Gadis Desa Dan CEO Dingin

Gadis Desa Dan CEO Dingin
pulang kampung


__ADS_3

saat sedang sarapan bersama ponsel gilang berbunyi satu kali panggilan itu diabaikannya, tak lama berdering kembali shivania yang sudah selesai dengan sarapannya n menoleh kearah suara yang terdengar tuan zae dan nyonya nadia pun ikut melirik keatas meja dimana ponsel gilang berada.


" mas, aku angkat ya? " tanya shivania melihat gilang yang belum selesai dengan sarapannya. gilang mengangguk tapi pada saat shivania sudah menggeser warna hijau dibenda pipih itu langsung direbut oleh gilang.


" biar aku saja " ucap gilang berdiri dan melangkah pergi, shivania yang kaget mengerutkan alisnya ada apa ?


shivani merasa curiga namun dia abaikan mungkin saja hanya prasaannya saja, shivania berdiri dan mengambil semua piring kotor setelah semua selesai dengam sarapannya


" sayangku jangan terlalu lelah, biarkan pelayan yang membereskannya " ucap nyonya nadia takut shivania kelelahan


" tak apa ma aku terbiasa, nadin apa ka sheza akan menjemputmu atau tidak ?" ucap shivania ingat dengan janji adik iparnya itu, nadin diam dia terlihat berpikir


" akan aku hubungi ka sheza " ucapnya lalu menghubungi sheza nadin bicara pada sheza ditelpon sedangkan tuan zae melirik istrinya nyonya nadia mengangkat kedua bahunya tidak tau, shivania mengangguk lalu masuk kedalam dapur untuk mencuci piring, dan gelas kotor,setelah selesai bicara dengan sheza nadin membicarakan keinginan dan niatnya untuk belajar bela diri tuan zae dan nyonya nadia senang mendengarnya dan berharap nadin bisa menjaga dirinya sendiri


" jadi mama mengizinkan? " tanya nadin meyakinkan, nyonya nadia mengangguk


" apa yang buat kamu bahagia kamipun ikut bahagia nak, asal kamu bersungguh sungguh " lanjut tuan zae, mata nadin berkaca kaca haru ternyata masih ada keluarga yang begitu menyayanginya meski dia anak angkat,


nadin berdiri lalu memeluk erat tubuh nyonya nadia dari belakang, tangannya melingkar dileher nyonya nadia, dengan sayang nyonya nadia mengelus tangan nadin yang melingkar dileher.


" rupanya cintaku ini sayang banget sama mama ya? " ucap nyonya nadia tersenyum nadin mencium pipi nyonya nadia shivania keluar dari dalam dapur tersenyum melihat kedekatan adik ipar dan mertuanya sungguh dia menjadi rindu dengan ayah ibu dan adik-adiknya.


" e'ehmm apa cuma mama saja yang disayang papanya gak niih? " tuan darma cemburu keduanya melihat kearah tuan darma


" siriik aja si papa " ucap nadin dan nyonya nadia bersamaan lalu semuanya tertawa dimeja makan gilang yang sudah selesai dari percakapannya melalui sambungan telpon mengerutkan alisnya bingung.


gilang pamit akan keluar rumah sebentar dan kembali lagi nanti sore shivania semakin curiga namun dia berusaha untuk menghilangkan perasaan curiganya.


" aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan mas " lirih batin shivania memandangi punggung gilang pergi setelah pamit pada semua dan mencium kening istrinya, gilang masuk kedalam mobil shivani masih memandangi mobil yang menjauh dari rumah.


" aku harap kamu tidak menyembunyikan apapun dariku mas " litih shivania memandangi kepergian mobil gilang hingga tak terlihat baru dia masuk kedalam kembali..


shivania naik keatas melewati kedua mertuanya nyony nadia sedang berbincang dengan nadin sebelum nanti siang akan pergi keluar negri mengikuti suaminya.


" cintaku, mama minta maaf harus ikut dengan ayah tapi kalau kamu mau ikut tidak apa apa ikut saja. "


" tidak mah. aku disini saja tidak apa apa jangan khawatir " nadin tersenyum melingkarkan kedua tangannya dipinggang nyonya nadia dengan manja tak pernah nadin bayangkan jika dia tidak bertemu dengan keluarga ini apa jadinya.


shivania duduk disisi kasur sambil memainkan ponselnya dia rindu dengan keluarganya ingin telpon ponsel yadi tidak aktif shivania menghubungi adik bungsunya nuri namun juga tidak diangkat kemana saudaranya itu?


shivania berdiri dibalkon dan melihat kebawah disana langsung melihat pemandangan pohon dan tanaman serta bunga ditaman buatan itu


tak menyangka jika dia akan menikahi seorang pria kaya dan akan menjadi seorang ibu namun didalam lubuk hatinya apakah dia pantas mendapatkan ini semua? sungguh kuasa maha pencipta memberikan roda kehidupan semua manusia.

__ADS_1


gilang menghentikan laju mobilnya ketika sudah sampai dia keluar dari dalam mobil menuju pintu masuk apartemen setelah diberi tau kemarin dimana wanita itu tinggal gilang langsung menemuinya tak lama gilang sudah berdiri didepan pintu yang dia maksud dan mengetuk pintu tersebut.


" masuklah, kau datang sendiri? " tanya wanita yang kemarin datang kekantor gilang, wanita itu mundur beberapa langkah agar gilang bisa masuk kedalam lalu dia menutup pintunya rapat,


gilang berjalan kedalam dan duduk disana setelah dipersilahkan


" jadi apa yang ingin kamu bicarakan " gilang tanpa ingin basa basi


wanita itu maju mendekati gilang duduk disamping gilang dan menggenggam tangan gilang secepat mungkin gilang melepaskan genggaman itu namun wanita itu meraih tangan gilang kembali dan mengenggamnya erat.


" aku mohon bantu aku, aku tidak bisa meminta bantuan orang lain lagi aku hanya percaya padamu " lirih wanita itu sambil menjatuhkan


gilang menghela nafas panjang sebelum bicara dengan wanita dihadapan ini dia sudah berpikir semalam tak ingin ada rahasia antara dirinya dengan shivania


" aku akan membantumu tapi dengan izin istriku, kau harus mendatangi istriku untuk meminta izin darinya! " tegas gilang yang sudah memikirkan masalah ini sejak malam


wanita itu menyeka air matanya dia tatap wajah gilang lekat, meski masih dengan sisa air mata wanita itu melepaskan genggaman tangannya.


" tapi, apakah istrimu akan mengizinkannya? " ucap wanita itu ragu mendapat izin dari shivania, gilang mengangkat kedua bahunya ingin dia bisa membantu namun jika tanpa sepengetahuan shivania dia tidak mau.


gilang berdiri melangkah pergi sebelum itu dia menoleh kembali


" kamu tidak akan pernah tau jawabannya jika tidak kau tanyakan " ucap gilang datar lalu membuka gagang pintu untuk pergi cukup sampai disini dia tidak ingin lebih jauh untuk tidak bercerita pada istrinya meski wanita yang ditinggalkan beberapa detik lalu termasuk wanita penting dalam hidupnya.


hari ini sheza menerima pesan lagi dari seorang pria yang akhir akhir ini mengganggu hari harinya setiap hari bahkan hampir di setiap menitnya


sheza menyisir rambut menghadap kecermin sambil menggerutu


" maunya apa sih nih kutu kupret, gak pagi siang malam, minum obat aja ada waktu lah ini astaga... gedeg gue " sheza menghela nafasnya panjang dia raih benda pipih itu lalu ditempelkan didaun telinganya


" sayang, kenapa lama sekali angkat telpon dariku ? " ucap abhi dari seberang sambungan telpon, sheza mengerutkan kedua alisnya dibilang sayang ? oh tidak apa maksudnya?


" maksudanya apa sayang sayang palamu peang! "ucap sheza ketus, sheza menaruh sisir yang sudah digunakannya diatas meja riasnya sheza berdiri lalu melangkah menuju balkon kamar dari atas sheza bisa melihat jalanan.


" jangan ditutup dulu sayang, apa kau bisa meluangkan waktu untuk kita makan siang? " tanya abhi semenjak bicara dengan sheza dirumah shivania mereka tidak bertemu sheza selalu saja menolak untuk bertemu.


sheza kumat kamit meledek abhi dia tidak mau bertemu dengan abhi dan sheza akan menolaknya mentah mentah jangan harap bisa mengendalikan sheza!


" kau tau aku sedang sibuk, dan kau jangan harap bertemu denganku kau paham " setelah berkata demikian sheza memutuskan sambungan telponnya sepihak


abhi yang akan bicara malah mengumpat kesal jangan sampai dia ditolak lagi oleh sheza untuk kesekian kalinya.


abhi memanggil bara untuk segera datang kerumahnya abhi merencanakan sesuatu agar sheza mau bertemu dengannya hari ini maka sheza tidak akan pernah menolaknya untuk bertemu.

__ADS_1


****


dirumah kediaman pramuja shivania sedang duduk melamun dikursi taman dia rindu dengan keluarganya saat ini meskipun sudah bicara dengan kedua orang tuanya tadi, tetap saja rasa rindu masakan sentuhan belaian seorang ibu sangat dirindukannya ditambah keributan yang sering shivania lakukan bersama adik adiknya dimana shivania sering menjahili kedua adiknya selalu diadukan pada ayah dan ibunya shivania rindu masa masa itu.


" kenapa aku jadi rindu kampung halamanku ? " shivania melihat kebawah dimana kakinya yang dihentak hentakan diatas rumput taman, nadin menghampiri shivania dia duduk disamping kaka iparnya itu


" nadin, apa mama sama ayah sudah berangkat? " tanyanya


" belum, kaka disuruh masuk sama mama tadi "


" ayo, kita masuk " ajak shivania berdiri lalu menggandeng bahu nadin masuk kedalam rumah sesekali shivania mengacak rambut nadin gemas.


tak lama keduanya sampai diruang keluarga shivania mendaratkan bokongnya disofa nadin pergi kedapur dia haus dan ingin minum, nyonya nadia menuruni anak tangga dan segera mendekat dimana shivani berada.


" sayang, apa kamu akan pulang sore nanti? " tanya nyonya nadia, dia harap shivania tidak pulang agar bisa menemani nadin dirumah nyonya dan tuan zae akan pergi lama diluar negri


" ia mah, mama mau berangkat sekarang? ayah dimana " ucap shivania melihat kebelakang nyonya nadin namun yang dicari tidak terlihat


" satu jam lagi, sayang apa mama boleh minta sesuatu? " nyonya nadia duduk berhadapan dengan shivania, shivania juga berpikir kalau dia juga akan meminta ijin untuk pulang kampung sebentar rasanya semakin tidak tertahan.


" boleh mah, vania juga mau ijin sama mama " tersenyum memperlihatkan gigi putih pada sang mertua


" apa boleh mama nitipin nadin lagi mama dan ayah akan lama disana mungkin dua mingguan nadin juga tidak mau ikut padahal dia libur sekolah mama takut dia kenapa kenapa disini sendirian " ucap nyonya nadia khawatir


nadin ikut bergabung dengan mereka diruang keluarga sambil membawa tiga gelas jus nafin menaruh ketiga gelas itu dihadapan ketiganya.


" ko lama amat mah biasanya juga satu minggu paling lama, gak bisa dikelonin mama dong " nadin protes merajuk pasalnya selama tinggal dirumah shivania pun nyonya nadia banyak menghabiskan waktu dengannya bahkan sering ketiganya tidur bersama nyonya nadia nadin dan juga tuan zae nadin berada ditengah tengah mereka tidak ada jarak antara mereka layaknya seorng anak kandung bukan anak angkat.


" cintaku,, kamu ini ngegemis banget ya.. " nyonya nadia mencubit pipi nadin yang semakin terlihat cubby, nadin mencium pipi nyonya nadia sayang


" sebenarnya mah vania juga mau minta ijin sama mama apa boleh " ucap shivania


" apa boleh vania pulang kampung vania rindu kampung halaman " mata shivania berkaca kaca tidak tau kenapa mata shivania takut tidak diberi ijinkah?


nyonya nadia berdiri dia duduk disamping menantu satu satunya itu nyonya nadia merangkul bahu shivania membawanya kedalam dekapan tubuhnya nyonya nadia menghapus air mata shivania yang keluar.


" boleh, jangan seperti ini jika ibunya menangis anak dalam perutmu ini tidak akan suka, meski dia tidak melihat tapi bisa merasakannya, pergilah dan nadin juga boleh ikut jika mau "


mata shivania berbinar bibirnya tersenyum tidak dapat berkata kata lagi shivania memeluk erat mertuanya nadin ikut memeluk nyonya nadia


" aku juga mau peluk aku juga mau ikut kaka " rengek nadin memeluk nyonya nadia dari samping kanan


setelah ini shivania akan meminta ijin pada gilang agar mengijinkannya pulang kampung shivania ingin memberikan kejutan pada keluarganya, shivania tidak tau jika nanti sesampainya dikampung dia yang akan terkejut.

__ADS_1


" kampung halaman aku dataang " batin shivania...


__ADS_2