
"Fanya.! Jawab Mami.!" ucap Rena sekali lagi
"Kenapa kamu bisa luka seperti ini.? Dan.... Baju yang kamu pakai itu kan baju tahanan.?"
Fanya hanya diam menunduk, entah harus menjawab apa ia sekarang.
"Kenapa diem aja.? Ayoo jawab Nak.!" desak Rena
"Papi mana Mi.?" tanya Fanya mengabaikan pertanyaan Rena
"Papi ada urusan di luar kota.! Mami nggak ikut karena hanya Papi saja"
"Sekarang jawab pertanyaan Mami dengan jujur.! Kamu sebenarnya kenapa.?" tanya Rena lagi
Fanya menarik nafasnya. "F-Fanya... di penjara"
Rena langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sangat tidak percaya apa yang di katakan oleh putrinya ini.
"A-Apa.? Kamu nggak bercanda kan.? Jangan bohongi Mami" sarkasnya tak percaya
Fanya menggeleng. "Fanya nggak bohong, Mi"
"Kenapa kamu bisa di tahan seperti ini.? Apa salah kamu.? Dan siapa yang berani memenjarakan putri Mami.?" ucapnya masih tak percaya
"Areksa"
"APA.? Areksa.? Lelaki yang kamu cintai itu.? Kenapa dia memenjarakan kamu seperti ini.? Bahkan kamu sampai terluka seperti ini.?" gumam Rena geram.
Fanya tak ingin mengatakan kesalahannya. Ia malah menjadi benci dengan Zayna Aghnia. Pasti ini semua karena pengaruh gadis itu.
"Areksa seperti ini gara-gara Zayna, Mi. Gadis yang sok alim itu" ucap Fanya berdusta
Rena yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya. "Mami akan berikan pelajaran pada gadis sialan itu" geramnya
__ADS_1
"Iya Mi, itu harus.! Fanya nggak mau kehilangan Areksa.! Dia lelaki yang dari dulu Fanya suka.! Fanya nggak rela hanya gegara pendatang baru ia jadi gak peduli dengan Fanya.!" ucap Fanya menggebu
Entahlah, ia hanya terobsesi dengan Areksa atau memang mencintai nya dengan tulus.
.
.
.
Sedangkan di ruangan yang berbeda, tapi di tempat yang sama. Seorang gadis sedang di suapi oleh lelaki di sampingnya.
"Udah ahh, kenyang" ucap Zayna setelah memakan bubur yang di beli oleh Areksa tadi.
"Sedangkan Anis sudah pulang, karena itu perintah dari Areksa agar ia bisa berduaan dengan gadis yang ia cintai.
Ini juga sudah malam, jadi Anis memutuskan untuk pulang karena Zayna sudah di jaga oleh Areksa.
Zayna menggeleng. "Udah.! Aku udah kenyang" tolaknya
Areksa menghela nafas. "Nanti mubazir.! Cepat buka mulutnya" titahnya
Zayna tetap menggeleng menolak, lagian ia sudah kenyang. Perutnya saja sudah terasa penuh.
"Nggak mau Areksa.! Jangan paksa ihh" gerutunya
Areksa yang geram pun langsung menangkup kedua pipi Zayna agar menghadapinya. Lalu menatap bola mata manik gadis itu.
"Pilih.! Mau aku cium atau makan bubur ini.! Kalau nggak milih, berarti milih di ci---"
Belum selesai Areksa memberikan pilihan, dengan cepat Zayna langsung menerima suapan dari Areksa yang terakhir.
"Dasar" kekeh Areksa
__ADS_1
Sedangkan di balik pintu ruangan yang di tempati oleh Zayna, ada yang tak sengaja melihat mereka berdua di balik pintu kaca tersebut.
"Itu bukannya Areksa.? Tapi sama siapa.?" gumamnya lirih.
________
Rena keluar dari ruangan putrinya, ia ingin membeli sesuatu untuk Fanya. Tetapi langkahnya terhenti kala melihat seorang pemuda keluar dari ruang rawat.
Rena memicingkan matanya. "Siapa yang sakit.?" gumamnya
Pemuda itu lalu pergi entah kemana, Rena yang penasaran pun langsung melangkah untuk melihat siapa yang sakit.
"Apa orang tuanya Areksa.?" gumamnya lagi
Rena mengintip di balik pintu kaca ruangan itu. Matanya membelalak melihat gadis yang sedang berbaring di atas brankar.
"Zayna.? Kenapa dia bisa ada di rumah sakit.? Sepertinya habis kecelakaan," gumamnya lagi
Ia tersenyum smirk, Rena mempunyai rencana untuk Zayna. Lalu ia melangkah pergi dari tempat itu.
.
.
.
Zayna kini merasa bosan, kenapa Areksa lama sekali.? Padahal tadi pamitnya ke toilet. Tetapi kenapa ini lama sekali, pikirnya.
Kedua orang tuanya besok pagi akan menjenguknya. Sebenarnya Anis ingin sekali bertemu dengan putrinya. Tetapi Areksa yang memintanya untuk istirahat di rumah saja. Karena Areksa sekalian modus. Ciiiaaaahhh 🤣🤣
Rasanya bosan, itu yang di rasakan Zayna saat ini. Hanya berbaring lemah di atas brankar.? Ponsel saja Zayna tidak ada, saat kecelakaan itu ponselnya rusak. Ia belum sempat membeli lagi.
Ceklek
__ADS_1