
Suasana masih berkabut dengan embun pagi yang terbang melekat di dedaunan dan gorden kamar yang semalaman terbuka. Tanpa sadar waktu kembali berjalan seperti biasa menyaksikan dua insan manusia yang tengah lelap diatas ranjang sana dibaluti selimut tebal menutupi tubuh polosnya.
Wajah keduanya terlihat lepas dan lelah karna menghabiskan waktu dengan berbagi malam dan hangatnya tubuh yang menggelora.
"Emm..Kay!" gumam Whuang meracau dalam tidurnya membenamkan wajah cantik di belahan dada bidang berotot Naga Jantan itu.
"Kay! kau sudah besar. hm?"
Whuang menjadikan tubuh kekar yang memeluknya guling tidur yang hakiki. Ia mengendus dada bidang itu lalu mengecupnya selayaknya pada Kay membuat Daychi menggeliat.
"Kay! jangan bergerak." gumam Whuang lalu mengangkat kaki jenjangnya tinggi dan...
Bughhh....
"Aaass!!!!" teriakan Daychi membuat Whuang terbelalak bangun dari tidurnya.
"I..Ichi!" cemas Whuang melihat Daychi meringkuk membekap bagian bawahnya yang terasa nyeri dan sakit akibat hantaman kaki jenjang Whuang yang syok.
"Kau mau membunuhku. ha????" bentak Daychi dengan wajah bantal merah dan rambut acak-acakan yang sangat sexsi.
"A...M..maaf. aku...aku tak sengaja." lirih Whuang penuh rasa bersalah melihat Daychi memejamkan matanya masih mencoba meredakan nyeri. Senjata perkasanya itu pagi-pagi bukannya mendapat belaian malah hantaman yang mengerikan.
"Shitt. kalau terjadi sesuatu padanya. ku penggal kepalamu."
"A.. kenapa marah padaku? aku...aku sudah bilang tak sengaja." Whuang tak mau kalah dan disalahkan.
"Kau masih tak mengaku salah? kau ini benar-benar. ha!!!" geram Daychi naik pitam. Aset berharganya baru kali ini di tendang begitu. padahal ia selalu di puja wanita manapun.
"Y..yah maaf. kau juga salah, kenapa tak mendorong kakiku?!"
"Kauuu .."
Daychi menggeram sendiri lalu beringsut duduk menahan semua kekesalan pagi ini. Daychi menyibak selimutnya hingga wajah Whuang memerah melihat pusaka yang menyiksanya dengan kenikmatan itu sudah terlihat agak tegang.
"Bagaimana kalau dia tak berfungsi dengan baik? aku tak jantan lagi. Whuang!!"
"B..begitukah? tapi, bentuknya masih utuh." Whuang berusaha santai mengendalikan raut semunya. Ia tak malu jika tubuh polosnya sudah terlihat nyata dihadapan Daychi yang sudah biasa memandangnya penuh kagum.
Dada sekang itu terlihat kencang dan padat sangat ranum dengan bentuk lekukan tubuh indah yang menggiurkan ditambah nilai plus dari pinggul dan pahanya yang montok dilengkapi kaki Whuang jenjang dan sangat seksi.
"Bentuknya saja itu tak menjamin." desis Daychi menatap Whuang dengan senyap. Ia menikmati setiap pemandangan paginya yang panas.
"Lalu bagaimana? teksturnya sama saja."
Gumam Whuang santai memegang benda itu memeriksa apa ada yang memar. Nyatanya memang ada di bagian pangkal paha Daychi yang merah akibat terjangannya tadi.
"Apa dia masih hidup?" tanya Daychi mulai menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang membiarkan Whuang memeriksanya ala dokter.
__ADS_1
"Ntahlah. sepertinya kita harus memeriksa lebih lanjut, Tuan!" jawab Whuang berdiagnosa membuat Daychi mengulum senyum.
"Hm. baiklah bu dokter, ku serahkan padamu."
"Okk... kita akan melakukan terapi. ini agak mahal, Tuan Pasean!" Whuang menyeringai memposisikan diri menatap licik Daychi yang sudah tahu maksudnya.
"Berapapun akan ku bayar. asal dia hidup lagi, Bu Dokter."
"Baik! kalau begitu berikan waktu 5 menit."
Daychi mengangguk membiarkan Whuang masuk diantara dua kakinya dengan wajah hanya berjarak 5 senti dari benda itu. Nafas Whuang saja sudah membuat Daychi melemah.
"Periksa lebih dalam. Bu Dokter!"
"Sepertinya sangat tak sabaran." gumam Whuang agak geli lalu melakukan pijatan lembut seperti biasa membuat Daychi rileks. Whuang memang pandai memposisikan diri dan selalu punya hal yang menarik.
"Pijatanmu sangat luar biasa." puji Daychi memejamkan matanya menikmati segalanya. Ia pria Hiper-sexs yang pasti tak akan bisa hilang dari hal-hal berbau panas ini.
"Kau menyukainya. Tuan?"
"Hm. sangat."
Whuang menggeleng jengah saja melakukan pijatan lembut dan intens seakan ia sudah biasa dan memang terbiasa selama menikah Daychi meminta yang begini.
"Dari mana kau belajar pijat seperti ini?" Daychi masih belum membuka mata.
"Ntahlah. mungkin aku selalu diajari bagaimana menggoda laki-laki untuk menundukannya."
"Sebenarnya banyak hal yang pernah ku lihat, selain memijat aku juga diajarkan melayani, yah... begitulah." jawab Whuang santai tak mau mengingat apapun. Ia masih fokus memberikan terapi rileks bagi Daychi yang kagum tapi terselip rasa tak suka.
"Siapa yang pernah kau pijat begini?"
Whuang spontan berhenti lalu memandang Daychi dengan tatapan rumit di baca. Jantung Daychi berdebar menunggu jawaban itu.
"Kalau aku jawab kau tak akan percaya."
"Jawab saja!" desak Daychi menarik helaan nafas Whuang yang kembali melanjutkan pijatannya membangunkan benda itu kembali.
"Hanya kau."
Daychi terhenyak dengan jawaban itu. Ia sedikit tak percaya karna Whuang seperti bukan polos lagi dan..
"Setiap pria yang menikahiku selalu berakhir di malam pertama menikah."
"Kau membunuhnya?" tanya Daychi sudah tahu itu.
"Hm. mereka hanya bisa melihat tapi tak bisa menyentuh, begitulah."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau belum membunuhku?" tanya Daychi membuat Whuang mulai emosi mengangkat tubuhnya dan menatap wajah Daychi dari dekat bahkan hidung mereka bersentuhan.
"Kau susah di bunuh. NAGA JANTAN." Tekan Whuang kesal membuat Daychi langsung merengkuh pinggangnya sampai terhempas ke paha kekar itu.
"Kalau begitu kebalikannya. kenapa kau tak membunuhku?" sambung Whuang mengalungkan kedua kengannya ke leher kokoh Daychi yang meremas dua daging di bawah sana.
"Karna aku masih membutuhkanmu."
Degg...
Whuang terhenyak dengan jawaban Daychi barusan. Matanya terlihat melemah dengan hati sedikit berdenyut sakit dan nyeri. Kenapa aku jadi kecewa?
"Kau sangat berguna dan memuaskan. kau selalu memberikan yang terbaik." jawab Daychi tanpa tahu jika Whuang hanya membukus senyuman
"Nyatanya kau sama dengan dia."
Batin Whuang tersenyum nanar. Kenyataan sangat tak sesuai dengan harapan. Ia pikir Daychi menganggapnya berbeda tapi nyatanya hanya pemuas dan gairah ranjang saja. Benar-benar tragis.
"Hm. Kau benar." jawab Whuang tersenyum lebar menyimpan semuanya.
"Dan..."
"Daychi!!!!!"
Suara diluar sana membuat Daychi tersentak tapi tidak dengan Whuang yang merenung diam.
"Shitt! kenapa dia selalu datang kesini?!"
"Aku mandi duluan. soalnya aku ada pekerjaan di luar." Whuang bangkit dari pangkuan Daychi yang berdecih malas. Rencananya mau mengulang tapi ada saja gangguan lagi ini.
"Kau kemana?"
"Keluar!" jawab Whuang berdiri didekat meja menguncir rambutnya keatas terlihat sangat luar biasa.
"Tanpa pakaian begitu?"
"Apa boleh?" tanya Whuang menyeringai membuat wajah Daychi mendingin. setidaknya ini pengobat hatinya.
"Jika kau tak mau hidup lebih lama. Silahkan!"
"Cih! selalu begitu, kau tak asik."
Gerutu Whuang melangkah ke kamar mandi hingga Daychi mengambil nafas dalam.
"Sekarang harus mengurus tua bangka itu. kalau bukan karna wanita menyusahkan ini, aku tak ingin membiarkannya bernafas." geram Daychi mejamkan matanya menenangkan pikiran.
"Daychi!!!! keluarlah, ada Ibumu disini!!!!!"
__ADS_1
"Ibu?" gumam Daychi heran. sangat asing jika Ibunya kesini dan mungkin ada hal yang penting.
Vote and Like Sayang..