Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Tugasmu belum selesai!


__ADS_3

Mobil itu sudah melesat masuk kedalam lingkungan Kediaman. Para anggota terlihat berbaris menunggu sampai Mobil dengan kecepatan bak kilat itu bisa berhenti tepat didekat mereka.


Dokter Dige dan Taname sudah hadir sesuai perintah Sersan mereka yang tadi benar-benar terlihat murka dengan keadaan Nonanya.


"Sersan!"


Mereka menunduk saat Daychi sudah keluar dari mobil melangkah cepat masuk ke pintu utama dengan tubuh basah dan jaket melapisi tubuh Whuang yang sudah bak kapas yang memucat.


"Cepat kalian tangani dia!!" geram Daychi sudah masuk ke lift bersama Dokter Dige dan Taname yang sangat syok melihat luka cabikan di betis putih Whuang. Mereka saling pandang dengan semua ini.


"Sangat parah!"


Batin mereka tapi meredam rasa cemas takut jika Sersannya menjadi hilang kendali. Lift itu membawa mereka keatas meninggalkan Zuan yang tengah berbicara dengan anggota mereka.


"Kau akan baik-baik saja. kau mengerti?!"


Batin Daychi menyakinkan dirinya menatap wajah pucat Whuang yang membuat akal sehatnya hilang. Tubuh wanita ini semakin dingin membekas kecemasan bagi Daychi.


"Cepat!!"


"Baik. Sersan!"


Mereka keluar saat lift sudah terbuka hingga segera membawa Whuang masuk kedalam kamar mereka dengan Dokter Taname yang mengeluarkan semua peralatan mereka didekat ranjang.


"Sersan! tubuh kalian basah, sebaiknya ganti dulu pakaian Nona dan anda."


"Iya Sersan! kami akan menunggu di sofa."


Melihat mereka yang sudah pergi ke Sofa di sudut sana barulah Daychi membaringkan Whuang dengan hati-hati lalu melangkah lebar ke Walkcloset mencari selimut tebal dan pakaian.


"Sial!!!" umpat Daychi merutuki dirinya sendiri. Ia membuka seluruh pakaiannya lalu tergesa-gesa berganti yang baru. Hanya mengenakan celana sedangkan tubuh atasnya yang atletis di pertontonkan.


"Kau akan baik-baik saja. kau memang menyusahkanku." gumam Daychi lalu keluar membawa selimut tebal menuju ranjang. Ia duduk disamping Whuang yang masih memejamkan matanya.


"Hey! kau mendengarku?" tanya Daychi melepas jaketnya yang membaluti tubuh Whuang hingga semuanya terlihat kembali menyayat hati. Daychi mengoyak pakaian Whuang yang lembab dan melemparnya ke sembarang arah.


"Siapa yang membuatmu sampai begini?"


Batin Daychi kelam mengepalkan tangannya melihat tubuh polos Whuang yang hanya dibaluti Bera dan Daleman. Ia dengan hati-hati melepas bagian terakhir itu hingga sekarang semuanya benar-benar terlihat termasuk luka di bagian dada wanita itu.


"Sersan!"


Daychi langsung membalut tubuh Whuang dengan selimut dan wajah yang sudah mengeras dan sorot mata membunuh yang penuh intimidasi.


"Periksa dia!"

__ADS_1


"Maaf. kami mungkin akan menyentuh. Nona!" segan Dokter Dige duduk di tepi ranjang.


"Hm."


Melihat Sersannya tak menolak mereka bergegas memeriksa Whuang. Dokter Taname bertugas melihat luka dan Dokter Dige menekan air yang termasuk di hidung Whuang.


"Bagaimana? dia baik-baik saja-kan?"


"Tekan dada Nona. Sersan!"


Daychi menurutinya menekan dada Whuang yang masih belum sadar. Ia meredam semua emosi yang bergelut di dadanya dengan sikap dingin terus menatap wajah Whuang berharap wanita itu sadar.


"Nona terlalu lama didalam air membuat saluran pernapasannya terhambat dan..."


Sekilat kemudian Dokter Dige terkejut saat Daychi langsung menghisap mulut Whuang untuk memancing udara yang tercekat didalam sana.


"Bangunlah!" lirih Daychi mencengkram kedua pipi Whuang untuk mempermudah melakukan pertolongan. Ia sudah melakukan ini saat di mobil untuk mengantisipasi kefatalan.


"Bangunlah! kau bisa melelang barang-barangku, aku janji." batin Daychi terus menekan dada Whuang dan terus memberi dorongan mempermuda Whuang bernafas tapi belum juga menarik rasa panik Daychi.


"KENAPA INI TAK BISA???"


"Pijat perut dan punggung Nona!"


"Cepat! kita tak punya banyak waktu!" ujar Dokter Dige pada Dokter Taname yang mengobati luka-luka di tubuh Nonanya.


"Baik!"


Mereka bekerja sekeras mungkin. Daychi semakin dibuat sulit bernafas saat tubuh Whuang semakin dingin dan kulit wanita itu di jahit dengan memasukan cairan khusus bisa melancarkan darahnya kembali.


"Tekan dadanya. Sersan!!"


"Ini tak membantu!!" bentak Daychi sudah naik pitam. Ia hati-hati mengusap kulit Whuang yang penuh luka.


"Sebentar lagi. anda terus lakukan itu!"


"Sial!!!!"


Daychi terus mengusap punggung Whuang yang ia peluk hangat dan Dokter Dige menekan perut Whuang agar bisa mengantisipasi ototnya yang kaku.


"Uhukk!"


"Nona!"


Mereka tersentak saat Whuang batuk hingga air dimulutnya keluar dengan nafas naik turun dan berbunyi serak.

__ADS_1


"Lagi. Nona! keluarkan semuanya."


Whuang antara sadar dan tidak hanya diam tapi tubuhnya ingin mengeluarkan semuanya karna Dokter Dige melakukan sesuatu pada kerongkongannya.


"D...ngin."


"Masih dingin?!" gumam Daychi lalu mengeratkan pelukan. Hatinya lega walau beban berat itu masih belum menyingkir menyekang dadanya.


"D..ngin." lirih Whuang dengan mata masih terpejam dan tubuh mengigil mencari kehangatan hingga Daychi benar-benar menariknya dalam pelukan. Kulit keduanya merapat menyalurkan rasa hangat dengan wajah Whuang terbenam ke leher kekar Daychi yang mengelus punggungnya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Daychi khawatir membuat mereka terhenyak.


"Untuk sekarang kita hanya bisa mengobati luka di tubuh tapi kita tak tahu kondisi mental Nona."


"Tapi, lukanya bagaimana? aku tak ingin ini bermasalah!!" geram Daychi mengeratkan pelukan. Walau tubuhnya panas dingin bersentuhan begini tapi ia hanya fokus pada kesehatan Whuang.


"Kami akan berusaha. Sersan! anda terus saja seperti itu."


"Iya. luka Nona memang parah tapi saya sudah menjahit bagian yang dalam di betis dan pahanya." sambung Dokter Taname seraya melakukan injeksi ke paha putih Whuang yang begitu sempurna. Mereka kagum akan kelembutan kulit wanita ini.


"Hm. lakukan yang terbaik." titah Daychi merapatkan selimut. Seraya menggenggam tangan lentik itu agar lebih hangat. Batinnya berkecamuk untuk segera mencari sebab Whuang seperti ini.


Namun, Dokter Dige tersentak saat melihat lengan Whuang yang penuh cabikan dan ini jika di lihat dari bentuknya memang seperti cakaran tapi jika diteliti lebih dalam ini goresan jarum dan benda tumpul.


"Sebaiknya aku katakan nanti saat Sersan sudah tenang. sekarang dia masih dalam kecemasan."


Batin Dokter Dige saling melempar pandangan dengan Dokter Taname yang juga cukup khawatir melihat kondisi Whuang. Dengan ini mereka harus menggunakan alat-alat lain agar tak menyerang bagian fatal.


"Sersan!"


"Hm. apa yang terjadi?"


"Kami harus melakukan pemeriksaan menyeluruh. Team medis perempuan akan segera datang."


Daychi terdiam menatap wajah Whuang yang belum bisa dikatakan baik. Hal ini belum bisa dipastikan akan berjalan lancar.


"Hm. Lakukan apapun, dan JANGAN MACAM-MACAM dengan tubuhnya." tekan Daychi membuat mereka mengangguk. Apapun akan mereka lakukan apalagi Whuang sangat baik membantu mereka di Lab kemaren.


"Hey! kau wanita menyusahkan. Aku akan keluar, tapi ingat. kau tak bisa kemanapun karna tugasmu belum selesai. INGAT ITU."


Bisik Daychi ditengah ke gundahan. Ia meredam segalanya dengan beribu ancaman yang keluar karna ia juga tak tahu dengan hatinya sendiri.


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2