
Sedang Areksa.? Ia malah gusar, apa ia salah bicara. "Hanya bercanda baby girl" ujar Areksa berharap Zayna bisa mengerti. Mana mungkin Areksa berbagi kemesraan sama gadis lain. Sementara gadis dan cinta pertamanya saja hanya Zayna Aghnia.
"Nggak.! Menurut gue, itu tadi nggak bercanda" cerca nya dengan nada kesal
Diam-diam Areksa tersenyum kecil. "Cemburu hmmm.?"
"Idiihh... Mana ada gue cemburu" elaknya
"Kalo nggak cemburu apa.?"
"Tau ahh"
"Gak.! Aku gak mungkin berbagi kemesraan ke gadis lain, sedangkan gadis yang aku cintai aja ada di depan mata ku" ujarnya sembari mengetuk-ngetuk kepala Zayna
"Sakit tau"
"Biarin"
Wajah gadis itu menjadi sangar kembali, ia mengambil ancang-ancang untuk bersiap menarik rambut cowok itu.
"Sssshhhh...." ringis cowok itu ketika rambutnya tiba-tiba di jambak oleh gadisnya.
"Sakit nggak.? Biar tau rasa Lo" Zayna masih saja menjambak rambut cowok itu dengan brutal.
"Ampun.! Aaakkkhhh... Udah Na, udah" lelaki itu sampai tertunduk menahan jambakan dari gadisnya.
"Gak mau"
Dengan sekuat tenaga, Areksa berhasil mencekal kedua tangan gadis itu.
"Ehh... Ehh..." Zayna panik ketika ia tidak bisa mengimbangi dirinya, hingga ia terjatuh di sofa dengan Areksa berada di atasnya. "Gadis nakal" Areksa tersenyum smirk
"Minggir"
__ADS_1
"Gak mau"
"Gue teriak nih"
"Teriak aja.! Emang mau di nikahin sekarang hmmm.?" bagi Areksa, Zayna itu adalah berliannya yang harus di jaga. Hanya dengan gadis itulah ia bisa tersenyum.
"Berat Sa" Zayna memukul-mukul dada bidang cowok itu.
"Aku lepasin tapi jawab jujur dulu.! Kamu cinta nggak sama aku.?"
Bisa mati kutu Zayna di beri pertanyaan seperti itu. Gadis itu masih diam memikirkan apa jawaban untuknya.? Tentang perasaannya dengan Areksa sekarang.? Ia belum tau.
"Kenapa diem hmm.? Apa belum bisa cinta sama aku.?" tanya Areksa, sekarang ia menunduk. Ia pasrah jika jawaban gadisnya 'belum cinta' karena ia yakin, cinta akan datang dengan sendirinya.
Detak jantung gadis itu tak karuan saat di beri pertanyaan seperti itu. "A-anuu... Emm... G-gue belum..."
"Ya, aku tau kamu belum bisa cinta kan sama aku.? Tapi aku yakin, cepat atau lambat kamu akan jatuh cinta dengan ku" Areksa tersenyum kecut, ia sengaja memotong ucapan Zayna cepat. Semoga saja harapannya terkabul.
"Dengerin dulu.! Gue... Sayang sama Lo" dengan sekali tarikan nafas, Zayna akhirnya bisa mengatakan kata yang sulit ia keluarkan itu.
Areksa menatap gadisnya dalam. "Cinta.?" Zayna gelagapan menjawabnya lagi, kemudian mengangguk kecil. "I-iyaa"
Senyum cowok itu merekah, ia tidak mimpi kan.? Lalu cowok itu berdehem sok cool. "Kalo cinta sama sayang.! Jangan panggil Lo gue lagi" ujarnya
Zayna mengangguk lagi. Lalu cowok itu membenarkan posisinya yang tadinya menindih Zayna sekarang sudah tegak kembali.
'Sebenarnya gue masih bingung sama perasaan gue sekarang' batin Zayna menatap lurus ke depan.
"Mau makan nggak.?" tawar cowok itu
Zayna menoleh. "Boleh"
"Ya udah, makan di luar aja"Areksa menggenggam tangan gadis itu.
__ADS_1
.
.
.
Setelah mereka selesai makan dari luar, kini Zayna dan Areksa kembali pulang. Terlebih Areksa mengantarkan gadisnya dulu.
"Makasih"
Cowok itu mengernyitkan dahinya. "Makasih udah di ajak makan" ulang gadis itu
"Iyaa, sama-sama baby girl. Ya udah, gih sana masuk.! Udah malem" Zayna mengangguk lalu melangkah masuk.
Tetapi ia menoleh ke belakang lagi. Menatap cowoknya yang juga masih menatapnya. Gadis itu tersenyum kecil kembali melangkah masuk.
___________
Di dalam kamar, Zayna belum tidur. Padahal ini sudah malam jam 21.05 malam. Kini penampilannya sudah seperti biasa. Ia hanya menggunakan kaos over size polos dan celana training.
"Apa gue ambil sekarang aja ya motornya.? Gabut kalo di rumah gini, mana sendiri lagi" gumamnya
Kemudian ia mengambil jaket hoodie berwarna navy. Lalu keluar memesan taksi.
~Bengkel~
Sesampainya di bengkel, Zayna turun dari taksi lalu melangkah ke bengkel Bang Jamal. Untungnya bengkel itu masih buka, dan akan tutup jam 22.00 malam.
"Bang Jamal nya ada.?" tanyanya pada pegawai yang Bang Jamal sewa untuk membantunya, karena bengkel ini bengkel besar bukan bengkel biasa.
Lelaki itu menoleh, menatap gadis cantik dengan hoodie kebesarannya. "Nggak usah gitu juga kali liatnya.! Mau gue colok tuh mata.?" ketusnya membuat lelaki itu segera menunduk.
"T-tidak mbak.! M-Maaf"
__ADS_1