
meski kegiatan yang dilakukan gilang dan shivania terhitung sebentar namun gilang puas bisa membuat shivania bicara kembali seperti biasa dengan dirinya.
" mas aku mau keluar sebentar apa boleh? " ucap shivania meminta ijin dari sang suami mereka masih berada didalam kamar dan shivania duduk dimeja riasnya sambil menyisir rambut yang basah.
gilang mendekat dan berdiri dibelakang shivania dia usap kedua bahu istrinya lembut
" aku akan mengantarmu jadi bersiaplah " titahnya
" bener kah?? "ucap shivania girang gilang mengangguk mengiyakan
" akhirnya masuk kedalam perangkap juga " batin shivania senang
gilang memakai bajunya yang sudah shivania siapkan tak membutuhkan waktu lama gilang sudah siap dan sudah terlihat rapi. keduanya keluar dari kamar menuju ruang makan semua orang sudah duduk dimeja makan.
" eh nak gilang silahkan duduk, shivania ambilkan kopi untuk suamimu itu " ucap ibu sania shivania mengangguk lalu memberikan kopi yang dimaksud ibu sania dihadapan gilang, saat melihat semua perasaan gilang ada yang menganjal tapi apa ? tak lama gilang teringat sang adik perempuanya dimana dia dimana andin ? gilang melirik kearah shivania menanyakan keberadaan andin
shivania yang mengerti langsung menanyakan keberadaan andin pada ibunya
" ibu apa nadin belum bangun"
" nadin tidak ada dikamar dia diajak pergi oleh sheza tadi pagi-pagi sekali " ucap ibu sania memberi tahu
" sheza ! kapan dia sampai kemari "
" tadi malam jam 2 an kalau gak salah, dan oh kata ka sheza sarapan duluan saja mereka berdua makan diluar ka sheza kirim pesan padaku tadi" sela yudi memberi tahu agar semua sarapan tanpa menunggu sheza dan nadin, semua orang ber oh ria bersama mendengar penjelasan yudi
***
disinilah gilang dan shivania berada ditaman setelah sarapan dan meminta ijin keduanya pergi untuk jalan-jalan mengelilingi kampung dengan mengendarai sepedah.
" aku baru tau kalau yudi punya sepedah, kayanya masih baru juga siapa yang beliin " ucap shivania gilang tersenyum mendengar perkataan istrinya itu
gilang menghentikan laju sepedahnya dibawa pohon yang terdapat kursi panjang disana shivania duduk kemudian gilang juga duduk setelah menyimpan
sepedahnya.
" pasti kamu ya mas yang beliin?? " tebak shivania menatap tajam kemata gilang, gilang tersenyum
" ya mau gimana lagi mereka berdua adik aku juga, dan nanti sore ada hadiah yang datang kerumah kamu jangan perhitungan begitu "
" diih siapa yang perhitungan orang cuma nanya doang " shivania sewot
" laah itu ko ng'gas ngomongnya! "gilang gak mau kalah shivania mendengus kesal shivaniaa berdiri kemudian membawa sepedahnya dengan mengayuh meninggalkan gilang.
" sayang, shivania mau kemana kamu kan sedang hamil sayang.. " teriak gilang
" kejar kalau bisa, suruh siapa ngejawab mulu gak mau kalah sama bini sendiri " ketus shivania menjauh
gilang menggerutu merutuki mulutnya dan beberapa kali memukul mulutnya itu
harusnya dia mengerti kalau wanita hamil itu sensitif
gilang berlari mengejar istrinya jangan sampai terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya itu.
shivania memperlambat kayuhan sepedahnya dia berpikir akan menyusul sheza tapi dia tidak tau dimana sheza melatih nadin akhirnya shivania meraba kantong dasternya mencoba menghubungi lewat telpon tak membutuhkan waktu lama dalam 3 deringan langsung di angkat oleh sheza dari sebrang sana
" ya va ada apa?? " ucap sheza
" gak ada apa apa, kalian udah selesai ? " tanya shivania
" ya kami udah selesai baru istirahat bentar lagi balik "
" gue mau kesana tunggu gue ya "
" ya udah gue tunggu loe kesini aja "
" hmmm " shivania memutuskan panggilannya saat akan mengayuh spedeh kembali tangan shivania dipegang oleh gilang
" mau kemana, aku ikut " cegah gilang
shivania merengut namun dia menurut pada suaminya
shivania maju dan duduk didepan supaya gilang duduk dijok sepedah
" sayang jngan marah maafkan aku, kita mau kemana hari ini aku antar kemanapun kamu mau dan apa yang kamu mau aku turuti" rayu gilang sebelum menjalan kan sepedahnya.
shivania tersenyum kecil lalu dia menengadah keatas melihat gilang
" bener apa yang kamu bilang mau turuti semua kemauan aku? " ucao shivaia meyakinkan
__ADS_1
" ya asal kamu gak marah lagi dan mau maafin aku sayang "
shivania tersenyum lebar
" awas ya kalau bohong "
" gak atuh buat apa bohong, kitamau kemana? " tanya gilang setelah menjalankan sepedahnya
shivania memberi tahukan bahwa mereka akan menyusul sheza dan nadin ketempat dimana sheza melatih nadin
diperjalanan shivania bertemu dengan tetangganya shivania tersenyum saat ada yang menyapanya dan sebaliknya shivania menyapa kembali
shivania merasa senang hari ini bisa pergi mengelilingi kampung bersama sang suami kapan lagi bisa seperti ini gilang terus mengayuh sepedah sesekalu gilang mengangguk saat ada yang menyapa mereka dan shivania yang menjawab
saat sudah tiba shivania menyuruh gilang berhenti mereka harus berjalan kaki dari situ
" mas sepedahnya taruh disitu saja kita dari sini jalan kaki " shivania menunjukan pohon agar sepedahnya ditaruh disana
" tapi kenapa tidak naik sepedah saja ? " gilang tidak mengerti kenapa sepedahnya harus ditinggal
" heiii suamiku tercinta my liki terunyuku,, memangnya kamu bisa membawa sepedah dijalan itu " tunjuk shivania kejalan setapak dan kiri kanannya hanya sawah bisa dibilang galengan sawah
gilang menggaruk kepalanya
" kalau sendiri sih bisa tapi kalau berdua aku gak yakin " gumam gilang masih terdengar oleh shivania
" kamu bisa gak, apa lagi jalannya panjang begitu dan lagi keadaan aku kaya begini yang ada kita nyemplung kesawah,, terus kalau terjadi sama perutku ini bagaimana kalau kempes " shivania menakuti gilang
" ya tinggal dikompa lagi apa susahnya "
" iih kamu ya mas dikira perut aku apa!! " ucap shivania kesal
" udah lah ayo jalan " ajak gilang menggandeng tangan shivania agar mengikutinya
shivania cemberut dia merasa lelah dan ingin duduk sebentar shivania melepaskan gandengan tangan gilang
" ada apa, bukannya ingin cepat sampe "
" aku cape, gendong " rengek shivani manja sambil menyodorkan kedua tangannya dengan senang hati gilang berjongkok didepan shivania agar bisa dinaiki istrinya.
shivani memegang bahu suaminya dan melingkarkan tangannya dileher gilang
" sayang, kamu yakin mau aku gendong apa anak kita tidak akan terjepit didalam sana " gilang khawatir shivania berpikir sejenak...
" sepertinya tidak, jadi ayo jalan " titahnya
" tapi sayang, aku takut anak kita kenapa kenapa didalam sana " gilang masih khawatir.
shivania menghela nafasnya berat lalu melepaskan diri
" ya sudah kalau gitu aku jalan saja " setelah berkata demikian shivania melewati gilang.
gilang mengerutkan dahinya pertanda bingung namun sesaat kemudian gilang menyusul shivania saat sudah dekat dan berjalan disamping shivania gilang langsung mengangkat tubuh istrinya itu
" aaaaa lepaskan aku takut jatuh " teriak shivaania karena takut terjatuh masuk kedalam sawah
" maka diam lah jangan banyak bergerak nanti kita jatuh bertiga " ucap gilang santai sambil berjalan membawa shivania
" apa maksudnya bertiga, bukanbya kita berdua? " shivani bingung
" lah itu dalam perut memangnya tidak dihitung, tega sekali " gilang pura pura kesal
" aah ia aku lupa, udah lah cepet jalannya keburu sheza pulang "
" ya baiklah "
ditempat lain sheza meminum air muneralnya bersama nadin
" ka apakah ka sheza sering datang kesini? tempat ini sangatlah sejuk pantas saja kaka suk berlatih disini " ucap nadin sambil memandangi sheza
" ia dulu waktu kecil aku sama ayah sering kesini "
" apa ka sheza dilatih oleh ayahnya ka sheza tuan darma? "
" bukan, beliau adalah daddy ku, yang aku panggil ayah adalah ayah reza dia yang mengajariku segalanya "
" maksudnya ka sheza punya dua orang ayah begitu? " nadin terkejut dan heran dia baru tau kalau sheza punya dua ayah
" hmm ya begitulah, kamu belum melihat ayah reza dan ibu halimah ya! nanti aku ajak kamu kerumahnya "
__ADS_1
" apa mereka disini "
" ya tapi dulu sekarang mereka dikota kadang sebulan sekali mereka pulang kesini" nadin mengangguk mengerti keduanya saling diam nadin membaringkan tubuhnya diatas rumput memandangi langit diatas sana
apakah kedua orang tuanya melihat keberadaannya disini ?? tak terasa air mata nadin lolos begitu saja dia rindu pada ayah dan ibu kandungnya
andai dia bisa menyelematkan kedua orang tuanya waktu itu.
kenangan indah bersama kedua orangnya berputar dipikiran nadin
nadin menghapus air mata yang perlahan semakin banyak keluar
takuasa nadin menahan isakan tangis dan akhirnya terdengar oleh sheza
" nadin kamu kenapa? " tanya sheza khawatir
" gak kenapa kenapa ka hanya saja " nafin langsung memeluk sheza menumpahkan rasa sedihnya dipelukan sheza,
" aku rindu orang tua ku ka hiks hiks " tangis yang nadin tahan akhirnya keluar dipelukan sheza dengan lembut sheza mengelus rambut nadin dia juga ikut merasakan bagaimana perasaan nadin yang rindu namun tidak bisa bertemu.
" jangan menangis lebih baik kamu doakan saja kedua orang tuamu dari sini, akupun sama rindu dengan ibuku yang sudah tiada nasib kita sama "
nadin melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah sheza
" maksud kaka apa? " ucap nadin yang penasaran dengan ucapan sheza
sheza tersenyum menanggapi ucapan nadin sheza mengelus kepala nadin dengan penuh kasih
" ibu kaka juga meninggal saat kecelakan, kaka juga ada dalam kecelakan itu namun ibu kaka mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan kaka dan akhirnya kaka ditemukan oleh ayah dijadikan anak olehnya bahkan kasih sayang yang mereka punya diberikan pada kaka, kaka sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka, kamu juga harus bersyukur dapat keluarga seperti nyonya nadia beliau sangat baik penuh kasih meski mereka bukan keluarga kandungmu namun mereka menyayangimu dengan tulus " jelas sheza panjang lebar
nadin menghapus air matanya dan tersenyum setelah sheza bercerita
" terimakasih ka aku sudah mengerti dan untuk hari ini telah mengajariku " nadin tersenyum bangkit dari duduknya sheza masih duduk menunggu shivania datang namun sepertinya shivania tidak jadi kesana sudah hampir sejam sheza dan nadin menunggu.
akhirnya sheza dan nadin memutuskan untuk pulang karena hari sudah siang dan matahari semakin terik nadin membawa tasnya begitu juga dengan sheza mereka meninggalkan tempat itu dan berlalu pergi.
shivania baru diturunkan dari gendongan gilang meresa sudah letih dan ternyata lama kelaman terasa pegal
" kita istirahat dulu disini " ucap shivania merasa kasian pada suaminya
shivania duduk dibawah pohon gilang sedang meluruskan dan sedikit memijat tangannya yang tadi menggendong shivania terasa pegal tak lama gilang ikut duduk disamping shivania.
bukk...
shivania kaget ada benda jatuh dari atas dan melihat apa yang terjtuh didekatnya tadi
" mangga? dari mana " gumamnya saat menemukan apa yang tadi jatuh
" busukkkk " memeganya lalu membuangnya shivania menengadah keatas hendak memastikan apakah diatas masih ada buahnya
saat melihata keatas shivania
" waaaah buah mangga!! " shivania kegirangan sambil menelan salivanya membayangkan betapa enaknya saat dimakan
gilang tidak memperthatikan istrinya dia masih sibuk memijat tangannya
" mas aku mau mangga " ucap shivania tanpa memalingkan penglihatannya
" nanti kita beli sehabis dari sini "
" tapi aku maunya sekarang mas " shivania sudah tidak tahan untuk memakannya
" mana ada disini penjual mangga, ayo kita pulang saja "
" aku gak mau beli maunya yang masih dipohon "
" dimana nyarinya disini gak ada " ucap gilang
" aku mau makan sambil nongkrong dipohonya mas boleh kan pasti enak "
" hmmm " ucap gilang tanpa tau jika disampingnya shivania sudah mulai memanjat pohon
" satu. dua, tiga " shivania bersiap naik keranting
buukk...
kepala gilang tertimpuk ranting kering dan langsung melihat keatas betapa kagetnya gilang saat melihat istrinya sudah ada diatas bahkan duduk mengayunkan kedua kakinya sambil memakan buah mangga yang dia inginkan
" astaghfiruallah, shivaniaaaaa " terian gilang
__ADS_1