
sore menjelang dan kini shivania sudah bersiap untuk pergi gilang mengikuti sang istri dari belakang shivania meminta ijin terlebih dulu pada orang tuanya baru dia keluar dari rumah saat keluar dari pintu shivania menggandeng tangn gilang manja gilang sedikit heran akan hal itu namun dia tidak ada rasa curiga sedikitpun pada istrinya itu, shivania tersenyum sendiri dalam otaknya sudah menyusun sesuatu untuk suaminya itu bukan hanya diminta untuk mengambil buah kelapa, shivania yakin jika suaminya bisa untuk mengambilnya tapi apakah yakin dengan permintaan shivania hanya itu saja?? kita lihat nanti...
sheza sudah berada didepan pintu rumah ayahnya, ayah reza sheza mengambil kunci dari dalam sakunya lalu membuka pintu perlahan.
kreeet..
suara pintu dibuka, sheza menutup kembali pintunya saat dia sudah masuk kedalam
sheza menyimpan tasnya di meja makan tapi pada saat itu sheza mengerutkan alisnya
" cangkir kopi?? bekas siapa?? " gumam sheza dia lihat cangkir itu teliti
" seperti bekas tadi pagi, siapa yang datang kesini?? " ucapnya lagi sheza membawa cangkir kopi itu kedapur setelah itu dia masuk kedalam kamar ibu dan ayahnya memerikasa apakah ada yang hilang atau tidak karena dia takut ada orang yang masuk kedalam rumah itu
" jadi kangen ayah sama ibu " menghela nafasnya berat lalu sheza menutup kembali pintu kamar itu. kini sheza menuju kamar adikya siska, sheza membuka dan masuk kedalam kamar siska
" tidak ada tanda-tanda kehidupan selain gue, , tapi kenapa ada cangkir kopi? bekas siapa? apa mungkin ayah tapi kalau ayah pasti datang kerumahnya bude " bergumam sheza masuk kedalam kamar itu , sheza tersenyum sendiri melihat dan mengambil foto dirinya dan siska yang sedang bermain air dikali.
" gue rindu masa-masa kaya gini "menaruh kembali fotonya ditempat semula, merasa sudah puas melihat-lihat kamar kini sheza masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat
" tidur dulu ach gue kangen kasur keramat gue.. " ucapnya mulai menutup matanya perlahan dikasur lantai lepek miliknya tak lama sheza tertidur pulas diatasnya.
diluar abhi baru saja tiba menyusul sheza dia baru mendapat kabar dari bara bahwa dia memvutuhkan tanda tangannya abhi menyuruh bara untuk datang kesana abhi tidak mau jika harus pulang meninggalkan sheza hanya untuk sebuh tanda tangan.
abhi masuk kedalam rumah dan melihat tas sheza berada diatas meja makan namun pemiliknya tidak terlihat dimana mana. abhi berjalan memasuki dapur mencari keberadaan sheza namun tidak ada akhirnya abhi berjalan kearah pintu kamar sheza dan membuka sedikit pintu kamar
" dia terlihat manis saat tidur, andai aku berada disampingnya saat ini" gumamnya melihat sheza tidur sudut bibir abhi mengembang dia masuk kedalam kamar sheza dengan hati-hati agar tidak membuat sheza bangun
abhi perlahan berbaring disamping sheza setelah nyaman dengam posisinya abhi mengangkat tangan sheza dengan sangat pelan menaruh ditubuh kekar miliknya, mengangkat kepala sheza menyingkirkan bantal dan menggantikannya dengan lengannya sendiri
" hmmmm " sheza menggeliat namun tidak terbangun malah mengeratkan pelukannya ditubuh abhi entah mimpi apa sheza memeluk abhi dengan tersenyum, keadaan itu dimanfaatkan abhi untuk membalas pelukan sheza
" wEnak ooy grrr " abhi bersorak dalam hati ingin rasanya dia membelai dan mencium tapi dia tidak mau mengambil resiko jika nanti sheza terbangun dengan kelakuannya, mungkin dia akan mendapatkan tendang dan yang pasti akan usir dari sana lebih baik diam,
abhi menutup matanya dan ikut tidur disamping sheza dengan semakin erat memeluk tubuh hangat pemilik hatinya.
gilang sudah berada dikebun dengan nengendarai sepedah motor baru beli shivania turun dari motor perlahan gilang memegangi tangan shivania agar tidak terjatuh
" ayo mas kita masuk "
__ADS_1
" loe aja kali gue gak "
buukk..
" aww sakit tau " gilang pura-pura meringis kesakitan
" lagian ngomongnya gitu " shivania memanyunkan bibirnya, gilang tersenyum dan menarik bahu shivania agar menempel padanya.
" becanda kali, gitu aja marah " mencuil dagu dan mengajak shivania masuk kedalam kebun bersama.
sebelum masuk kefalam kebun milik ayahnya mereka berdua memasuki kebun milik orang lain yang tidak diurus pandangan mereka terhalang oleh rumput-rumput liar tersebut gilang menyingkirkannya dengan tangan agar mereka bisa berjalan melewatinya.
shivania melihat kesekelilingnya mencari sesuatu tak lama dia menemukannya.
" hey, mau kemana? " tanya gilang
" sebentar " shivania mengambil kayu untuk digunakan
" ini, pakai ini saja nanti tangan kamu terluka dan nanti aku yang disalahkan oleh mama " ucap shivania bercanda, gilang mengambil kayu dari tangan shivania.
dirumah kedatangan tamu yaitu rina dan vina bukan mereka berdua saja yang datang kesana riko juga ikut menemani sang istri, mereka bertiga dipersilahkan duduk diruang tamu sementara ibu sania membuatkan sesuatu didapur nadin yang menemani mereka diruang tamu karena diminta ibu sania, yudi dan nuri tidak ada begitu juga pak rudi jadi bu sania meminta tolong pada nadin.
rina menatap tajam kearah vina, vina mengabaikannya
" ndin, sheza sama shiva mana? " lajut vina tak memghiraukan rina dan riko.
" ka sheza tadi katanya mau nginep dirumahnya, terus kalau ka shiva tadi jalan bareng ka gilang tau pada kemana " nadin menggidikan bahunya vina menganggum mengerti
ibu sania masuk membawa nampan berisi kan minuman dan cemilan untuk sahabat anaknya.
" maaf ya neng rina neng vina dan nak riko ibu menyuguhkan makanan kampung ini pada kalian " ucap bu sania tak enak hati
" tak apa bu, harusnya kami yang minta maaf telah merepotkan ibu dengan kedatangan kami ini " ucap rina mewakili semuanya
" gak ko biasa aja, silahkan diminum cobain juga kripik gadungnya " ucapnya smabil duduk didekat nadin
" nadin, apa kamu bisa telpon kaka kamu sebentar bilang padanya ada teman-temannya datang " lanjut ibu sania
" ka shiva sama ka gilang gak bawa hp tadi aku lihat keduanya ada dikamar " jelas nadin
__ADS_1
" kalau gitu aku keluar dulu cari mereka " ucap ndin hendak berdiri namun ibu sania menahanya, bagaimana jika nanti nadin tersesat? bukannya nadin tidak tau daerah sini?
" kamu disini saja biar ibu yang cari. lagian kamu tidak tau jalan kan nanti kamu nyasar lagi " khawatir
ibu sania beranjak pergi namun langsung ditahan kembali oleh riko sedari tadi dia diam.
" ibu tak usah pergi, biarkan kami menunggu saja disini sebentar lagi pasti mereka pulang " ucap riko
ibu sania melihat jam dan benar mereka pergi sudah lumayan lama dan sebentar lagi petang ibu sania duduk kembali menemani tamu anaknya sambil menunggu kedatangan anak,menantu dan juga suaminya. nadin dan yang lain asik mengobrol.
tal terasa sudah satu jam mereka bicara dan ibu sania meminta semuanya membersihkan diri sementara dirinya masuk kefalam dapur menyiapkan makan malam karena makanan yang tadi dimasak dirasa tidak cukup ibu sania menambah menu lagi.
pak rudi datang bersama yudi dengan membawa ember berisi ikan mujaeir masuk kedalam dapur
" bu masak apa? " tanya yudi
" bukannya makanan sudah ada dimeja, banyak amat menunya abis gak tuh? "
" ya dari pada kekurangan lebih baik kelebihan, lagian kita kedatangan teman-temannya kaka kamu jadi ibu masak lagi "
yudi mengangguk paham pak rudi menyerahkan ember berisi ikan dihadapan bu sania
" kalau gitu kita bakar-bakar aja gimana " pak rudi memberi saran
" aah ia betul pak kita bakar ikan mujaer aja gimana bu? " yudi semangat
ibu sania berpikir
" lalu masakan yang sudah ibu masak dikemanain? "
" simpan aja kedalam kulkas besok angetin lagi "
" ooh ya sudah kalau gitu kita bakar-bakar malam ini, ya sudah pada mandi sana bau amis, setelah itu kita siapkan bahan-bahan untuk membakar "
" siaaaaap komandan " ucap yudi semangat
" asiik bakar-bakar brrr mantap " teriak yudi keluar dari dapur menuju kamar nuri
pak rudienggelangkan kepalanya melihat kelakuan anak lelakinya, pak rudi mengajak ibu sania keluar dari dapur menuju kamarnya.
__ADS_1