Gadis Desa Dan CEO Dingin

Gadis Desa Dan CEO Dingin
pulang kampung 2


__ADS_3

saat ini shivania sedang mandi jam menunjukan jam sebelas siang dan dia baru bangun harusnya dia sudah berkemas untuk pulang kampung tapi lihatlah ulah suaminya yang membuat dia kelelahan hingga tidur kembali ingin rasanya shivania protes namun tidak bisa dipungkiri gilang membelainya penuh kelembutan hingga dia terbuai dan menginginkan lebih dan lebih.


shivania menghitunng tanda merah disekujur tubuhnya lewat cermin yang ada di dalam kamar mandi berapa banyak yang gilang buat tidak terhitung lagi


" gak ada bosannya bikin kaya gini " ucapnya menutup tubuhnya dangan handuk yang dililitkan.


shivania keluar dan segera memakai pakainnya jangan sampai gilang melihatnya lagi bisa tambah bengkak lagi sawah sepetaknya dijajah terus terusan oleh sijawer, serelah beres shivania merapikan pakaian memasukannya kedalam tas yang akan dia bawa mudik meski bukan hari raya idul fitri alias lebaran tak apa sesudah selesai membereskan semua yang akan dia bawa shivania membangunkan gilang yang tidur tengkurap.


" mas bangun udah siang aku lapar belum makam mas ayo " rengek shivania menggoyangkan bokong gilang dengan satu tangannya sedangkan satunya lagi memegang sisir yang akan dia gunakan


" hmmmm sayang diam " ucap gilang dengan suara seraknya bisa bisa sijawer bangun dan ingin meanjap kembali, gilang membalikan tubuhnya jadi terlentang shivania kaget dan berteriak


" aaaaaaaa mesum... " teriak shivania memukul si jawer dengan bantal


buukk....


" aduuuuh sakiit " ringis gilang bangun dan memegangi jawernya shivania tersenyum suruh siapa sijawer berdiri


" sayang bagaimana jika nanti mahkota milikmu ini tidak berfungsi lagi ?? "


" tinggal nyari yang lain apa susahnya " ketus


" iiisssh menyebalkan sekali "


" udah sana bangun aku lapar debay sama cacing diperutku udah pada demo " ucap shivania yang tidak bisa menahan laparnya


" ya aku bangun tunggu saja dibawah " gilang turun dari kasur tanpa memakai apa apa mata shivania melotot melihatnya diraihnya bantal lalu dia lempar mengenai bokong suaminya itu


buuk..


awww... pekik gilang bagaimana tidak sakit bantal yang shivania gunakan adalah bantal lumayan keras


" rasakan,, makanya baju dipake ini kaya engkong tuyul aja " ucap shivania senang berhasil mengerjai suaminya shivania cekikikan geli dengan ucapannya sendiri


" sayang apan siih, kalau mau ya ayo aku siap ngebor lagi " gilang membalikan tubuhnya berjalan kearah shivania


" idiih ogah udah sana mandi " namun gilang tidak perdulikan ucapan shivania, shivania jadi merinding melihat sijawer dia raih bantal kembali untuk menimpuk gilang kembali namun tidak mengenainya gilang menahan bantal shivania menodongkan sisir kehadapan gilang, gilang merbutnya dan membuangnya semabarang, shivania mendorong gilang sekuat tenaga hingga gilang terdorong jatuh kelantai


brrruk....


aaaaaaaaa " teriak gilang kesakitan


" SHIVANIA SHELIA WULANDARIIII " teriak gilang menyebutkan nama lengkap sang istri dia kesal jatuh kelantai bokongnya menduduki sisir yang tadi shivani gunakan dan dia lempar semabarang itu, gilang menunjukan sisir dari bawah bokongnya shivania menutup mulutnya merasa bersalah lalu mengambil langkah seribu kabur dari dalam kamar " aku tidak salah " teriak shivania


sambil tertawa puas diluar sana.


gilang bangun memegangi bokongnya yang sangat sakit sepertinya bokong gilang tidak bisa digunakan sementara waktu tapi bagaimana bisa tidak digunakan? dia akan pergi berkunjung kekampung mertuanya apakah dia kuat?


gilang masuk kedalam kamar mandi tangannya masih memegangi bokongnya sambil menggerutu kesal,, harusnya dia tadi tidak melempar sisir sialan itu


****


****


ditaman nadin sedang menikmati pemandangan didanau duduk selonjoran diatas rumput sesekali nadin memotret angsa yang sedang berenang didanau bunga teratai jadi penghias atasnya tak terasa waktu sudah mulai siang orang yang tadinya banyak sekarang mulai sedikit.


tak jauh dari jarak nadin seorang pemuda sedang memperhatikan gerak gerik nadin sedari tadi sejak pemuda itu datang ketaman matanya langsung menangkap nadin pemuda itu melangkah menghampiri nadin, nadin kaget dan langsung melihat kesisi kirinya seorang pemuda duduk disampingnya nadin bergeser kesisi kanan menjauh dari pemuda itu


" jangan takut aku tidak berniat jahat " ucap pemuda itu yang berumur 16 tahun, nadin tidak menjawab pemuda itu dalam pikirannya orang jahat yang akan menculiknya,


nadin bangun memakai tasnya, pergelangan tangan nadin dipegang hingga nadin menoleh kebelakang dan menatap wajah pemuda itu mau tidak mau nadin membuka suara


" maaf aku harus pergi, tolong lepaskan " pinta nadin namun pemuda itu tak mau melepaskannya nadin menghembuskan nafasnya kasar sebelum dia duduk kembali dia jadi tidak tega pada pemuda disampingnya yang terlihat sedih mungkin pemuda ini butuh teman ? jadi nadin memutuskan berada ditaman sebentar lagi


" maaf aku tidak bermaksud membuatmu takut padaku hanya saja kupikir aku mengenalmu "


" tidak apa apa, apa kau butuh teman? " ucap nadin meski umurnya baru dua belas tahun namun dia bersikap dewasa ini karena ajaran kedua orang tuanya

__ADS_1


" apa boleh aku mengaggapmu teman ? "


" boleh, kita sekarang teman jadi katakan apa yang membuatmu sedih? " ucap nadin mulai bicara, pemuda itu terkekeuh mendengar ucapan nadin, nadin mengerutkan kedua alisnya apa ada yang salah dengan perkataanya?


" apa ada yang lucu? "ucap nadin


" ia, eh tidak hmm maksudnya, hmm " pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal bingung mau bicara apa


nadin tersenyum melihat pemuda itu sudah tidak sedih lagi


" kamu lucu omongan sama wajah kamu itu loh buat aku ketawa? "


" apa ada yang salah dengan ucapanku? "


" tidak, hanya saja ucapanmu itu seperti orang dewasa "


" benarkah ! " ucap nadin tak menyangka, pemuda itu mengangguk


" jadi apa boleh aku tau kenapa wajahmu terlihat sedih begitu ?? sungguh jelek sekali " ucap nadin diiringi keukeuhan kecil dari bibir mungilnya..


pemuda itu melongo tak percaya ucapan gadis kecil dihadapannya jelek? apakah ia dia jelek pemuda itu langsung berdiri mendekati danau dan melihat pantulan dirinya dari sana dia pegang wajahnya namun seperti biasa terlihat sangat tampan dan gagah nadin terkeukeuh geli


" dasar anak kecil " gumamnya sambil tersenyum kecil nadin berhenti tertawa ketika pemuda itu mendekat kembali


" maaf aku hanya bercanda " ucap nadin nyengir pemuda itu menggeleng sambil tersenyum


pemuda itu mulai bercerita dan sesekali terlihat sedih nadin juga ikut sedih nadin diam mendengar cerita sang pemuda itu.


satu jam sudah mereka bicara dan nadin pamit pulang karena dia akan ikut bersama kakanya jangan sampai kakanya mencari keberadannya karena khawatitr jika itu terjadi habislah riwayat kebebasan nadin.


****


****


gilang memangku leptop dipangkuannya duduk diruang tamu mengerjakan beberapa dokument yang harus dia kerjakan sambil menunggu kedatangan nadin, sebelum pergi nadin minta ijin lewat pesan singkat untuk pergi ketaman sebentar tapi ini sudah berapa jam nadin berada diluar ? jangan sampai nadin bertemu dengan musuh orang tuanya disana, gilang menaruh leptopnya diatas meja dia akan segera menghubungi ponsel nadin, sambungan telpon yang gilang lakukan tidak diangkat oleh nadin dan kedua juga sama.


shivania berjalan kearah gilang. bingun melihat suaminya mengumpat seperti itu shivania mendekati gilang menarik tangannya hingga duduk berdua disofa


" mas kamu ini kenapa apa yang membuatmu komat kamit gak jelas? "


" gak jelas apanya nadin bilang pergi sebentar nyatanya ini, udah tiga jam berlalu dia gak datang - datang ditelponpun gak diangkat apa -apaan anak itu " " ucap gilang


" owh itu, tadi aku udah telpon dia katanya lagi dijalan, mungkin saat kamu telpon dia gak dengar atau juga lagi sibuk, sudahlah jangan marah seperti itu nanti wajah tampan glowing kencang mu itu jadi kendor aku tidak suka, aku mau bicara padamu apa boleh? " ucap shivania memastikan apa suaminya tau rencana abhi yang akan menikah dengan sheza, gilang mengangguk


shivania menarik nafasnya dalam lalu membuangnya perlahan


" mas, apa temanmu ada yang akan segera menikah? " tanya shivania melihat raut wajah gilang apakah suaminya itu tau dan tidak memberi tahunya?


gilang mengerutkan kedua alisnya.


" aku rasa tidak ada, memang ada apa? " tanya balik gilang, shivania bersandar dibahu gilang, gilang menunduk mencium pucuk kepala shivania lembut,


" apa mas gilang ciusan gak tau ? " batin shivania, lalu dia cepat menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya itu.


shivania melingkarkan tangannya dipinggang gilang rasanya dia ingin seperti ini untuk sebentar posisi ini membuatnya nyaman apa lagi bau harum dari tubuh suaminya perasaan shivania menjadi tenang keduanya diam larut dalam pikiran masing masing.


diluar nadin baru datang dengan ojek, mobil yang dikendarai pak sudin mogok dan dibawa kebengkel, nadin yang tidak mau membuat kakanya khawatir memilih naik ojek yang ada dipangkalan ojek


nadin turun dari motor merogoh uang disaku tasnya lalau memberikannya pada tukan ojek itu


" makasih ya pak, kembaliannya ambil saja " ucap nadin melihat pria paruh baya memberikan kembalian untuknya


" ah ini mah kebanyakan neng, nanti si neng gak bisa jajan " si tukang ojek tidak tau jika nadin orang tajir tukang ojek itu belum melihat kedalam gerbang dimana menurunkan nadin


" tak apa pak buat bapak saja rejeki jangan ditolak "


" oh ia ia neng maaf bapak jadi gak enak, terima kasih ya neng "

__ADS_1


nadin mengangguk sebelum masuk kedalam pagar yang sudah dibuka oleh satpam lebar lebar.


" siang nona dari mana? " sapa pak satpam nadin tersenyum sebelum menjawab


" siang juga pak, dari taman nadin kedalam dulu ya " pamit nadin, pak satpam membungkukan bahunya.


tukang ojek melongo melihat kedalam pagar yang dimasuki anak gadis tadi matanya tak kunjung berkedip saking kagumnya belum pernah dia melihat rumah sebesar dan seindah itu dikira hanya ada dicerita dongeng saja,


pak ojek melihat ketelapak tangannya yang masih memegang uang dari nadin,


" pantas saja, uang segini mah gak ada apa apanya bagi mereka, alhamdulilah rejeki nomplok " ucapnya senang menyalakan kembali mesin motornya dengan senyum mengembang..


*** ***


**** ***


diperjalanan gilang yang mengemudi mobil untuk kedua wanita kesayangannya shivania sudah bilang agar pak sudin ikut untuk mengemudikan mobilnya dia kasihan pada gilang yang terlihat mengantuk dan sedikit menahan nyeri dibokongnya yang terkena tanjaban sisir milik shivania,


nadin yang berada dibangku belakang masih cemberut akibat diceramahi gilang terlalu lama dan dilarang gilang untuk jalan jalan dikampung kaka iparnya


apakah dia harus berdiam diri didalam rumah saja itu tidak bisa nadin lakukan


" ka ayo lah aku gak mau diam didalam rumah aku bukan anak rumahan " rengek nadin namun tidak ditanggapi oleh gilang, nadin mendengus kesal lalu melirik kaka iparnya shivania, nadin tersenyum kecut.


" kaka, tolong bantu aku bicara pada kaka ya " nadin memggoyangkan bahu shivania pelan sambil merengek shivania tersenyum lalu mengusap tangan nadin dan mengangguk shivania tidak tega melihat nadin merengek, gilang menggelengkan kepala tak habis pikir.


" yes,, " nadin tersenyum senang


" aku tetap tidak akan mengijinkannya jadi jangan senang dulu " ketus gilang membuat nadin seketika cemberut memajukan bibir mungilnya itu nadin bersedekap lalu memalingkan wajahnya kesamping pintu mobil sambil bersandar dikursi


nadin melihat kearah jalan saat mobil melewati jalanan yang terdapat pohon karet yang berjajar bagus untuk selfi disana nadin jadi ingin selfi disana dengan banyak gaya


" ka apa kita bisa berhenti sebentar, aku ingin selfi dan menunjukannya ke mama? " pinta nadin, shivania langsung melihat kearah samping mobil dan benar apa yang dibilang nadin.


gilang diam tidak menyauti nadin, gilang masih sedikit kesal nadin pergi lama dari rumah padahal dia sendiri tahu jika dirinya masih dalam bahaya menutupi identitas dan mengganti nama saja tidak cukup, meski itu berhasil dengan usaha keras dan tekad yang dimiliki nadin tetap saja gilang merasa cemas dan khawatir akan keselamatan adinya.


bahkan keluarga gilang berusaha keras agar nadin bisa menguasai bahasa dan logat bicara nadin dalam waktu singkat apalagi keluarga gilang belum tau seberapa kuat musuh yang akan mereka hadapi demi melindungi nadin,


" mas, aku juga mau selfi apa boleh kita berhenti sebentar ini permintaan debay " bujukk shivania mengelus lembut bahu sang suami, gilang melihat kesamping dimana sang istri sedang menatapnya dengan permohonan yang tak bisa gilang tolak


" baiklah, tapi ingat gak pake lama, dan kau nadin jangan jauh-jauh awas saja " ucap gilang penuh penekanan. nadin mencebikan bibirnya membuat shivania terkeukeuh lucu melihat bibir mungil nadin, shivania mencondongkan tubuhnya kebelakang kursi mencubit gemas pipi adik iparnya itu


" iiih lucu banget siiiih gemes deh aaach,, harusnya aku itu benci sama kamu biar debaynya mirip kamu ndin " shivania terlihat kecewa, gilang menepikan mobilnya. gilang membuka kunci mobil


" mana ada, orang aku bapaknya ya pasti mirip akulah, kalau gak ya mirip kamu " ketus gilang tak terima, nadin membuka pintu mobil sebelum keluar nadin membuka tasnya mengeluarkan tongsis dari dalam sana sudah dipersiapkan untuk berjaga jaga saat melihat tempat yang dikiranya bagus, nadin berlari kearah yang akan dia tuju


" hey gadis kecil awas saja " ucap gilang meremas jari jari tangannya memperingati nadin jangan jauh jauh


" ia ka aku tau tenang saja " teriak nadin sambil berlari menjauh gilang menggerutu melitanya shivania menggandeng tangan suaminya


" disini ramai juga ya, aku juga ingin selfi " ucap shivania mulai memotret semua yang dia lihat tak lupa shivania menarik tangan suaminya untuk selfi bersama banyak gaya yang shivania lakukan, terakhir shivania meminta tolong pada orang yang lewat disana untuk mengambil foto dirinya dan gilang, saat sudah siap gilang menggendong tubuh shivania, shivania yang kaget langsung melingkarkan tangannya dileher suaminya dan memandangi wajah gilang keduanya dalam keadan saling pandang


ckreek..


suara kamera dari ponsel shivania, mengganggu keromantisaan keduanya shivania tersadar lalu melihat kearah orang yang sedang mengambil gambar keduanya shivania bergaya dan gilang masih menggendong tubuh istrinya shivani merentangkan kedua tangannya, mencium pipi gilang mesra.


gambar yang diambil sudah banyak shivania berterima kasih pada orang yang telah membantunya dia lihat lihat hasil jebretan orang tadi dan hasilnya sangat memuaskan mungkin karena ponselnya juga bagus jadi semua gambar tidak ada yang dihapus.


gilang menghubungi nadin untuk segera kembali ini sudah terlalu lama mereka istirahat disana hari semakin sore mereka harus segera sampai sebelum magrib.


nadin sampai dengan cemberut wajahnya ditekuk.


" kamu kenapa sih jelek banget, " ucap gilang


" biarin " ketus nadin masuk kedalam mobil dia kesal tadi ada seorang pria yang menghampirinya dan menggodanya nadin tidak memberi tau gilang jika gilang tau pasti akan diberikan bodyguard untuknya, habislah kebebasannya


shivania menggelengkan kepalanya,

__ADS_1


" iish dasar gadis kecil " gumam gilang tersenyum kecil, masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil kembali cukup sudah hari ini dan mereka harus segera sampai, jarak yang harus mereka tempuh satu jam setengah baru sampai ketempat shivania ...


__ADS_2