Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Kau tahu ini berbahaya!


__ADS_3

Tatapan tajam yang penuh kelicikan itu masih menghunus sesosok wanita yang tengah bersembunyi di balik tubuh kekar Daychi. Pelukannya ke tubuh tegap sang suami mengerat dengan wajah dibenamkan ke punggung kekar jantan itu.


"I...Ichi." lirih Whuang masih enggan melepas pelukannya. Wajah Tuan Jirom terlihat memar membiru didekat pipi dan sudut bibir lebam seperti habis di pukuli, terlihat sekali sorot matanya menyimpan kekelaman terhadap Whuang yang ketakutan.


"Dia yang memukulmu?" tanya Daychi dingin hanya ingin mendengar dari mulut Whuang sendiri.


"I...Ichi!"


"Tak apa. kau jawab saja." ucap Daychi masih menahan emosi dikala Whuang malah semakin dibuat takut.


"A...aku.."


"Aku Ayahnya. mana mungkin aku memukul putri-ku sendiri." sambar Tuan Jirom santai membuat kepalan tangan Daychi menguat. Sorot mata elangnya berubah kelam semakin menambah dinginnya ruangan ini.


"Whuang! ayo kita pulang." sambungnya lagi penuh kelicikan.


"T..Tidak. aku .. I..Ichi hiks. aku .."


Daychi perlahan berdiri hingga Whuang semakin dibuat mengigil beralih memeluk kaki kokoh Naga Jantan itu seakan tak ingin ditinggalkan.


"Berdiri!"


"I...Ichi!"


Daychi beralih memandang Whuang tajam membuat wanita itu mencengkram kuat kakinya. Ia merasakan jelas jika pikiran Whuang telah diselumbungi ketakutan didalam hatinya.


"I..Ichi!"


"Berdiri! tak ada yang bisa kau takutkan darinya." tegas Daychi menarik lengan Whuang kasar hingga berdiri dibelakangnya. walau tak bisa setegap biasa Whuang berpeggangan ke pinggang kekar Daychi.


"Dia yang memukulmu?" tanya Daychi sekali lagi kembali menatap wajah Tuan Jirom yang santai saja.


"A..Aku..." masih takut-takut tak menatap wajah ayahnya.


"Dia tak akan bicara tentang hal yang tak benar. Kau hanya memaksa, Sersan Daychi." sambar Tuan Jirom menyeringai. Bagus, Whuang. kau memang anak-ku yang terbaik. aku memang pantas kau takuti.


"Kau tak mau menjawabnya?" Daychi mulai emosi.


"A..Aku..."


"Baik! berdirilah disini dengannya, aku ingin keluar." ancam Daychi melepas peggangan Whuang yang menjerit kembali memeluknya.


"Tidak!!!! j..jangan...jangan tinggalkan aku, hiks! Ichi."


"Jawab!" tekan Daychi begitu mengintimidasi hingga Whuang mengumpulkan keberaniannya dengan mengangguk.


"I..Iya."


"Dengan apa?"


Whuang memucat membayangkan benda itu dan ia tak bisa tenang karna itu hal yang sudah membantainya sedari kecil.


"D..Dia...selalu membawanya dan itu .."


"Ini maksudmu?!"


"I..Ichi!!!"


Teriak Whuang terkejut saat Tuan Jirom mengeluarkan rantai seperti biasa di dalam sakunya. Seringaian pria paruh bayah itu muncul melangkah mendekat membuat Whuang semakin gemetar.


"J..Jangan.. itu ..itu sakit!!"


"Apanya? ini hanya rantai biasa. coba kau pegang. Nak!"


Tuan Jirom menyodorkannya tapi Daychi yang mengambil benda itu menarik ketakutan Whuang yang segera melepas pelukan beralih mundur.


"J...Jangan..."


"Kau juga ingin memeggangnya. Sersan!" gumam Tuan Jirom tanpa takut sama sekali. Ia akui Daychi memang bengis dengan aura iblis dan telah memukulinya semalam tapi ia tak akan membiarkan Whuang lepas begitu saja.


"I...Ichi! j..jangan, hiks!"

__ADS_1


"Kenapa kau sangat takut dengan benda ini?" tanya Daychi melilitkan rantai dibaluti jarum itu ke punggung tangannya membuat Tuan Jirom menyeringit.


"Itu rantai biasa."


"Tak akan tahu sebelum mencoba. hm!" desis Daychi menggertakan gigi.


"Kau terlalu me.."


"Kau yang akan mencobanya!!!"


Daychi langsung menghantamkan tinjuan panasnya ke wajah Tuan Jirom yang langsung tersungkur ke lantai penuh beling sana membuat Zuan terkejut. Ia sedari tadi ada diluar tapi segera masuk saat terdengar suara hantaman yang keras.


"S..Sersan!" gumam Zuan tertegun melihat darah yang menetes dari kepalan tangan kekar Daychi yang menatap membunuh Tuan Jirom.


"Sakit?!" tanya Daychi dingin melangkah mendekat membawa amarah yang besar. Ia menahan rasa muak itu semalaman agar tak lepas sebelum Whuang menyatakan IYA.


"Cih! aku ayah mertuamu." desis Tuan Jirom meraba wajahnya yang terasa di cabik dan sangat sakit akan hantaman kuat meremukan rahangnya.


"Ayah?"


"Hm. jika kau mengusikku maka sama saja kau memusuhi Ayahmu!!"


Daychi terkekeh iblis menunjukan kepalan tangannya yang penuh darah. Sepertinya pria ini belum tahu apa-apa soal kehidupannya.


"Jadi begitu?!" remeh Daychi berjongkok dihadapan Tuan Jirom yang terkejut akan responnya. Daychi beralih mencengram kerah kemeja pria itu dengan kuat membuat Whuang sudah bersembunyi dibawah meja meringkuk takut.


"K...Kau .."


"Sayangnya aku tak butuh mahluk seperti kalian!!!"


Bughhh....


Daychi kembali memukulnya bahkan kali ini semakin brutal membuat darah itu menjiprat ke kaos putihnya. Pukulan menyimpan kebencian dan amarah membabi-buta hingga Tuan Jirom tak bisa berkutik selain mencoba menghindar tapi wajahnya sudah tercabik akan tusukan jarum itu.


"Sialan!!!!"


"Sersan!" Zuan terhenyak saat Daychi menerjang perut pria itu sampai menyemburkan darah membuat Whuang melebarkan matanya berteriak.


"W..Whuang." lirih Tuan Jirom menahan sakit di sekujur tubuhnya tapi Daychi belum puas. Ia ingin menguliti pria ini hidup-hidup agar ia tahu rasa sakit itu bagaimana.


"BRENGSEK!!!"


"Sersan!!"


Zuan menahan bahu Daychi yang ingin mencekik leher Tuan Jirom dengan rantai berlumuran darah itu. Nafas Daychi memburu dengan wajah benar-benar membawa kemurkaan.


"Sersan! kendalikan diri anda karna Nona melihat ini." gumam Zuan membuat Daychi merapatkan giginya melirik kearah Whuang yang menatap kosong semua itu.


"Bawa dia!"


Zuan mengangguk mengisyaratkan para anggota yang berdiri diluar untuk membawa Tuan Jirom yang tampak sekarat. Wajah pria itu tak bisa dikatakan baik karna separuhnya hampir rata karna Daychi.


"Cih! kau mencari musuh yang salah " gumam para anggota meringkus Tuan Jirom kasar. Menyeret pria paruh baya itu keluar tanpa belas kasih menarik rambutnya bak tawanan ilegal.


"Sersan! bersihkan tubuh anda karna..."


Zuan terhenti bicara saat Daychi sudah melepas jaket dan Kaosnya lalu mengelap wajahnya yang terjiprat darah. Tubuh kekar itu melangkah mendekati Whuang yang masih terlihat kosong.


"A..Ayah." lirih Whuang bergetar melihat darah dimana-mana. Ia masih memiliki kasih sayang pada pria itu hingga mata keabuannya mulai mengembun.


"A..Ayah, hiks!"


"Kau masih merenungi sialan itu? kemana otakmu??!!!"


"K..Kenapa kau pukul? kau memukulinya!!!!" bentak Whuang disela isak tangisnya. Zuan diam tanpa sepatah katapun. Ia tahu betapa besar kasih Whuang pada pria itu tapi lukanya juga akan selalu terbuka lebar.


"Begitu? baik. biarkan dia melakukan apapun. lagi pula itu bukan URUSANKU." Tekan Daychi lalu berdiri dengan Zuan yang mengerti melangkah pergi menutup pintu kamar.


Daychi melangkah ke kamar mandi melempar jaket dan kaosnya sembarangan membuat Whuang diam dengan nafas sendatnya melihat ke semua sudut kamar.


Pecahan kaca, ceceran darah dan semuanya berantakan. Namun, nyali Whuang ciut ketika rantai tadi ada di atas jaket Daychi yang tadi di lempar ke sembarang arah meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Anak baik! kau alat yang sangat berguna bagiku. kau begitu cerdas dan mudah diatur."


Kata-kata Tuan Jirom bersarang di kepala Whuang yang memejamkan matanya. Tekukan kaki Whuang mengendur menekan pikirannya agar bisa tenang.


"A...Anak baik." gumam Whuang bergetar lalu membuka matanya dan perlahan mulai keluar dari bawah meja menatap ke arah pintu kamar mandi.


Ia butuh pria itu sekarang. hanya Daychi yang membuat ia sadar kembali dengan rasa takut yang bersarang di jiwanya.


"Apa dia marah?"


Batin Whuang berdiri lemah lalu melangkah perlahan mendekati pintu kamar mandi. Kamar ini sangat luas hingga Whuang bisa berpeggangan ke dinding dan beberapa perabotan kamar.


"Dia mandi."


Kata terlintas dikala mendengar suara Shower. Perlahan Whuang menekan gagang pintu kamar mandi hingga terbuka kecil menguarkan aroma Shampo Wood Musk yang menangkan.


Mata Whuang terlihat sayu dan kosong karna ia hanya ingin memeluk pria itu.


"I..Ichi ."


Batinnya tertegun melihat Daychi sudah berdiri dibawah guyuran Shower dengan rambut penuh busa di usapnya seksi. Sungguh tampilan tubuh atletisnya terlihat dikala otot-otot kekar itu tak lagi disembunyikan karna Daychi tak memakai apapun.


"Dia selalu sempurna."


Whuang kagum melihat semuanya hingga tanpa sadar ia melangkah mendekat menatap kagum dan lembut sosok tampan itu yang sekali lagi menggetarkan hatinya.


Daychi yang tak menyadari itu hanya fokus pada acara mandinya membiarkan Whuang menatap dari belakang. Jiwa mesum Whuang meruak membayangkan benda perkasa itu yang tersembunyi karna Daychi membelakanginya.


"Apa Ichi marah?"


Batin Whuang bertanya-tanya takut jika Daychi marah padanya. Ia perlahan mendekat hingga Daychi menyeringit merasakan aroma lain dan...


"Ichi!"


Duarrr....


Mata Daychi terbelalak saat tubuh Whuang sudah berdempet memeluknya dari belakang dengan kedua tangan lentik itu mendekap dada bidangnya. Air itu juga membasahi tubuh Whuang yang membenamkan wajahnya ke punggung berotot sang suami yang sudah meneggang kaku.


"Maaf!"


"K..Kau...kau apa-apa'an ha?" gugup Daychi saat tubuhnya merespon. Darahnya mendesir hebat dengan nafas tercekat.


"Jangan marah. aku minta maaf."


"Shitt! kau tahu ini sangat berbahaya. Whuang!" geram Daychi sudah serak.


Dahi Whuang mengerut pura-pura tak mengerti. Walau lukanya terkena air tapi ia terlalu larut dalam urusan begini.


"Apanya? aku hanya memelukmu. apa salah?"


"Kau .."


"Terimakasih. Ichi!" bisik Whuang membuat Daychi tertegun. Kenapa tiba-tiba ia jadi hilang akal? ucapan itu terdengar sangat tulus.


"Hm. pergilah keluar." lirih Daychi berat karna ia berusaha meredam hasratnya karna Whuang belum pulih. dengan dada yang bergemuruh itu Whuang tahu jika Daychi tengah menahan hasrat.


"Dia sudah mulai bangkit."


Batin Whuang memerah melihat bagian bawah Daychi sudah bangun walau belum tegak sempurna tapi itu melambai bergerak karna berusaha menahan.


"Pergilah! aku mau... " mata Daychi membelalak saat tangan Whuang turun meraba ke bawah sana.


"K..Kau ..A..akhss shitt!" erang Daychi melemah berpeggangan ke dinding saat belaian itu membuatnya tersengat. Tangan lentik itu sangat pandai bermain bola dan pistol sekaligus.


"Biarkan aku melakukannya. hm?" bisik Whuang menjilati daun telinga Daychi yang menggeram nikmat.


"W..Whuang!" erang Daychi terkadah dengan air membasahi tubuh mereka. Whuang sangat pandai memanjakannya sampai Daychi lupa waktu dan dunia hanya karna pelayanan wanita ini.


........


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2