
Tanpa di sadari. sudah 8 bulan berlalu memutar waktu yang begitu cepat terjadi. Selama pergantian bulan itu semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Natalia dan Sam sudah pulang sedari 7 bulan lalu karna Sam ingin istrinya aman dalam proses melahirkan. Semuanya seakan berubah terutama kehidupan Naga Jantan Ryoto itu.
Tak ada yang berubah dari pahatan tampannya yang selalu terlihat mempesona dan sangar tapi, hanya saja cara memandangnya semakin bertambah tajam.
"Tuan!"
Sosok wanita bertubuh tinggi dengan bagian inti yang sangat seksi. Rambut kecokelatan miliknya di gulung keatas memaparkan leher jenjang yang memantik hasrat lelaki.
Dialah June. seorang wanita kelas atas putri keluarga terpandang yang di utus Tuan Khang untuk menemani Daychi malam ini didalam sebuah Hotel yang menjadi pilihan wanita itu.
"Namamu?"
Daychi duduk di atas sofa singelnya dengan mata tak merespon apapun. Ia hanya menatap dingin June yang merasa merinding apalagi pakaiannya sangat terbuka.
"N..namaku, June! anda Tuan Daychi, bukan?"
"Aku tak menyukai barang palsu!" desis Daychi tak berminat membuat June tersentak menatap dada dan bokongnya. Kenapa pria ini tahu kalau ia menambah bagian tubuhnya?!
"T .tuan! anda tenang saja, walau ini bukan asli tapi aku bisa memuaskan-mu." jawabnya penuh percaya diri menarik seringaian iblis di sudut bibir Daychi yang mendinginkan suasana.
Botol alkohol itu sudah habis setengah di peggangan Daychi yang malah tertarik pada minumannya. Mereka baru saja di kamar ini tapi June merasa ingin pergi secepatnya.
"T..Tuan!"
"Hm."
"Kalau anda mau. aku bisa melakukannya sekarang."
"Buka pakaianmu!"
June berbinar mendengar ucapan Daychi yang tak menatapnya. Mata elang itu selalu tertuju kearah Balkon seraya terus menegguk minumannya.
"Baiklah. Tuan!" June membuka semua pakaiannya di hadapan Daychi yang tak beraksi apapun. Pria itu masih santai bertopang kaki angkuh melirik pistol yang ada di atas meja.
"Tuan!" tanpa malu June berpolos tubuh dihadapan Daychi. Ia tak tahu kalau ia sudah menjadi wanita ke sekian yang berakhir dengan cara yang tragis.
"Hm. kau sangat tak sabaran" desis Daychi mengambil pistol diatas meja membuat dahi June mengkerut. Tiba-tiba saja rasa takut itu bertambah menggerogoti tungkainya yang dingin.
"T..tuan!"
"Pilih!"
Daychi melempar satu majalah di hadapan June yang terpaku diam dengan jantung berdebar lebih kencang. Udara malam dari Balkon sana menerobos masuk mendinginkan tubuh polosnya.
"Waktumu 5 menit!"
"B..baik!"
June langsung mengambil majala itu dengan membungkuk membuat dua gunung kembar berukuran lebih itu keluar area. Ia meraih majalanya yang sangat aneh.
Namun. mata June melebar melihat foto-foto mayat wanita yang mati bersimbah darah diatas ranjang dengan tubuh polos tanpa kepala bahkan ada yang sudah terpisah bagian lainnya.
"Aaaa!!!"
June melempar majalah itu ke sembarang arah lalu melangkah mundur merapat ke dinding dengan keringat dingin keluar di keningnya. Mata yang bergurat takut melihat semua itu masih menbekas di benaknya.
"Takut?"
__ADS_1
"T..tuan!" gugup June begitu takut menatap Daychi yang menampakan pahatan menyeramkan iblisnya.
"Kau pilih yang mana?"
"J..jangan! aku ..aku tak mau."
"Tapi kau datang sendiri kesini." jawab Daychi masih dengan intonasi suara yang sangat datar. Ia mengisi pistolnya dengan peluru dan mengeluarkan pisau kecil yang biasa ia gunakan menguliti para wanita yang diantarkan padanya.
"T..Tuan! aku ..aku mohon, aku..."
"Bawa dia!"
Juen terkejut saat ada kilatan hitam tiba dari Balkon hingga matanya semakin membulat melihat 3 sosok gelap berpakaian hitam itu telah berdiri memandangnya dengan hasrat membunuh.
"K..kalian..."
"Antar dia ke tempat terindah!"
3 anggota itu langsung melesat mendekati June yang ingin lari tapi pintu di tutup. Kedua tangannya di tarik dan dilemparkan keatas ranjang dengan na'as dan kasar.
"Sersan!"
"Hm."
Daychi berdiri melepas jaketnya. Ia meraih sampul-tangan yang selalu ia gunakan untuk menghabisi spesies menjijikan ini setiap malamnya.
"Gantung!'
"Tidak!!! jangan!!!" June memberontak tapi salah satu pria berpakaian gelap itu mengeluarkan tali dari bawah ranjang dan mengikat lehernya kuat sampai wajah June pucat pasih susah bernafas.
"L..e..pass!!"
"Sudah tiada?" gumam Daychi sangat tak puas. hanya dengan begini saja para wanita menjijikan ini sudah hilang nyawa dan keberanian. tapi, mereka masih saja begitu percaya diri untuk mendekatinya.
"Sersan! apa anda masih membutuhkannya?"
"Tidak! tunggu 3 jam lagi, baru bawa ke penggilingan!"
"Baik!"
Mereka mengangguki titahan Daychi yang kenbali melepas sampul tangannya dan beralih menyambar jaket.
"Kalau dia mengirim lagi. katakan padaku!"
"Baik. Sersan!"
Daychi melangkah keluar pintu kamar. Ia masih membawa botol minumannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini sudah larut, maaf aku agak terlambat. Sayang!" gumam Daychi berlari kecil masuk ke Lift. Ia sudah tak sabar menemui sosok cantik itu dengan perut buncit kesayangannya.
Didalam Lift. Daychi terus melihat jam seakan tak mau berlebih sedetika saja. Ia menegguk tandas botol minumnya dan ia buang ke sembarang arah.
"Sersan!"
Pintu Lift terbuka memperlihatkan Fang yang sudah menjaga disini sedari tadi.
"Kau urus yang diatas!"
"Baik!"
__ADS_1
Fang hanya menggeleng melihat Daychi berlari keluar area Hotel. Hampir setiap wanita yang di kirim Tuan Khang akan berakhir sama di ranjang pembantaian sana.
"Ntah kapan anda akan berhenti." guman Fang lalu masuk ke Lift kembali memungut Botol minuman Daychi tadi. Selama berbulan-bulan Daychi menghabiskan waktunya dengan minum lalu bekerja tetap mengendalikan Klan Ryoto.
Daychi menurut saat Tuan Khang terus mendesaknya untuk memilih wanita, tapi bukan berarti Daychi akan mengambilnya. Lebih bisa dikatakan Daychi membuat amarah Tuan Khang meluap-luap saat semua wanita yang di sodorkan terus mereggang nyawa dan fotonya akan di kirim padanya.
Sementara Daychi. Ia sudah melajukan mobil keluar area Hotel membelah malam yang semakin dingin ini. Bukan sudah masuk musim dingin kembali karna melewati musim gugur beberapa bulan lalu.
Daychi melihat bunga di samping kursi kemudi yang selalu ia bawakan untuk Whuang
"Sebentar lagi!" guman Daychi melihat perhitungan bulan di ponselnya. Ini sudah 8 bulan dan Whuang akan melakukan sesar, ia sudah menyiapkan segalanya untuk Putra satu-satunya itu.
"Kau lihat saja. aku sudah menyiapkan pemakaman terindah untuk kita, kau pasti akan suka." gumam Daychi mengecup lama Wallpaper Ponselnya dimana foto Whuang tengah tidur diatas bangkar dengan perut buncitnya.
Tak beberapa lama. Daychi yang melaju cepat langsung tiba ke lingkungan besar Rumah Sakit Elite itu. Para anggotanya sudah menunggu dalam kesunyian.
"Sersan!"
Daychi hanya melewati mereka. Tak ada satu orang luar-pun disini karna Daychi membeli satu Gedung beserta lingkungan tempat ini untuk keperluan istrinya.
"Apa ada masalah?" Daychi keluar saat mobil sudah berhenti di Loby memeggang buketnya.
"Tidak. Sersan! tapi, Dokter Andra ingin menemui anda."
Daychi paham segera masuk ke dalam Rumah Sakit hingga semuanya tampak sunyi dan damai. Ini lebih baik dari pada begitu ramai mengganggu ketenagan istrinya.
"Apa yang mau dia bicarakan?" gumam Daychi masuk ke Lift tak memperdulikan anggotanya yang terus menatap dengan pandangan aneh.
"Kenapa Sersan begitu tenang?"
"Apa kau tak lihat makam yang disiapkan Sersan beberapa bulan ini?" bisik anggota lain ngeri. Mereka tak menerima jika Sersannya sudah hilang akal tapi tak ada yang bisa mencegahnya.
"Kau benar! tanpa Sersan Klan kita tak akan bisa bertahan, aku sudah biasa dibawah pimpinannya."
..........
Daychi keluar dari Lift lalu melangkah lebar menuju ruangan rawat istrinya. Ia tampak sangat senang mendorong pintu ruangan hingga ..
"Sayang!"
Suara Daychi ceria masuk ke dalam ruangan luas itu membawa buket bunga yang ia letakan diatas meja yang penuh dengan bunga. Ia tampak berbeda dari yang di luar tadi hingga tak akan ada yang bisa menebak hatinya sekarang.
"Kau masih belum bangun? hm!" Daychi meletakan jaketnya di samping Bangkar menatap lembut wajah pucat yang semakin hari begitu tak berdaya. Tubuh Whuang seputih kapas di tancapi berbagai kabel dan selang menyokong nafasnya.
"Sayang! tadi aku bertemu lintah yang baru, tapi. tak ada yang sepertimu." bisik Daychi mengelus kepala Whuang lembut lalu mengecup lama kening wanita itu.
Pandangan Daychi bergulir ke perut besar Whuang yang telah tumbuh dengan stabil. Suara layar monitor mengisi kekosongan waktu Daychi.
"Kau baik-baik saja. kan?" tangan besar Daychi mengelus perut buncit itu halus penuh kasih.
"Setelah keluar nanti. kau harus kuat dan berjuanglah sendiri, jangan percaya pada siapapun selain dirimu sendiri."
Tegas Daychi terus memberi nasihat untuk anaknya. Ia yakin jika putranya akan bisa mengemban tanggung jawab ini.
"Dan carilah wanita seperti Momymu!" sambung Daychi menatap Whuang dengan binaran cinta. Di luar sana semua orang menganggapnya gila karna ingin menyusul istrinya tapi menurut Daychi, ia ingin Whuang wanita terakhir dalam hidupnya.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1