Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Apa yang akan terjadi padanya?


__ADS_3

Mobil hitam pekat dengan kecepatan maksimal yang tadi melalui jalan kearah Penginapan terpencil itu sudah terhenti tepat ditepi hutan gelap yang menguarkan suasana mistik. Suara gongongan anjing terdengar jelas dengan beberapa serangga malam berterbangan di lampu depan Mobil.


"Sersan!"


Zuan turun dari mobil dengan memakai kacamata khusus yang mengaitkan mereka dengan alat komunikasi yang ada di masing-masing telinga.


Tanah lembab itu mulai mereka pijaki dengan penerangan rembulan diatas sana. Daychi turun dari mobil memakai stelan serba hitam dan topi seperti biasa.


"Kalian sudah tahu jalurnya. bukan?"


"Siap! Sersan!" jawab para anggota sudah menyebar menuju penginapan itu. Daychi sudah memantaunya dari jauh hari kalau Tuan Jirom memang ada di penginapan.


"Kalian harus waspada. ini sepertinya sudah di beri jebakan." ucap Daychi melihat ke sekelilingnya. Disekitar ini terlihat lembab dan dingin begitu misterius.


"Sersan! di arah jam 12 itu ada kawat listrik. di arah Jam 9 itu ada tumbuhan beracun dan di dekat penginapan itu ada danau, kami belum bisa memastikan ada apa disana?"


Suara Gamaru memberi informasi dari Gedung IT mereka. Ia bertugas untuk meretas semua jebakan yang kemungkinan akan merugikan anggota.


"Kau cari saja. kami masuk sekarang."


"Baik!"


Daychi mengisyaratkan para anggota berpencar hingga ia lewat dijalan samping dan Zuan memimpin di arah sebaliknya. Mereka sudah menyiapkan pistol dibalik jaket dan senjata lainnya.


Dari jarak 30 meter dari semak-semak gelap itu. Mata mereka sudah dihadapkan dengan bangunan kecil yang lebih santai dengan pencahayaan yang cukup terang.


Ada 2 pria yang mengawal di depan tangga penginapan menatap ke semua arah serta CCTV didekat gerbang masuk.


"Kalian masuk saja. untuk CCTV itu aman."


"Hm."


Daychi melangkah mendekat dengan hati-hati dan kewaspadaan. Ia tahu jika rerumputan di sekitar tempat ini ada yang memasang ranjau.


"Sesuai rencanaku. kalian jangan sampai gegabah."


"Baik!"


Mereka terlihat begitu terlatih. Anggota pemantau milik Ryoto sudah lebih dulu melesat masuk ke area penginapan melalui cabang-cabang pepohonan disekitar yang rimbun.


"Tak mungkin selegang ini!"


Batin Daychi melihat hanya ada 2 pengawal. Ia masih maju menyelinap dibalik semak-semak hingga sampai pada bagian kawat pagar yang disebutkan Gamaru tadi.


"Sersan! ini ada listriknya." gumam salah satu anggota yang meludahi kawat itu hingga memercik api kecil.


"Kalau begitu. bagaimana kalau meloncat? Sersan!"


"Lihat didekat pagar!" titah Daychi pada 3 anggota yang membuntutinya hingga mata mereka melebar saat melihat ada kabel kecil yang samar-samar bersembunyi dibalik rerumputan.


"Dia sangat licik. memasang peledak disekitar pagar."


"Tapi, kita bisa meloncati area yang tak ada.."


"Perjelas mata kalian!" geram Daychi membuat mereka memucat segera mengangguk melihat ke arah atas pagar kawat. Apa? mereka tak menemukan apapun?


"Ini tak bisa di lihat jelas. kalian tak akan paham." ujar Daychi lalu berfikir sejenak. Mereka harus menyelesaikan ini dulu karna nanti akan timbul masalah jika ingin keluar.


"Potong kabel yang berwarna putih. anggota penjinak yang bekerja."


"Baik!"


Mereka membagi tugas kembali pecah. Daychi memilih masuk sendiri karna ia sudah tak sabar dan tak menunggu. Saat para anggota menyelesaikan masalah itu, ia melesat mudah kearah Gerbang saat dua pengawal itu lengah.


"Sersan! kami akan mengurus dua didepan."


"Hm."


Daychi tak menargetkan dua pengawal itu karna Zuan sudah ada didekat bangunan samping. Pergerakan Klan Ryoto yang sangat halus membuat siapa saja tak akan mengira mereka akan datang di waktu apa?


Zuan sengaja melempar batu didekatnya kearah samping tempat ia berdiri hingga salah satu pengawal penginapan ini mendekat membawa pistol ditangannya bersama senter.


"Siapa yang melempar batu ke.."


Zuan langsung memukul tengkuk pria itu kuat hingga tersungkur diatas tanah lembab dibawahnya. Anggota yang sudah memanjat keatas penginapan sudah bersedia membobol tempat itu sedangkan pengawal satunya sudah tumbang karna tembakan cairan hitam kental dari atas atap.


"Pengawal ini tak ada seragam khusus. kita bisa menanfaatkannya. Sersan!"


"Hm."


Daychi melangkah kearah depan tangga penginapan yang lengang diikuti Zuan yang memakai maskernya. Begitu juga Daychi karna mereka akan masuk kedalam sana.


"CCTVnya akan hidup 5 menit lagi. segeralah menyelesaikan."


"Aku tahu!"


Jawab Zuan pada Gamaru yang menjalankan tugasnya. Dua pengawal tadi sudah di seret ke arah gelap lalu Daychi berdiri ditempat dua orang tadi bersama Zuan yang melakukan rencananya.


"CCTV-nya menyala! ada mobil yang datang dari arah depan, kalian harus hati-hati."


Daychi hanya diam menekan ujung topinya agar menutupi kacamata. Untung saja ini malam hari hingga mereka mudah memantau segalanya.


Tak lama berselang. Mobil yang dikatakan Gamaru tadi datang dengan cahaya lampu yang cukup terang. Daychi tetap diam membiarkan Mobil itu masuk sampai kedekat mereka disuasana hening.


"Aku rasa ini cukup."

__ADS_1


Seorang pria keluar dari dalam mobil dengan wajah yang penuh dengan luka jahitan dan bekas luka dalam. Tubuh kekar dengan kulit Sawo matang itu menunjang pandangan sangarnya.


"Itu Amor. kaki tangan pria tua itu."


Gamaru menjelaskan karna ia melihat situasi dari Dron yang terbang diatas awan gelap sana. Daychi tentu tak akan sia-sia membuat rencana.


"Apa ada masalah?" tanya Amor menatap dua penjaga dihadapannya.


"Hm!"


Keduanya menggeleng dan tanpa ada rasa curiga Amor langsung melewati mereka membawa kantong berwarna hitam menuju pintu, namun. ia terhenti saat merasa ada yang janggal.


"Apa dia curiga?"


Gamaru yang gugup melihat Amor berbalik kembali memandang Daychi dan Zuan yang menunduk tak bergerak sama sekali.


"Kalian..."


"Tuan!!"


Suara pelayan yang datang membuat Amor segera menepis kecurigaannya segera masuk ke dalam penginapan.


"Ada apa?"


"Tuan besar sudah menunggu anda di bawah!" ucap pelayan perempuan itu menunduk.


"Baiklah. kalian berdua!" Amor memanggil dua pengawal di luar.


"Iya. Tuan!" Zuan mengubah suaranya agak serak agar tak diketahui.


"Kau bantu aku memindahkan mayat di bawah ke tempat pembuangan."


"Baik!"


Jawab Zuan melirik Daychi yang hanya mengikut dari belakang. Mata elang tajam Daychi tak melewatkan satu-pun lantai yang mereka pijaki.


Bangunan ini didominasi dengan bentuk kayu didalam terkesan tradisonal dan klasik tapi dingin. Hanya sedikit pelayan yang bekerja malam ini bahkan aura ruangannya terkesan mistik.


"Kalian ikut aku ke bawah. jangan sampai membuat Tuan besar marah."


Mereka hanya mengangguk mengikuti langkah Amor yang melewati beberapa koridor. Dilihat dari luar bangunan ini memang kecil, tapi ketika sudah masuk semakin dalam maka mata mereka ada diperlihatkan dengan banyak ruangan yang aneh.


Namun. tiba-tiba Daychi terhenti saat melihat satu ruangan yang tertutup di sampingnya. Aroma angin disekitar itu membawa satu hal yang mengingatkan Daychi pada seseorang.


"Sersan!" lirih Zuan tak mengerti.


"Kau duluan!"


Zuan mengangguk membiarkan Daychi berdiri didepan pintu itu dengan pandangan waspada. Tak ada pelayan atau penjaga disini hingga Daychi bebas.


Daychi tak memperdulikan ucapan Gamaru di telinganya. Ia memilih menekan gagang pintu sampai terbuka meloloskan aroma khas yang ia kenal.


"Ini pasti kamarnya." gumam Daychi menghirup aroma Floral milik Whuang. Tak mampu membendung rasa penasaran akhirnya Daychi melangkah masuk.


"Sersan! anda jangan ke..."


"Sempurna!" gumam Daychi terpana saat melihat satu lukisan didinding kamar minimalis ini. Goresan cat yang begitu terasa nyata diatas sebuah kanfas memaparkan sesosok mahluk indah yang tengah berpose lengkap mempesona.


"Sersan!"


Daychi tak menghiraukannya. Ia menatap kagum ranjang tempat tidur berwarna merah hati dan selimut yang ada diatasnya.


Apa itu tempat tidurnya? ini kamarnya.


Rasa istimewa itu menyeruk. Daychi melangkah mendekat mengulur tangannya memeggang Sprey lembut yang tampak bermakna dewasa. Kamar ini memang sangat seksi seperti penghuninya dulu.


"Istriku memang sangat cantik." puji Daychi melihat lukisan Whuang yang memakai Anfu berwarna merah tengah duduk diatas batu dibawah sinaran rembulan, kulit putih wanita itu menyatu dengan rona indah di lukisan ini.


"SERSAN!"


Panggil Gamaru sedikit mengeraskan suara menyeblntak kesadaran Daychi yang tersigap. ia baru sadar kalau ia terlalu asik dengan hal berbau Whuang hingga lupa untuk menjalankan rencananya.


"Aku tahu! kemas semua barang disini, secepatnya!"


"Aku mengerti. Sersan! sekarang Zuan sudah di bawah, anda harus kembali."


"Hm."


Daychi masih terpaku pada pemandangan indah itu hingga ia menyentuh bagian wajah cantik wanita itu.


"Aku akan memperbaiki segalanya. aku berjanji." guman Daychi memantapkan hati. lalu berlari keluar pintu kembali menuruni tangga bawah.


Sementara di bawah sana. Zuan tengah berusaha menahan amarah melihat bagaimana kejinya iblis tua ini membuat penelitian. Di bawah sini ada ruangan Lab dimana banyak tabung yang berisi cairan berwarna hijau bergelembung berisi serangga kunang-kunang dan ada hewan-hewan buas yang dibekukan.


"Bagaimana? kau mendapatkannya?"


"Ini. Tuan!"


Amor memberikan kantong tadi pada Tuan Jirom yang tersenyum puas. Sebentar lagi ia akan menyelesaikan racun yang ia buat untuk menghabisi semua musuhnya termasuk Tuan Yagumi yang seenaknya saja memerintahnya.


"Bagus! pria tua itu mendesakku menyelesaikan ini, tapi. setelah itu aku akan menghabisinya."


"Dia menginginkan ini selesai besok. Tuan!" jawab Amor lugas dengan wajah patuhnya.


"Lihat saja. setelah dia menghancurkan semua penghalangku. maka, setelah itu dia target terakhirku." umpat Tuan Jirom lalu mengeluarkan isi kantong plastik hitam itu berupa bungkusan belatung yang menijikan.

__ADS_1


Tuan Jirom bersemangat meracik semua bahan-bahan penelitiannya. Amor agak gelisah karna ia ingin menanyakan soal sesuatu.


"T..Tuan!"


"Ada apa?" masih fokus menyuntikan cairan ke tabung sebelahnya.


"Bagaimana dengan Whuang?"


Prankkk...


Amor tersentak saat Tuan Jirom melempar gelas air didekatnya ke lantai. Wajah pria itu mengeras mengacungkan pisau bedah ke wajah Amor yang memucat.


"Tak hentinya kau menanyakan ini!!!"


"Tuan! Whuang sangat penting dalam rencana anda.. dan.."


"Dia sudah tak berguna." desis Tuan Jirom membuat darah Zuan menidiih dengan urat kemarahan yablng terlihat jelas di buku tangannya.


"Tuan! Whuang pasti akan kembali pada anda, dia tak akan bisa merelakan nyawanya."


Tuan Jirom terkekeh kecil mendekati Amor yang tak bisa menahan diri untuk tak membantu Whuang mendapatkan kembali kepercayaan pria ini.


"Apa yang dia punya? tubuhnya sudah tak menarik lagi. aku tak butuh manusia sampah seperti i..."


"Jaga bicaramu!!!"


Bughh ...


Tuan Jirom terpental ke dinding sana karna tinjuan panas yang dilayangkan ke wajahnya. Gamaru yang memantau dari seberang sana melebarkan matanya tak percaya.


"S..Sersan!" gumam Zuan yang agak terkejut. Ia yang tadi ingin memukul tapi nyatanya Daychi yang tak bisa mengontrol emosi itu sudah lebih dulu melesat.


Tuan jirom tertegun menatap Daychi yang telah membuka maskernya. Wajah mengerikan iblis jantan itu terlihat membuatnya langsung menatap Amor yang segera mengeluarkan pistol tapi...


"HANCURKAN TEMPAT INI!!!" Suara Daychi menggelegar membuat anggota yang sudah masuk segera menyerang membabi-buta. Bawahan Tuan Jirom yang tadi bertugas di ruangan lain segera keluar hingga terjadi baku hantam dan saling melepaskan tembakan.


"B..bagaimana bisa?" gumam Tuan Jirom menatap Komputer yang memantau dari CCTV. ia sudah menyiapkan semua perangkap tapi kenapa masih saja masuk?


Zuan melawan Amor yang berusaha melindungi tabung-tabung didekat dinding. Sementara Daychi, ia sudah dikuasai amarah melihat rupa menjijikan pria ini.


"Kau datang juga, rupanya?" ucap Tuan Jirom berdiri menyimpan rencana.


"Dimana penawar racunnya?" suara Daychi dingin dan begitu tak bersahabat.


"Ouh. hanya untuk wanita itu, kau kesini?"


Daychi sama sekali tak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan kedua tangan mengepal membawa angkara murka yang terpancar di wajah tampan kelamnya.


"Dimana?"


"Aku tak tahu dan tak ingin memberi tahu-mu." desis Tuan Jirom dengan cepat mengambil pistol rakitan dimejanya lalu menembakan cairan kental hitam itu kearah Daychi yang menghindar cepat.


"Kau tak bisa membunuhku." Tuan Jirom menyeringai melihat cairan kental itu mengeluarkan asap memakan dinding kayu disekitarnya.


Tak cukup menguji hasil percobaannya. Tuan Jirom lagi-lagi menembakan cairan itu kearah Sam yang begitu lihai bak angin menghindar hingga hanya terlempar ke sembarang arah membuat Tuan Jirom mendidih.


"Hanya itu?" tanya Daychi sangat jijik akan senjata biokimia yang berbahaya ini.


"Kau memang brengsek!!" Umpat Tuan Jirom melakukan hal yang sama pada Daychi. Lagi-lagi semuanya gagal karna Daychi sangat lihai bergerak tepat.


"Sekarang giliranku!" desis Daychi mengarahkan pistolnya kearah kepala Tuan Jirom yang juga beriringan menembakan cairan itu.


"Sersan!!!" Zuan terkejut saat dinding disekitar mereka muncul pipa kecil yang memancarkan cairan yang sama hingga tak ada tempat untuk lari.


.......


Nafasnya sudah tersendat dengan darah yang terus keluar di hidung dan mulutnya. Ia mencengkram selimut untuk menahan rasa nyeri yang menusuk di dadanya.


"A...ku..."


Whuang menekan selang di hidungnya karna kesulitan bernafas. Dokter Lizel dan Dokter Taname berusaha menghentikan pendarahan di sistem pernafasan Whuang yang semakin parah.


"Nona! duduklah sebentar." Dokter Lizel menyangga tubuh Whuang yang mengejang karna pasokan udara yang mo


kurang. Tadi, Whuang kembali seperti ini tapi sudah berhasil dihentikan namun, tak berselang beberapa menit ia kembali kambuh.


"A...ku..."


"Nona! bertahanlah."


Dokter Dige berusaha mengeluarkan racun itu dengan menyuntikan berbagai cairan yang telah ia buat, tapi. hasilnya nihil keadaannya semakin parah.


"Apa tak ada cara lain? waktunya hanya sedikit lagi." gumam Dokter Lizel mengusap dada Whuang yang tampak sudah pucat pasih. Selimut itu sudah berlumuran darah segar Whuang yang tak kujung berhenti.


"A...ku... I..chi.." gumam Whuang terbata-bata. Ia belum ingin pergi sebelum melihat pria itu. Izinkan dia melihatnya sebentar saja.


Natalia yang melihat itu dari ambang pintu terus menahan isakan. Ia tak tega melihat Whuang terus mengerang sakit yang tak kunjung lepas dari tubuhnya.


"K..kenapa A..aunty Wu, sakit?" lirih Baby Elis di pelukan Sam yang juga memeluk Natalia. ia hanya diam menenagkan istrinya sementara Lien tak sanggup melihat Whuang seperti itu.


Lien lebih memilih duduk di sofa menutup wajahnya yang sudah membendung kecemasan tinggi.


"K..Kakak! a..apa yang akan terjadi padanya?!" gumam Lien disamping Brayen yang juga ikut merasa khawatir. sudah banyak Team medis disini tapi tak ada yang bisa.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2