ya.?"
"Tau ahh" kesal Zayna
Mereka pun kembali diam, suasananya hening seperti semula. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah mansion besar milik Areksa.
"Lo harus bisa buat orang tua gue yakin, kalo elo itu beneran kekasih gue" ucap Areksa sebelum memasuki mansion. Areksa melangkah masuk di ikuti Zayna di belakangnya.
"Areksa, kamu sudah datang" sapa Rita
Dan kini Areksa melihat ada Fanya juga kedua orang tuanya yang sedang memandangnya tidak percaya.
"Pa, Ma.! Ini kekasih Areksa" ucap Areksa memperkenalkan Zayna
"Ohh.. iya, silahkan duduk" ucap Rita
Areksa dan Zayna duduk berdampingan di sofa. Mata Fanya tidak lepas memandang ke arah Zayna dengan tatapan tidak bersahabat.
"Sa.! Itu siapa sih.? Dari tadi liatin gue mulu.?" Bisik Zayna yang risih dengan Fanya yang menatapnya sedari tadi.
"Itu Fanya, yang mau di jodohkan sama gue" bisik Areksa
"Hahh... Yang bener.? Itu mah pantasnya di sebut ondel-ondel.?" Gumam Zayna menahan tawa.
"Kenapa kalian bisik-bisik.?" Tegur Abriel
__ADS_1
"Ahh tidak apa-apa om" jawab Zayna
"Jadi dia yang mau jadi calon tunangannya Areksa.?" Tanya Fanya
"I-iyaa.. Gu ehh aku yang akan jadi calon t-tunangannya Areksa" ucap Zayna
Hatinya sudah bergemuruh hebat. Entah mengapa sulit untuk mengatakan kalimat itu dengan lancar.
"Hahaha bercadar.? Apa jangan-jangan wajah elo ----"
"DIAM" Hardik Areksa memotong ucapan Fanya yang ingin menjelekkan Zayna
"Kalo elo mau menjelekkan orang lain.! Ngaca dulu sebelum merendahkan orang lain" tegas Areksa
Fanya terdiam, ia begitu benci dengan gadis yang berada di samping Areksa.
'lihat aja, gue gak bakal biarin elo jadi milik Areksa.! Hanya gue yang boleh jadi milik Areksa, selamanya...' batin Fanya geram, tangannya sudah terkepal erat menahan emosi.
Abriel tersenyum menanggapi ucapan Zayna.
"Om Abriel dan ini istri Om namanya Rita" ucap Abriel
Sedangkan Rita.? Sepertinya ia tidak begitu menyukai Zayna, ia lebih setuju jika putranya bersanding dengan Fanya.
"Orang tua mu pekerjaannya apa.?" Celetuk Rita, ia ingin tau apakah gadis di samping putranya itu dari kalangan atas atau rendah.
"Emm... Orang tua saya..." Ucap Zayna menggantung
Sepertinya ia harus mengarang cerita untuk melihat respon Rita, karena Zayna sudah dapat melihat kelakuan Rita yang kurang suka padanya.
"Orang tua saya... Hanya penjaga toko kue milik orang lain" ucap Zayna berbohong, ia ingin melihat respon Rita
__ADS_1
Mendadak semua orang yang ada di situ langsung menoleh ke arah Zayna. Fanya tersenyum mengejek
Areksa memandang Zayna tidak percaya, Areksa memang tidak sempat mencari tau identitas Zayna yang sebenarnya. Setelah ini nanti ia akan mencari tau tentang identitas Zayna.
Mobil yang di miliki Zayna juga harganya tidak main-main. Apakah Zayna berbohong.? Pikir Zayna
Raut wajah Rita seketika berubah setelah mendengar ucapan Zayna tadi.
Bisa malu jika putranya menikahi anak dari kalangan rendah. Ia tidak akan merestui hubungannya Areksa dan Zayna.
"Jadi.. cuma itu pekerjaan orang tua mu" ucap Rita tidak percaya.
Zayna hanya mengangguk, ia dapat membaca raut wajah tidak suka dari Rita.
"Hah.! Areksa.! Jadi elo mau bertunangan dengan orang kismin.? Ehh maksudnya misquen,,, sok alim lagi..?" Ejek Fanya tersenyum remeh
Areksa menatap tajam Fanya. Entah mengapa ia tidak suka jika ada yang menyakiti perasaan Zayna.
"Dia lebih baik dari pada Lo" tegas Areksa, menatap tajam Fanya.
" Udah udah jangan ribut..! Fanya.. seharusnya kamu tidak berbicara seperti itu.!" Tegur Abriel,
Kedua orang tua Fanya hanya diam, melihat putrinya berkata seperti itu.
"Maafkan putri saya Tuan Abriel" ucap Aris
"Jadi kamu sudah memiliki hubungan dengan putra saya berapa lama.?" Tanya Abriel pada Zayna, bahkan ia mengabaikan permintaan maaf Aris
"Fanya kita pulang aja yukk" bisik Rena mengajak putrinya pulang.
ia tidak mau hati putrinya terluka melihat pemandangan ini.
__ADS_1