Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Siapa dia?"


__ADS_3

Desiran angin itu perlahan menerobos masuk kedalam ruangan yang semalam menjadi saksi bisu perebutan kehormatan secara paksa dan pertempuran panas mengguncang ranjang seorang pria yang masih terlelap diatasnya.


Tak ada kasur yang berantakan. Ruangan mewah itu kembali bersih tanpa bercak bercak darah sama sekali, seakan tak terjadi pembantaian apapun atau sekedar serakan pakaian wanita.


"Ehmm!"


Sebuah gumaman kecil muncul di bibir sensual seorang pria tampan diatas ranjang sana. Selimut itu menutupi tubuh kekarnya yang Atletis dengan raut wajah bantal yang sangat gagah.


Perlahan mata itu mengkerut dikala cahaya mulai menusuk netra sipit kecoklatannya. Ia membuka mata sejenak mengembalikan kesadarannya.


"Kenapa kepalaku sangat pusing?" gumam Daychi menormalkan akal sehatnya. Ia terpejam sebentar lalu kembali melihat area disekitarnya.


"Shitt! kau melakukannya lagi." umpat Daychi saat melihat tubuhnya hanya berbalut Boxer saja. Ia paham kalau sudah begini biasanya Zuan telah memerintah semalam.


"Aku sudah berjanji padanya untuk tak bermain spesies menjijikan itu. tapi tetap saja kau mengingkarinya, dasar bajingan."


"Sersan!"


Suara datar Zuan membuat Daychi menoleh menatap pria tinggi berambut agak ikal itu.


"Hm."


"Apa anda butuh sesuatu?" tanya Zuan menundukan kepala patuh.


"Berapa spesies?" pertanyaan yang dimengerti Zuan karna ini hal biasa baginya.


"5. Sersan!"


"Yang melayaniku?" tanya Daychi dingin. Ia masih membayang rasa pelepasan itu sangatlah nikmat ditubuhnya tapi ia lupa siapa wanita itu apalagi ia seakan sadar atau tidak bercinta dengan dewi bulan bermata keabuan.


"Itu adalah salah satu wanita penghibur yang sangat terkenal. dia dijuluki Bunga Malam dan sering datang untuk menemui Tuan Muda. Lien!" jelas Zuan yang agak khawatir menyebutkan nama karna ia tahu Sersannya membenci wanita ini.


"Tapi.."


Daychi terdiam. samar-samar ia bisa merasakan jeritan kesakitan seseorang semalam. Apa itu wanita yang ia exsekusi atau ..tidak, dia wanita penghibur dan tak mungkin masih suci.


"Apa anda ingin saya memberi tahu namanya?"


"Tidak begitu penting." jawab Daychi mulai jengah membahas wanita. Spesies itu sangat tidak berkasta di hidupnya kecuali orang-orang tertentu yang membuktikan diri.


Zuan mengangguk tak mau melanjutkan. Jika Sersannya tahu yang semalam itu Whuang maka kemungkinan besar Sersannya akan merasa jijik dan Muak. Yah, ia juga begitu tapi ada sesuatu yang semalam cukup membuat Zuan terkejut tapi tak mau menyulut emosi Sersannya.


"Bagaimana Bandot sialan itu?" geram Daychi beralih topik.


"Dia sudah kembali ke Negaranya! meminta perlindungan dari Mentri Pertahanan Argentina agar memblok pasukan kita untuk berkunjung."


"Cihh! dia pikir bisa lolos bersembunyi dilubang semut-pun?!" umpat Daychi bersandar kekepala ranjang. Musuhnya sangat banyak dan begitu licik. Pastinya mereka akan mencari sekutu untuk melawannya karna tak bisa merubuhkan Klan Ryoto dalam satu Kubu.


Klan Ryoto begitu besar dan sudah berdiri lama. Mereka termasuk anggota Yakuza didaerah Jepang dan kembali ke China untuk bisnis dan Kediaman tetap bagi Daychi yang terpisah dari Keluarganya. Daychi hidup menyendiri dilingkungan keras sedangkan adiknya Lien berada dipengawasan Ayahnya.


"Pergilah! tetap awasi pengemasan senjata di Gudang karna itu akan diincar malam ini."


"Baik!"


Zuan melangkah pergi memerintah Anggota untuk bergerak sesuai rencana Sersannya. Sementara Daychi tengah termenung sejenak beradu pandangan dengan ranjang yang terasa masih mengingatkannya pada wanita itu.


"Matanya keabuan. cantik!" gumam Daychi lalu menepisnya. Ia melangkah kekamar mandi. Ia harus segera mengunjungi adik otak kosongnya itu atau bisa saja Ayah liciknya akan membuat kegaduhan lagi.

__ADS_1


........


Tubuh jenjang memesona itu tampak tak berdaya menahan sakit disekujur tubuhnya. Ia tengah direndam didalam kedinginan berbalok es yang dimasukan kedalam air bak yang selalu menjadi wadah menyiksa baginya.


Kedua tangan lentik yang biasanya mulus itu seketika penuh dengan lebam dirantai kuat hingga tak bisa bangkit dari air beku sana. Wajahnya sudah pucat dengan kulit membiru yang tak terjabarkan bentuknya.


"A..Ayah!"


Lirihnya penuh mengigil. Ia hanya dibalut kemban coklat membuat kulit putihnya kontras dengan bekas cambukan dari Tuan Jirom yang sedari tadi duduk dihadapan Putrinya dengan tampang bengis.


"Sakit. hm?"


"A..Ayah!" lirih Whuang tak berdaya hanya bisa menahan dingin dan rasa perih. Ia tak mampu membuka matanya dikala es ini semakin membekukan tulangnya.


"Pukul dia!"


"A..Ayah!" Whuang menggeleng tak lagi mampu menahan sakit tapi pria muda berwajah datar kekar itu mengayunkan rantai kecil tapi panjang ke punggung lembut Whuang yang penuh goresan.


"A..Ayaahh!!!!" jerit Whuang kesakitan dikala cambukan itu mengenai punggungnya. Pria itu terus menghantamkannya dengan mata mengigil menahan embun bening tapi darahnya beku.


"Lebih kuat!!"


Cetasss...


"Emmm!!!!"


Whuang menggeram mencengkram rantainya dengan kuat. Air rendaman itu sudah merah akibat darah yang merembes kemana-mana. Mata Whuang sudah tak bisa mengeluarkan air mata karna telah menangis sedari tadi.


"A..Ayah, hiks! m..maaf!"


Suara keras Tuan Jirom menggelegar seiring cambukan panas itu mengenai tubuh Whuang yang sudah dilumuri goresan luka. Wanita itu terus menahan maut tapi Tuan Jirom sangat senang karna Whuang akan jera setelah ini.


Setelah membuat tubuh Whuang meradang panas dan terluka. Tuan Jirom mengisyaratkan pria itu untuk mengambil air perasan jeruk yang biasa menyiksa Whuang setiap melakukan kesalahan baik kecil maupun kesalahan besar.


"A..Ayah!" Whuang disela kesadarannya menatap takut ember yang dibawa pria itu. Bibir memarnya menggeleng dengan mata ciut dan menyimpan ketakutan yang luar biasa.


"A..Ayah. j..jangan, a..ayah hiks!"


"Kenapa? sakit? sama sekali tak sakit." ucap Tuan Jirom berjongkok dihadapan Whuang yang menggeleng pucat. Wajah cantik itu terlihat begitu tersiksa membuat Amor algojo penyiksa disini menjadi teriris.


Kenapa kau harus terperangkap dalam jerat iblis ini. Nona? dia bukan manusia.


Batin Amor merasa kasihan. Tapi ia tak bisa membantu selain melakukan perintah Tuan Jirom yang mengendalikan semua orang-orang yang bekerja bersamanya.


"A....Ayah. W .Whuang j..janji Whuang ."


"Lakukan!"


Amor memejamkan matanya tak mau melihat dengan tangan mengguyur tubuh Whuang dengan air asam ini hingga jeritan keras wanita itu terdengar membuat para pelayan di luar sana berlarian takut dan merinding.


"Ayahhhhh!!!!!"


Rasa perih itu menjalar disekujur tubuh Whuang yang meneggang menahan nyeri bercampur perih yang sangat-sangat menyiksa. Kulit putihnya meradang merah bahkan Whuang ingin berlari keluar dan mencari air penghilang rasa sakit ditubuh dan batinnya.


"Sakit?"


Tanya Tuan Jirom mengelus kepala Whuang yang mengigit bibirnya menahan segalanya. Amor tak bisa berkutik selain mengepalkan kedua tangannya menahan flrasa tersiksa ini.

__ADS_1


"P..Panas!" geram Whuang meradang tak tahan dan begitu sakit tapi Tuan Jirom membelai surai panjang putrinya lembut. Ia seakan kehilangan akal sehatnya mempermainkan nyawa wanita itu.


"Anak baik?"


"A..Anak..b..baik!" ucap Whuang gemetar mengangguk dengan seluruh tubuh memerah panas. Whuang sudah takut dan kebas hingga seperti orang linglung menuruti belaian tangan Ayahnya.


"Anak baik?"


"A..Anak Baik!"


Jawab Whuang mengangguk dengan mata sayu-sayu terbuka menerima pelukan Tuan Jirom yang kembali seperti seorang Ayah normal. Ia mengelus punggung Whuang yang sudah seperti sayatan daging dengan sendu.


"Anak ayah. sakit?"


"S..Sakit!" jawab Whuang benar-benar tunduk takut seperti budak. Ia tak bisa bergerak lagi selain menahan semuanya. Tak bisa dibayangkan penderitaan wanita itu hidup seperti ini tapi kenapa tuhan tak membuatnya mati?


"Whuang anak baik! jangan melawan. Ayah, hm?"


"A..Anak b...baik!"


Tuan Jirom mengangguk tersenyum lebar mendekatkan bibirnya ke telinga Whuang lalu menunjukan rantai yang sudah berlumuran darah membuat respon Whuang kembali histeris.


"A..Ampun. a..ayah..a.."


"Sutt!! jangan takut, ini tak sakit!"


Bibir Whuang bergetar terus merapat ke tempat perendamanya menghindari Rantai yang seakan berputar dikepalanya. Kejadian seperti ini menjadikan Whuang Pobia akan hal-hal berbau rantai atau pencambukan. Ia akan spontan ingat dan takut karna Tuan Jirom selalu menenamkan rasa takut saat salah dan keberanian saat menang


"Saat Whuang salah ini akan terjadi lagi!"


"A...ampun!"


"Tapi.."


Tuan Jirom membingkai wajah cantik Whuang yang mengigil tak lagi terlihat baik-baik saja.


"Saat kau menang. maka kebahagiaan menyertaimu. Anak baik!"


"A..Anak baik."


Jawab Whuang patuh hingga Tuan Jirom langsung berdiri menepukan tangannya hingga 3 pelayan yang tadi berdiri diluar segera masuk menatap sendu keadaan nonanya.


"Bawa dia keruang pengobatan!"


"Baik!"


Mereka bergegas mendekati Wuang yang sudah tak sadarkan diri. Setiap goresan ditubuhnya seakan menjadi simbol bahwa ia adalah budak kekuasaan Ayahnya.


"Maafkan aku. aku tak bisa membantumu, Whuang!"


Batin Amor terluka. Pasti setelah ini Tuan Jirom yang merupakan seorang ahli obat-obatan dan racun ini akan menyembuhkan Whuang secara cepat tapi akan menyisakan trauma dan rasa takutnya.


Mana mungkin Tuan Jirom membiarkan luka Whuang menjadi Borok karna tubuh wanita itu aset paling penting. Tuan Jirom hanya membuat bekas ingatan kelam dipikiran putrinya sedari kecil agar tak melawan padanya.


.......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2