
Mobil hitam pekat mewah itu menembus embun yang menerawang disepanjang jalan. Ia memacu kendaraannya secepat mungkin masuk ke Gerbang Rumah Sakit dengan penjagaan para anggota tetap teliti ditengah malam buta ini.
"Sersan!"
Para anggota memberi salam hormat membungkukkan setengah badannya saat sosok yang sudah cemas setengah mati itu keluar dari mobil yang terhenti.
Daychi melangkah cepat menuju pintu rumah sakit yang dijaga oleh 4 anggota sekaligus. Mereka terlihat memucat tapi tetap berwajah tegas.
"Buka pintunya!" suara Daychi yang dingin membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Maaf. tapi kami tak bisa, Sersan!"
"Apa-apa'an kalian ini? Buka pintunya!!" geram Daychi menggertakan giginya tapi mereka masih diam tak bergerak sama sekali.
"Maaf, Sersan! ini perintah Nona!"
"Shitt!"
Umpat Daychi mengusap wajahnya kasar. Rembulan diatas sana tampak jelas menyinari lingkungan rumah sakit yang sunyi dengan kerlapan lampu neon menyala terang.
"Nona melarang anda untuk masuk. ini perintah!"
"Lalu aku siapa? aku pimpinan kalian!!" geram Daychi tak menyangka para anggotanya akan memperlakukannya begini. Apa ini rasanya di tahan anggota sendiri?
"Tapi, kalau Nona marah bagaimana? Sersan juga akan menghukum kami." ucap mereka membuat Daychi membuang nafas kasar.
"Dia ini memang benar-benar."
Daychi menelfon nomor Eva karna Whuang belum menyimpan ponselnya. Tapi, hanya suara operator yang menjawab membuat Daychi frustasi di tempat.
"Buka saja! dia tak akan tahu." sangga Daychi sudah panas dingin disini. Lagi pula ia sangat ingin bertemu wanita itu apalagi sekarang tengah marah.
"Tapi..."
"Buka saja!"
Daychi menerobos ingin masuk tapi ia terkejut saat ia ditahan untuk membuka pintu kaca ini. Bahkan, Daychi di dorong menjahui pintu masuk.
"Kauu..."
"Maaf, Sersan! Maaf!" mereka tetap meminta maaf membungkuk dihadapan Daychi yang serba salah. Ia masuk secara paksa itu sangat mudah tapi bagaimana jika nanti Whuang semakin marah padanya?! tapi, jika tak masuk ia tak tenang berdiri disini.
"Ehm!"
Suara deheman dari dalam sana membuat mata Daychi menerobos kaca. Seketika pelupuk netranya melebar melihat siapa yang telah berdiri didalam sana dengan wajah angkuh.
"Kauu!!!"
"Apa? kau tak mau masuk. Kak?" tanya Lien menyeringai seakan memancing hawa panas Daychi yang terperangkap diluar sana.
"Apa yang kau lakukan di sini?? keluar!!!" bentak Daychi tapi Lien hanya santai melangkah mendekat. Ia aman karna ada pintu rumah sakit berlapis kaca tebal yang memperlihatkan segalanya.
"Kak! tadi Whuang meminta-ku kesini."
"Sialan!!! kau tak perlu datang!!!" maki Daychi dengan mata berkobar rasa tak suka. Yang benar saja Lien disini? kenapa Whuang memanggilnya?
Rasa cemburu itu memenuhi dada bidang Daychi yang behawa panas.
"Sayang sekali. kak! kami sudah lumayan dekat."
"LIEN!!!!"
Daychi langsung menarik gagang pintu kuat hingga jebol dari kuncinya. Kaca itu juga retak saat diterobos Daychi kasar membuat mata Lien membelalak.
"S..sial!!" umpat Lien lalu berlari menaiki tangga menuju lantai kamar rawat Whuang. Daychi juga mengejarnya dengan rasa cemburu yang berakar sejak lama.
__ADS_1
"KESINI KAU!!!"
"Whuang!!!"
Lien terus berlari menapaki tangga sesekali melihat Daychi yang sudah tampak mendekat membuatnya semakin
menambah kecepatan langkahnya.
"KAU MEMANG INGIN MATI. HA??"
"Kau yang membuat ulah!! kenapa menyalahkan-ku??" teriak Lien terlihat sudah tak bisa berlari jauh mengimbangi langkah lebar Daychi yang tak bermasalah sama sekali.
"Siall!! kalau begini aku bisa tertangkap." desis Lien berusaha mencapai lantai kamar Whuang hingga ia sudah melihat pintu ruangan rawat milik wanita itu.
"Sedikit lagi." gumam Lien hampir mencapai pintu dan...
Brughh...
"Kak!!" pekikan tertahan Lien saat bahunya sudah di pukul sampai terjerumus langsung menabrak pintu ruangan itu sampai tubuh Lien ditindih Daychi.
"Kau memang ingin ini-kan?" Daychi memelintir satu lengan Lien kebelakang membuat ringisan keras itu muncul seraya menepuk lantai.
"A..Ampun! Ampun, Kak!"
"Kau tadi begitu berani, bukan?" geram Daychi semakin menguatkan pelintirannya membuat Lien terasa mau menjerit sekeras mungkin karna lengannya terasa nyeri dan ingin berputar.
"K...kaaak!"
"Kemana nyali-mu yang barusan?!"
"A..aku...aku menyerah, ampun!" pinta Lien dengan wajah merahnya menahan sakit barulah Daychi melepasnya seraya bangkit merapikan jaketnya kembali.
"Cih!"
"Kakak!" gumam Lien kembali duduk dengan kikuk saat tatapan menajam dari arah Bangkar sana menghujam keduanya.
"Hm."
Lien meninjuk arah belakang Daychi yang segera menoleh hingga ia tersentak melihat singa betina itu tengah berbaring diatas ranjang menatap mereka dengan penuh intimidasi.
"S..Sayang!"
Whuang hanya diam melempar pandangan kearah Jam dimana sudah pukul 1 malam. Dan lagi-lagi yang membuat kekacauan adalah orang yang sama.
"Kau masih disini?"
"Sayang aku..."
"Lien!" panggil Whuang memperkelas arah ucapannya membuat Daychi menoleh kearah Lien yang berdiri seraya memijat bahunya.
"A.. itu, tadi suamimu yang menghalangiku keluar."
"Kauu..."
"Apa? kau yang membuat keributan." timpal Lien kesal. lagi-lagi Kakak tak tahu sakit adiknya itu kembali melukai lengannya.
"Sayang! aku tak begitu, maksudku aku.."
"Kau pulanglah, ini sudah malam!"
"Pulang kemana?" gumam Daychi tak mengerti tapi nyatanya yang diajak bicara itu hanya Lien yang ke girangan melihat wajah panas Daychi.
"Emm.. baiklah. tapi, kau menyukainya-kan?" tanya Lien membuat tanda tanya besar di otak Daychi.
"Menyukai apa? apa yang kalian bicarakan?" Daychi seperti orang kebingungan tapi Lien hanya acuh menatap Whuang yang sama sekali tak memandang Daychi.
__ADS_1
"Aku suka, lain kali kita lakukan lagi!"
"A. apa?? apa yang dilakukan?" tanya Daychi frustasi menatap Whuang yang tetap setia dengan wajah datarnya. Lien menyeringai mengedipkan matanya memancing amarah Daychi.
"Kau memang ingin mati disini!"
"Whuang! lain kali lagi, ya??" ucap Lien sambil berlari keluar membuat Daychi segera menutup pintu kamar itu rapat diiringi nafas memburu.
"Dia memang benar-benar." gumam Daychi lalu berbalik memandang Whuang yang sudah memejamkan matanya tak memperdulikan kedatangannya.
"Sayang!" panggil Daychi melangkah mendekati ranjang. rasanya kaki itu sudah tak bertulang dan lemas mendudukan diri disamping Whuang yang masih saja diam.
"Kau tidur?"
"Hm."
"Kau belum tidur. ayolah!" rayu Daychi membelai surai panjang itu lembut. Hati dan perasaannya masih terganggu tentang pembicaraan tadi.
"Sayang!"
Whuang hanya diam memejamkan matanya. Ia tadi memanggil Lien kesini karna ingin tahu Daychi kemana dan ada urusan lain yang penting. tapi, ia masih kesal dengan apa yang dilakukan pria ini seenaknya.
"Sayang, Whuang! kau bicaralah, aku tahu aku salah tapi...tapi kau.." ia terdiam sesaat seakan menahan emosinya.
"Kau seharusnya tak perlu memanggil pria lain kesini." sambung Daychi terdengar lirih tapi geram. tapi, Whuang hanya diam bahkan. tangannya ditepis begitu saja membuat hati Daychi mencolos.
"Sayang!"
"Kenapa kau pulang?"
Daychi berbinar mendengar satu kalimat itu keluar walau hanya dengan nada yang dingin dan menyeramkan.
"Maaf, tadi aku lupa."
"Lupa? kau melupakan anakmu dan aku?"
Daychi menggeleng tapi Whuang sudah terlanjur emosi mendorong Daychi sampai turun dari ranjangnya.
"Keluar!"
"S..Sayang!"
"KELUAR!" tekan Whuang melotot tajam membuat Daychi menarik nafas dalam. Ntah kenapa ia sudah tak bisa membentak wanita ini lagi?
"Apa? kau mau marah? mau menarik rambutku?"
"Tidak. kenapa kau jadi marah-marah begini?" tanya Daychi mulai tampak keras kepala. tapi sejujurnya ia hanya ingin Whuang tak berani padanya.
"Ouh. jadi kau mau aku diam, begitu?"
"A.. tidak, Sayang! aku hanya.."
"JANGAN TIDUR DI RANJANGKU." Tekan Whuang lalu menyelumbungi dirinya dengan selimut sampai ke ujung kepala.
Daychi hanya bisa menghela nafas. kalau sudah begini Whuang mana bisa di bujuk lagi, wanita itu memang berbeda.
"Hey!"
Ia beralih menyapa Ranjang bayi takbjauh dari Whuang. Si kecil tampan itu terlihat masih tertidur walau ada banyak hal yang terjadi di sekitarnya.
"Bantu Dady membujuk. Momymu! nanti akan Dady berikan senjata model terbaru. bagaimana?"
Whuang hanya diam menahan senyuman. Ntahlah, setelah mendengar cerita Lien ia sadar jika ia harus mengalihkan pria ini dari tekanan itu.
"Aku tak tahu kenapa kau menjauh tapi. aku mengerti kau tak mau membiarkan dia mendekati putra kita. kau ayah yang baik, hanya saja caramu berbeda."
__ADS_1
....
.Vote and Like Sayang..