
Mobil silver mewah itu melesat masuk kedalam Gerbang besar Kediaman Yuchin yang tampak begitu megah dan luas didominasi warna putih yang terkesan Elegan. Pilar-pilar kokoh itu tegak menjulang menjadi topangan angkuh.
Para pengawal berjejer dengan tampang sangar dibaluti Jas lengkap dan kacamata hitam itu berdiri tegap membiarkan Mobil Whuang melewatinya.
"Cih. bangunannya masih tampak menggiurkan." gumam Whuang berdecak kagum menghentikan mobilnya tepat didekat lantai luar.
"Nona!"
"Apa Lien ada?"
Tanya Whuang membuka pintu mobil menatap salah satu pengawal yang mendekatinya. Kay meloncat keluar bersiaga semua tempat disekitarnya.
"Kenapa anda datang kesini?"
"Hm? pertanyaan macam apa itu?"
Whuang berdiri elegan menenteng tas kecil di jari lentik indah itu serta mengibas sedikit rambut panjang harumnya menguarkan aroma Floral yang memukau.
"Anda tak bisa masuk jika tak ada undangan resmi."
"Ouh. walau aku istri salah satu Tuan Muda disini?"
Pengawal itu tampak diam tapi mereka tak kuasa melawan kehendak Tuan Besar Khang yang tak ada hubungan baik dengan Tuan Muda Iblis tampan itu.
"Maaf. tapi ini aturan yang ditetapkan Tuan Besar Khang. tak ada yang sembarangan orang yang tak berkepentingan bisa masuk."
"Cih! Ichi memang tak berguna."
Batin Whuang kesal. Padahal ia ingin sekali membuat kekacauan didalam sana apalagi ia tahu jika Nenek Peot itu diam disini.
"Baiklah. aku akan menelfon suamiku, mungkin Tuan Besar bisa memberi izin."
"Maaf. tapi kami hanya menjalankan tugas."
"Baiklah. aku..."
"Menantu!"
Mereka langsung menoleh ke pintu utama yang megah hingga terlihatlah Nyonya Mieng yang menatap lembut Whuang dengan wajah cantiknya.
"Nak!"
"Ibu!"
Whuang mendekat melewati Pengawal itu. Memasang wajah ramah dan begitu bahagia.
"Kenapa baru sekarang? padahal kami sudah lama menunggumu."
"Benarkah?" tanya Whuang menerima pelukan hangat Nyonya Mieng yang mengangguk tersenyum mengelus punggungnya.
"Nak. apa kau baik-baik saja?"
"Aku sehat. Bu! bagaimana denganmu? kau semakin cantik saja." puji Whuang disertai senyuman indah membuat suasana mencair.
"Kau bisa saja. hm? kau juga sangat cantik. apa aku akan segera menimang cucu?"
Whuang agak terhenyak tapi ia segera tersenyum tak menjawabnya. Ia memilih menatap ke arah pintu seakan mencari orang lain.
"Dimana Ayah mertua?"
"Suamiku belum pulang dari pekerjaannya. maklum akhir-akhir ini dia dan Lien sibuk, yah. kita para wanita tak akan mengerti." jawab Nyonya Mieng santai seraya mengiring Whuang masuk.
"Nak! dimana suamimu?" Whuang langsung menoleh tak melepas senyumnya.
"Dia ada pekerjaan. Bu! tadi aku menelfonnya dan dia sangat cerewet."
"A..Apa?"
Nyonya Mieng menghentikan langkahnya spontan dengan wajah terkejut mendengarnya.
"Kenapa? Bu!" dahi Whuang mengkerut bingung.
"A... itu, biasanya Daychi selalu diam. dia tak pernah punya waktu untuk bicara terlalu panjang pada orang lain."
"Ouh. tapi begitukah?" tanya Whuang seakan tak tahu tapi didalam hatinya ia mengumpati sikap Daychi yang kelewat batas.
"Kau tak tahu. Nyonya! jika putramu punya kerongkongan ganda hingga selalu membentakku."
__ADS_1
"Yah. Daychi selalu emosi dan bertindak kasar. apalagi terhadap apa yang dia tak suka."
"EGOIS!" gumam Whuang geram tanpa sadar mengucapkannya membuat Nyonya Mieng terkekeh menyadarkan Whuang.
"M..Maksudku bukan itu. tapi..."
"Sudahlah. itu benar, dia Pria yang Tempramen." ujar Nyonya Mieng santai menepuk bahu Whuang lembut. Wanita paruh baya itu seakan menganggap Whuang teman sekaligus anak baginya.
"Maaf. Bu!"
"Tidak apa. itu aku mengerti,. eh... kucing cantik ini punya siapa?"
Nyonya Mieng menggendong Kay dengan gemas menarik senyuman hangat Whuang karna ada yang perduli dengan sahabatnya itu.
"Itu Kay. Bu! dia temanku dan aku harap Ibu menyukainya."
"Tentu. bulunya sangat tebal dan halus, kau pasti begitu menyayanginya sampai se cantik ini." tiba-tiba kalimat itu membuat Kay membelo jengah. Kenapa setiap orang selalu memujinya cantik padahal tidak begitu?!
"Kakak ipar!!"
Suara lantang dari tangga atas. Whuang menoleh dengan Kay yang ada di gendongan Nyonya Mieng tampak menatap tajam kearah sana.
"Mey!"
"Kakak. apa Kakak melihat antingku yang..."
"Ini!"
Degg...
Mey terkejut setengah mati dengan mata melebar melihat kearah sumber suara. Mulutnya sedikit terbuka dengan langkah terhenti dianak tangga menarik seringaian licik Whuang.
"Ini antingmu. Kan?"
"K..Kau..."
Mey belum keluar dari rasa tak percayanya membuat Nyonya Mieng heran menatap bergantian Adik ipar dan menantunya itu.
"Ada apa? kalian saling kenal?"
"Tidak juga. Bu! aku hanya melihat sekilas saat di Kediaman suamiku." jawab Whuang masih tersenyum licik menggenggam satu anting berwarna biru berlian yang malam itu ia tarik dari telinga Mey yang menyerangnya.
Mey yang tersentak di ujung sana seketika kembali sadar dengan berusaha rileks melangkah mendekati mereka.
"Ini. coba lihat dengan benar!"
"Berikan!"
Whuang menyodorkannya tapi saat tangan Mey mau mengambilnya dengan cepat Whuang jatuhkan bersamaan dengan tubuhnya yang seakan lemas.
"Whuang!" Nyonya Mieng merengkuh Whuang yang ingin tumbang dengan Mey yang terkejut saat antingnya sudah diinjak Whuang.
"B...Bu!"
"Sialan!!!" geram Mey geram menatap membunuh Whuang yang membuat drama sehebat mungkin.
"K..kepalaku pusing."
"A..Apa? ya sudah. kau harus istirahat dan panggilkan dokter. Mey!" perintah Nyonya Mieng pada Mey yang mengepal dengan dada naik turun menahan emosi yang membara.
"B..Bu. sepertinya aku bisa istirahat di sofa saja."
"Tapi..."
"A..ss..."
Mau tak mau Nyonya Mieng membantu mengiring Whuang menuju sofa tapi Heels Whuang sudah menginjak kuat sampai anting itu patah memantik api amarah didalam diri Mey.
"Pelayan!!! kalian ambil air putih!"
"Baik. Nyonya!"
Para pelayan berlarian ke Dapur utama sementara Nyonya Mieng mendudukan Whuang ke sofa disudut ruangan yang sangat empuk dan rileks.
"Nak. kau jangan membuatku cemas, biarkan Dokter kesini. ya?"
"Bu! aku hanya kurang istirahat, hanya itu."
__ADS_1
Nyonya Mieng yang tampak cemas menggenggam tangan lentik Whuang lembut. Wanita itu menanyainya dengan intens.
"Apa benar tak apa?"
"Hm. benar Bu!"
"Baiklah. kah tunggu disini aku akan ambilkan minyak hangat."
Whuang mengangguk memejamkan matanya dengan Nyonya Mieng menyuruh Mey mendekat sementara untuk menjaga Whuang.
"Mey! duduk disini sebentar, aku ingin keatas."
"Sial!!! itu pasti hanya rencana liciknya."
Batin Mey mengumpat memaksakan langkahnya mendekat meredam amarah. Whuang menyeringai menyipitkan mata abunya saat Nyonya Mieng sudah melangkah ke tangga lantai atas dengan pelayan datang membawa segelas air.
"Nona! ini airnya."
"Kesini!"
Pelayan itu mendekat membawa nampan. Wanita muda itu mengangkat gelas untuk diberikan kearahnya tapi Whuang pura-pura lemas menyenggol gelas itu.
"N..Nona!!" teriak para pelayan terkejut saat air itu tumpah ke wajah Mey yang langsung berdiri dengan wajah merah dan kepalan tangan mengeras.
"Kauu .."
"Nona! Nona saya..saya tak sengaja. saya..."
Mey mengayun tangannya ingin menampar pelayan itu tapi Whuang dengan cepat berdiri mencengkalnya kuat sampai mata mereka membulat sempurna.
"Sialan!!! lepas!!!"
"Lepaskan sendiri. itupun kalau kau bisa." desis Whuang berbisik mencengkram kuat lengan Mey seakan berniat mematahkannya. Sekuat apapun Mey mencoba tapi nihil. Tangan Whuang seakan menjadi karet di kulitnya yang luka akibat cakaran Kay malam itu.
"Lepas!!! kau memang berani. ha???"
"Siapa bilang aku takut. hm?" jawab Whuang menyeringai licik semakin menguatkan cengkramannya. darah di luka Mey yang belum kering langsung keluar membuat mereka syok.
"Nona!!"
"Ini masih belum berakhir " bisik Whuang lalu mendorong Mey ke lantai hingga jatuh dengan keras membuat satu pelayan tadi memucat dengan tubuh gemetar.
"Mey!"
Nyonya Mieng yang baru tarun seketika terkejut melihat Mey jatuh ke lantai dengan wajah dan rambut yang basah. Sangat mengenaskan.
"K..Kakak!"
"Ada apa? kenapa begini?" Whuang hanya menatap datar Nyonya Whuang yang membantu Mey berdiri.
"Whuang. kau..."
"Bu! tadi pelayan ini tak sengaja menumpahkan air dan dia ingin menamparnya, aku berusaha melerai tapi.."
Whuang diam dengan wajah dibuat menyesal. Ia kembali duduk menatap penuh rasa bersalah Mey yang sudah membara ke ubun.
"Dia sangat pandai bermain suasana."
"Benarkah? Mey! tak seharusnya kau menampar." ujar Nyonya Mieng masih lembut membuat Mey geram segera berdiri dan meninggalkan tempat itu. Ia melempar tatapan penuh kebencian kearah Whuang yang mengedipkan mata cantiknya.
"Bu! aku minta maaf."
"Sudahlah. Mey memang sulit menahan marah. emm.. bagaimana dengan tubuhmu? apa sudah baikan?"
Nyonya Mieng memeggang pundak Whuang yang memijat pelipisnya.
"Ntahlah. Bu! memang akhir-akhir ini aku sering begini." gumam Whuang membuat Nyonya Mieng terdiam dengan wajah kosong menatap perut datar Whuang.
"N..Nak!"
"Iya. Bu?"
"Mungkin saja kau Hamil!"
Duarrr....
....
__ADS_1
Vote and Like Sayangku...