Gadis Bercadar Milik CEO Tampan

Gadis Bercadar Milik CEO Tampan
Bab 32


__ADS_3

Areksa diam sejenak, lalu berikutnya mengangguk. Ia berharap, jika ia kembali ke rumah sakit nanti, Zayna sudah sadar. Itu harapannya saat ini. Ya semoga saja seperti itu.


Setelah selesai melaksanakan sholat ashar. Mereka kembali ke rumah sakit, Areksa duduk di kursi panjang yang terdapat di luar ruang IGD. Areksa hanya bisa berdoa agar Zayna cepat sadar dari masa kritisnya.


Ceklek


Pintu ruang IGD terbuka, dokter keluar dengan para perawat. Anis berdiri lalu menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan putri saya dok.?"


Semua menunggu jawaban dari sang dokter. Termasuk Areksa yang kini menoleh cepat dan ikut berdiri.


"Tadi... Jantung pasien sempat berhenti berdetak, kami sudah berusaha semampu kami.! Akhirnya saya menyerah, tapi saat ingin melepas infusnya, keajaiban datang tak terduga. Jantung pasien kembali berdetak normah.!" Jelas dokter membuat mereka semua bernafas lega.


Areksa sangat bersyukur atas keajaiban itu. Setidaknya masih ada kesempatan untuk Zayna bertahan.


"Dan pasien sudah melewati masa kritisnya.! Nanti akan kami pindah ke ruang rawat.!" ucap dokter lagi


"Makasih dok" ucap Anis


"Terima kasih lah pada Tuhan yang sudah memberikan kesempatan pada putri ibu" ucap dokter tersenyum


Anis hanya mengangguk


"Apa boleh kita lihat kondisinya.?" tanya Indra


"Untuk saat ini belum, nanti setelah kami pindahkan ke ruang rawat baru boleh.!" jelas dokter.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk paham. Sedangkan Areksa sudah tak sabar ingin melihat kondisi Zayna. Ia sampai nangis di buatnya.


.


.


.


Kini Zayna sudah di pindahkan ke ruang rawat. Tinggal menunggunya sadar lalu dokter akan memeriksa nya kembali.


Mereka kini sedang berada di ruang yang Zayna tempati. Anis duduk di samping brankar Zayna yang terdapat kursi.


Ia menggenggam tangan putrinya erat.


"Nak.. cepat sadar, kita semua cemas melihat kondisi mu seperti ini.!" ucap Anis menatap putrinya sendu


Tak lama setelah itu, jari telunjuk Zayna sedikit bergerak.


Areksa mendekat, memastikan jika Zayna benar-benar akan sadar. Zayna membuka kelopak matanya perlahan. Lalu ia menatap sekeliling, tempatnya sangat tidak asing baginya.


Areksa yang melihat Zayna sudah sadar. Ingin rasanya ia memeluk Zayna saat ini juga. Tetapi ia sadar di sini bukan hanya mereka berdua.


"A-akuu... d-di mana.?" tanya Zayna terbata dengan suara lemahnya .


"Kamu ada di rumah sakit Nak" Anis berhambur memeluk putrinya.


Zayna langsung terkejut ketika mendengar jawaban dari Bundanya. Di rumah sakit.? Zayna berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Yang ia ingat saat ia mengangkat telepon dari Areksa, lalu tiba-tiba ada mobil box di depannya. Yang mengakibatkan ia membanting setir menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


Lalu ia menatap mereka semua. Termasuk Areksa yang ada di sampingnya. Zayna memicingkan matanya ketika melihat mata Areksa sedikit sembab.


Apa ia habis menangis.? Tapi kenapa.? Apa karenanya.? Pikir Zayna.


Indra senang melihat putrinya sadar. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Zayna.


Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Zayna saat ini. "Alhamdulillah, kondisi putri bapak dan ibu sudah membaik.! Harap di rawat beberapa hari di sini" ucap dokter


Indra dan Anis hanya mengangguk, mereka semua nampak bahagia mendengar ucapan dokter jika kondisi Zayna sudah mulai membaik.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter dan di angguki mereka semua.


Anis menatap putrinya dalam. "Kamu inget sama bunda kan.?" tanya Anis, ia memastikan apakah putrinya hilang ingatan atau tidak.


Padahal sudah jelas dokter saja tidak memberi tahu. Itu berarti Zayna tidak hilang ingatan bukan.?


Zayna terdiam sejenak lalu mengangguk


"B-bunda" lirih Zayna masih terdengar lemah


"Iyaa, ini bunda dan ini ayah mu" ucap Anis


"Ohh iya... Ini orang tua Areksa dan ini Areksa.!" tunjuk Anis


Padahal Zayna juga bisa melihat mereka. Mengapa Bundanya harus memperkenalkan mereka.?


"Asal kamu tau Na.! Areksa tadi nangisin kamu loh" ceplos Abriel Papa nya Areksa sendiri

__ADS_1


Sedangkan Areksa sudah melotot ke arah Papa nya. Jujur ia malu jika Zayna tau ia menangis karena nya.


Zayna langsung melirik Areksa yang kini menunduk. Mungkin ia malu. Zayna hampir saja tertawa melihat Areksa yang seperti itu.


__ADS_2