
Hari ini tiba-tiba Kediaman Daychi menjadi ricuh saat sebagian besar anggota yang berjaga di perbatasan semalam tiba-tiba tumbang dengan tubuh membiru dan kulit mengelupas kering. Daging mereka seakan menyusut bahkan hampir menyisakan tengkorak membuat mereka semua syok saat melihat satu jasad yang di rekam oleh Fang yang mengetahui penjagaan malam itu.
"Bagaimana bisa seperti ini? padahal Racun yang Klan Ryoto miliki itu bisa menetralisir racun pelumpuh seperti ini." tanya Fang yang tengah duduk resah diantara Daychi dan Zuan yang ada di ruang santai mereka.
Tak ada tanggapan langsung dari Daychi yang diam dengan otak berfikir. Jika mereka dari Klan ahli racun lalu kenapa tak menyerang sedari dulu dengan benda ini?
"Apa ada yang berkhianat membocorkan informasi inti Klan Ryoto?" gumam Zuan tapi Daychi menggeleng datar membuat pandangan mereka tertuju padanya.
"Lalu apa lagi. Sersan?"
"Pengkhianat akan berfikir dua kali untuk melakukan hal sebesar ini!" jawab Daychi tegas duduk bertopang kaki angkuh dengan kedua tangan di sisi sofa singelnya.
"Maksud anda?"
Daychi mengambil nafas dalam. Sebenarnya ia sudah geram dan ingin meluapkan emosi tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Ia harus segera mengambil tindakan.
"Jika memang pengkhianat. kenapa semuanya ikut mati? dari rekaman CCTV menara. Jelas jika ada yang menebarkan itu dari atas, kau lihat kembali benda kecil yang terbang seperti kunang-kunang."
Fang tersentak lalu segera membuka rekaman CCTV semalam. Zuan juga ikut melihat kembali hingga di kegelapan sana sangat samar dengan suara gongongan anjing.
"Tak ada. Sersan!"
"Lihat keatas. tepat didekat kepala mereka." tegas Daychi membuat mata Fang terbelalak melihat bayang-bayang kekuningan yang samar.
"Ini..."
"Itu seperti Dron kecil?" tanya Zuan datar yang diangguki Daychi. Mereka tak mungkin menggunakan tangan manusia untuk menaburkan racun berbahaya itu.
Fang seketika melemah. Bagaimana bisa mereka mengatasi ini sedangkan komposisi racunnya masih belum jelas di Lab? para ilmuan mereka juga tengah menelitinya sekarang.
"Lalu kita harus apa? jika didiamkan bisa saja ini menular."
"Selain menunggu hasil Lab. kita tak bisa berbuat banyak." tegas Zuan berfikir tenang.
"Tapi sampai kapan? kita harus bertindak cepat atau semua anggota akan terkena racun ini."
"Kita tak tahu ini bisa menular atau tidak. jika bertindak gegabah maka semuanya habis." jelas Zuan memang benar adanya membuat Fang mengacak rambutnya frustasi.
"Sial!!! mereka tak punya cara lain lagi hingga sampai melakukan ini." umpat Fang bersandar ke sofanya. Ia beralih menatap Daychi yang tengah diam dan dipastikan pria ini akan memberi solusi.
"Sersan! kau punya solusinya. bukan?"
Daychi menatap tajam Fang yang seketika diam bungkam. Ia memilih meminum kopi dihadapannya dari pada memandang wajah tampan yang sudah mendingin seperti Naga es itu.
"Biarkan dia menyerang lagi. kali ini kita hanya bisa berwaspada untuk menghancurkan setiap alat yang diterbangkan ke wilayah."
"Baiklah!" lemas Fang yang berbeda dengan Zuan yang masih tenang tak ada banyak respon yang dikeluarkan. Kadang ia bingung. Daychi sersan emosian ini bisa setenang air jika bersama Zuan yang memberikan keberadaan positif.
Mereka jadi diam tak ada yang bersuara. Daychi memijat pelipisnya karna cukup pusing memikirkan ini. Masalah Bandot sialan itu masih belum selesai karna tanggal mainnya belum pas dan sekarang ada lagi yang baru bahkan lebih serius.
"Seung!!!"
Suara lembut tegas itu menggelegar di semua sudut Kediaman. Suara yang akhir-akhir ini menghiasi Kediaman megah yang bisa sunyi dan lengang beralih seperti tempat karoke olehnya.
"Seung!!!! kemana Kay?"
"Siapa?" gumam Fang menyeringit. Ia menatap kearah pintu masuk ruang santai tapi wanita itu sepertinya tak melangkah kearah sini.
"Shitt!!! dimana Kay-ku? kalau tak ditemukan aku mau melelang Kediaman ini!!!"
__ADS_1
Daychi membelo jengah memilih memainkan ponselnya mengurus pekerjaan, begitu juga Zuan yang juga sibuk membuat Fang menaikan bahunya acuh ikut membuka ponselnya.
"Kay!!!! Kay sayang!!!"
"Kenapa berisik sekali?" umpat Fang mengorek telinganya yang sakit pagi-pagi begini mendapat teriakan. Ia menatap Sersannya dan Zuan yang malah santai seperti tak terganggu sama sekali.
"Sersan!"
"Hm." acuh
"Kau tak marah? ini sangat berisik."
Daychi hanya diam seakan tak mendengar membuat Fang langsung menggerutu di batinnya..
"Cih! biasanya jangan ada yang bersuara sedikit dia bisa meninju dinding."
Batin Fang mendapat tatapan membunuh Zuan yang tak suka dengan sifat umpat Fang yang menyebalkan.
"Kayy!!!! Seung. kau benar-benar, ha??"
Suara itu semakin mendekat hingga terdengar langkah kaki didepan pintu ruangan tapi mereka masih acuh.
"Pria-pria tuli yang ada didalam sini!!!" Bentakan itu membuat Fang menoleh hingga matanya melebar seakan mau meloncat keluar saat melihat kaki jenjang yang sekarang sudah berdiri didepan pintu sana.
Mulut Fang terbuka lebar melihat Whuang yang begitu mempesona dengan pakaian santainya. Hotpants membentuk bokong padat dan mempertontonkan kaki jenjang putih mulus itu dan Kaos pendek santai berwarna merah maron kontras dengan kulit sebening Porselennya.
"W..Wanitaku!"
Bughh...
Fang tersentak saat lemparan buku itu mengenai kepalanya. Ia menoleh kearah Daychi yang tampak mengeraskan wajahnya dengan rahang mengetat seakan menelannya hidup-hidup.
"Istri Sersan!"
Fang memucat mendengar jawaban Zuan yang hanya menyeringai melihat repson Fang yang belum pernah melihat Whuang. Tentu si cantik beraura kuat itu akan menyihir mata semua orang.
"M..Maaf. Sersan!"
"Cih! hanya status." ucap Daychi membuat Fang mengerti. Mungkin keduanya hanya ada hubungan ranjang, mana-mungkin Sersannya mencintai seorang wanita kecuali Nona Kelincinya.
"Hay. Tampan!"
"H..Hay!"
Balas Fang mencengir kaku melihat pandangan Zuan yang semakin mendingin. Daychi cukup diam saat Whuang melangkah mendekat karna ia tahu apa yang akan dialami Fang nantinya.
"Kau sedari tadi disini. hm?" tanya Whuang berdiri disamping Fang yang gemetar menghirup aroma Floral ini.
"I..Iya."
"LALU KENAPA TAK MENJAWABKU???"
Bughh...
Whuang menjambak rambut Fang yang seketika tersungkur ke lantai dingin sana dengan wajah pucat antara syok dan jantungan.
"I..Ibu!"
"Matamu jelalatan tapi telingamu menuli!!"
__ADS_1
Geram Whuang yang sudah emosi karna tak menemukan Kay pagi-pagi begini. Padahal ia ingin jalan-jalan bersama Lien nanti.
"M..Maaf!"
"Pria mata keranjang!"
Mereka hanya mendengar makian Whuang yang beralih menatap Daychi yang hanya memandangnya datar menarik bantal disampingnya dan di lempar ke paha Whuang yang kesal.
"Beli satu toko Rok atau celana panjang untuknya!"
"Baik!" jawab Zuan membuka ponselnya tapi Whuang dengan cepat mendekati Daychi yang menyeringit.
"Kau melihat. Kay?"
"Tidak!"
Whuang seketika langsung lemas duduk di lengan sofa Daychi yang menyingkirkan lengannya membiarkan Whuang menempatinya.
"Lalu dia kemana? dia belum makan sama sekali."
"Mati-mungkin!" terka Fang membuat darah Whuang mendidih melepas sendal bulunya dan di lempar ke wajah pria itu membuat Zuan hanya menggeleng.
"Bahkan nyawa Kay-ku lebih berharga dari mata keranjangmu!!!"
"Kan aku hanya bercanda." gumam Fang mulai tak berani bicara akan semburan panas wanita ini.
"Aku tak mau tahu. kau cari sampai ketemu atau kau terima akibatnya.!"
"Kenapa aku?" bantah Fang melebarkan matanya.
"Pergilah!" tegas Daychi menyandarkan kepalanya ke pinggang Whuang yang terlihat angkuh.
"Tapi. Sersan..."
"Gajimu hilang 20%!"
"T-tidak. jangan di potong, aku akan mencarinya."
Sambar Fang segera berlari keluar. Gajinya begitu besar jika di potong maka sayang sekali usaha kesabarannya selama ini.
"Kalau Kay tak ditemukan. bagaimana?" Whuang beralih pada Daychi yang mengigit remang kulit lengannya karna ini sangat lembut dan wangi.
"Cari sampai ketemu."
"Shitt! aku takut dia terluka karna tempat ini masih baru baginya."
Daychi hanya diam. Ia menyeringai membuat Zuan akan tersentak melihat seringaian iblis itu.
"Apa sersan.."
Zuan menerka hingga ia membuang muka saat tahu rencana licik di otak pria ini.
"Dengan ini kau tak akan pergi bersama bocah otak kosong itu."
Batin Daychi yang tahu rencana Whuang semalam. Ia pagi-pagi sekali sudah menyuruh Seung mengurung Kay di suatu tempat dan menjaganya sampai waktunya selesai.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1