
shivania mengerjapkan matanya beberapa kali menggeliat dan menguap lebar
shivania bangun dan bersandar dibahu kasur merenggangkan otot leher kekiri dan kekanan lalu memijatnya perlahan dengan tangan
" dia membuatku tak berdaya dan kelelahan seperti ini " gumam shivania mengusap rambut suaminya yang berada disamping memeluk perut shivania
shivania mengangkat tangan gilang perlaha dia akan turun untuk membersihkan diri gikang sedikit menggeliat namun matanya enggan terbuka
shivania melirik sekilas dan tersenyum menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami yang menggesekan hidungnya keguling yang dia peluk
shivania menyambar handuknya dan masuk kekamar mandi
didalam kamar mandi shivania membuka handuknya dan terlihat tubuh polos dari pantulan cermin
shivania kaget dan memutar tubuhnya kebelakang
" ya ampun satu, dua, tiga, empat ,lima, enam, tujuh, delapan aku tidak bisa menghitungnya " ucap shivania frustasi begitu banyak tanda merah yang ditinggalkan suaminya itu shivania malu sendiri menatap dirinya dalam cermin
mau protes tapi takut dihukUm seperti semalam, hanya karena salah paham gilang seenaknya saja menghukum shivania padahal dia yang salah malah shivania yang dihukum, gak terima ? kebebasan leluasanya bergerak akan dibatasi oleh gilang jadi apa boleh buat selama kegiatan mereka tidak membuat janin dalam rahim shivania bahaya
shivania keluar dari dalam kamar mandi dan bergehas memakai bajunya
setelah selesai shivania keluar dari kamar turun ketangga dan melangkah menuju dapur disana sudah ada para pelayan yang membuat sarapan pagi
" bibi, apa boleh aku yang memasak " bertanya dahulu lalu beralih ingin memegang spatula
" maaf nona, sebaiknya anda tunggu saja dimeja makan jangan terlalu lama berdiri " ucap bibi nati shivania berbalik menuju kearah meja makan, langkahnya terhenti saat melihat bingkisan di atas meja diruang tamu
" bibi, siapa yang menaruh bingkisan disitu " sedikit keras memanggil
bi nati datang menghampiri
" ada apa non "
" itu punya siapa bi ? dari siapa ? " tunjuk shivania kearah ruang tamu
bi narti melihat kearah yang ditunjuk shivania
" kalau gak salah pak riko yang bawa itu "
" terus orangnya kemana lagi ? " shivania tidak melihat keberadaan riko disana
" mungkin diruang kerja tuan nona, tadi ada yang mengantar kooi kesana "
shivania mengangguk mengerti dan dia oamit untuk keatas kembali bi narti pun melanjutkan pekerjaan yang belum selesai didapur
'" mas, bangun dibawah sudah ada mas riko " bisik shivania sedikit menggoyahkan bahu suaminya
" hemmmm huuuuuuuaa " gilang menguap lebar dan shivania menutupi mulut gilang
" ya ampun mas bisa masuk lima ribu lima ratus lima puluh lima biji sarang nyamuk masuk kedalam mulut kamu " shivania terkekeh membayangkan mulut suaminya penug dengan sarang nyamuk
gilang menutupi tubuh polosnya dengan selimut dan membelakangi shivania
shivania mendengus kesal melihat gilang mengacuhkannya seperti itu
mata shivania memerah bibirnya cemberut dan air mata turun deras seketika sikap gilang membuat shivania sakit hati mungkin karena hamil sedikit baper
" sayang, kamu kenapa siapa yang buat kamu menangis haah ? " gilang panik hingga tak memperdulikan selimut yang merosot begitu saja
__ADS_1
" aaaaaaaaaaa iih gelo " teriaknya menutupi wajah shivania, gilang yang panik mendengar tangis shivania melihat kebawah selimut yang tesangkut dibanana pisang milik gilang begitu besar menantang panjang menjulang membuat shivania bergidik ngeri
" bagaimana tidak berdaya, banananya sebesar dan panjang seperti itu membuat punyaku bengkak dan masih terasa berdenyut sampai sekarang " batin shivania memukul kepalanya pelan
gilang menggaruk tengkuknya bingung melihat shivania
gilang mendekatkan tubuh yang hanya dibalut selimut sampai pinggangnya saja
" sayang ada apa ? kenapaa tadi menangis siapa yang membuat kamu menangis aku akan memukul kepalanya sampai benjol sebesar bola kasti " ucapnya merangkul bahu shivania menyenderkannya didada telanjang milik gilang
shivania mendongakan wajahnya melihat gilang yang terlihat serius saat mengucapkan itu mata shivania berbinar
" benarkah apa kau serius, pasti kamu sedang berbohong " shivania cemberut lalu gilang mencubit kedua pipinya gemas
" aku serius sayang jadi katakan siapa ? "
shivania diam belum menjawab pertanyaan dari suaminya
" jika kamu tidak menjawab aku tidak bisa menghukum orang itu " tegas gilang membuat manik mata shivania melihat mata gilang lekat
" kau yakin akan menghukum orang itu "
" kau tidak percaya pada suamimu ini ? "
shivania menggelangkan kepalanya
" jadi siapa yang membuat istriku menangis seperti tadi ? " gilang merangkup kedua oipi ahivania agar melihatnya
" kamu kamu yang membuatku menangis " tuduh shivania
gilang melongo lalu menunjuk dirinya sendiri
shivania jadi tidak tega melihat suaminya seperti itu padanya
" maaf sayang maafkan aku " lirih gilang membelai pipi shivania lembutshivabia memegng tangan gilang yan membelai pipinya
" aku yang harus minta maaf, hanya karena kau membelakangiku tadi aku menangis " shivania menekuk wajahnya dalam
gilang mengerti dengan perubahan sikap shivania saat ini karena dalam perut ratanya tertanam benih yang dia pupukan hingga nanti akan membengkak hingga sembilan bulan lamanya
" tidak apa aku mengerti " ucap gilang memeluk shivania
'" tapi mas aku ingin melihat kepalamu benjol sebesar bola kasti " selorohnya dengan senyum tak berdosa
gilang menelan salivanya susah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
diruang kerja gilang dirumahnya
riko sedang mengerjakan tugasnya sesekalidia melirik jam ditangan kirinya
sudah menunjukan jam tujuh pagi dan dia sudah satu setengah jam berada disana
riko keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan bi narti
" bi apa tuan sudah bangun " tanyanya
" belum tuan, anda bisa keatas untuk memastikannya jika ada yang penting " ucap bi narti karena mereka tida ada yang berani membangunkan tuannya pikir bi narti riko adalah skertaris sekaligus sahabatnya jadi tak apa
bi narti pergi melanjutkan perjalannya menuju kesampibg rumah untuk mencuci
__ADS_1
sesampainya diatas riko mengetuk pintu kamar gilang
gilang yang mendengar ketukan pintu langsung pergi dari hadapan shivania lalu menyambar handuknya pergi mandi
shivania melangkah membukakan pintu itu
" gilang apakah sudah siap ? " tanya riko mengedarkan pandanganya kedalam kamar shivania mengikuti penglihatan gilang kebelakang
" mas gilang mandi tunggulah sebentar kami akan menyusul "
riko mengangguk lalu pergi dari tempat itu menunggu di bawah
dirumah stuan darma
sheza bersiap untuk berangkat kekampus diantar oleh supir stelah itu sheza kekantor diantar oleh supir lumayan jauh dari kantor itu agar tidak diketahui siapapun
" pagii semuaa " teriak sheza dari tangga belum sampai kebawah sudah berteriak kencang
hari ini pak reza dan ibu halima akan berbicara pada sheza tentang mereka yang akan pindah dari sana meraka merasa tidak enak hati jika berlama lama tinggal disana takut dikira mereka memanfaatkan keluarga sheza
riska yang sedang duduk dikursinya terlihat sedih melihat sheza
" pagi adiku yang cantik " pujinya mengacak rambut riska, riska menundukan kepala membuat sheza mengerutkan kedua alisnya
sheza duduk disebelah kursi riska dan memegang bahunya mengusap pelan disana
" ada apa ? kenapa terlihat sedih seperti ini hemm ?" sheza mengangkat dagu adiknya itu riska melirik kedua orang tuanya sheza ikut melihat apa yang dilirik adiknya itu
" ibu, ayah apa ini apa yang kalian sembunyikan dariku ? " sheza merasa tidak enak
ibu halimah tersenyum lembut siapa saja yang melihat senyum lembut nan teduh itu pasti akan luluh
sheza melihat sang ayah minta penjelasan apa yang terjadi pada riska
" nak kami akan pindah dari sini minggu depan, kamu tinggalah disinu menjaga dady mu " lirih pak reza menghembuskan nafas kasar
sheza terdiam mendengar ucapan ayahnya itu tangan yang sedang mengelus bahu riska terlepas sheza terlihat kecewa
" tapi kenapa ? kenapa kalian mau pindah apakah kalian tidak lagi menyayangiku mencintaiku seperti dulu " sheza tak sanggup mengatakan hal itu suara berat menahan air mata
ibu halimah mendekati sheza dia usap kepala sampai pipinya menghapus air mata yang terjatuh
" kami semua sayang padamu mencintaimu sama seperti dulu tidak ada yang berubah kami tidak membedakanmu dengan riska, kami pindah juga tidak jauh ayahmu membeli rumah melewati beberapa komplek saja dari sini jangan sedih atau anak kami yang satu ini bisa menginap disana " menepuk kepala sheza lembut dan menyenderkannya kedada
sheza memandang ibu halima lekat berharap mereka akan lulu memasang wajahnya semelas dan sesedih mungkin
ibu halimah menggelengkan kepalanya
pak reza diam memperhatikan keduanya riska sesegukan melihat kakanya dia ikut menangis
" sayang jangan begitu, kamu bisa menginap kapan saja, riska juga begitu bisa menginap disini kapan saja " ucap tuan darma dari depan dengan didampingi oleh adi tuan darma baru datang dari belakang menerima telpon dari rekan bisnisnya
sheza menghapus air matanya
menerima keputusan orang tua yang dia sayangi itu
menganggukan kepalanya
setelah makan sheza pergi dari rumah kekampus mencari ilmu
__ADS_1