
Hiasan bunga Bunga peony itu tampak mendominasi di lingkungan Gerbang Klenteng. Peony adalah bunga paling penting di China dan dianggap oleh banyak orang sebagai bunga nasional Negeri Tirai Bambu tersebut meski tidak secara resmi.
Bunga peony melambangkan kekayaan, kemakmuran dan kehormatan. Kelopak bunga peony yang besar dan warna yang kuat terhubung dengan kemakmuran dan kekayaan budaya tradisional Tionghoa. Dengan demikian, bunga ini disukai masyarakat China saat Dinasti Tang.
Lingkungan Klenteng Pouchu tampak sudah dipenuhi berbagai kerabat dari dua keluarga itu. Pernikahan ini akan dihadirkan tepat ditempat yang sama sedangkan Gedung disebelah sana sudah dipenuhi Tamu undangan yang berdecak kagum akan hiasan lingkungan luas ini.
"Aku tak menyangka Keluarga Yuchin akan menikahkan putra tunggal mereka disini?"
"Yah! lihatlah bunga-bunga mahal ini! semuanya begitu indah."
Gumam mereka asik memuji dekorasi musim semu ini. Klenteng besar itu di hiasi kain merah dan lampu khas China yang digantung bersamaan dengan pernik giok yang sangat mahal.
Lantai ini di taburi bunga Plum yang wangi disetiap kelopak indahnya. Sungguh ini sangat luar biasa.
"Akhirnya kita bertemu!" sapa Tuan Pein yang tampak menggandeng istrinya menuju aula pernikahan. Ia tampak mengenakan pakaian tradisional China yang sangat gagah bersama Nyonya Qian yang tak kalah bahagia melihat Nyonya Mieng disini.
"Selamat datang. Nyonya Zang!"
"Terimakasih, acara ini sungguh sangat megah." puji Nyonya Qian mendekati Nyonya Mieng yang tengah berdiri disamping suaminya.
"Bukan kami yang menyiapkannya!"
"Lalu?" tanya Nyonya Qian menyeringit.
"Kau tahu sendiri jika putraku tak suka di campur tangani."
"Ouhh.. Daychi!" tebak Nyonya Qian menarik senyum hangatnya. Nyonya Mieng mengangguk menatap Tuan Khang yang mengisyaratkan agar membawa tamu yang lain untuk berkeliling.
"Aku pergi dulu. Suamiku!"
"Hm."
Nyonya Mieng mengiring Nyonya Qian untuk menuju Gedung para tamu undangan yang memenuhi lapangan ini. Ia dikawal anggota pengaman meninggalkan Tuan Pein dan Tuan Khang yang saling bertatap berbeda.
"Bagaimana tentang pendekatanmu?" tanya Tuan Pein yabg mengerti akan usaha pria robot ini.
"Biasa saja."
"Ayolah. sampai kapan kau mau melakukan segalanya dengan caramu sendiri." Tuan Pein mendecah geli karna ego pria ini sangatlah tinggi.
"Melihatnya menikah dengan tenang dan bahagia. itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi kalian masih bermusuhan."
Tuan Khang hanya diam tak menjawab. Ia tak ada niatan untuk membuat hubungan baik dengan Daychi karna ia tahu putranya satu itu tak akan bisa menerimanya sama sekali.
"Dia sudah besar, yang-ku lakukan selama ini tak akan ku sesali!" tegas Tuan Khang tanpa sedikit-pun berbelas kasih.
"Aku tak mengerti jalan pikiranmu, tapi aku paham dimana posisimu berada."
"Hm."
Mereka berdua diam memandangi Mobil-mobil yang masuk dari arah Gerbang. suara riuh keramaian ini sangat tak di sukai Tuan Khang maupun Tuan Pein tapi mereka harus tetap disini menunggu anggota keluarga lainnya datang.
"Anakku!!"
"Ini luar biasa!!"
Suara heboh dari depan sana membuat Tuan Pein mengulum senyum. Ada satu wanita tua yang dikawal banyak pengawal mengiringi jalannya kearah sini. itu adalah Nyonya Loufeng
"Ibumu!"
"Hm."
Tuan Khang hanya diam. Walau rambutnya tetap memutih dan kulitnya yang keriput itu masih bisa berjalan menghampiri sang putra yang baru kali ini mengundangnya.
"Anakku! dimana Lien?"
"Mereka sibuk!" jawab Tuan Khang mengulur tangannya memeggang lengan kurus Ibunya untuk duduk di kursi yang telah disediakan disini.
"Ini pernikahan siapa? kenapa kau mengundangku kesini. ha?"
"Ini pernikahan D..."
"Tak ada!" sambar Tuan Khang memotong ucapan Tuan Pein yang lagi-lagi membuang nafas kasar. Apa salahnya mengatakan kalau ini pernikahan Daychi si perantau gelap itu?!
"Tidak ada! kenapa membawaku kesini? lebih baik aku memperdalam imanku ini. Khang!" omelan itu hanya dijawab wajah datar Tuan Khang yang hanya diam menunggu Mobil pengantinnya.
"DIHARAPKAN KEPADA TAMU UNDANGAN DAN PARA KELUARGA MEMPELAI UNTUK HADIR DI TEMPAT MASING-MASING!"
Pengeras suara berbunyi lantang karna pembawa acara kali ini sudah mengambil alih karna meningat acaranya akan segera dimulai. Langit diatas sana suja membayang jingga membuat mereka menikmati indahnya sore ini.
"Dimana mereka? acaranya sudah mau di mulai." gumam Tuan Pein melihat jam dipergelangan tangannya. Tak berselang lama 5 Mobil dari arah jalan sana masuk dikawal banyak lagi anggota.
"Apa itu Tuan Muda?"
"Wahh! ini sangat mewah!"
Decah para tamu yang merapat ke dekat pagar dengan para Media stand-by diposisi mereka. Mobil-mobil mewah itu langsung terhenti didekat karpet merah yang terhubung dengan jalan menuju Klenteng.
"Silahkan. Sersan!" para anggota membukakan pintu mobil dengan para pengawal berjejer di samping karpet megah ini mengamankan para tamu dan Media yang mempersiapkan kamera mereka.
"Apa itu Tuan Muda Lien?"
"Ntahlah. tapi kenapa para anggota yang mengawalnya sesangar itu?"
Gumam mereka agak ngeri dengan aura dari mobil sana. Kaki mereka tiba-tiba dingin karna para Anggota Klan Ryoto tak merubah penampilan mereka sama sekali.
"Woww!!!!"
Mereka terkejut saat sosok yang keluar dari mobil itu bukanlah Lien melainkan sosok mempesona yang lebih berkharisma. Para gadis yang melihat itu seketika tersentak malu dengan rona merah di pipi mereka.
"Dia sangat tampan dan gagah!!"
"Ini lebih baik dari Tuan Lien!" gumam mereka mengungkapkan keterpesonaan.
__ADS_1
Daychi hanya diam setia dengan wajah datarnya. Ia tengah memakai pakaian pengantin khas China yaitu Hanfu merah dengan kain yang senada menjadikannya seperti seorang Kaisar tampan.
"Membosankan." guman Daychi merasa tak nyaman dengan pandangab para wanita sana. Zuan yang berdiri dibelakangnya hanya diam mengulum senyum. Lien yang baru keluar-pun ikut diabaikan membuat rasa jengkel itu meruak.
"Lihat. Kak! kau merebut popularitasku." bisik Lien mendekati Daychi. Ia berdiri disampingnya hingga wajah keduanya ada kemiripan.
"Cepatlah berjalan. mau menunggu siapa?" goda Lien membuat lirikan kilat Daychi yang langsung melangkah penuh kharisma.
"Tuan!!! Tuan anda..anda siapa?"
"Bisa minta fotomu?!"
Mereka kehilangan kendalinya. Daychi hanya melewatinya begitu saja seakan memberi benteng yang besar diatara mereka.
"Pengantin wanitanya sudah datang!!"
Daychi terhenti spontan membuat Lien menginjak jubahnya.
"Shitt! perhatikan orang disampingmu." kesal Lien tapi Daychi tak mau melangkah lagi. Ia merasakan keberadaan wanita itu mulai berputar di sekelilingnya.
"Memangnya kenapa kalau ada Whuang? kau berjalan saja ke dalam!"
"Diamlah!" ketus Zuan membuat Lien bertambah kesal. Mereka lama menunggu sampai ada hembusan angin dari belakang sana.
"I..itu siapa?"
Orang-orang disekitar ini sungguh terdiam melihat sosok yang diguring keluar dari mobil sana. Mata mereka terbelalak melihat seorang Dewi kecantikan itu turun memperlihatkan kuasa dan pesonanya.
"Cantiknya!!"
"Apa itu pengantinnya?"
Daychi memejamkan matanya menghirup dalam aroma Floral yang begitu kental ini. Ia tak berbalik sama sekali menunggu detakan sepatu wanita itu mendekat.
"Kenapa ada wanita secantik ini? kulitnya sangat bersih?"
"Lihat matanya! aku tak asing dengan wajahnya!!"
Mereka menebak-nebak sendiri menikmati visual indah yabg tengah melangkah angun mendekati Daychi. Jubah kebesaran merah itu berkibar indah dengan hiasan rambut bak Permaisuri kekaisaran.
"Ichi!" lirihan keluar dari bibir merahnya menarik Daychi untuk berbalik dan..
Degg...
Tiba-tiba saja jantung keduanya terhentak melihat visual masing-masing. Mata keduanya kosong bersitatap dalam dengan tatapan kagum dan terlihat membuai.
Whuang tersenyum kecil melihat tampilan Daychi yang begitu sangat gagah. Ia melangkah mendekat mengikis jarak diantara keduanya tapi Daychi masih tak berkedip melihat wajah istrinya.
"Kak!" Lien memanggil tapi Daychi seakan menuli. wajah cantik Whuang sangat membekas di ingatannya. manik abu itu begitu melemahkan jiwanya.
"Ehmm!"
"A.."
Daychi tersadar seketika langsung merilekskan wajahnya. Ia mengulur tangan menggenggam jemari lentik dan lembut itu.
"Kemana?" tanya Whuang tak mengerti juga. Disini merekalah yang jadi pusat perhatian tapi Whuang pikir ia sudah menikah lalu kenapa menikah lagi?
"Ikut saja!"
"Baiklah!"
Whuang menurut melangkah bersamaan dengan Daychi yang mencuri pandang padanya. Pakaian Hanfu wanita ini sangat tertutup tapi bagian dada Whuang masih saja tercetak oleh balutan kainnya.
"Kau sangat cantik!" puji Daychi berbisik ringan di telinga Whuang yang memerah mengigit bibirnya sendiri.
"Kau juga."
"Apa?"
"Sangat seksi!" desis Whuang mengedipkan sebelah matanya membuat Daychi terasa diawang-awang. Ia beralih memeluk pinggang ramping Whuang seakan mengatakan wanita ini miliknya.
"Nak! kemarilah!" Tuan Pein menyambut bersama Nyonya Wian dan Nyonya Mieng yang sangat bangga memiliki putra putri seperti mereka.
"Ibu! kau juga disini?" tanya Whuang tak menyangka.
"Hm. kau senang?" tanya Nyonya Qian berkaca-kaca mengelus pipi mulus Whuang yang semakin cantik membuat para pria disini terfokus padanya.
"Terimakasih!"
"Tentu, Sayang!"
Whuang merasa bahagia. Ia seakan memiliki kedua orang tuanya sendiri.
"Silahkan kedua mempelai naik ke altar!"
"A..apa?" gumam Whuang saat pendeta sudah menunggu diatas Altar sana. Daychi hanya diam mengiring Whuang kesana menimbulkan tanda tanya?!
"Ichi! kita sudah menikah sebelumnya. kau bilang ini hanya pesta biasa."
"Cerewet!"
"Tapi..."
"Silahkan. Tuan, Nona!"
Pendeta berdiri diatas sana menyambut keduanya. Daychi menatap Whuang yang kikuk karna media sana menyorot mereka dan ini sangat ramai.
"Ichi!" gumam Whuang saat Daychi menggenggam tangannya.
"Aku mau kita menikah lagi disini!"
"T..tapi.."
"Aku ingin merubah Janjiku!"
__ADS_1
Whuang diam. ingatannya membayang tentang pernikahanya dulu dimana mereka tak saling mencintai diperaduan Altar.
"Lalu?"
"Maukah kau menikah denganku disini lagi? bukan sebagai musuh atau keterpaksaan tapi karna.."
"CINTA!" jawab Whuang tersenyum dengan mata berair. Impiannya memang selalu terhujut bersama pria yang dulu adalah musuhnya ini.
"Hm. kau mau?"
"Mau! asalkan bersamamu." jawab Whuang membuat mereka yang mendengar merasa meleleh. Nyonya besar Loufeng itu tampak menatap kosong Daychi seakan masih syok.
"Baiklah! sekarang ambil sumpah kalian berdua."
"Baik!"
Kain merah itu diikatkan di kedua tangan Daychi dan Whuang yang siap mengambil janji kembali. Pendeta berdiri tegap menatap mereka dengan serius.
"Daychi San Yuchin! apakah anda bersedia menikahi Nona Yu Whuang Zang?"
Whuang terperanjat dengan nama dibelakang sana. tapi Daychi menatapnya tenang dan pasti.
"Aku Daychi Shan Yuchin, bersedia menikahi Yu Whuang Zang. aku akan melindunginya dan melakukan apapun agar dia bahagia. Kewajibanku akan ku jalani dan mencintainya itu sangat pasti!!!" tegas Daychi membuat Whuang merasa tak bisa berkutik. Para tamu sana juga hening menikmati ritual hikmat ini.
"Bagaimana Nona Whuang?" tanya pendeta pada Whuang yang menghela nafas.
"Aku Yu Whuang Zang! menerima pernikahan dari suamiku Daychi Shan Yuchin, ku berikan Jiwa dan hidupku padanya!"
Prokkk...Prokkk...
Tepukan tangan itu beradu meriah mendengar jawaban Whuang yang sangat dalam artinya. Daychi merasa tak bisa berkata-kata banyak akan suasana hatinya saat ini.
"Kalian sudah mengambil sumpah baru dan kalian harus menjalankannya apapun yang terjadi."
"Walau dunia ini terbalik, langit pecah dan petir menyambar-pun aku akan tetap bersamamu!"
"I..Ichi!' gumam Whuang sudah tak mampu menahan sesaknya langsung berhambur memeluk Daychi yang juga mendekapnya hangat. Ucapan Daychi bukanlah omong kosong belaka.
Pria ini rela mati hanya untuk menyusulnya dan ia sangat merasa beruntung setelah menjalani berbagai kehidupan yang fana ini.
"Aku sangat mencintaimu! maaf, jika kesalahanku begitu menyiksamu. Sayang! aku tak akan membiarkanmu dan anak kita mengalami hal yang menyakitkan lagi." Daychi mengecup lama bahu Whuang yang hanya bisa menangis.
"I..Ichi! kau ini pembohong, kau bilang orang lain yang menikah."
"Itu karna kau suka memberiku kejutan. jadi, aku juga ingin kau merasakannya."
Whuang tersenyum kecil memukul kasih lengan Daychi lalu menatap Nyonya Qian yang mendekat bersama Tuan Pein. Zuan juga menunggu saat-saat ini.
"Ibu!"
"Hm? selamat sayang!"
Whuang mengangguk lalu menatap Zuan yang tersenyum memberikan kotak segi empat berwarna biru tua.
"Ini..."
"Hadiah pernikahan dariku!"
"Benarkah? ini sangat indah!" puji Whuang membuka kotaknya dimana ada kalung berlian biru yang sangat cantik membuat senyum Whuang mengembang.
"Ini untuk adikku yang paling aku sayangi!"
"Zuan! aku bukanlah adikmu yang.."
"Kau Yu! adik kandungku!"
Degg...
Whuang terkejut setengah mati. Matanya termenung kosong dengan Media yang merekam itu semua.
"Kau adikku. si kecil yang suka melihat bulan dimalam hari sampai matamu-pun terlihat indah sepertinya, kami keluargamu. Whuang!"
"T .tapi..." Whuang menatap Daychi seakan bertanya. Daychi mengecup kening Whuang lalu menatap para media sana.
"PERHATIAN SEMUANYA!"
Mereka mulai fokus pada mereka dimana Nyonya Mieng sudah mengambil alih Baby Ryu dari Natalia yang baru saja datang bersama keluarga kecil mereka.
"Aku adalah putra pertama Keluarga Yuchin dan Istriku adalah Nona Muda Keluarga Zang!"
"Apa???"
Mereka saling pandang terkejut. Nyonya Mieng tersenyum kecil membawa suaminya keatas sana untuk memperjelas segalanya.
"Kami sudah menikah 1 tahun yang lalu dan sudah diberkahi seorang putra tampan kebanggaanku!"
"Dia cucuku juga." jawab Tuan Khang mengambil alih Baby Ryu yang tampak terfokus pada Momynya. si kecil itu tampak sangat mengaggumi sosok itu.
"Jadi kalian..."
"Yah! ini cucuku, jangan ada yang mengusiknya." tegas Tuan Khang membuat mereka menciut. Daychi hanya membiarkannya karna ia tak mau Whuang malah terus memikirkan masalahnya.
"Kau tak marah?" tanya Whuang keluar dari rasa tak percayanya.
"Marah! tapi aku tak mau kau jatuh sakit lagi." jawab Daychi mengecup kilas bibir Whuang karna tak tahan akan pancingan seksi wanita ini.
"Kau begitu mencintai-ku. hm?" goda Whuang mengusap dada bidang Daychi yang dibaluti jubahnya.
"Sangat! bahkan aku ingin mengurung-mu didalam kamar-ku saja."
"Cih! Mesum!"
Vote and Like Sayang..
TAMAT...
__ADS_1
Nanti malam pemberitahuan karya baru ya say🤭