
Mobil mewah Trevita itu melaju pesat membelah jalanan yang seperti biasa masih saja ramai dipadati mobil-mobil masyarakat Beijing di jam 8 malam ini.
Para anggota mengawal mobil yang membawa Daychi dan Sam dalam satu baja mewah itu. Sepanjang sejarah, baru kali ini dua pemimpin Klan yang begitu bermusuhan sampai mau satu mobil dan tak ada pertengkaran sama sekali.
"Kau pasti baik-baik saja."
Batin Zuan mencoba menenangkan hatinya. Ia duduk disamping Fagan yang tengah menyetir dan Daychi bersebelahan dengan Sam dengan gaya yang terlihat lebih mendominasi akan kegusarannya.
Ia terlihat tak tenang terus menatap ke luar jendela mobil bahkan, sesekali mengusap wajahnya kasar membuat Sam hanya diam tak membuka suara.
"Kau bisa lebih cepat??"
"Ini sudah cepat!" jawab Fagan mengerti. Malam ini mereka lalui dengan panjang karna Sersan Daychi itu sudah tak sabaran apalagi mendengar kabar mengejutkan dari Zuan ia tak bisa duduk diam.
"Zuan! hubungi semua yang ada disana."
"Sebentar. ini sudah masuk!" sambung Fagan yang sudah sampai di lingkungan elite Apartemen mewah mereka.
Daychi mulai tak sabaran sampai merapat ke pintu mobil yang masuk kedalam Gerbang utama menuju Loby.
"Aku turun disini!"
"Sersan!"
Daychi sudah melompat keluar pintu mobil dan langsung berlari masuk ke pintu depan sana sedangkan Fagan agak melongo memasukan mobil ke Loby.
"Kenapa dia cepat sekali berubah-ubah?!"
"Orang gila memang begitu." jawab Sam datar juga keluar saat mobil terhenti.
Sementara Daychi. Ia tengah berlari menuju lantai kamar tempat Whuang berada. Jantungnya sudah memberontak merasakan keberadaan wanita itu disini.
"Lantai 234!"
Daychi langsung masuk ke Lift dengan anggotanya yang menjaga di luar. Wajah tampannya terlihat bergurat resah takut jika sesuatu terjadi pada wanita itu.
"Cepatlah!!!" Daychi memukul pintu Lift yang ia rasa begitu lamban. Kau kenapa? apa yang terjadi pada-mu sampai jatuh sakit?
Batin Daychi terasa tercabik. Zuan bilang kalau Whuang kambuh lagi, tapi dia tak sempat menjelaskan apa yang terjadi.
"Siall!!!"
Ia terus mengumpat mencengkram kepalanya berusaha tenang tapi tak bisa. Rasa takutnya lebih besar dari ketenagan itu.
"K..kau... kau tak bisa meninggalkan aku." gumam Daychi menekan diri. Saat pintu Lift terbuka ia langsung berlari keluar kearah koridor dimana sudah dipenuhi beberapa orang bawahan Sam dan Klannya.
"Sersan!"
"Dimana? dimana dia?"
Daychi menatap Kepala Komando yang ada sudah datang kesini. Wajah pria itu terlihat khawatir membuat dada Daychi semakin kusut.
"Dimana dia??? kenapa kalian diam???"
"Nona Whuang masih di periksa. Dokter!"
Daychi melewati mereka dan masuk ke pintu ruangan yang telah terbuka memperlihatkan Dokter Taname dan Dokter Dige yang tengah berbicara serius.
"Kalian!"
"S..Sersan!"
"Dimana dia? apa yang terjadi?"
Mereka saling pandang dengan pikirannya sendiri. Dokter Dige mengambil nafas dalam mendekati Daychi yang merasa sangat cemas.
"Nona masih belum bisa di temui!"
"Kenapa???" geram Daychi dengan suara sampai ke ruangan tempat Whuang di rawat.
Sesosok wanita yang tengah di infus dengan alat bantu pernafasan melekat di hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Whuang!"
Lirih Natalia duduk di samping ranjang menatap sendu wajah pucat pasih yang tampak sudah sadar tapi tak begitu baik.
"Nona! ayo kita ke..." Dokter Lizel menghentikan ucapannya saat pandangan Whuang tertuju padanya.
"J..jangan beritahu dia."
"Dia berhak tahu. Whuang!" sangkal Natalia tak setuju tapi Whuang tak mau. ia ingin sendirian dan hanya ingin sendiri.
"A..aku baik-baik saja." jawab Whuang walau suaranya bergetar. Satu kenyataan yang entah itu kabar bahagia atau tidak membuat hidupnya semakin terasa hilang.
"Whuang! kau tak bisa mengemban ini sendirian."
"A..aku ingin sendiri!"
"Kau..."
"Pergilah! aku...aku tak apa." jawab Whuang dengan tatapan memohon pada Natalia yang diam.
"A..aku bisa menjaga diriku sendiri. kau ..kau pergilah." sambungnya kagi dengan cengkraman menguat ke selimutnya.
Natalia menghela nafas mengangguk memeggang lengan Whuang lembut.
"Pikirkan lagi. hm?"
"Hm."
Natalia berlalu pergi keluar pintu hingga barulah bibir Whuang bergetar menahan desakan air mata dan rasa putus asa di benaknya.
"K..kenapa harus sekarang? k..kenapa?"
"Nona!"
Dokter Lizel melemah melihat Whuang menangis mengelus perutnya. Kenapa saat hidupnya sudah diambang-ambang si kecil tak berdosa itu harus hadir ditengah bencana ini?!
"A..aku t..tak akan bisa. t..tubuhku tak lagi mampu menahan ini, aku...aku harus apa? a..apa yang..hiks, apa?"
"Aku ..aku mohon. s..selamatkan ini, k..kalian...kalian bisa memindahkannya kemanapun. atau...atau kalian.."
"Kami akan berusaha. kami akan sekuat tenaga menyelamatkan anda dan.."
"Waktuku tak cukup!!!" bantah Whuang berlinang air mata. Ia tak ingin membawa anak ini pergi bersamanya, ia tak tega melakukannya.
"A..aku mohon, kau bisa-kan? lakukan saja apapun. aku ..aku tak apa, selamatkan dia."
"N..nona. an..anda jangan begini." lirih Dokter Lizel sudah tak sanggup melihat semuanya. Ia memang mengakui kalau tubuh Whuang sudah sangat sekarat dan sangat sulit menolongnya tapi bukan berarti mereka menyerah.
"Lalu aku harus apa? yang kalian lakukan ini membuang-buang waktu. aku tahu aku ...aku akan mati cepat atau lambat ini sama saja. tak ada yang bisa memulihkan ini kembali, kau mengerti?" jelas Whuang memberi pengertian agar segera membunuhnya atau ambil rahimnya.
"Kami tak bisa!" tegas Dokter Lizel tak sanggup melakukan itu.
Whuang memejamkan matanya menenagkan hati yang sudah kacau. Keputusan sangat berat yang ia ambil dan ia tak akan menyia-nyiakannya.
"Pergilah!"
"N..nona!"
"Pergi!!!!" bentak Whuang hingga membuat Dokter Lizel mengerti segera pergi meninggalkan Whuang yang langsung menahan isakan.
"K..kenapa? kenapa h. harus sekarang?"
Tadinya Dokter memeriksa kejanggalan dalam tubuhnya. dan ternyata ia sudah mengandung selama 2 minggu dan kandungannya sangat lemah kemungkinan tak akan selamat melihat kondisi Whuang yang semakin parah.
"A..aku ..aku tak ingin membunuhnya!!! aku ..aku tak mau, hiks! a..aku tak mau membawanya."
Isak Whuang mencengkram perutnya. Aku mohon. aku mohon biarkan dia hidup lebih baik dari aku, aku...aku hanya ingin dia bisa melihat dunia ini. w..walau tanpa aku.
"B..biarkan d..dia hidup, aku...aku mohon, hiks! j..jangan buat dia sepertiku."
Whuang menangis menahan luka dan sesaknya sendiri tanpa tahu jika sedari tadi manik elang itu sudah menatapnya nanar dari arah pintu.
__ADS_1
"K..kau..."
Tubuh Daychi lemas bersandar ke ambang pintu mendengar semua itu. Tangisan Whuang tertahan menekan luka di hatinya memikirkan nasib yang belum tentu baik.
"Dia tak pernah memikirkan hidupnya. satu yang ku tahu saat melihatnya pertama kali." Natalia berdiri didekat Daychi yang tak lagi mampu berdiri dan berjongkok didekat pintu.
"Dia berusaha kuat, walau aku melihat jelas kalau dia tak mampu lagi bertahan."
"A..apa yang ku lakukan.."
Batin Daychi mencengkram dadanya kuat. ia tak menyangka Whuang menyembunyikan hal sebesar ini darinya bahkan, karna dia hidup wanita itu semakin sengsara.
Natalia menatap Daychi dengan sendu. Terlihat jelas di wajah Kakaknya penyesalan dan rasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Dia datang menemuiku!"
Daychi langsung tersigap memandang Natalia yang menghela nafas dalam.
"U..untuk?"
"Agar kau bisa mengungkapkan perasaan-mu padaku."
Daychi langsung tertikam. Ia ingat malam itu Whuang tampak tersakiti akan ungkapan Cintanya.
"A..aku ..."
"Dia mencintai-mu. Kak! dia meminta-ku untuk membiarkan-mu bicara."
Daychi perlahan berdiri menatap Whuang yang terlihat masih menangis memberinya tikaman batin. Kedua tangan Daychi mengepal menahan busungan sesak didadanya melangkah masuk.
"K..kenapa? hiks, aku...aku mau d..dia ada."
"W..Whuang!"
Degg...
Panggil Daychi lemah membuat tangisan Whuang langsung tercekat membuka matanya yang melebar sempurna.
"K..kau.."
Daychi tak bicara. ia mendekati ranjang dengan langkah lunglai dan kaku seakan sudah ada jarak diantara keduanya.
"Kenapa kau kesini?"
Tanya Whuang datar seraya mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah terus-menurus dengan selimut menutupi luka-luka di tubuhnya.
"K..kau... kau keluar! aku ..aku mau tidur!" elak Whuang terus mengusap hudungnya bahkan selang itu sudah ia lepas dengan mata sudah berkaca-kaca.
Daychi tak bicara. ia berdiri tepat disamping ranjang membuat Whuang semakin tak mampu membendung seakan sesak didadanya.
"Pergilah!" Whuang mulai susah mengontrol diri menjauhi Daychi yang terasa dicabik dengan kondisi wanita ini.
"P..pergilah, d..diluar itu.."
"Kau.."
"Kau mengerti bahasa manusia. kan??? pergi dari sini!!!!" bentak Whuang mendorong Daychi agar jauh tapi pria itu malah memeluknya erat membuat Whuang sudah tak mampu bertahan.
"Pergi!!!!! pergi dari sini!!! hiks, aku ..aku membencimu!!! aku benci, kau!!!"
Daychi hanya diam membiarkan Whuang memekul dadanya kuat meluapkan rasa sakit dan luka itu.
"Pergi!!!! aku..aku tak butuh kau!!! aku ..hiks, aku ..aku bisa melakukan semuanya sendiri. a..aku bisa." isak Whuang mencengkram dada bidang Daychi yang hanya diam. Tak satu kata-pun yang lolos saat merasakan kesakitan itu menyatu dengannya.
....
.....
Vote and Like Sayang..
Tenang aja ya say. author lagi mikir buat sad atau happy🤭
__ADS_1