
lelah mengajari nadin beladiri sheza menyeka keringatnya sambil meminum air yang sudah dia bawa, matahari sudah terasa panas dibadan keduanya.
nadin berjalan kearah sheza sambil menyeka keringat yang mengalir dari dahi sampai lehernya
" ka apa aku bisa selincah itu? " tanya nadin setelah sampai didepan sheza
sheza tersenyum menutup botol air
" bisa, yang penting kamu rajin berlatih dan jangan sampai lupa gerakan yang tadi kaka ajarkan okay " sheza tersenyum menyentuh kepala nadin, nadin mengangguk dan tersenyum
abhi datang menghampiri sheza dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celana melangkah cepat mendekati sheza,
" maunya apa sih cowo ngintil-ngintil mulu " gumam sheza nadin tersenyum mendengarnya tak mau mengganggu nadin pamit pulang duluan
" ka aku pulang duluan ya " ucap nadin sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda sheza
" hey tunggu " cegah sheza namun abhi lebih dulu menarik tangan sheza
" apa sih, narik-narik lepas gak " bentak sheza mencoba melepaskan tangan abhi dari tangannya
" gak, kamu harus diberi hukuman ! " ucap abhi tegas
" hahaha hukuman ? memang aku salah apa hah dasar pria aneh " ketus sheza
abhi memajukan wajahnya kedepan wajah sheza
__ADS_1
" hey jauhkan wajahmu dari wajahku dasar cacing belang " maki sheza, namun bukannya menyingkir abhi semakin memojokan sheza
" ka kamu mau apa le lepaskan aku" sheza gugup karena wajah abhi terus semakin mendekati sheza melangkah mundur abhi terus saja maju sampai sheza terpojok hingga punggung sheza menyentuh batang pohon.
" aku tidak akan pernah melepaskan mu, kau harus dihukum karena tidak mendengarkan aku "
" apa maksudmu dasar pria aa "
cup...
abhi mencium bibir sheza sekilas sheza terdiam abhi tersenyum melihat sheza seperti itu ketika abhi akan mencium kembali sheza, sheza kembali kealam sadarnya.
plaakk..
sheza memukul dada abhi dengan keras berani sekali dia mencium sheza seperti ini
" hey baby jangan tinggalkan aku " teriak abhi sebelum mengejar sheza abhi membawa barang sheza yang tertinggal disana dan menyusul sheza kembali.
sesampainya dirumah nadin melihat gilang yang sedang merajuk pada shivania lantas nadin mengerutkan alisnya entah apa yang terjadi pada kakanya itu
" mau bagaimana lagi mas, ini kemauan anak kamu bukan kemauan aku " ucap shivania mengelus perut buncitnya drngan santai
" ya, tapi bisa kali nego dikit, masa ia aku harus pake baju begitu " gilang menggaruk kepalanya frustasi keduanya belum sadar jika ada orang lein selain mereka berdua
" ga ada nego menego ya mas, aku mau kamu pakai baju tidur yang baru aku beli titik gak pake koma " shivania menyilangkan kakinya seperti nyonya besar
__ADS_1
" sayang,,, " gilang masih memohon
" eheem, ada apa nih? " ucap nadin dari belakang sedari tadi hanya mendengar pembicaraan keduanya
" bagus kamu udah datang, bantu kaka "
" bantu buat apa? "
" bujuk kaka ipar kamu lah, kamu harus bantuin kaka awas kalau gak uang jajan kamu kaka cingcang " gilang mengancam
" dih, ko gitu sih lagian kapan kaka ngasih uang jajan? lagian bener kata ka shiva apa susahnya sih nurutin kemauan anak sendiri cuma pake baju tidur doangkan apa susahnya "
" benar kata nadin, baju tidur doang kok gak lebih "
gilang mengehela nafasnya panjang memang benar kata pepatah gak akan menang jika berdebat dengan wanita
" ya sudah. tapi didalam kamar kita dan hanya kamu dan aku saja gak boleh nawar lagi " gilang mengalah
shivania mengangguk dan tersenyum.
" lah ko gitu, aku kan juga mau lihat " ucap nadin
" anak kecil dilarang " ucap gilang berlalu pergi menarik tangan shivania membawanya masuk kedalam kamar
" ka ikut aku mau lihat " teriak nadin namun tidak dihiraukan gilang sampai keduanya masuk kedalam kamar....
__ADS_1
" padahalkan aku mau lihat baju tidur macam apa yang kaka pake? " gumam nadin sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.