
Tatapan nanar itu tampak memandang sendu kearah mobil yang sudah lenyap dalam penglihatannya. Ia berdiri didepan pintu utama memakai Kimono miliknya untuk menutupi tubuh polos indah itu.
Seung dan Eva yang melihat dari belakang sana hanya bisa saling pandang diam. Kenapa Sersannya tega melakukan ini? tapi, jika sudah bersangkutan dengan Nona Muda Elis maka apapun pasti akan ia tinggalkan.
"Nona!" panggil mereka melangkah mendekati Whuang yang terlihat tak lagi bersemangat.
"Apa dia pernah menikah?"
Pertanyaan Whuang mencegat suara mereka. Apa yang harus mereka katakan? ini bukan kuasa untuk memberi penjelasan selain Sersannya.
"Nona! kami tak tahu." jawab Eva menunduk.
"Dia punya wanita yang di cintai?" tanya Whuang lagi dengan perasaan tak menentu dan dada nyeri. Daychi terlihat mencintainya dan apa itu wanita yang selama ini mengisi relung hati Daychi?!
"Nona! sebaiknya anda bertanya pada Sersan secara langsung."
"Dia tak akan menjawab-ku. memangnya aku siapa?!" gumam Whuang tersenyum miris lalu segera melangkah pergi kearah tangga membuat Eva dan Seung merasa prihatin.
"Kenapa jadi begini?" gumam Seung sedih hingga Eva langsung merengkuhnya.
"Sudahlah! aku yakin semuanya baik-baik saja, kita sudah sering melihat mereka bertengkar dan kembali berbaikan. bukan?!"
"Tapi, perasaanku tak enak. aku takut Nona sedih dan pergi!" sambung Seung tak rela. Whuang sangat berbeda dari yang lain hingga ia ingin belajar dari ketangguhan wanita itu.
Sementara Whuang. Ia masuk kembali kekamarnya dengan mata penuh emosi dan wajah meradang marah. Nafas wanita itu menderu sesak dengan mata semakin memanas.
"Kenapa? aku...aku begini?" gumam Whuang tak mau seperti ini. hatinya sakit dan kenapa sangat sakit? ia tak seperti ini, ini bukan dirinya.
"Kau...kau seharusnya tak begini. ini bukan kau."
Whuang segera masuk kedalam kamar mandi segera mencuci wajahnya. Ia membasahi pahatan cantik itu dengan air dingin lalu menatap cermin.
Semakin ia memandang maka dadanya semakin sakit. ia melihat raut berbeda yang tak pernah ia lihat selama hidupnya.
"K..Kenapa?" lirih Whuang memeggangi wajahnya. raut menyedihkan dan terlihat sangat menjijikan.
"KAU TAK MUNGKIN MENCINTAINYA!!!!" bentak Whuang pada dirinya sendiri. Matanya terlihat berkaca-kaca menahan sesak menduga jika Daychi memang memiliki wanita lain.
"T..tapi kenapa? seharusnya dia tak mempunyai wanita lain. kan? aku...aku sudah melakukan semuanya. dia..dia tak mungkin setega itu." bantahnya lagi meyakinkan diri tapi hatinya tak tenang.
Whuang terus memandangi wajahnya dengan rasa takut yang menyeruk. Tak pernah ia merasakan ini bahkan, ia sudah sering dipersunting lelaki tapi saat tangannya membunuh dan penuh darah maka hatinya tak pernah sesakit sekarang.
"T..tidak, dia..dia tak akan begitu, Ichi pasti masih punya hati." gumam Whuang memaksakan senyuman segera mengelap wajahnya dengan handuk digantungan tapi..
"***!!!"
Whuang mendesis saat dadanya terasa di tusuk jarum. Bahkan, rasa nyeri dan perih itu semakin nyata membuat Whuang segera berpeggangan ke dinding.
"K..Kenapa semakin sakit?" geramannya mencengkram dada yang terasa susah dibawa bernafas. Semakin ia berusaha maka rasa sakitnya semakin terasa.
"K..Kay!"
__ADS_1
Whuang berusaha bernafas menekan dadanya yang terasa panas yang terus menjalar sampai ke kerongkongannya.
"P..panas!!"
"Nona!!!"
Suara Seung dan Eva dari luar sana tapi Whuang tampak sudah luruh ke lantai masih meringis mencengkram dada dan lehernya.
"A..sss..."
"Nona!! apa anda didalam?"
Whuang tak menjawab sama sekali. Wajahnya sudah merah meradang dengan dingin menjalar di kakinya tapi didalam sana begitu panas membuat Whuang merangkak menuju Shower.
"P..panas!!!!" meringis merasa tubuhnya seakan terbakar tapi dibagian luar malah dingin dan berkeringat.
"Nona!!! jawab saya!!!"
Seung dan Eva bertanbah khawatir diluar sana. Apalagi Kay sudah ada didepan pintu kamar mendorongnya paksa sampai mereka masuk.
"Nona!!!"
"Panas!!!!"
Mereka terkejut mendengar jeritan itu hingga Seung dan Eva segera berlari menerobos kamar mandi dan..
Degg ..
"Nona!!!"
"P..Panas."
"Nona! apa..apa yang terjadi?"
Eva panik mendekati Whuang yang terus membasahi tubuhnya dengan air dingin. Eva memeggang bahunya tapi ia tersentak saat kulit lembut itu terasa sedingin es.
"N..Nona."
"P..panas, t..tolong .. airnya!!" pinta Whuang tampak tak berdaya membuka Kimono-nya hingga tubuh indah itu terlihat mengagumkan. tapi, mereka tak bisa memuja sekarang karna Whuang terlihat kepanasan dan mengerang sakit.
"A..Airnya!"
"Nona, tubuh anda sudah dingin! berhentilah me..."
"Panas!!! tubuhku panas!!!"
Mereka tak tahu harus bagaimana. Seung-pun sudah memucat mematung kaku dengan Eva yang bingung tak mengerti apa yang terjadi.
Melihat Nonanya merintih kepanasan. Kay yang sudah hafal segera mendekati Whuang yang terlihat menyedihkan. Ia hanya bisa menggesekan bulu halusnya ke paha Whuang yang terus menahan.
"P..panas. a..ayah.." lirih Whuang hanya tahu itu. Ia ingat jika ia belum memakan pil yang selalu diberikan Ayahnya setiap bulan, dan ini sudah lewat batas waktu.
__ADS_1
"A..Ayah!"
Whuang tak lagi bisa berfikir ingin merangkak keluar tapi Eva segera mencengkalnya.
"Nona! anda mau kemana dengan kondisi seperti ini?"
"A..Ayah.. dia..." suara Whuang tersendat-sendat karna susah menghirup oksigen. Kepalanya mulai berdenyut dengan pandangan berputar menghitam.
"A..Aku.."
Brugh...
"Nona!!!"
Whuang tak sadarkan diri dengan Seung yang terkejut melihat mulut Whuang mengeluarkan darah. Mereka bergurat sangat panik setengah mati tapi Kay malah diam tampak sendu.
"A..Apa yang terjadi?"
..........
Malam ini tampak berkabut tepat di dekat sebuah bangunan kosong yang tak berpenghuni sana dijadikan tempat pertemuan bagi para bawahan Tuan Jirom. bisa dibilang malam ini Amor datang dengan kondisi tampak mulai sesak.
"T..Tuan!"
"Ini! kau minum."
Tuan Jirom memberikan satu pil bulat seperti kacang ke tangan Amor yang gemetar menerima dan langsung menelannya. Wajah pria itu tampak pucat dan lemah.
"Kau berikan ini pada yang lain!" mengeluarkan satu botol bening berisi 7 Pil andalannya.
"B..bagaimana dengan.."
"Kecuali dia!"
Amor terkejut. Bagaimana bisa bertahan tanpa ini? apa Tuan Jirom berencana membunuhnya?
"T..Tuan!"
"Itu bukan urusanmu, dia adalah pengkhianat dan untuk apa berbelas kasih padanya." ujar Tuan Jirom yang memakai masker menutupi seringaian iblisnya. Ia tak akan membiarkan satu-pun pembangkang berkeliaran bebas tanpa aturan dan ketetapan.
"T..Tuan! jika dia tak memakan ini, maka.."
"Misinya belum usai, dia akan datang sendiri padaku. lihat saja nanti." jawabnya penuh rencana picik membuat Amor diam. Ia tahu betapa menderitanya itu dan sekarang sudah agak terlambat tapi apa dia sudah merasakannya?
"Kau tenang saja, dia tak akan mati secepat itu! masih banyak yang harus dia lakukan."
.....
Vote and Like Sayang ..
Author tekanin pada para readers baru baca cerita author ini. baca dulu yang Dilema Cinta Natalia supaya tahu siapa Elis dan masa lalu Daychi, author nggak sempet bales komentnya secara detail ya say... mohon pengertiannya🙏🙏
__ADS_1