
Ranjang king size itu sudah menampung sesosok manusia yang dibaluti Piyama tidur dengan selang infus yang tertancap di punggung tangan lentiknya. Rambut kecoklatan itu tampak menyatu dengan bentuk wajah tirusnya. Mata yang memang sipit tertutup dan poni di dahinya.
"Putriku Chiyo sudah seperti ini selama bertahun-tahun. dia menolak makan terlalu banyak dan selalu memuntahkannya sampai terus di infus, dia selalu melirihkan nama anda, jadi kami sulit untuk mengatasinya." jelas Tuan Besar Pein merasa sangat sedih. Ia duduk di tepi ranjang menggenggam tangan lentik itu dengan Daychi yang mengamati wajahnya intens.
"A..Ayah!"
Tuan Pein tersenyum saat Chiyo si wanita berponi itu sudah perlahan membuka mata bulatnya. Wajah yang pucat itu terpaku bersitatap dengan netra elang iblis milik Daychi yang masih mempertahankan wajah datarnya.
"D..Daychi!" lirihnya bergetar dengan mata berkaca-kaca.
"Hm. dia mengunjungi-mu, kau senang?"
Chiyo mengangguk tersenyum begitu mengagumi sosok ini tapi ia juga takut terlalu menatap lama karna aura Daychi seperti tak tulus padanya.
"Kau sudah makan?"
Degg...
Chiyo seakan tercekat nafasnya sendiri mendengar pertanyaan Daychi yang memang sangat dingin tapi ia tak percaya pria ini mengatakannya.
"Kau mendengarku?"
"A.. iya, a..aku..."
"Kau belum makan. Nak! sebentar Ayah akan panggilkan pelayan." Tuan Pein tampak senang beranjak dari ranjang lalu mengisyaratkan pada istrinya untuk menyuruh pelayan mengantarkan makanan meninggalkan Daychi berdua dengan Chiyo didalam sana.
Wajah mungil Chiyo memerah saat mata elang Daychi menatapnya tak berkedip. Jantung-nya tiba-tiba menggelora didalam sana dengan keringat dingin bercucuran.
"Kenapa Daychi tak berubah? wajahnya masih tampak tampan seperti dulu bahkan lebih tampan."
Batin Chiyo serasa mimpi di siang hari. Ia mengalihkan pandangan malu sedangkan Daychi mencari tahu apa benar wanita ini sakit atau hanya sebuah rencana.
"Ehmm!"
Suara didepan pintu sana membuat Daychi tak bergeming. Sosok pelayan memakai seragam hitam dan putih ber-rok pendek itu membuat Chiyo agak kesal karna menganggu.
"Makanannya!" suara yang dibuat lembut dan ramah dibalik masker yang menutupi separuh wajahnya. Chiyo tak menjawab melainkan menatap kagum pahatan sempurna Daychi yang tak juga melepas pandangannya.
"Sial!!! pria ini memang jelalatan." batin Whuang geram mengutuk Daychi yang sangat menyebalkan. Ia terpaksa melangkah masuk membawa nampan berisi bubur dan susu.
Ia melangkah tepat dihadapan Daychi yang hanya diam memejamkan matanya lalu terbuka melirik kilas rambut panjang dan kaki jenjang itu dan kembali menatap Chiyo yang masih dalam Mode malu-malu.
"Ini. Nona!"
"Terimakasih!" jawab Chiyo lembut membuat Whuang jengah melihat wajah merahnya yang terus ditatap Daychi.
"Kau pergilah!" titah Daychi tanpa menatap Whuang yang sudah menyala-nyala panas. Dewi bulan itu berdiri membawa nampan kosong kembali lalu membungkuk kecil sebagai salam hormat.
"Permisi!"
__ADS_1
Whuang melangkah dihadapan Daychi tapi ia sengaja menginjak sepatu Daychi dengan kakinya kuat.
"Kauu .."
"M..Maaf, maafkan saya!" ucap Whuang menunduk seakan tak berani melihat raut wajah keras Daychi yang mundur merasakan nyeri di jempol kakinya.
"Kau punya mata. kan?" geram Daychi mendorong bahu Whuang sampai terduduk di samping ranjang. Tapi, seringaian di balik masker itu terkesan puas karna Heels yang ia pakai begitu runcing.
"D..Daychi! k..kau..kau tak apa?" gugup Chiyo khawatir lalu menatap tajam Whuang yang selalu menundukan pandangannya.
"Kenapa kau ceroboh? dia Tuan Muda Yuchin, kau tak pantas berlaku seperti itu!"
"Cih! bahkan aku pernah menjitak kepalanya."
Batin Whuang ketus kembali berdiri membungkuk meminta maaf dengan setengah hati.
"Maafkan saya. Tuan! Maaf!" suara yang begitu halus mendayu berat.
"Enyahlah dari sini!"
"T..terimakasih."
Whuang melangkah cepat keluar dengan senyuman mekar. Rambut panjangnya ia gulung keatas menyisakan beberapa untuk menutupi sedikit lehernya.
"Daychi! a..apa kau baik-baik saja?"
"Hm. kau makanlah makananmu."
Sementara Whuang. Ia sudah melesat kearah sudut sepi dimana Eva dan Seung telah menunggu pura-pura membersihkan ruangan tapi mereka tengah memantau situasi.
"Nona!"
"Sutt! kesini sebentar."
Whuang menarik keduanya untuk ke sudut yang paling terpencil seraya masih berpura-pura mengelap dinding.
"Bagaimana? Nona!" tanya Eva melihat kiri kanan.
"Sepertinya wanita itu tak benar-benar sakit. pasti dia hanya memanfaatkan situasi agar Ichi kesini." jelas Whuang yang tak melihat tubuh yang kurus melainkan tubuh langsing yang segar. Hanya wajahnya saja yang pucat.
"Sialan! dia sangat licik." gumam Eva geram tapi Seung hanya diam tak mengerti.
"Jadi, kita harus membuktikan jika Nenek penyakitan itu hanya pura-pura sakit."
"Bagaimana caranya? Nona!" tanya Eva penasaran tapi Whuang juga tengah memikirkannya.
"Kita harus disini lebih lama."
Jawab Whuang seraya menatap beberapa Furniture mahal disini. Tiba-tiba ia mulai memandang semuanya dengan uang dan uang di kepalanya.
__ADS_1
"Tapi, sebelum itu kita harus mengisi energi."
"Makan?" tanya Seung bersemangat tapi seketika murung saat Whuang sudah menggeleng.
"Bukan!"
"Lalu?" tanya keduanya heran.
"Sebelum memulai rencana. kita harus mengubah masa depan agar lebih cemerlang." jawab Whuang mengambil patung kera mungil emas disampingnya.
"Maksudnya?"
"Kalian harus menjamin kehidupan kalian kedepannya. manfaatkan segala situasi untuk mengubah masa depan." jawab Whuang menunjukan patung kera mini itu lalu memasukannya kedalam saku.
"Mencuri?"pekik keduanya tapi Whuang segera membekap mulut polos itu.
"Jangan terlalu keras. kita bisa ketahuan." geram Whuang melirik kiri kanan hingga Seung dan Eva mengangguk dengan Whuang melepas bekapannya.
"Nona. aku tak mau mencuri!"
"Tak apa, ini semua memang disediakan untuk kita." jawab Whuang asal lalu mengambil manik-manik giok yang ada di dinding dengan mata penuh binaran uang.
"Setidaknya ada manfaat juga aku kesini."
Eva dan Seung saling pandang rumit tapi melihat Whuang sudah banyak mengumpulkan barang-barang mewah membuat iman mereka goyah.
"Baiklah. demi masa depan yang cerah!" gumam keduanya mengikuti cara Whuang yang sudah ahli dalam mencuri begini. Bahkan, mereka sesekali terkikik karna kantong itu sudah tak muat.
...........
Sementara Daychi. Ia tengah berdiri didekat tangga bawah menatap Zuan yang melamun di bawah sana. Ia tahu pria itu tengah memikirkan soal seseorang yang begitu ia sayangi.
"Zuan!" panggil Daychi seraya melangkah turun membuat Zuan tersentak segera membuyarkan pikirannya.
"Iya. Sersan!"
"Kau..."
Brakkkk....
Suara reruntuhan di samping sana membuat keduanya tersentak dimana terdengar ada lemparan kuat memecahkan kaca-kaca samping diringi teriakan para pelayan.
"Ada yang menyerang!!!!" suara kepala pengawal membuat Zuan segera mengeluarkan pistolnya. Tuan Pein sudah turun mendekati Daychi yang diam di tempat.
"Tuan Muda. anda sebaiknya jangan keluar! kemungkinan mereka datang lagi!" ucapnya cemas menatap para pengawal yang terdengar berkelahi di luar sana.
"Kami akan menanganinya! kalian tenang saja." sambung Tuan Pein membuat Zuan diam menyembunyikan pistolnya dibalik jaket.
.......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..