
___________
"Aaakkkhhh..... dasar brengs*k.! Zayna brengs*k... Awas saja, akan gue beri perhitungan sama dia.!" umpat Bianca
"Nona.! Mengapa gadis itu tadi pintar berkelahi.? Bukankah dari data-data tersebut gadis itu tidak bisa bela diri.? Dia gadis polos bukan.?" tanya Ridwan kepercayaan Bianca
Bianca mengusap wajahnya kasar. "Itu yang gue pikirin saat ini.! Kenapa gadis hama itu bisa bela diri.? Bahkan dia bisa mematahkan tulang mereka berdua.!" tunjuk Bianca pada anak buahnya yang sedang berbaring lemah.
"Terus.? Apa mereka di bawa ke rumah sakit.?" tanya Ridwan
Bianca hanya mengangguk. Ia sedang pusing memikirkan Zayna yang menurutnya penghalang antara dirinya dan Areksa.
"Tunggu....." Bianca menjeda ucapannya
"Kenapa Nona.?"
Bianca menatap Ridwan dengan intens. "Apa jangan-jangan identitas dan informasi yang di dapat itu palsu.?" tebak Bianca
Ridwan sendiri terkejut mendengar ucapan bosnya ini. Apa benar identitas dan informasi yang anak buahnya dapatkan itu palsu.? Tapi, bagaimana bisa.?
"Menurut mu bagaimana, Wan.?" tanya Bianca meminta pendapat
"Kalo menurut saya, bisa jadi bisa tidak Nona.!" jawab Ridwan sembari berpikir keras
"Tapi bagaimana bisa.?"
__ADS_1
"Cari tau lagi tentang gadis sialan itu.! Kali ini kita jangan sampai terkecoh" titah Bianca pada Ridwan
"Baik Nona"
.
.
.
Zayna kini sedang merebahkan dirinya di kasur king size. Setelah selesai makan malam dengan Areksa tadi. Mata gadis itu belum mengantuk, ia memutuskan untuk menonton drakor padahal sudah jam 22.23 malam.
Sedangkan kini Areksa sedang memerintahkan Fatir untuk mencari tau kejadian tadi di restaurant. Tentu saja Areksa tidak akan tinggal diam. Jelas-jelas ia tadi mendengar suara keributan.
___________
BRUUUGH
"Aduuuhhh..." Zayna meringis ketika ia terjatuh dari ranjang. Karena Zayna sempat bermimpi yang membuatnya jatuh seperti ini. "Ahhh sial" umpatnya
Gadis itu memegangi pant*tnya yang terasa nyeri. Ia tidak sadar jika ia tidur sangat tepi sekali dengan batas ranjang.
"Bisa-bisanya jatuh... Awas aja" Zayna bersungut-sungut sendiri tak jelas.
Dengan gontai Zayna berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, Zayna selesai mandi lalu ia turun ke bawah.
__ADS_1
"Tumben rumah sepi.? Biasanya Bunda atau Ayah berada di meja makan.?" gumamnya menatap ke penjuru arah.
"Bunda biasanya kalo gue telat bangun langsung koar-koar nggak jelas" gumamnya lagi.
Saat ia sampai di meja makan, ia mendapati roti yang sudah di olesi dengan selai coklat kesukaannya. Netranya jatuh pada secarik kertas, Zayna pun mengambilnya.
*Bunda Anis Cantik
Zayna Aghnia yang ku sayang. Bunda sama Ayah pergi ke luar kota. Mungkin bunda sama ayah di luar kota selama satu minggu, maaf banget ya nak, bunda nggak bisa temenin Zayna di rumah.
Ini saja bunda sama ayah mendapat kabarnya mendadak. Sebenarnya bunda nggak tega ninggalin putri bunda tersayang.
Kamu bawa temen mu Salma atau siapa, buat nginep di rumah nemenin kamu. Kalo misal kamu takut di rumah sendirian. Tapi jangan bawa temen mu yang berandal nggak jelas itu.
Ini surat dari bunda gitu aja, jangan lupa rotinya di makan ya.? Bunda bakal cepet-cepet balik kok.! I Love You Zayna Aghnia.
Gadis itu hanya menghela nafas setelah membaca surat dari sang Bunda. Ia tidak takut di rumah sendirian seperti ini, malahan bisa bebas pikirnya.
Zayna pun memakan roti tersebut sendirian, di temani dengan keheningan. Setelah itu meminum susu yang sudah di buatkan Bundanya sebelum pergi.
Setelahnya Zayna pergi ke kamar. "Gue mau bawa motor gue ke bengkel Bang Jamal dulu deh, bentar lagi kan balap dan motor gue harus sudah di kladifikasi" ucapnya lalu mengganti pakaiannya.
Kini Zayna keluar dengan celana jeans dan hoodie warna hitam serta topi dan masker hitam yang menjadi andalannya.
"Dimana Mang Jono.? Kok nggak jaga gerbang.? Tapi ini kesempatan bagus, gue bisa pergi" Zayna berjalan keluar gerbang dengan mengendap-endap.
__ADS_1
Setelahnya Zayna berjalan sendiri di jalan yang sepi, ia akan memesan taksi di halte bus nanti. Tanpa ia sadari, ada yang menatapnya dari kejauhan.