Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Kedekatan Seung dan Zuan!


__ADS_3

1 bulan telah berlalu. tanpa disadari perputaran waktu itu begitu cepat terasa karna selalu diisi dengan kegiatan yang super sibuk. Semenjak keluar dari rumah sakit. Whuang merasa sangat gelisah karna selalu mendapati Daychi pulang larut dan terkadang kurang istirahat.


Bukan masalah wanita yang ia cemaskan. tapi, pria itu tak memperdulikan kesehatannya sendiri dan terus melakukan pekerjaan yang masih menganggu pikiran Whuang.


Menikahi! menikahi siapa? kenapa Daychi tak mengatakan apapun padaku?


Pertanyaan itu bergelut di otaknya dan tak menemukan jawaban kemanapun. Akhirnya Whuang meminta Seung untuk menyelidiki ini bersama Eva.


"Tuan!"


Panggilan kaku Seung dikala ia membawakan kopi ke arah kursi Zuan yang tengah mengurus persiapan lengkap Pernikahan di Gedung mewah ini.


"Apa adikku masih menyuruhmu?" suaranya masih datar membuat Seung gugup melihat kesekelilingnya yang tak ada orang lain karna mereka ada didalam ruangan.


"Emm.. iya. Nona curiga kalau Sersan merencanakan sesuatu." seraya meletakan kopi itu disamping gelas air putih diatas meja.


"Hm." gumam Zuan kembali fokus pada kertas-kertas dihadapannya. ia tengah memikirkan hal apa yang disukai Whuang tapi bisa berguna untuk wanita itu.


"Tuan!"


"Hm."


Zuan tak memperhatikan Seung yang kikuk karna kertas-kertas bergambar perhiasan itu ada yang jatuh ke bawah meja. Tapi, ia tak berani mengambilkannya.


"Ada apa?" Tanya Zuan merasakan tatapan kaku Seung yang selalu begini setiap menemuinya.


"A.. itu, kertasnya!"


Seung langsung berjongkok di bawah meja membuat Zuan tersentak memundurkan kursinya.


"Kau..."


Brugh...


Kepala Seung terbentur sanding meja karna terburu-buru meraih kertas itu takut jika Zuan marah padanya. Tatapan Zuan yang selalu datar dan tenang itu membuat Seung tak berani berlama-lama.


"I..ini.. Tuan!" menyodorkan kertasnya.


"Obati keningmu!"


Seung mengangguk lalu pamit ingin pergi tapi, ia hampir lupa kalau tadi ada makanan yang di suruh bawa oleh Nonanya.


"Tuan!" Seung kembali berbalik membuat Zuan menghela nafas. ia ingin fokus disini tapi Seung yang begitu polos selalu menggangu waktunya.


"Ada apa?"


"Tadi, Nona mengirim makanan untuk anda." jawab Seung menunjuk kearah sofa samping dimana ada paper-beg yang berisi kotak makanan.


"Bawa kesini!"


"Siap!!"


Seung bersemangat mengambil benda itu lalu membawanya ke meja Zuan yang hanya diam meminggirkan dahulu kertas-kertasnya. Ia harus mengutamakan Whuang terlebih dahulu.


"Tuan! Ini masakan Nona yang kedua, diam-diam Nona belajar memasak."


"Memasak?" Zuan agak tersentak. Whuang tak bisa memasak bahkan, wanita itu tak akan bisa membedakan mana panci dan baskom. bagaimana bisa memasak?


"Awalnya Nona membakar dapur utama. Sersan marah besar sampai menghukum para pelayan yang bekerja, akibatnya Nona tak dibiarkan menginjak dapur lagi tapi masih saja Nona melakukannya." jelas Seung bercerita seraya mengeluarkan kotak makanan itu.


"Apa dia baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya. Tuan! anda tenang saja, Nona tak apa-apa sekarang.."


Seung menjeda kalimatnnya dengan perasaan Zuan yang lega mendengarnya.


"Walau tadi sempat pingsan!"


"Apa??" Zuan meninggikan suaranya membuat Seung terperanjat menumpahkan segelas air yang ada didekat lengannya ke celana Zuan.


"Maaf!!" pekik Seung melihat celana panjang Zuan basah dibagian pahanya. Zuan mendecah memundurkan kursinya melihat kertas-kertas itu juga basah.


"T..tuan, maaf! aku...aku tak sengaja." pinta Seung dengan polosnya berjongkok menggunakan lengan bajunya mengelap paha Zuan yang menatap wajah Seung dengan datar.


"Berhenti!" Zuan menepis tangan Seung yang seketika berkaca-kaca. Perasaan takut menghantuinya jika Zuan marah dan mengusirnya, apalagi sampai memarahinya seperti sifat abadai Sersan mereka.


"T..tuan! kau marah?"


"Aku..."


"Kalau begitu aku juga akan membalasnya sendiri!"


"Kauu..."


Zuan tak bisa mencegah Seung yang menumpahkan sisa air tadi ke kepalanya membuat tampangnya begitu memprihatinkan.


"Kau ini apa-apa'an. ha?" geram Zuan memalingkan wajah karna pakaian yang dikenakan Seung itu adalah baju kaos lengan pendek berwarna putih yang agak tembus pandang terkena air dengan rok selutut tampak seperti remaja.


"Apa ini cukup? Tuan tak marah-kan?"


"Kau keluar!" tegas Zuan enggan memandang. ia pria normal tentu melihat itu agak meremang. anehnya kepolosan Seung tak membuatnya jijik seperti memandang wanita lain yang berniat menggodanya.


"T..tapi Tuan tak marah-kan?" tanya Seung dengan suara bergetar karna takut. Ia mencengkram pinggiran roknya menahan itu semua.


"Ganti bajumu dan bereskan ini." Zuan berdiri karna sudah gerah disini.


"Aku tak marah!"


"Benarkah?" tanya Seung tanpa sadar memeggang lengan Zuan yang seketika diam. selama 1 bulan ini Seung membantunya menyiapkan segalanya walau hanya terkesan mengganggu tapi Zuan tak mau menyakiti wanita sepolos ini.


"Hm." gumamnya lalu melangkah pergi meninggalkan Seung yang merutuki dirinya sendiri kenapa bisa seceroboh itu.


"Ceroboh! ceroboh. dasar ceroboh." Seung menepuk pipinya kesal. ia merasa tak enak hati pada Zuan yang pasti akan jengkel padanya.


"Bagaimana kalau Tuan Zuan sudah tak mau bertemu denganku? bagaimana kalau Tuan Zuan tak mengizinkan-ku lagi membuat kopi untuknya. bagaimana jika.."


"Sampai kapan kau disitu?"


"Eh!"


Seung terperanjat dengan suara berat bass milik Zuan yang masuk kembali karna ingin mengambil ponselnya diatas meja. Seung jadi gugup takut Zuan memarahinya.


"T..tuan!"


Zuan mendekati Seung yang berdiri kaku mencengkram kedua pinggiran roknya. Tatapan tajam Zuan membuat kaki tangannya dingin seakan jantungnya mau lepas didalam sana.


"T..Tuan!" lirih Seung memucat dikala Zuan semakin mendekat membuatnya mundur merapat ke arah meja. Dipastikan satu langkah lagi Zuan mendekat maka Seung akan pingsan ditempatnya.


"Jantung!jantungku!"


Batin Seung langsung memejamkan matanya saat Zuan sudah ada dihadapannya. dahi Zuan mengkerut melihat reaksi Seung yang seperti menahan sesuatu.


"Apa Tuan akan menciumku? apa dia akan.."

__ADS_1


"Awas!"


Zuan mendorong bahu Seung agar minggur dari meja membuat Seung terhenyak membuka matanya. Jadi...


"Bersihkan cepat!" Zuan mengambil ponselnya lalu melangkah pergi melewati Seung yang langsung menekuk wajahnya.


"Kenapa pikiran-mu sangat kotor. menjijikan." gumam Seung langsung bergegas membersihkan ruangan ini. Ia melakukannya dengan sangat cepat dengan pikiran menerawang ke wajah Zuan.


........


"Ichi!!"


Suara melengking Whuang yang tengah menyusui Baby Ryu diatas sofa depan televisi menyala memaparkan siaran Drama kesukaanya. Pinggangnya sakit duduk lama-lama disini apalagi Daychi baru saja pulang ntah dari mana.


"Ichi!!!"


"Haa? kenapa?"


Daychi setengah berlari masuk ke ruangan santai itu menatap puncak kepala Whuang yang tengah bersandar diatas sofa. Daychi melangkah mendekat tampak mempesona dengan pakaian santai kaos oblongnya.


"Apa?"


"Kau dari mana saja?" tanya Whuang mengadah menatap Daychi yang berdiri dibelakang punggung sofa. Baby Ryu tampak posesif menguasai dua aset berharga istrinya yang semakin seksi saja.


"Masak! kau mau makan Stik kentang-kan?" tanya Daychi menangkup kedua pipi lembut Whuang yang penuh pesona.


"Emm.. iya, apa sudah jadi?"


"Belum! ini baru beberapa menit saja. kau pikir aku robot?!" ketus Daychi menyipitkan matanya tapi Whuang hanya mencengir menarik leher kokoh Daychi melabuhkan ciuman di bibir pria itu.


"Semangat!"


"Hm. terserah kau saja." ucap Daychi mengusap kepala Whuang yang lebih suka dimanja suaminya dari pada menonton TV seharian begini.


"Ichi! kau kemana saja?"


"Keluar!" jawab Daychi meloncat duduk di samping Whuang membuat tatapan manik abu Baby Ryu menajam tapi Daychi masa bodoh.


"Apa? kau ini penggangu kecil." Daychi memencet hidung mungil Baby Ryu yang tampak kesal menggeliat terganggu. Namun, Daychi tetap saja mengganggunya setiap hari.


"Minum yang banyak, setelah itu cepat besar dan carilah istrimu sendiri. jangan istriku yang kau ambil." gemas Daychi mengecup penuh tekanan pipi gembul itu membuat Whuang tersenyum mengelus kepala Daychi yang asik menjadi pengganggu.


"Sayang!"


"Hm? ada apa?" tanya Whuang merapikan rambut Daychi yang tampak berfikir sejenak.


"Kau mau keluar besok?"


"Untuk?" Whuang tak mengerti.


"Mau atau tidak. tak diizinkan bertanya lagi, Nyonya!" jengah Daychi membuat Whuang berfikir tentang apa maksudnya?!


"Mau! tapi, kau harus menyetujui sesuatu!"


"Apa?" tanya Daychi mengulur tangannya memijat pinggang Whuang yang mencengir.


"Cabut 3 laranganmu!"


"TIDAK!" tekan Daychi tegas.


......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2