
Jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Langit diatas sana juga berubah menghitam tak ada rembulan seperti biasa. Angin sejuk yang begitu dingin dengan suara-suara serangga malam pengintai yang berkeliaran meremangkan bulu kuduk manusia.
Namun, suasana seperti itu menghadirkan rasa gelisah bagi sesosok pria yang dari jam 11 tadi sampai ke Kediaman. Ia menunggu istrinya pulang dan berencana memberi sedikit hukuman licik tapi ternyata sampai sekarang belum juga pulang.
"Kemana dia? ini sudah larut malam. apa dia memang berencana bebas berkeliaran dengan lelaki di luar sana." umpat Daychi hilir-mudik melihat kearah pintu utama. Ia ada di lantai dasar menyibukkan diri dengan minumannya sambil menunggu.
"Tidak. dia tak bisa dibiarkan."
Daychi langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi anggota untuk mencari wanita pembangkang itu.
"Sersan!"
"Kau?"
Daychi meletakan kembali ponselnya saat melihat Zuan sudah ada di depan pintu utama dengan wajah datar seperti biasa. Pria itu mendekat dengan langkah pasti.
"Ada apa?"
"Apa dia sudah pulang?" tanya Zuan tapi Daychi diam hingga benar saja Whuang belum pulang. Pantas jika perasaan Sersannya tak tenang sedari tadi.
"Aku sudah mengirim anggota untuk mencarinya. anda tenang saja. Sersan!"
"Cih. paling dia menghabiskan waktu di Club, pasti dia begitu memanfaatkan kepergian-ku." geram Daychi mendidih.
"Sersan! setelah menikah dengan anda, dia tak pernah pergi ke Club."
"Kau begitu membelanya. hm?!" sarkas Daychi merasa kesal saat Zuan tahu segalanya dari pada dia. Padahal ia adalah suami wanita itu tapi ia tak mungkin belagak perduli dengan musuhnya sendiri.
"Terserah anda ingin mengatakan apa. tapi, aku serius memantau Whuang dan dia hanya pergi ke penginapan di dekat danau agak jauh dari sini."
Jawab Zuan datar. ia sendiri tahu Sersannya hanya belum mengalahkan ego yang tinggi itu. Pria ini memiliki karakter angkuh begitu tinggi dan rasa tak perduli yang kuat.
"Apa yang dia lakukan disana?" Daychi mulai serius.
"Aku tak tahu. Sersan! setiap keluar dari bangunan itu wajahnya pucat. dan sekarang aku belum menerima laporan untuk hari ini."
Daychi menghela nafas halus. Ia meraih botol minuman diatas meja lalu meneguknya ringan. Whuang tak pernah ingin menceritakan sesuatu padanya dan Daychi sebenarnya tahu jika Ayah Whuang bukanlah pria biasa tapi ia tak begitu serius karna ia hanya butuh kekuatan wanita itu.
__ADS_1
"Sepertinya Ayahnya ikut campur."
"Aku tahu Sersan cukup mudah untuk mencarinya. cobalah untuk menundukkan Ego sedikit saja, Sersan. itu akan lebih baik" ujar Zuan sopan mendapat pandangan dingin Daychi. Keduanya memang sudah berhubungan lama hingga Zuan selalu berbicara lugas tentang apapun.
"Hm. berhentilah menceramahi-ku. kau pergilah keluar sana!"
Zuan menggeleng kecil lalu pamit melangkah pergi keluar sementara Daychi ia mulai termenung memikirkan ucapan Zuan barusan.
"Wanita itu selalu saja menyusahkanku." gumam Daychi menyudahi acara minumnya lalu meraih jaket di sofa dan melangkah keluar Kediaman untuk mencari sendiri.
Dahinya mengkerut saat melihat Zuan tengah menelfon di ujung sana dengan wajah terlihat terkejut dan mengeras.
"Kau cari disana. aku akan menyusul."
Sambungan itu mati dengan Zuan yang langsung berbalik mendekati Daychi yang bersandar ke daun pintu memakai jaketnya.
"Ada apa?"
"Menurut informasi anggota pengintai. Whuang tadi siang pergi ke tempat penginapan ayahnya. dan malam ini ada yang keluar menggendong tubuh seorang wanita menuju hutan api, kemungkinan itu Whuang."
Daychi melebarkan matanya mendengar itu. Ia langsung bergegas kearah mobil dengan Zuan yang juga bersicepat masuk ke mobil mengikuti Daychi yang tampak sudah mendingin.
Perjalanan menuju hutan api begitu cepat. Zuan mengimbangi kecepatan mobil Sersannya yang pasti tengah memikirkan tentang istrinya.
"Shitt. aku tahu kau khawatir sampai membawa mobil secepat ini. Sersan!" gumam Zuan memfokuskan matanya karna ia hanya melihat lampu mobil dan suara kencangnya benda itu. Ia tak cemas jika kecelakaan karna Daychi pandai membelokan stir dengan tepat.
Waktu yang seharusnya ditempuh dalam masa 1 jam 20 menit telah di kikis hingga 30 menit saja. Sekarang Mobil keduanya telah melewati Hutan Api yang dipalang aparat pemerintah dengan pemberitahuan banyak binatang buas didaerah sana.
"Sersan!!!"
Para anggota sudah menunggu di tepi jalan yang tak terurus. Tempat ini sudah tak lagi di huni karna sering terjadi penerkaman binatang liar.
"Sersan!"
"Kau menemukannya?"
Tanya Daychi menghentikan mobil lalu keluar. Tanpa pikir panjang ia menerobos beberapa palang bahaya tak bisa membendung kecemasannya.
__ADS_1
Disana sudah ada Gamaru yang melacak bersama Team pengintai yang berpencar. Mereka sudah menyusuri hutan sampai ke pesisir tapi belum ada tanda-tanda selain bekas ban Mobil di sebelah sana.
"Kami tak menemukan Mobil. Nona! hanya bekas Ban di dekat rerumputan sana."
"Kalian susuri setiap jalan. bagi 3 Team karna hutan ini luas." Daychi mengambil senter yang diberikan Gamaru padanya.
"Baik!"
Mereka kembali membagi anggota sedangkan Daychi melangkah kearah goresan mobil menurut Gamaru tadi. Ia menghidupkan senter terang menyusuri tapakan Ban Mobil ini.
"Sersan! sepertinya .."
"Ini masih baru beberapa jam yang lalu dan dari bentuknya pengendara mobil ini tergesa-gesa." gumam Daychi berjongkok melihat becek karna jalan ini lembab. Rerumputan di sampingnya juga terlihat dipijaki dan hilang di semak-semak sana.
"Zuan! kau pimpin yang lainnya."
"Tapi. Anda..."
"Aku yang akan mengikuti ini."
Zuan mengangguk melesat pergi dengan Daychi yang kembali berdiri. Pikirannya berkecamuk mencoba menepis jika wanita itu ada disini. ia tak berharap Whuang dalam bahaya.
..........
Suara air terjun itu begitu deras menubruk bebatuan dibawah sana. tak ada cahaya sama sekali dan hanya kerlipan kunang-kunang yang ada di rerumputan samping batu. Semuanya terasa dingin dengan suara hantaman air berderu kencang.
Sesosok lemah itu sudah sedari tadi teletak diatas batu yang memercikan air dingin dari batu yang dihantam air lainnya. Tubuhnya basah dengan luka yang memucat tak lagi mengeluarkan darah.
"D..dingin." lirihnya tapi tak mampu bergerak. separuh kakinya terendam didalam air yang membekukan tulangnya. Rasa sakit itu tak lagi dapat ia rasakan karna tulang yang kaku dan dingin menusuk ke jantungnya.
"D...ngin." lirihnya mengigil berjam-jam merasakan ini membuat kepalanya pusing. Ia sudah di ambang-ambang sadar dan hanya bisa melirihkan itu berharap ada seseorang yang memberinya kehangatan tapi hanya beku di setiap sendinya.
Kulitnya sudah memucat hampir membiru diredam air dengan nafas lemah dan mata sayu tak bisa melihat jelas. Sekarang ia hanya berharap cepat bertemu dengan saudara-saudaranya dan sang ibu yang pasti akan menyambutnya.
"A..mpun, a..ayah."
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..