Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Aku sangat mencintaimu!


__ADS_3

Tubuh wanita itu melemah dengan pelukannya ke tubuh Daychi terlepas. Air mata yang turun tampak sudah terhenti dengan nafas yang juga tak lagi Daychi rasakan.


Semuanya hening. Tak ada yang berani melihat wajah pucat tenang dan damai yang tengah di peluk Sersannya. dokter Lizel sudah lemas tak mampu lagi berdiri begitu juga yang lainnya.


"W..Whuang!" lirih Daychi bergetar saat melihat layar monitor sudah lurus. Kehangatan dari tubuh wanita ini tak lagi ia rasakan bahkan hembusan nafasnya sama sekali tak keluar.


"S..Sersan!"


"K..kau sudah mendapatkan penawarnya! k..kau tak mungkin pergi." gumam Daychi mengeratkan pelukannya. Tak di kira sekarang bagaimana pandangan setiap orang di ruangan itu padanya terutama Zuan yang menatap nanar wajah pucat tak berona adiknya.


Whuang! a..apa ini yang kau maksud pergi setelah usai? tapi bagaimana denganku dan kedua orang tua kita? bagaimana?


Zuan begitu terasa hancur. Ia pikir semuanya akan kembali setelah Whuang mendapatkan penawarnya, tapi. nyatanya itu sama saja.


"Whuang! s..setelah kau sehat, aku...aku akan membuat janji baru. kita akan menikah lagi dengan tujuan baru. K..kau ..kau mau-kan?" bisik Daychi menanti jawaban. Namun, dadanya semakin terasa berat saat sudah tak merasakan apapun lagi disini.


"W..Whuang!!! m..maafkan aku, aku...aku mohon kau jawab aku!"


"Sersan! Nona..." Dokter Dige yang ingin mengatakannya.


"J..jawab aku! kau..kau jangan diam saja." ucap Daychi semakin tak berdaya. Ia menepis pikirannya kearah yang buruk walau ia merasakan pandangan semua orang membuktikan jelas apa yang sekarang di wajah Istrinya.


"W..Whuang!" lirih Daychi perlahan mengangkat wajah Whuang dari bahunya. Jantung pria itu tak berhenti menggila didalam sana bahkan matanya tampak terus digenangi air bening itu.


"N..Nona!"


Deggg....


Jantung Daychi seakan mau meloncat keluar melihat kelopak mata abu indah itu tertutup rapat dengan hidung dan mulut terus mengeluarkan darah.


"K..kau..."


Tangan Daychi bergetar meraba pipi dingin Whuang yang tak bergeming sama sekali. Ia menepuknya pelan berusaha menyadarkan wanita itu.


"W..Whuang! Sayang!" satu kata yang terdengar sangat lembut dan begitu tulus baru keluar dari bibirnya. Mata Daychi memanas saat semua anggota tubuh Whuang terasa dingin dan kaku membelah batinnya.


"T..tidak, k..kau masih disini, k..kau masih bersama-ku. a..aku.. "


"Nona sudah tiada!"


"DIAM KAU!!!!"


Bentak Daychi keras pada Dokter Taname yang sudah diam. Ini memang sudah di perkirakan Whuang, sedari awal wanita itu tak berniat bertahan lama.


"Diam!!!" geram Daychi dengan air mata yang tak lagi terbendung. Ia masih menangkup pipi dingin Whuang dengan berjuta rasa sakit yang tersimpan di hatinya.


"D..dia...dia tak selemah itu. aku..aku tahu, Wh..Whuangku kuat. dia tak pernah seperti ini. d .dia wanita yang tangguh. y..yah!" racau Daychi tak mau menerima kenyataan. Ia terlalu sakit bahkan, ini lebih sakit dari yang pernah ia alami.

__ADS_1


Karna tak ada respon apapun dari Whuang. Akhirnya Daychi meloloskan isakannya mengguncang tubuh wanita itu agar bangun kembali padanya.


"W..Whuang, hiks!" aku mohon... aku mohon, Sayang!" isak Daychi untuk pertama kalinya terlihat menyedihkan. Tak di kira bagaimana sekarang hatinya terasa hampa dan ketakutan dikala membayangkan wanita ini pergi selamanya. Ia tak sanggup menerima itu.


"A..aku pria bajingan!! aku...aku egois tapi, ..tapi aku hanya takut. aku..aku takut gagal dan.. dan kau.."


"Sersan!" lirih mereka juga ikut meluruhkan cairan bening itu.


"AKU MENCINTAIMU! AKU SANGAT MENCINTAIMU!!!" Teriak Daychi terus mengguncang tubuh lemah itu. Kenapa? kenapa baru sekarang ia bisa mengatakanya? kenapa rasa takutnya membuat kehilangan itu kembali menimpanya???


"A..aku sangat mencintaimu. Sayang! aku..aku mohon, kembalikah padaku. aku...aku tak akan menyakitimu lagi. kau .kau jangan takut." ucap Daychi dengan nafas sendat terisak. Ia tak bisa hidup dalam kenangan bersama Whuang. Ia hanya ingin memulai dari awal.


"Whuang!!!!! kau..kau dengarkan aku!!! jangan diam saja, aku...aku mohon, hiks!"


"Sudah?"


Daychi beralih menatap Zuan yang sudah berdiri melangkah mendekat. Mata pria itu sembab menatap sang adik kesayangan yang tak sempat mengucap salam perpisahan padanya.


"Z..Zuan! dia...dia selalu mendengarkanmu. kau .kau bisa katakan padanya untuk..untuk kembali kesini."


"Dia tak akan kembali!"


"JAGA BICARAMU!!! BRENGSEK!!!" Maki Daychi tampak kelam tak menerima itu semua. Ia kembali memeluk Whuang erat tak akan melepaskan wanita ini sampai kapanpun.


"J..Jaga bicaramu!" lirih Daychi dengan nafas bergetar mendekapnya erat.


"D..dia h..hanya tidur!"


"Tidur?"


Zuan terbahak keras mendengar ucapan Daychi barusan. Hatinya sakit, dan kecewa yang teramat dalam pada dirinya sendiri membuat Zuan hanya seperti merasa kehilangan sesaat.


"Daychi! sebenarnya kau terlalu na'if!"


"A..aku .."


"Dia sudah tiada! Whuang si wanita pecinta uang, tapi. aku sangat menyayanginya! dia adikku satu dan selamanya. Dia sudah tenang, dan tak butuh kau.. atau aku."


Daychi menggeleng dengan bibir bergetar menahan isakan membelai wajah cantik tak lagi bernyawa itu. Ketakutan terbesar dalam hidupnya telah datang menghampiri.


"T..tidak, i..itu tak benar. Sayang! aku..aku tahu kau masih ada bersamaku. kau pasti mendengar hati-ku. bukan?" Daychi mengarahkan tangan Whuang untuk menyentuh dadanya yang tengah digempur rasa takut dan harap cemas kehilangan.


Aku mohon! berikan aku satu saja kesempatan untuk memperbaiki segalanya, aku akan membuat kau menjadi wanita spesial di dunia dan hanya kau. Sayang! hanya kau.


Batin Daychi menjerit meminta kesempatan agar bisa memperbaiki kesalahannya. Kelopak mata itu tertutup tak membuka lagi ingin melihatnya.


"Bahkan, dia tak sempat mendengar ucapanku! tapi, aku bahagia karna dia memang ingin ini."

__ADS_1


"A..apa maksudmu?" mata Daychi tampak sembab meminta penjelasan dari Zuan yang mengambil nafas panjang duduk disamping Daychi yang masih memeluk Whuang.


Raut tenang Zuan yang tampak memahami isi hati Whuang yang memang sedari lama ingin pergi dan melepas segalanya.


"Aku menyayanginya!" gumam Zuan tak bicara banyak. Ia mengusap sisa air mata di pipi dingin Whuang yang terlihat damai dan lepas.


"Kakak selalu mendo'akanmu. semoga kau.."


"Hentikan ucapanmu!!! dia belum pergi!!! dia tak akan pergi!!!" bantah Daychi menggeleng tak sanggup. Ia mengusap darah yang terus keluar di mulut Whuang dengan hati yang tercabik sakit.


"K..kau .kau tak akan pergi. iya-kan? kita ..kita akan sama-sama lagi, kau...kau boleh.."


Daychi ingat jika Whuang sangat suka akan barang-barang mahal dan sesuatu yang berbau harta.


"Kau ..kau boleh menjual apapun yang kau mau. aku..aku tak akan marah, aku..aku janji, Sayang!" bujuk Daychi mengecup lama kening Whuang yang masih belum bergerak. Pandangan nanar Daychi terlihat berat melihat layar Monitor dan rasanya ia tak bisa lagi bernafas normal akan rasa takut didadanya.


"Whuang!!!! bangun!! bangun!!" paksa Daychi menepuk punggung Whuang yang tetap membisu hingga akhirnya Daychi kembali terisak rapuh membenamkan wajahnya ke ceruk leher jenjang Whuang yang amis karna darah kental yang mengalir.


"A..aku tahu, aku tahu aku salah. tapi...tapi aku takut, aku takut sendirian." gumam Daychi membuat Nyonya Mieng yang baru saja datang bersama Tuan Khang seketika diam melihat putranya.


"D..Daychi!" lirih Nyonya Mieng membekap mulutnya tak percaya melihat keadaan Whuang dan putranya. Tubuh wanita itu nyaris membiru membuat pandangan yang miris.


"Kalian!!! kalian lakukan sesuatu!!! tolong dia!!! tolong, istriku!!!!" Daychi histeris saat Dokter Taname melepas selang oksigen di tenggorokan Whuang dengan mata berkaca-kaca melihat wajah damai Nonanya.


"Ka..kau punya solusinya. kan? kalian.. kalian Dokter Profesional!! lak..lakukan sesuatu. tolong dia!"


"Sersan! sudahlah!"


"Apa yang kau bicarakan? bajingan!!"


"Daychi!!!" mereka tersenyak saat Daychi meninju bahu Dokter Taname keras sampai tersungkur ke lantai. Tapi, mereka mengerti karna sulit bagi mereka mempercayai jika ini akhir dari sosok jelita milik Sersan mereka itu.


"W..Whuang, Sayang! kau..kau tenang saja. tak akan ku biarkan mereka merebutmu. kau tak akan meninggalkan aku." bisik Daychi menggulung tubuh Whuang dengan selimut memasang kembali alat bantu pernapasan itu.


Daychi seperti orang kehilangan akal berbicara soal masa depan padahal wanita yang telah terpejam dihadapannya. Ia tampak menyebutkan rencananya yang sudah ia susun dari saat Whuang ingin bercerai darinya kemaren.


"Bagaimana dengan janin-nya?" tanya Tuan Khang membuat Dokter Lizel terdiam. Ia sempat menyuntikan obat penguat kandungan saat mengetahui wanita itu hamil.


"Untuk itu. kami harus melakukan pemeriksaan, tapi. masalahnya. Sersan tak akan mau Nona di sentuh orang lain." lirih Dokter Lizel menghapus air matanya yang masih menetes.


"Setelah pemeriksaan. segera siapkan pemakaman-nya."


"S..Suamiku." lirih Nyonya Mieng mentap Tuan Khang dengan sendu. Wajah datar Tuan Khang terlihat sulit di tebak apa pria itu memiliki hati atau tidak melihat kerapuhan putranya.


"Ini pilihannya. mau tak mau harus Daychi harus memakam-kannya!"


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2