
sesudah shivania menghubungi nuri dan memberi tahu dimana posisi orang tuanya shivania serta gilang dan nadin menuju kesana tentu saja gilang sudah hafal jalanan yang mereka tempuh toh dia sering kesana tanpa sepengetahuan shivania untuk menjenguk mertuanya itu.
dalam perjalanan shivania sesekali melirik kearah gilang terkadang melihat nadin dari kaca spion mobil nadin yang sedang duduk dibangku belakang melirik kekaca spion melihat shivania meliriknya nadin tersenyum sambil mengunyah lalu meneguk minumannya dari botol
" uhuk,, uhuk " nadin tersedak gilang menghentikan mobilnya mendadak
" de, kamu gak apa apa ? "tanya shivania khawatir, nadin menggelengkan kepalanya sambil mengelus dadanya
" kaka iih nyebelin banget siih gak bilang-bilang " nadin kesal, gilang tidak memperdulikannya sepertinya gilang masih marah pada nadin, gilang membuka pintu mobil dan keluar, shivania hanya memperhatikan gilang yang memutari mobilbya dan tak lama pintu disebelah shivania dibuka
" sudah sampai sayang mau turun sendiri apa mau aku gendong? " tawar gilang dengan senyum diwajahnya shivania bergidik ngeri jika gilang tersenyum seperti itu bulu kuduk shivania berdiri.
shivania mengusap tengkuknya sambil menggelengkan kepalabya menolak tawaran suaminya itu
" tidak, terimakasih aku sendiri saja mas bisa minggir sedikit " shivania menurunkan sebelah kakinya sebelum keluar. nadin juga ikut keluar setelah membereskan makanan yang yadi semoat berantakan dikursi yang dia duduki
setelah diluar shivania melihat kesekeliling tempat itu shivania bingung mengapa mereka turun diperkebunan milik pak munir yang terkenal orang paling kaya dikampung shivania
" mas kenapa kita kekebun milik tuan munir, bukanya tadi nuri bilang mereka ada dikebun ? apa mereka bekerja dengan pak munir disini? " pikir shivania
" sudahlah jangan banyak pikiran ayo kita kesana tuh lihat nuri sudah terlihat " ucap gilang menunjuk nuri yang sedang melambaikan tangannya tak jauh dari mereka, shivania tersenyum senang tak ingin menunggu lama shivania berjalan mendekati nuri dan keluarganya gilang dan nadin mengikuti shivania dari belakang nadin yang membawa tas dipunggungnya merapihkan baju yang terkena bumbu cemilan dan saos.
" kamu itu gak bisa makan yang benar apa dasar gadis kecil " ucap gilang pada nadin, nadin mendengus kesal gilang mengacak rambut nadin gemas menambah kadar kekesalan nadin
" iih ka rambutku rusak, gak ada mama yang ngurusinnya " rengek nadin selama ini yang menata rambut nadin adalah nyonya nadia
__ADS_1
" kamu ini udah gede juga masih manja pake rambut juga masih mama yang nata gak malu apa sama cowo kamu " ledek gilang
" yeeey siapa juga yang punya cowo, aku masih kecil tau gak boleh sama mama ayah juga "
" terus yang tadi pagi siapa? jangan bilang karena cowo itu kamu keluar rumah lihat saja akan aku hajar cowo itu " ucap gilang emosi dan mengepalkan tangannya nadin menelan salivanya takut.
" itu, aku gak kenal aku juga gak tau dia siapa " ucap nadin gugup melihat kakanya seperti itu pantas saja gilang terlihat ketus dan masih marah padanya ternyata gilang tau kalau nadin bukan hanya sendiri tetapi bersama seorang pria
" lalu kenapa kamu lama sekali pulangnya " ucao gilang mengintrogasi nadin, nadin menunduk takut seharusnya tadi pagi dia tak usah meladeni cowo itu hingga dia tak oerlu diintrogasi seperti maling anak ayam dari kandang
sebelum nadin menjawab pertanyaan gilang shivania memanggil keduanya agar untuk segera menyusul karena shivania sudah samapi dan melepas rindu pada kedua orang tuanya dan kedua adiknya.
" ibu ayah kanapa kalian bekerja disini? bukannya ayah sudah tidak kuat lagi untuk bekerja dikebun nanti sakit ayah kambuh lagi " ucap shivania khwatir pada ayahnya karena kerja di tempat pak munir
ayah rudi dan ibu sania saling lirik apa gilang belum memberi taunya? yudi datang menghampri kakanya shivania
shivania tersenyum melihat yudi sebelum sadar apa yang telah yudi ucapakan barusan shivania mengerutkan alisnya berpikir mencerna ucapan adiknya itu
jika bukan kebun kita? maksudnya? " gumam shivania, yudi mendengar gumaman sang kaka
" yah si teteh lola banget ini kebun kita, A gilang yang membelinya dari tuan munir dan sekarang kebun ini milik kita bukan milik pak munir lagi, pak munir sudah pindah dari kampung ini " jelas yudi kedua orang tuanya hanya diam shivania melongo mendengar penjelasan adiknya itu apa benar
" semuanya? " tanya shivania lagi, yudi mengangguk
" seluas ini? " shivania belum percaya, yudi kembali mengangguk
__ADS_1
hampir saja shivania jatuh keatas tanah hika tidak langsung ditangkap gilang yang segera mengejarnya
" sayang kamu tidak apa-apa " tanya gilang memegang bahu shivania, shivania mengangguk
" mas, apa bener yang baru diucapkan yudi? " shivania ingin tau dari gilang
" ya, semua milikmu ini hadiah sekaligus kejutan buat kamu sayang apa kamu bahagia? " ucap gilang bangga, mata shivania berkaca kaca ternyata ini adalah kejutan dan hadiah yang sering gilang ucapkan padanya hadia yang serinh shivania tanyakan namun gilang tidak pernah memberi tahunya shivania menangis sesegukan, gilang panik melihat istrinya menangis seperti itu
" sayang? , apa kamu tidak menyukainya apa aku salah maafkan aku jangan menangis " gilang menghapus jejak air mata shivania dari pipinya, shivania langsung memeluk erat tubuh gilang
" ini hadiah yang paling aku sukai aku mencintaimu, terimakasih " bisik shivania didekat telinga gilang, gilang tersenyum senang sungguh dia kira shivania sedih dan dia gagal memberi kejutan pada istrinya ternyata sungguh luar biasa air mata yang keluar dari pelupuk mata shivania adalah air mata haru dan bahagia
" aku yang berterima kasih, karenamu ada gilang junior penerus keluarga pratama pramuja ini tidak sebanding dengan kebahagian yang kau berikan pada keluarga kita, aku juga mencintaimu " gilang menangkup wajah shivania dan akan menciumnya
buk...
nadin memukul bahu gilang dengan tasnya kasar gilang melototi nadin ciumannya tidak jadi dan shivania merasa kikuk hampir saja dia berciuman dihadapan semuanya akan seperti apa wajahnya jika itu terjadi
" iissh sialan " geram gilang pada nadin yang mengganggunya
nadin memutar bola matanya malas meladeni kakanya yang tidak tau tempat untuk berciuman.
" ka ini tempat umum bukan kamar kalian, kami dianggap apa ?, mata polosku ternodai jika itu terjadi " grutu nadin.
gilang melihat sekelilingnya dan benar saja dia lupa jika ada mertuanya dan ketiga bocah ingusan disini gilang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
semuanya tertawa melihat tingkah gilang yang malu malu...