
Dekapan hangat posesif Daychi sama sekali tak terlepas dari tubuh Whuang yang juga memeluk suaminya. Keduanya enggan berpaling walau tatapan semua orang di ruangan ini terus memperhatikan mereka.
"Sayang!" bisik Daychi terus membuat Whuang merasa sangat bahagia. Akhirnya kata-kata lembut itu keluar sendiri di bibir sosok angkuh yang selama ini membuat perjalanan cinta yang rumit.
"Kak!" Lien berdiri mendekati Daychi yang hanya diam tak bergerak dihadapan kursi roda Whuang.
"Kau tadi mau mati. kan?"
"A.. itu..."
Daychi agak kaku saat pandangan netra abu Whuang seakan menghakiminya. Ia mengusap tengkuknya gugup mengalihkan pandangan.
"S..siapa yang ingin mati?" gumam Daychi membuat mereka langsung mengulum senyum.
"Kau lupa? baiklah akan ku ingatkan."
"LIEN!" tekan Daychi menatap tajam sang adik yang benar-benar menyebalkan ini. Lien hanya masa bodoh menatap Whuang yang telah kembali hadir ditengah-tengah mereka.
"Kakak ipar! Kakak-ku ini sangat g.."
"Jangan dengarkan kutu rambut-itu. Sayang!" potong Daychi langsung menyela ucapan Lien yang agak tersentak dengan julukan barunya.
"K..kak! kau..."
"Dia hanya membual!" desis Daychi membuat Lien menahan emosi.
"Shitt! kalau saja kau bukan Kakak-ku, maka aku akan mencabulimu." geram Lien. Fang segera menghentikan pertengkaran konyol ini.
"Sersan! kembalilah ke atas Bangkar anda, Dokter sudah dalam perjalanan ke sini." ucap Fang merapikan selimut tapi Daychi menggeleng enggan.
"Aku tak terluka. aku sudah sem.. aass!!" Daychi lagi-lagi meringis saat tangan Whuang mencengkram bahunya. Mereka terdiam melihat wajah tegas Whuang memimpin.
"Ini yang kau sebut tak terluka? aku masih belum membahas soal aksi tak berguna-mu semalam. Ichi!"
"A.. k..kau.."
"Kembalilah keatas ranjang rawat-mu!" titah Whuang sudah khawatir karna darah itu sudah menembus pakaian Daychi yang menghela nafas ringan langsung mengangguk.
"Baiklah!"
"Cih! kalau Whuang saja yang menyuruh dia langsung patuh."
Batin Fang jengkel menatap tingkah menggelikan Sersannya. Lien membantu Daychi kembali berdiri tapi pria itu tak ingin bergerak sebelum Whuang ikut bersamanya.
"Kau juga ikut!"
"Tak bisa, aku..."
__ADS_1
"Kalau begitu aku ikut kau!" tegas Daychi sudah menguarkan tatapan tak mau dibantah. Whuang mengambil nafas panjang mengerti akan kekhawatiran pria ini.
"Kak!" lirih Whuang pada Zuan yang mengangguk ingin menggendongnya tapi mereka tersentak saat Daychi yang lebih dulu melesat menggendong Whuang yang membulatkan matanya.
"I..ichi!!"
"Diamlah!"
Tegas Daychi menggendong Whuang ringan menuju Ranjang rawatnya. Ia tak perduli tentang luka di tubuhnya yang tak lagi terasa saat bersama wanita ini.
"Hati-hati. luka perutnya masih basah."
"Aku tahu!" jawab Daychi pada Zuan yang menggeleng ingin membantu meluruskan kaki jenjang Whuang namun di tepis oleh tangan kasar Daychi.
"Aku saja. kau pergi lihat dokter tadi."
"Kau juga berbaring. lukamu berdarah." timpal Whuang cemas menepuk tempat disampingnya mengisyaratkan pria itu untuk berbaring. Tentu dengan sekali ucapan saja Whuang mampu menundukkan ego Naga Jantan angkuh itu.
"Luka kecil. tak sakit."
"Apanya yang tak sakit? kau jangan sok kuat." decah Whuang hanya dijawab senyuman samar Daychi yang duduk disampingnya.
"Emm.. permisi!"
Suara Dokter Andra di depan pintu yang datang bersama Dokter Dige dan Taname. Ketiganya melangkah masuk dengan wajah lebih santai dari biasanya.
"Cepat! periksa, dia!" titah Daychi langsung mendapat tatapan membunuh Whuang yang membuatnya diam mengangguk.
"Jangan banyak bergerak! lukamu bisa terbuka lebar."
"Hm. iya, Sayang!"
Tanpa sadar pipi Whuang bersemu merah mendengar suara Daychi yang terkesan manja dan sangat mendayu. Dokter Andra hanya mengulum senyum mengeluarkan Stetoskopnya lalu memeriksa detakan jantung Daychi.
"Jantung anda berdetak lebih cepat!"
"A..apa?" Daychi langsung meraba dadanya lalu menatap Whuang yang juga memandangnya. Kedua degupan itu beradu bersamaan dengan rona merah yang muncul menghiasi wajah mereka lalu Daychi menarik sudut bibirnya sempit menatap intens Whuang yang menunduk.
"Ehmm!" Whuang menormalkan raut wajahnya agar tak begitu menggelikan.
"Mu..mungkin ini efek lukamu!" sambung Whuang mengusap tengkuknya.
"Em.. mungkin! sepertinya kau juga."
"A.. t..tidak, cepatlah periksa dia! otaknya semakin tak beres." elak Whuang kikuk merasa sangat gugup dipandangi begitu. Ia mengambil nafas dalam membiarkan Dokter Andra memeriksa luka Daychi.
"Kenapa aku tak mati?"
__ADS_1
"Sepertinya Anggota anda sengaja menembak diarea non vital. luka di bahu anda memang cukup dalam tapi hanya menembus lapisan otot luar. sedangkan perut, itu juga tak mengenai organ dalam. Anggota anda sengaja menembak tak tepat sasaran." jelas Dokter Andra membuka kancing baju rawat Daychi hingga perban merah berdarah itu sudah basah.
"Syukurlah! mereka masih punya hati padamu." jengkel Whuang sekaligus bersyukur. Ia hanya bisa diam tak terlau bergerak karna rasa nyeri itu masih ngilu di perutnya.
"Lalu bagaimana dengan istriku?" tanya Daychi merasa aneh. jelas selama ini semua dokter mengatakan jika istrinya hanya bisa hidup dibantu alat medis. tapi kenapa bisa seperti ini?
"Sebenarnya saat dimana saya datang. memang Nona Whuang sudah keitis di tapi, bukan berarti kami menyerah!"
"Maksudnya?" tanya Daychi tak mengerti sama sekali.
"Hari itu..."
Flasback On..
Pandangan datar dari mata elang pria paruh baya itu tampak menerawang ke kaca dihadapannya. Ia berdiri didekat ruangan santai Rumah Sakit tepat didepan kaca yang terhubung di dunia luar.
"Tuan!"
Dokter Andra melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia tadi mendapat panggilan khusus ke ruangan ini.
"Tuan! ada apa?"
"Kau bisa lakukan sesuatu?"
Pria itu berbalik hingga wajah datar yang selalu tak berubah itu membuat Dokter Andra terdiam.
"Apa. Tuan?"
"Sekarang menantuku tengah ada didalam masa kritisnya! tapi, Taname dan Dige sudah memberikan datanya padaku kalau Whuang hanya mengalami henti jantung atau yang dikenal dengan cardiac arrest atau sudden cardiac arrest (SCA) di dunia kalian. Pengaruh obat penawar itu juga membuat Whuang tenggelam dalam alam bawah sadarnya. ini akan berlangsung sangat lama." jelas Tuan Khang tegas. Tak ada raut apapun dari wajahnya selain berucap begitu saja.
"Jadi, anda ingin saya melakukan apa?"
Tuan Khang menarik nafas dalam. Ia diam bukan berarti tak perduli, selama ini ia melihat bagaimana Daychi bersikap dan selalu mengedepankan emosinya. sifat itu sudah mendarah daging dan ia takut nanti peristiwa ini akan terulang kembali.
"Sembunyikan semua data asli dari. Daychi! aku sudah menyuruh Dige dan Taname untuk mengikuti rencana ini dan mereka sudah melakukannya, sekarang. kau juga harus membantu perawatan Whuang secara sembunyi-sembunyi."
"T..tapi kenapa? kalau Sersan Daychi tahu maka semuanya akan habis." ucap Dokter Andra merasa ini terlalu rumit.
"Lakukan saja. aku tahu sifat putraku bagaimana dan dia tak akan pernah berubah jika tak merasakan semuanya sendiri, lagi pula ini baik bagi Whuang dan Anaknya." tegas Tuan Khang sudah merencanakan hal besar ini dari jauh hari.
"Jadi, anda menyuruh saya mengatakan kalau Nona tak selamat tapi kita bisa menyelamatkan anaknya. begitu?"
Tuan Khang mengangguk kembali berbalik menghadap kaca. Ia sadar saat melihat Daychi datang ke Kediamannya waktu itu dikala Whuang menandatangani surat cerai pria itu sangat menggila.
"Sisanya aku yang urus!"
Flasbackh Of...
__ADS_1
...........
Vote and Like Sayang..