Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Ke Kediaman Zang!


__ADS_3

Shanghai adalah kota terbesar Republik Tiongkok dan terletak di tepi delta Changjiang. Perkembangan kota ini dalam beberapa dekade terakhir telah membuatnya menjadi pusat ekonomi, perdagangan, finansial dan komunikasi terpenting Tiongkok.


Yah. sekarang Daychi sudah masuk ke kota maju itu dimana melewati perjalanan selama 2 jam lebih beberapa menit mengendarai Pagani Hiwayara Imola mewah mahal itu.


"Berapa lama lagi?" tanya Daychi bersandar ke kursi mobil menatap Zuan yang mengemudi dari spion.


"Bukankah anda tahu dimana kediamannya? Sersan!"


"Aku tak ingat." jawab Daychi membuat Zuan menghela nafas. Ia sendiri juga enggan kembali kesana tapi mau bagaimana-pun ini formalitas belaka.


"Kau urus mereka. aku tak ingin banyak bicara."


"Hm. Baik!"


Jawab Zuan membelokan kemudi kearah jalan yang ditata tapi dengan pepohonan hijau mendominasi bunga-bunga Plum berwarna pink dengan batang coklatnya yang cantik.


Daychi tampak terus menatap keluar jendela. Ini sudah 2 jam Whuang tak menelfon sama sekali membuatnya resah wanita itu melakukan sesuatu yang membuat emosinya kembali naik.


"Sersan. apa kau masih ingin berurusan dengan Marvelo?"


"Maksudmu?" tanya Daychi datar.


"Bandot tua itu telah mengumpulkan banyak sekutu dan kemungkinan akan menyerang dalam waktu dekat, apa kita akan segera bergerak?"


Daychi diam. Sebenarnya ia hanya ingin bermain tapi melihat banyak sekali musuh termasuk masalah Tuan Jirom yang di tahanan maka ia akan mempercepat rencananya.


"Biarkan saja. biarkan mereka menyerang terlebih dahulu."


"Tapi, kemungkinan pasukan yang dia bawa sangat besar. apalagi itu sudah bercampur dengan Pemerintahan negara lain. Sersan!" sambung Zuan memperjelas pikiran Daychi.


"Biarkan tikus mendekati perangkap. tak perlu terlalu memusingkan itu."


Zuan menghela nafas lalu mengangguk. Ia tahu jika Daychi setenang ini maka pria itu sudah merencanakan sesuatu. Tentu seringaian iblis itu membuat Zuan paham.


"Kenapa anda selalu ingin memenggal mereka hidup-hidup?" Sersan!"


Batin Zuan merasa Daychi sangat susah mengendalikan aura membunuhnya. Kalau tak selalu ia temani bisa jadi Daychi akan memenggal apapun baik anggota atau musuh dalam keadaan emosi tak terkendali.


Drett...


Ponsel Daychi berdering hingga dengan mata penuh harap ia melihatnya tapi nyatanya itu bukan seseorang yang ia harapkan. Tapi, Daychi juga senang tertera nama Queen kesayangannya disana.


"Hello. Sayang!" Daychi berubah cerah membuat Zuan mengulum senyum.


"Dady!" suara khas yang imut membuat senyum Daychi merekah.


"Hm? ada apa? Queen sayang sudah makan?"


"Dah! Tadi Bunda masak buat Elis!"


"Benarkah?" tanya Daychi dengan wajah bahagianya.


"H'em.. Dady kapan pulang kesini?"


"Elis rindu-kah?" goda Daychi membuat kekehan kecil bocah 3 tahunan itu muncul meriasi telinganya.


"Emm.. sedikit."


Daychi ikut mengulum senyum geli mengalihkan panggilan suara ini ke Vidio-call karna sudah tak bisa menahan rindu pada bocah imut itu.


"Dady!!!"


"Hm? lihat mukanya ke sini!"


Layar benda pipih itu langsung memperlihatkan wajah tembem imut milik Baby Elis yang sudah bisa bicara dan berjalan. Ia tampak mengunyah Biskuit Strawbery lembut itu dengan mulut belepotan menghadap kamera.


"Umuahh."


"Lagi? sebelah sini!" Daychi menunjuk pipinya sebelah kanan hingga bibir mungil pink itu menempel ke kaca seakan mencium pipinya.

__ADS_1


"Gantian. sekarang Dady!"


"Umuahh!!" Daychi rela melakukan apa yang di suruh si kecil itu sampai Zuan ikut terkekeh geli. Ia sendiri juga merindukan berlian keluarga Bilions itu.


"Dimana Bundamu? Sayang"


"Emm.. Bunda sama Papa tadi" jawab Elis polos seraya terus mengunyah. Terdengar suara beberapa pelayan disampingnya menjaga tuan putri itu baik-baik.


"Queen. Sayang!"


"Iya Dady!"


"Temui Bundamu. siapa tahu dia butuh Queen apalagi Bunda sedang hamil-kan?"


Rencana licik Daychi yang tahu sekarang Natalia dan Sam sedang apa. Pak tua itu memang lancar menyalurkan benih sampai Natalia hamil lagi.


"Begitu-ya?"


"Iya. Sayang! coba bawa ponselnya ke Bunda."


Seperti yang Daychi perintahkan Elis kecil tampak berdiri lalu memeggang ponselnya menuju sebuah ruangan tapi Daychi berusaha untuk menunggu melihat gemas pipi tembem anaknya yang mengunyah imut.


"Bunda!!!!"


Suara Elis nyaring ke arah ruang santai dengan berlari kecil seperti anak-anak kegirangan membuat Daychi menahan senyuman.


"Bunda!! Dady Day menelfon."


"Yah!! berikan ponselmu pada Bunda-mu, Sayang!" titah Daychi yang dituruti Elis sampai melangkah menuju sofa dimana terlihat Bundanya bersandar ke Sofa dan wajah tertunduk ke pahanya.


"Bunda!!"


"A.. Iya!"


Suara seorang wanita kaget membuat Daychi menunggu respon seseorang yang akan menyenburnya sebentar lagi.


"Sialan!!!! berhentilah menyiksa istrimu!!!" maki Daychi membuat pria diseberang sana naik pitam menutupi dada istrinya dengan bantal karna Elis sudah naik keatas Sofa mengganggu.


Sambungan itu langsung dimatikan membuat Daychi menahan kekehan lalu menghela nafas. Ada rasa nyeri didadanya ketika melihat keluarga bahagia itu apalagi wanita yang sudah mendapatkan cintanya sudah tak bisa lagi ia miliki.


"Aku masih belum bisa melupakannya."


Zuan diam. ia tahu betapa besar Sersannya mencintai wanita itu tapi ia hanya khawatir jika Whuang akan terluka nantinya.


"Sersan! bagaimana dengan Whuang?"


"Ntahlah. senang bisa bermain spesies satu itu." jawab Daychi tersenyum puas membuat raut Zuan berubah dingin. Ia tetap menyetir membelokan mobil kearah jalan yang sudah dekat dengan Kediaman Zang.


"Aku harap anda tak menyesal."


Batin Zuan seraya memakai masker dan topinya. Ia melirik 2 mobil para anggota dibelakang sana seraya memelankan kecepatan karna sudah ada di sebuah Gerbang besar dengan dua penjagaan didepannya.


"Sudah sampai. Sersan!"


"Hm."


Daychi bersiap memakai jaketnya yang baru seraya menatap datar lingkungan Kediaman Zang yang megah di dominasi dengan warna hijau segar yang indah. banyak tumbuhan-tumbuhan langka disini sebagai objek hiasan mata.


"Selamat datang!"


Para pengawal membungkuk menyambut Daychi yang sudah diberitahukan akan datang berkunjung oleh seseorang. Tentu itu semua hanaya ditatap dingin Daychi yang ada urusan penting disini.


"Tuan Muda Yuchin datang!!!!" suara pelayan yang menunggu didekat teras sampai para anggota keluarga yang ada didalam langsung keluar menyambut dengan wajah tak menyangka sekaligus bahagia.


"Nak. Day!"


"I..itu Tuan Daychi?" mereka bertanya-tanya sampai membuat Zuan yang keluar menutupi wajahnya dengan masker dan topi itu segera membuka pintu mobil hingga Daychi keluar membuat suasana heboh.


"Nak. Daychi!" Nyonya Qian tersenyum ramah sedangkan Tuan besar Pein masih menatap Daychi yang menunjukan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Anda setuju datang kesini?"


"Sersan kami datang berarti dia setuju." jawab Zuan agak mengubah suaranya membuat Nyonya Qian agak heran tapi ia hanya diam saling tatap dengan suaminya.


"A... iya, terimakasih! kalau begitu masuklah." Nyonya Qian sopan agak mundur mempersilahkan Daychi masuk di Istana megah mereka. Mata keabuan milik Nyonya Qian sangat cantik membuat Daychi agak diam.


"Tuan Muda Day?"


"Hm." Daychi sadar saat Tuan Besar Pein menyapanya hingga ia melangkah masuk ke pintu utama membuntuti para anggota keluarga. Terlihat sekali dekorasi tradisonal yang kental dengan ukiran dindingnya.


"Saya sangat berterimakasih anda mau berkunjung setelah bertahun lamanya."


"Hm. dimana putrimu?" tanya Daychi spontan membuat Zuan agak bingung. ini diluar rencana mereka. kenapa Sersannya ingin bertemu wanita itu?!


Nyonya Qian dan Tuan Pein yang mendengar itu juga agak aneh. ada apa dengan pria tempramen ini? apa dia hanya ingin memperparah kondisi putriku?


Batin Tuan Pein agak tak nyaman tapi Daychi mengisyaratkan Zuan agar segera membawanya ke tempat wanita itu.


"Tuan! waktu Sersan tak banyak, ini permintaan kalian bukan?"


"A.. iya, tapi..."


"Kalau tidak. aku harus pulang!" tegas Daychi ingin berbalik tapi mereka segera menghentikan menarik seringaian licik itu muncul.


"Tunggu!!! anda..anda bisa ke kamar Putriku."


"Memang seharusnya begitu?"


Batin Daychi menyeringai iblis lalu melangkah mengikuti Tuan Pein yang sudah agak gugup. Mereka tahu betul Daychi sangat tak bisa di pancing kalau tidak mereka akan kena amuknya.


Lama Zuan memandangi Sersannya dari tempat ia berdiri sampai ia sadar jika Nyonya Qian juga menatapnya.


"Ada apa? Nyonya!" suara dibuat berat dan serak membuat Nyonya Qian sendu.


"Aku pikir aku agak tak asing dengan aroma parfummu. Nak!"


Zuan diam dengan kedua tangan mengepal. Ada satu bongkahan sesak yang ia tahan dengan mata datar berusaha menahan sesuatu.


"Kalau dia masih ada disini pasti dia sudah sebesar kau."


"Saya permisi!"


Zuan bergegas mengikuti Daychi yang melewati tangga mewah disudut sana. Sungguh ia tak mau berada lama-lama disini karna bisa saja ia kehilangan kendalinya.


Namun, langkah Zuan terhenti saat melihat foto keluarga di dinding disampingnya. Sorot matanya berubah membunuh melihat visual keluarga bahagia dimana matanya fokus pada anak berusaha 3 tahun yang di gendong Nyonya Qian.


"Seharusnya kau tak disana!" geram Zuan lalu membuang muka dan melanjutkan langkahnya.


............


Sementara di luar sana. Mobil hitam pekat itu sudah terparkir tak jauh dari Kediaman megah itu. Ia sedari tadi memantau dengan wajah kesal tapi juga merasa gelisah.


"Nona! bagaimana caranya masuk? penjagaannya sangat ketat." gumam Seung yang sudah memakai kacamata hitam dan stelan serba gelap bermasker sama sama dengan Eva dan Whuang yang tampil memukau bak anak motor.


"Diamlah. jangan banyak mengoceh dan gunakan otakmu."


"Aku-kan tak biasa seperti ini." gumam Seung menciut sampai Eva mengambil nafas dalam menatap Kay yang ada di paha Whuang tengah duduk di kursi kemudi.


"Suruh saja Kay masuk. Nona!"


"Kay? tapi kesayanganku belum sembuh betul. aku tak mau mengambil resiko." jawab Whuang berfikir menatap kesekelilingnya sampai Seung melihat ada para pelayan yang keluar Gerbang tampak ingin membuang sampah.


"Para pelayan Keluarga Zang cantik-cantik. ya?" polos Seung membuat Whuang dan Eva saling pandang lalu menyipitkan matanya menatap kearah para pelayan itu dan...


"Yah!!! otakmu cair di waktu yang tepat." puji Whuang menepuk bahu Seung yang kebingungan tapi Eva sudah paham apa rencananya.


"Pilihan kalian hanya dua. Lari jika tertangkap atau bunuh diri."


"A..Apa?" gumam Seung memucat mendengarnya tapi itu hanya bualan Whuang yang ingin Seung lebih dewasa dalam bertindak.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2