
_____________
"Hahaha.... Pasti Areksa saat ini sedang marah besar dengan wanita sialan itu, dan... Areksa pasti akan ilfil dengan Zayna, setelah itu... Areksa bisa gue deketin lagi" tawa gadis itu yang tak lain Bianca sedang tertawa karena rencananya berhasil.
"Sekarang kita lihat... Siapa yang bisa dapetin Areksa.? Walau Zayna udah jadi tunangan Areksa.! Tapi kan baru tunangan, selagi janur kuning belum melengkung" ucapnya bangga
"Mirip banget deh kek wanita sialan itu, pasti Areksa kira ini beneran Zayna" gumam Bianca menatap foto yang sudah ia rekayasa dengan wajah Zayna
"Selamat menikmati kesengsaraan Zayna Aghnia" ucap Bianca sinis
.
.
.
Zayna kini menunggu Areksa di depan ruang IGD. Zayna bingung harus apa sekarang.? Ia tidak mau identitasnya terbongkar sekarang, karena ia belum siap.
"Gimana ya.? Apa gue balik dulu ganty baju, setelah itu ke sini" gumamnya gusar.
"Tapi... Nanti Areksa tanya kok gue bisa tau dia di sini.?" gumamnya lagi
"Balik aja lah, nanti malah dia curiga lagi sama gue.! Tadi aja pas gue di suruh natap matanya, sepertinya dia sudah mulai curiga" Zayna berdiri tetapi netranya menangkap sekretaris Areksa
Zayna pun menghampiri Fatir yang hendak menemani Tuannya. Ia tadi tau kejadian itu karena anak buah yang mencari Zayna tak sengaja melihat mobil Tuannya terbakar.
"Ekheemm...." Zayna berdehem agar suaranya tidak seperti suara Zayna.
"M-Maaf Tuan.! Apa Tuan temennya lelaki yang berada di ruang IGD" tanya Zayna dengan suara di buat-buat
__ADS_1
Fatir berhenti sejenak, menatap gadis dengan masker hitam dan topi. "Siapa anda.?"
"Saya yang membawa teman anda yang tadi kecelakaan Tuan.!" ujar Zayna sedikit menunduk agar topinya menutupi sedikit wajahnya.
"Ohh maksud mu, Areksa.! Makasih ya sudah membawa Tuan saya ke sini" ucap Fatir tanpa rasa curiga.
Zayna hanya mengangguk. "Ya sudah, kalo begitu saya permisi" Zayna pun segera pergi dari sana.
Sedang Fatir berjalan menuju ruang tunggu, ia tidak memberi tau kan kepada orang tua Areksa. Karena pasti Areksa melarangnya untuk mengabari orang tuanya.
Areksa mengerjapkan matanya, lalu perlahan bangkit. "Kenapa gue ada di sini.?" tanyanya tak sadar.
Ceklek
"Tuan sudah sadar.?" Fatir membuka pintu ruangan itu membuat Areksa menoleh.
"Kenapa gue bisa ada di sini.?" tanya Areksa linglung.
"Ohh ya Tuan.! Tadi yang mengantar Tuan ke sini seorang gadis ya.? Pake masker dan topi hitam.?" ucap Fatir membuat Areksa menoleh.
"Gadis.?" gumamnya berusaha mengingat
Dan benar saja, ia ingat dengan gadis yang menolongnya tadi, seperti ada yang mengganjal di hatinya.
"Tuan kenapa.?"
Areksa pun langsung berdehem. "Ekheemm... Nggak.! Saya mau pulang" Areksa bergegas turun dari brankar.
"Tunggu Tuan, Tapi keadaan Tuan..."
__ADS_1
"Jangan menghalangi saya" desis Areksa tajam membuat nyali Fatir menciut.
Yang di pikirkannya sekarang hanya lah Zayna, Zayna dan Zayna. Ia tidak sepenuhnya yakin jika Zayna mengkhianatinya, ia tau betul Zayna itu bagaimana.
___________
Kini Zayna sudah menggunakan hijab, seperti biasa. Ia ingin sekali datang ke rumah sakit untuk menjenguk Areksa. Tetapi apa nanti yang akan ia katakan.? Bisa-bisa curiga nanti Areksa padanya.
"Apa gue pura-pura ke rumahnya nanyain Areksa kemana gitu.?" gumamnya
"Jangan deh, nanti di kira mau ngapain"
Ding.... Dung....
Suara bel dari pintu utama terdengar, saat ini Zayna berada di rumah orang tuanya. Zayna pun melangkah untuk membuka pintu.
Ceklek
Matanya membelalak ketika dua bodyguard ada di hadapannya. "Nona.. anda di tunggu Tuan di mobil"
Degh
Zayna menengok untuk melihat mobil yang terparkir di depan gerbangnya. Jadi Areksa udah pulang.? pikirnya.
"T-tetapi kenapa ya.?"
"Tuan hanya menyuruh kita untuk membawa Nona" ucap mereka
Zayna pun berjalan ke arah mobil warna putih itu. Di dalam Areksa menatap lurus ke depan. "Silahkan masuk Nona" ucap bodyguard itu membuka kan pintu mobil.
__ADS_1
Jadilah kini Zayna duduk berdampingan dengan Areksa. Tetapi entah mengapa lelaki itu sedari tadi tidak menoleh ke arahnya sedikit pun.
'Kok jadi canggung gini sih' batinnya