
Lampu ruangan. operasi sedari tadi menyala hingga orang-orang yang menunggu dengan debaran jantung diluar sana benar-benar tak bisa diam.
Nyonya Qian selalu berdoa agar Whuang dan anaknya bisa di selamatkan sedangkan Tuan Pein. Ia membuat janji-janji agar anak perempuannya kembali pada mereka.
"Aku mohon. biarkan kami berkumpul sebagai satu keluarga yang utuh."
Batin Tuan Pein memejamkan matanya seraya memeluk Nyonya Qian yang tak kunjung bisa tenang. Chiyo yang melihat dari arah Lift sana hanya diam menatap wajah khawatir Nyonya Qian dan Tuan Pein.
"Whuang! sebaiknya kau kembali, banyak nyawa yang telah tewas di tangan suamimu hanya karna memperjuangkan posisi-mu."
Batin Chiyo yang selama ini selalu melihat kehidupan Whuang. Ia memang iri pada wanita itu karna disaat seperti ini banyak orang yang begitu perduli bahkan menyayanginya.
Diluar terlihat mendebarkan tapi didalam ruangan operasi sana. Team medis sudah berkeringat mengeluarkan bungkusan air yang menampung sosok mungil merah yang terhubung dengan tali pusat Ibunya.
"Cepat tangani ini!"
Dokter Andra dengan hati-hati memeggang bahu si mungil itu bahkan bernafas saja mereka harus menahannya. Perlahan dan sangat pelan begitu terlatih Dokter Andra menarik si kecil itu ke permukaan dengan suster ahli yang menyediakan handuk lembut memapahnya.
Dokter Dige memantau layar monitor yang memperlihatkan kembali detak jantung dipaksa dari kejut listrik dari mesin medis. garis layar monitor semakin lemah membuat mereka begitu menahan cemas.
"Dokter! detakan jantungnya sangat lemah. alat kejut medis tak bisa menopangnya lagi!" desis Suster dibelakang yang tengah memantau anestesi di tubuh Whuang.
Dokter Andra berusaha tenang memotong tali pusat bayi merah itu lalu membawanya ke atas bangkar bayi. Ia menggosok punggung si mungil merah itu dan membersihkan sisa air di hidungnya. Sedangkan Dokter Xiong menjahit kembali rahim Whuang yang tadi di sobek serta beberapa lapisan lain.
"Menangis-lah!" gumam Dokter Andra melakukan injeksi ke kulit halus bayi merah itu. Ia terus menepuk-nepuk punggungnya lalu mengangkat kedua kaki mungil itu melakukan pijatan medis agar pernapasan penerus Klan Ryoto ini mulai berjalan perlahan.
"Dokter!" panik suster didekat bangkar Whuang saat melihat pendarahan di area luka. Dokter Andra semakin kelut, ia tak bisa berlama waktu lagi sekarang.
"Cepatlah!! bantu Ibumu!" desis Dokter Andra melakukan pemfakuman ke mulut si kecil itu itu hingga perlahan jari mungil merahnya bergerak dengan kulit tak sepucat biasanya.
Ooeeeekkk....
"Syukurlah!"
Mereka lega mendengar tangisan melengking itu. Dokter Andra melebarkan senyuman di balik masker bedahnya lalu..
Menyerahkan sisanya ke para suster yang sudah terlatih menangani bayi. Ia beralih ke bangkar Whuang dimana kain operasi sudah di penuhi darah.
"Detakan jantungnya semakin melemah. pendaraan juga terjadi, aku tak yakin bisa..."
"Bisa! tak ada yang tak bisa kalau terus berusaha dan berdo'a." tegas Dokter Andra menghela nafas panjang mulai mengambil alih penjahitan. Ia sekali lagi memberikan anestesi ke perut Whuang dan menjepitkan pinset kecil untuk menahan pendarahan di sekitar kulit wanita itu.
__ADS_1
Keringat mereka bercucuran membuat suster yang bekerja kualahan. Waktu mereka hanya tinggal beberapa menit lagi kalau belum juga selesai maka mereka memang sudah tak bisa menyelamatkannya lagi.
"Kau harus kembali! pikirkan anak dan suamimu."
Batin Dokter Andra melakukan sebisanya. Ia benar-benar berusaha bersama Dokter Taname dan Dige yang juga mengkerahkan kemampuan mereka.
"T..tidak.." gumam Dokter Taname saat tak menemukan lagi denyut nadi Whuang dan alat medis mereka juga mulai menunjukan persenan turun.
"N..nona!"
.........
Suasana malam ini sangat dingin dengan langit tak menunjukan keceriaaanya. Desiran angin yang terasa sejuk menusuk tulang itu sama sekali tak di hiraukan sosok pria yang sudah menatap lantai kosong dihadapannya dengan datar.
Ada dua anggota yang sudah memeggang Senapan type laras panjang merk Pindad.SS1 adalah senapan serbu yang bekerja dengan sistem kerja gas. Model ini merupakan adopsi dari senapan FNC Belgia, dengan beberapa perubahan. Piston gas langkah panjang ditempatkan di atas laras dan disambungkan dengan pembawa penutup.
Laras SS1 dilengkapi dengan peredam sinar yang akan mengurangi pancaran api dan mengurangi hentakan kebelakang. Pembidikan melalui pejera di bagian depan dan pisir bentuk L yang dapat di set untuk jarak tembak 250 dan 400.
Dipastikan hanya dalam sekali tembakan maka ini bisa langsung membawa nyawa Namun, Daychi meminta agar 2 kali percobaan karna ia tak ingin semuanya sia-sia.
"Sersan!"
Lirih para anggota Ryoto yang ikut dalam ekseskusi kali ini. Mereka berdiri di bulatan lantai luar yang ada di tengah-tengah bagian hutan mati yang biasa digunakan untuk menghukum semua para tawanan tapi kali ini Daychi yang jadi pionnya.
Fang dan yang lain membungkuk agar mempertimbangkan semua ini. Tapi tetap saja, Daychi hanya diam melangkahkan kakinya kearah lantai lembab itu.
"Sersan! kami mohon, kami masih membutuhkan anda." ucap Fang sudah berdebar saat tubuh kekar itu melewati mereka begitu saja. Suasana luar yang lantang hanya diterani lampu dikiri kanan lantai membuat suasana remang mengerikan.
"Lakukan tugas kalian!" tegas Daychi sudah berdiri ditengah-tengah bundaran itu. Ia menghadap langsung pada dua anggota yang gemetar memeggang senapannya tak berani menatap wajah tampan Daychi.
"Sersan! kami..."
"Kau ingin melawanku?!" tanya Daychi dingin pada Fang yang diam.
"Bukankah kalian tak nyaman menjadi anggota Ryoto? lihat jari kalian yang sudah hilang karna masuk ke Klan-ku." sambung Daychi tegas membangkitkan kembali kebencian dan amarah itu.
Para anggota saling pandang melihat jempol mereka yang sudah hilang. belum lagi tragedi pentatoan yang seakan menguluti mereka hidup-hidup.
"Kalian pasti ingin menbalasnya. dan sekarang waktunya!" desak Daychi.
"Kami memang merasa tak nyaman dengan aturan anda!"
__ADS_1
Fang menatap tajam dua anggota Sniper yang diam dengan pandangan geramnya pada Daychi.
"Anda selalu marah-marah tak jelas lalu melampiaskan semuanya pada kami yang tak tahu apapun soal hati anda. Sersan! anda menerapakan aturan yang bengis bahkan memutus hubungan dengan keluarga kami!"
"Kau..."
Fang ingin menyangganya tapi Daychi mengangkat tangannya agar tak ada yang membantah apapun disini.
"Lanjutkan!" tegas Daychi ingin mendengarnya.
"Suatu ketika kami ingin membalasnya. rasa sakit kami di putuskan dari keluarga dan mengorbankan perasaan, anda menjadikan kami robot hidup seperti tak punya kehidupan sendiri."
"Apa aku sekejam itu?" gumam Daychi menarik sudut bibirnya kecil. Sepertinya keputusannya ini sangat benar, secara tidak langsung ia juga menebus kesalahannya.
"Tapi. kami tahu semua itu anda lakukan agar kami tak lemah dan berkhianat pada anda! Ibu jari kami di potong dan kami bercerai dari keluarga kami. anda melakukan itu semua karna seimbang dengan apa yang kami dapatkan. anda selalu menepati janji anda. Sersan! tak hanya itu saja, anda juga menjamin keselamatan keluarga kami tanpa melibatkan mereka dalam misi Klan Ryioto." jelas mereka kembali dengan tatapan mata mantap.
"Jadi?"
"Kami mohon jangan tinggalkan kami!" ucap mereka semua membungkuk membuat Fang diam. Seumur hidup ia baru kali ini melihat ada cinta dan kasih di dalam Klan bengis ini.
Whuang! kau tahu hadiah apa yang paling berharga yang kau tinggalkan disini sekarang?
Fang tersenyum kecil lalu ikut membungkuk dideretan anggota yang sungguh tulus melakukannya.
"Jangan tinggalkan kami!" ucap mereka sekali lagi membuat Daychi terasa hangat. Ia melihat wajah-wajah persahabatan disini.
"Aku tak akan meninggalkan Klan yang selama ini ku perjuangkan! walau aku tak lagi bernafas, tapi aku masih punya mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan kalian! MENGERTI??"
"S..Sersan!" lirih mereka tak lagi mampu membantah saat Daychi sudah memposisikan dirinya.
"Cepatlah!"
"Baik!"
Kedua anggota itu memidik dada Daychi yang berdiri tegap tanpa gentar sama sekali. tak ada rasa takut di benaknya melihat ujung senapan itu mengarah padanya.
"Sekarang!" titah Daychi tegas hingga dua anggota itu memejamkan matanya menarik pelatuk secara bersamaan menguarkan suara yang keras.
Dorrrrr.....
"Ichiiiii!!!!!!"
__ADS_1
........
Vote and Like Sayang...