Gadis Desa Dan CEO Dingin

Gadis Desa Dan CEO Dingin
dia terus mengigau..


__ADS_3

tak terdengar isakan tangis namun deraian air mata terus menetes tiada henti seorang anak menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti malah semakin menjadi, dia berjalan dijalan yang sepi rintikan gerimis turun pertanda akan hujan.


petir mulai terdengar cahaya kilat menyambar namun tak ada rasa takut pada anak itu, dia terus berjalan dan masih dengan deraian air mata bercampur air hujan yang ikut mengalir diwajahnya, suara klakson mobil terdengar namun seakan telinga anak itu tidak mendengarnya menyiratkan kesedihan yang begitu menusuk hatinya sangat terpuruk


kendaraan roda empat silih berganti melewati anak itu namun tidak ada seorang yang berniat memberikan tumpangannya, malam semakin larut dan tubuh anak itu mulai menggigil akibat terlalu lama dibawah guyuran air hujan.


" mas, tadinya aku ingin mengiyakan permintaan mama kita nginep disana tapi kamu malah gak mau " shivania cemberut namun tangannya terus merangkul lengan gilang manja, gilang yang sedang mengemudikan mobil tersenyum melihat istrinya yang begitu manja hari ini dan sebelah tangannya dia gunakan mengelus rambut shivania tak ingin dia melepaskan istrinya itu.


" nanti saja ya, aku banyak kerjaan malam ini, tadi kan makan siang langsung kerumah mama gak balik lagi kekantor, nanti hari libur kita nginep disana bagaimana? " ucap gilang membujuk shivania, shivania mendongakan wajahnya yang tadi cemberut lalu tersenyum mengangguk.


shivania menggesekan hidungnya yang terasa gatal dilengan gilang lalu menyender lagi dibahu suaminya membuat gilang gemas melihatnya, sepertinya shivania sudah lupa dengan balas dendamnya pada gilang akhir akhir ini shivania terlihat manja pada suaminya itu mungkin efek dari calon anak mereka yang bersemayam dirahim shivania, sebelum kerumah mertua shivania mereka menyempatkan kedokter kandungan untuk memeriksa keadaan shivania dan calon bayinya.


gilang bersyukur mengetahui istri dan calon anaknya itu sehat dan gilang semakin hari semakin perhatian pada shivania dan cintanya untuk kedua orang yang dia kasihi akan selalu bertambah disetiap waktu rasa syukur terus dipanjatkan oleh gilang diberi kepercayaan menjadi seorang suami dan sebentar lagi menjadi seorang ayah semoga saja anak dan istrinya sehat dan selamat nanti.


" mas, berhenti " ucap shivania bangun dari lendotan dibahu suaminya, gilang kaget dan berhenti mendadak, shivania melihat seorang anak perempuan berteduh dipohon dan sedang kedinginan.


" mas lihat itu? " tunjuk shivani kearah kiri dari tempat duduknya itu, gilang melihat apa yang ditunjuk istrinya gilang mengangguk.


" dia sendirian ? sepertinya dia kedinginan mas ayo kita kesana " ajak shivania membuka pintu mobil namun tangannya ditahan oleh gilang.


" mas aku mau ikut " rengek shivania manja dan itu membuat gilang semakin gemas dan tidak tega untuk menolak keinginan istrinya anggap saja setiap keinginan shivania adalah keinginan bayi yang ada diperut shivania yang artian mengidam jangan sampai anak mereka ileran, selama membuat shivania senang dan gilang bisa melakukannya itu tidak masalah tapi jangan minta tidur terpisah itu tidak akan mungkin gilang lakukan dia kapok dan tidak akan mau seperti itu lagi.


waktu shivania meninggalkan gilang tanpa kabar dan tidur terpisah gilang tidak bisa tidur dan hanya membolak balikan tubuhnya diatas kasur, gilang sudah bergidik ngeri jangan sampai tidak dapat jatah gilang trauma membayangkannya.


" tunggu dulu biar aku yang buka " ucap gilang, gilang mengambil payung yang ada dibangku belakang gilang membuka pintu lalu memutari mobil hendak membuka pintu mobil untuk shivania, gilang dan shivania mengarah kepada anak itu satu tangan gilang memegang gagang payung dan satunya lagi merangkul pinggang shivania menempel padanya agar tidak terkena air hujan yang masih deras.


setelah sampai didekat pohon dimana anak itu berada shivania tersenyum melihatnya namun sepertinya anak itu tidak perduli dia terus menggigil kedingin hingga tidak memperdulikan orang yang mendekatinya.


shivania mengulurkan tangannya hendak memegang bahu anak itu, pada saat akan menyentuh tatapan mata anak itu melihat kearah shivania, shivania menurunkan kembali tangan yang akan menyentuh anak itu, gilang masih setia merangkul pinggang istrinya tak ada niat untuk melepaskan tangannya itu.


" maaf, apa kamu sendirian disini? " tanya shivania namun anak perempuan itu tidak menjawab pertanyaan shivania, shivania mehela nafasnya berat apa dia tidak bisa bicara ?


" sayang sepertinya dia bukan berasal dari negara ini " ucap gilang yang sedari tadi memperhatikan anak yang diajak bicara istrinya, shivania menatap gilang


" maksudnya? "


" coba kamu lihat dari atas sampai bawah pakaian dan wajahnya seperti orang luar bukan ? bisa saja dia tidak mengerti apa yang barusan kamu ucapakan "


shivania melihat anak itu dari atas sampai bawah dengan seksama dan berhenti diwajah anak itu


" ia mas, hidungnya mancung amat ya pake selendangan lagi " shivania memegang lengan gilang dia gemas dan minder hidungnya tidak semancung itu, gilang mengangguk mengiakan.


gilang sedikit maju kedepan shivania dia akan bicara dengan bahasa inggris.


" apa kamu bisa bicara inggris? " ucap gilang, thapki melihat kearah gilang yang sedang bicara padanya menggunakan bahasa inggris dia mengangguk meski usianya dua belas tahun thapki sudah lancar bicara bahasa asing


" kau sendirian ? dimana keluargamu? " ucap gilang thapki menggeleng kepala ditanya seperti itu shivania tidak tega melihat anak yang sudah menggigil itu sebaiknya mereka bawa pulang saja dia kerumah mereka terlebih dahulu, besok barulah mereka tanya dimana keluarganya.

__ADS_1


shivania berbisik pada gilang dan gilang mengiayakan ajakan shivania, thapki sudah tidak kuat menahan dingin terlalu lama lagi kepalanya juga terasa semakin berat dan sakit.


" mas " teriak shivania yang akan menangkap thapki tapi gilang lebih dulu menangkap tubuh lemas thapki, gilang menggendong thapki dan shivania yang memayungi untuk mereka bertiga.


shivania membukakan pintu belakang shivania masuk kesana untuk memangku kepala thapki, shivania mengambil jaket yang berada dibangkunya menyelimuti thapki dengann jaket tersebut, gilang masuk setelah memasukan thapki dan sekarang mereka akan pulang, gilang menyalakan mobil meninggalkan tempat itu tempat dimana thapki ditemukan dan diajak pulang bersama.


thapki dibaringkan ditempat tidur dilantai satu, itu kamar tamu yang sebelumnya dipakai oleh shivania saat menghindar dari suaminya, shivania sudah mandi kembali dan mengganti bajunya jangan sampai dia sakit dan efeknya tidak baik untuk kesehatan dan calon bayinya.


" sudah selesai " ucap gilang mencium kening shivania dan tangannya mengelus perut istrinya, shivania mengangguk thapki sudah digantikan baju oleh bi nati


" sudah, kamu lagi sana aku mau bikin susu jahe buat kamu " sebelum


mengajak gilang keluar dari kamar tamu shivania menaikan selimut yang digunakan thapki sampai kedadanya gilang merangkul bahu shivania dan keluar


" sudah telpon dokter kan ? " shivania khawatir dengan anak yang mereka temukan beberapa menit lalu


" sudah, jangan khawatir dia akan baik baik saja " gilang menenangkan shivania


shivania mengangguk tapi dia penasaran dari mana anak itu berasal sebaiknya dia bertanya setelah dia sadar nanti.


gilang naik kelantai dua untuk mandi dan berganti pakaian, shivania membuatkan dua gelas susu jahe untuk suaminya dan satu lagi untuk anak yang mereka temukan shivania membawa dua gelas itu kekamar tamu sekalian menemani thapki siapa tau anak itu sudah sadar.


ting tong....


suara bel..


gilang yang sedang menuruni anak tangga langsung berjalan membukakan pintu mungkin itu dokter dan benar saja itu dokter yang dipanggil oleh gilang yang akan memeriksa keadan thapki gilang mempersilahkan dokter agar masuk dan mengikutinya kedalam kamar dimana thapki berada, shivania memperhatikan thapki lekat sebelum dokter datang memeriksa thapki.


" dia kelelahan dan terlalu lama dibawah guyurn air hujan itu membuatnya sakit kepala dan demam sekarang, tapi tidak usah khawatir setelah minum obat dia akan segera membaik " ucap dokter menuliskan resep obat


" ini resep obatnya " ucap dokter menyodorkan kertas resep obat


shivania memerima kertas yang disodorkan dokter dihadapannya


" terima kasih dokter " ucap shivania, shivania beejalan mendekti thapki yang terbaring diatas kasur, gilang mengantar dokter sampai keluar dan sekalian akan meminta riko membelikan obat, kertas dari tangan shivania tadi diambil alih gilang.


" halo rik loe kerumah gue sekarang dan loe beliin obat resepnya udah gue kirim ke wA loe gue tunggu " setelah berucap semaunya tanpa mendengar jawaban dari orang disebrang sana gilang mengakhiri sambungan telponya sepihak saat riko baru membuka mulutnya untuk bicara.


" iissh sial,, ganggu tidur gue aja dasar pengganggu mimpi " umpat riko kesal, mimpinya terganggu hampir saja dia memasuki lubang surga dunia yang banyak bidadari kayangan turun dari kasur.


dengan hati yang amat kesal meski begitu dia turun dari ranjang dan bersiap mengganti pakaiannya tidak mungkinkan dia pergi dengan piyama bergambar minion bisa bisa dia ditertawakan oleh gilang dan siapapun belum tau jika riko mengoleksi boneka minion juga karena itu gambar kesukaanya sejak kecil dan jangan sampai mereka tau seorang pria seperti riko mengoleksi boneka tersebut .


jika saja dia melihat gilang yang memakai baju bergambar anak perempuan saat itu pasti dia berbangga hati karena kartun yang dia sukai sejenis pisang pisangan bisa disamakan mungkin..


tapi dia lupa sebentar lagi dia akan menjadi seorang suami semoga saja vina tidak akan membocorkannya pada siapapun awas saja jika itu terjadi. riko akan menghukum vina sampai kukinya patah karena terlalu kuat meremas seprei lihat saja, ancam riko.


shivania menjaga thapki dengan baik dia ikut tidur seranjang dengan thapki sesekali dia terbangun dan menempel punggung tangannya didahi thapki shivania turun dari ranjang ingin mengganti air kompresan dia keluar dari kamar, ditutupnya kembali pintu kamar sambil membawa baskom dan handuk kecil ditangannya.

__ADS_1


" mas, kamu disini " ucap shivania melihat gilang duduk dimeja makan, gilang sedang menikmati kopi buatannya sendiri, tangannya sibuk dengan pekerjaan yang tertunda tadi siang membuat dia harus bergadang tambah lagi menemukan seorang anak dan membawanya kerumah mereka


shivania mengelus bahu gilang lembut penuh kasih.


" kenapa belum tidur ini sudah jam berapa? jangan terlalu malam mas " ucap shivani pada suaminya melihat jam besar seperti lemari itu disana dia khawatir suaminya kurang tidur dan sakit


" aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu sekalian tadi aku menunggu riko membelikan ini " gilan memberikan obat itu pada shivania.


" apa dia masih demam? " sambungnya lagi melihat shivania menenteng baskom


" tidak terlalu seperti tadi, dia terus mengigau aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan mas, apa dia akan baik-baik saja? "


gilang merangkul pinggang shivania hingga istriya itu duduk dipangkuan gilang, gilang memeluk shivania erat dagunya menancap dibahu shivania tangannya mengelus perut istrinya itu.


tangan shivania mengelus belakang kepala gilang lembut


" dia akan baik-baik saja, kamu yang merawatnya jadi jangan khawatir dia akan bangun besok, kau dengar apa yang dokter ucapkan ? anak itu akan membaik dan sembuh jadi cepatlah tidur dan istirahat aku tidak mau kamu kelelahan jaga calon anak kita,, setelah selesai aku yang menjaga anak itu masuklah " gilang menyuruh shivania masuk kedalam kamar dan mengambil alih baskom yang shivania taruh di meja.


shivania turun dari pangkuan suaminya dia tidak membantah ucapan gilang dan segera masuk kembali kedalam kamar untuk tidur disisi thapki, gilang kembali bekerja sebentar pekerjaanya selesai dan dia segera membereskan semuanya setelah itu dia masuk kedalam dapur mengambil air untuk kompresan.


semua pelayan sudah istirahat kecuali satpam penjaga yang bergantian bertugas menjalankan tugasnya, gilang sudah mengisi baskom dengan air lalu dia meraih kantong obat dan masuk kedalam kamar shivania lupa membawanya.


dengan perlahan gilang menaruh baskom disisi ranjang tanganya terulur ingin menyentu dahi thapki dia peras handuk kecil itu dan menempelkan didahi thapki


gilang memperhatikan wajah thapki lekat, sungguh prihatin melihatnya dimana sanak saudara keluarganya kenapa bisa anak itu kehujanann mata sembab dan kedinginan dijalan, jika shivania tidak melihat anak itu apa jadinya mungkin anak ini sudah mati menggigil.


gilang memutari ranjang untuk membenarkan selimut yang dipakai istrinya, gilang mencium kening shivania jangan sampai istrinya sakit dia tidak mau hal itu terjadi gilang terus memandangi wajah polos istrinya yang sedang tidur pulas.


tak lama thapki mengigau kembali


" ayah ibu jangan pergi jangan tinggalkan aku aku mau ikut " rengek thapki air matanya mengalir keluar gilang mengerutkan alisnya tidak mengerti apa yang diucapkan thapki tak lama gilang menyimpulkan bahwa anak itu memanggil kedua orang tuanya.


" dia bicara menggunakan bahasa india? kenapa dia berada disini apa yang terjadi dengan anak ini " gumam gilang dia ambil handuk kecil itu lagi dan menyeupkan kembali kedalam air, gilang menyeka air mata thapki yang keluar sungguh kasihan apa sebenarnya yang terjadi dengan anak ini?


gilang memeras handuk kecil untuk ditempelkan lagi dia duduk disisi thapki, thapki memegang tangan gilang namun matanya tertutup.


" ayah jangan tinggalkan aku, bawa aku aku tidak mau " ucap thapki dengan igauan yang terucap terus menerus dari mulutnya


" dia terus mengigau ! " ucap gilang mengelus lembut pucuk kepala thapki merasa ada yang mengelus lembut kepalanya thapki melepaskan tangan gilang perlahan itu membuat thapki tenang igauannyapun mulai tidak terdengar dan tidur pulas


" sepertinya dia benar anak yang perasa bisa mersakan sentuhan meski dalam keadan seperti ini.


gilang terus membelai pucuk kepala thapki gilang duduk selonjoran menyender pada bahu ranjang dia takut thapki mengigau kembali dan itu membuat thapki tidak bisa istirahat dengan benar bagai seorang ayah yang perhatian gilang terus mengelus pucuk kepala thapki meski matanya sudah tertutup.


shivania terbangun dari tidur dilihatnya jam menunjukan jam setengah lima dia turun dari kasur dilihatnya sang suami terlelap disamping thapki meski belum tahu asal usul dan nama anak itu shivania dan gilang mengurusnya dengan baik


shivania tersenyum melihat sang suami begitu lembut dan perhatian memperlakukan seorang anak yang tidak suaminya kenal.

__ADS_1


tangan shivania meraba perut dan mengelusnya lembut rasanya tidak sabar anaknya lahir kedunia.


" baik-baik didalam sini ya nak mama sama papa tidak sabar ingin melihatmu menggendong dan menjagamu " gumam shivania tersenyum shivania mendekat dia kecup sekilas pipi suaminya sebelum dia keluar.


__ADS_2