Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Tetap disini!


__ADS_3

Zuan tampak gelisah menunggu Daychi keluar dari kamar Baby Elis yang kembali pria itu tidurkan. Ia beberapa kali menghubungi Fang tapi tak diangkat membuatnya kacau dan terus mondar-mandir diluar kamar.


"Kenapa dia tak menjawabnya? ini keadaan mendesak." gumam Zuan terus mencoba. Ia beralih menelfon Gamaru untuk menanyakan kondisi disana. Ketika sambungannya terhubung Zuan langsung bertanya.


"Apa yang terjadi di Kediaman? bagaimana dengan Whuang?"


"Aku tak sedang di Kediaman. aku ditugaskan di Gedung IT oleh, Sersan! memangnya kenapa?"


Zuan mengumpat dalam hati masih saja begitu cemas. Ia tak tahu apa yang tengah Whuang alami sekarang.


"Tidak ada."


"Tapi, kenapa kau menelfonku kalau..."


Tutt...


Zuan mematikannya sepihak lalu bersandar ke dinding luar kamar menatap deretan foto-foto indah yang terpampang jelas memaparkan foto Nyonya muda disini bersama keluarga kecil mereka.


"Kenapa kau gelisah?"


Zuan langsung menoleh dengan suara sopan dan lembut itu hingga ia tampak terhenyak melihat sosok yang dicintai Sersannya itu.


"Xiaojie!"


"Kenapa berdiri terlalu lama? sebaiknya kau juga istirahat. kalian melakukan perjalanan yang panjang. Bukan?" tawar Natalia tampak segar habis mandi dan begitu cantik dengan pakaian hamilnya.


"Saya hanya menunggu Sersan!"


"Apa ada masalah?"


Zuan terdiam. Hubungan Whuang dan Daychi sangatlah rumit hingga ia tak bisa mengatakan seenaknya pada orang lain. apalagi ini Natalia yang memang sangat di kagumi pria itu.


"Hm. saya harus pulang, tapi Sersan tak mungkin bisa."


Natalia memandang kearah pintu kamar putrinya. Kalau sudah bertemu, maka keduanya tak akan bisa lepas begitu saja. Baby Elis tak akan membiarkan Dadynya pergi dan Daychi juga tak akan pulang sebelum meminta persetujuan Queen kecil itu.


"Tak apa, aku akan bicara dengannya!"


"Tapi,..."


"Sudahlah, ini tak masalah."


Akhirnya Zuan menyanggupi agak menyingkir membiarkan Natalia menekan gagang pintu kamar putrinya yang terbuka memperlihatkan sebagian kecil ruangan ceria itu.


"Dady! perut Bunda isinya Adik-kan?"


"Memangnya kenapa?"


"Karna kalau di peluk dia gerak-gerak. itu Adik. bukan?"


Daychi tampak mengulum senyum memeluk si kecil yang sudah berbicara sangat banyak dan begitu penasaran. Wajah Natalia sangat kental disini bahkan rasa penasaran itu terlihat menurun.


"Emm... iya."


"Kenapa bisa gerak-gerak? terus kenapa adik tidak makan kalau Elis makan? nanti Adik Elis lapar. bagaimana Dad?"


"Itu..."


"Karna Adiknya belum keluar dari perut. Bunda!"


Keduanya langsung menoleh kearah pintu kamar dimana tampak sosok hangat itu berdiri membuat Daychi menatapnya lembut.


"Bunda!"


"Baby belum tidur. juga, ya?"


Baby Elis mencengir menunjukan semua giginya yang telah utuh. Gigi susu yang putih dan kecil rapi membuat pipi gembulnya terangkat.


"Sini, Bunda!" menepuk tempat disampingnya dengan Natalia mendekat berjalan pelan seraya memeggangi perut besarnya yang sudah 7 bulanan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Daychi terlihat memandang perut Natalia. Sialnya Pak Tua itu sangat lancar membuat benih sampai seperti ini.


"Iya, Kak! emm... masuklah. Zuan!" panggil Natalia hingga Zuan segera masuk menatap Baby Elis yang tersenyum menunjukan gingsul cantiknya.

__ADS_1


"Uncel Zu!"


"Hay!" sapa Zuan melambaikan tangannya kecil lalu melangkah mendekati Daychi.


"Ada apa?"


"Sersan. apa kita tak bisa pulang sekarang?"


"Pulang?" sambar Baby Elis langsung mengeratkan pelukannya ke perut keras Daychi yang tersentak akan belitan kuat tangan mungil itu.


"Tak boleh!"


"Baby! jangan begitu, Dady Day juga punya pekerjaan penting. Sayang!" Natalia mengelus kepala mungil putrinya memberi pengertian.


"Tapi, Dady baru saja disini. jangan pulang dulu." suara bergetar itu membuat Daychi tak bisa membantah.


"Kalau begitu, biarkan aku yang pulang dulu. Sersan!"


Dahi Daychi menyeringit melihat Zuan tampak kekeh. Apa yang sebenarnya terjadi sampai pria ini secemas itu?


"Baby! Dady mau bicara sebentar dengan Uncel Zu. sama Bunda-mu dulu. ya?"


"Tapi, jangan pulang!"


Daychi mengangguk mengecup pipi gembul itu lalu berdiri menatap Zuan yang mengikutinya keluar kamar. Wajah Daychi berubah datar dan begitu serius.


"Ada apa?"


"Whuang sakit!"


Degg...


Daychi terkejut dengan jawaban Zuan yang tampak serius tak ada raut candaan. Tiba-tiba hatinya gelisah dengan pandangan cemas.


"M..Maksudmu? malam itu dia baik-baik saja."


"Aku tak tahu. Sersan! setelah kita pergi dari Kediaman Whuang tiba-tiba sakit dengan tubuh ruam dan panas tinggi. aku tak tahu sekarang bagaimana lagi disana." jelas Zuan begitu khawatir terlihat dari intonasi bicaranya yang tak tenang seperti biasanya.


Tanpa pikir panjang Daychi langsung menghubungi Dokter Dige dengan harap-harap cemas terjadi sesuatu pada wanita itu.


"Sersan!"


Terdengar helaan nafas dalam yang panjang membuat jantung Daychi mulai berdebar tak karuan didalam sana.


"Sepertinya tubuh Nona telah berbeda dari sebelumnya!"


"Maksudmu?"


"Saya tak bisa menjelaskan di telfon begini. Sersan! apalagi tiba-tiba semua komunikasi rusak dan Gamaru tengah memperbaikinya."


"Bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Daychi lagi.


"Nona sudah sadar. dan dia tengah me..."


"Hello!! Dige!!! Kau.. Sial!!!"


Umpat Daychi saat sambungan terputus. Sepertinya memang ada yang telah merusak sistem mereka dengan kesengajaan hingga koneksi disana tak bisa baik.


"Aku yakin ini ulah Pria tua sialan itu!" umpatnya lagi berfikir.


"Sersan! anda membiarkan Tuan Jirom bebas berkeliaran. kenapa anda..."


"Dia tak bebas begitu saja." jawaban Daychi membuat Zuan diam sejenak mencoba mencerna dan...


"Anda memasang.."


"Hm. kau tahu yang ku temukan?!"


Zuan diam dengan wajah menunggu dan begitu sangat ingin tahu membuat Daychi tersenyum kecut.


"Dia bukan putri kandungnya!"


"A..Apa?"

__ADS_1


"Hm. mereka berencana untuk kembali mengambil Whuang dengan rencana membuat racun atau penawar dari darahnya. proses penyembuhan luka Whuang bisa cepat selama itu karna dirinya sendiri bukan bantuan dari Ayahnya." jelas Daychi yang hanya tahu sampai di situ. Sisanya ia belum melihat karna langsung kesini.


Mendengar semua itu Zuan terasa kosong dan menduga-duga. Semua ciri-ciri yang telah ditemukan sangat mirip dengan apa yang telah ia nanti selama ini.


"Aku sudah mengirim sempel darahnya dengan rambut Ibumu ke Leb! Taname yang tengah mengujinya."


"S..Sersan!"


"Aku harap hasilnya sama." Ucap Daychi menepuk bahu Zuan yang tampak menatapnya penuh rasa terimakasih. Tentu Daychi selama ini lebih merasa curiga hingga mengambil darah Whuang secara tersembunyi untuk mengeceknya di Lab.


"Jadi, biarkan aku kembali ke Kediaman, aku ingin melihatnya!"


Daychi diam. Sejujurnya ia ingin kembali tapi bagaimana dengan putrinya. Tak mungkin ia pergi sedangkan baru beberapa jam disini.


"Dady!"


Mereka menoleh kearah pintu dimana Elis kecil sudah berdiri menatapnya dengan sendu membuat Daychi segera mendekat berjongkok memeggang bahu mungil itu.


"Ada apa?"


"Dady tak pulang-kan?" tanya-nya merapikan rambut Daychi dengan jari mungilnya.


Natalia yang melihat itu segera mendekat. Ia tahu jika Daychi memiliki urusan yang sangat penting sampai bimbang seperti itu. Biasanya, sepenting apapun urusannya dia pasti tak akan bimbang memutuskan untuk tinggal. Dan ini ada sesuatu yang lebih dari itu.


"Baby! hari ini Kakak Alfin mau main ke pantai. bukan?"


"Iya, tapi Kakak masih di kamar. Bunda!" jawab Elis memeluk leher kokoh Daychi yang memegang popok si kecil itu.


"Biarkan Dady Day pulang. nanti kalau Papa sudah sengang baru kita ke sana. bagaimana?"


"Tidak. Dady tetap disini. iyakan?"


Kebungkaman Daychi membuat mata polos Baby Elis berair dengan bibir mungilnya bergetar menatap penuh kekecewaan.


"D...Dady!"


Daychi memejamkan matanya lalu mengambil nafas panjang barulah ia menatap si kecil kesayangannya itu.


"Jangan menangis, Dady tetap disini bersama Elis. hm?"


"Benarkah? Dady janji!" begitu bersemangat. Ia memang sangat dekat dengan Daychi sampai jika ada Sam-pun maka Daychi akan tetap dihatinya. Kedua Ayahnya ini begitu penting bagi Baby Elis yang selalu di manjakan.


"Hm. iya! sekarang gangu Papa-mu di ruang kerja sana!"


"Siap!!!"


Elis berlari kearah Lift membuat Natalia menghela nafas pendek.


"Tak apa. Kak! kau pergi saja, lagi pula dia hanya akan menangis sebentar." ujar Natalia mengerti lalu melangkah mengikuti putrinya.


Zuan yang tak bisa menunggu segera angkat bicara agar ia diperbolehkan kesana.


"Sersan!"


"Kau kembalilah!"


"Anda..."


Daychi berdiri dengan wajah tampak tak bersemangat. Tiba-tiba ia selalu berfikir kearah wanita itu dan mulai tak bisa tenang disini.


"Aku akan berusaha kembali secepatnya. kau jaga dia dulu."


"Baik!"


Zuan melangkah pergi tampak begitu cepat dipandangan Daychi yang rumit. Pria tampan itu mengusap wajahnya kasar mencoba tetap tenang.


"Sial!!! kenapa jadi begini??!"


"Kau mulai menambah satu Spesies. hm?"


Glek...


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2