Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Mawar kering dan satu foto!


__ADS_3

Kedua mata elang itu saling berbenturan. Wajah yang sama-sama keras dengan keangkuhan yang meninggi terlihat dipaparkan dari jarak yang tak begitu jauh.


Daychi diam masih dengan tampang kerasnya. Itu hal biasa bagi seorang Sam Austin Bilions yang sudah mengenal sosok iblis satu ini.


"Aku tak mengerti ucapanmu." jawab Daychi datar tapi mengundang senyum samar Sam yang membuang nafas halus.


"Tak mengerti atau tak ingin mengerti?!"


"Cih!"


Daychi langsung bergegas untuk pergi ke Lift tak ingin meladeni Sam yang hanya akan membuatnya emosi.


"Kenapa kau terlalu na'if?!"


Langkah Daychi terhenti. Wajahnya mulai kelam mendingin dengan rahang mengeras menahan sesuatu yang keluar dari amukannya.


"Kau mengharapkan sesuatu yang telah menjadi milikku!"


"Sampai kapanpun. aku akan tetap mencintainya."


Sam diam. Ia melihat Zuan tampak tergesa-gesa tadi saat ingin mengambil berkas ke lantai kamar. Menurut anggotanya ada sesuatu yang terjadi di Kediaman Daychi dan memang ada wanita disana.


"Kau yang membuatku sadar tentang perasaanku! jadi, jangan buat Sam yang ke-2."


"Kau lupa?" Daychi berbalik memasukan kedua tangannya kedalam saku celana menatap sinis Sam yang santai.


"Aku tak paham soal cinta yang membuat kau seperti kucing, itu sangat MENJIJIKAN." Tekannya lagi begitu sadis.


"Kau memang tak berubah! tapi, yah. aku suka jadi kucing untuk Istriku."


Ucap Sam lalu berbalik melangkah pergi ke arah kamarnya untuk mengambil berkas kerjanya membuat Daychi mengumpat sungguh geram.


"Sial!!! kenapa dia selalu saja mengejekku?!" Daychi mengusap wajah frustasi. Tapi, ia memang masih mencintai Natalia dan ia tak munafik, ia tak mau Whuang pergi. Ia rasa mereka bisa hidup seperti ini selalu bersama.


"Aku benar. aku memang mencintai Natalia, tapi bukan berarti melepas Whuang. Dia yang datang padaku lalu kenapa pergi seenaknya?! tak akan semudah itu." sambungnya lagi begitu egois tapi itulah Daychi. Ia sama sekali tak pahan soal urusan hati atau wanita.


.........


Pandangan penuh harap itu selalu terlempar di pintu utama sana. ini sudah menginjak sore kenapa Daychi belum juga datang?! Semalaman Whuang menunggu sampai ketiduran di sofa ruang tamu dan sekarang wanita itu malah masih menunggu.


"Kenapa belum juga datang?" tanya-nya mondar-mandir sudah terlihat cantik dengan Dress ketat warna coklat tua sepaha tanpa lengan hingga seperti kemban membalut tubuh indahnya dipadu-padankan dengan balutan rompi berwarna hitam dengan rambut di urai tampak sangat cantik dan dewasa.


"Nona! anda makanlah dulu, makananya sudah dingin dari semalam anda belum makan." tawar Seung yang selalu menemani Whuang bersama Eva yang tampak hanya bisa diam berdiri dibelakang sofa.


"Kalian ini bagaimana? aku sedang gugup sekarang? apa Ichi akan besar kepala saat aku mengatakannya atau dia malah mengejekku." kesal Whuang kembali duduk diatas Sofa dengan wajah cantik di tekuknya. Tak ada lagi ruam-ruam merah yang perih itu dan hanya selayaknya kulit putih bak porselen seperti biasa.


Seung dan Eva saling pandang. Bagaimana jika Nonanya tahu jika sekarang Suaminya tengah berada di Kediaman wanita yang telah di cintai?


"Nona! anda sebaiknya istirahat. Mungkin Sersan ada urusan saat di perjalanan."

__ADS_1


"Cih, dia selalu saja begitu." gumam Whuang sudah tak bersemangat. Ia berharap Daychi akan menjawab sesuai ekspektasinya nanti.


"Tapi, selama menunggu Sersan kembali. ayo kita curi barang-barang di rumah ini! bagaimana?" ajak Eva tiba-tiba membuat Seung menyeringit.


"Kau yakin berani?" sinis Whuang bergaya elegan memelintir rambut lurusnya.


"Nona. saya ketagihan! lagi pula ini waktu yang tepat, selagi Sersan tak ada."


Whuang berfikir sejenak. benar juga, hampir seharian ia menunggu dan Daychi juga belum kembali. Sebaiknya ia mencari rezeki tambahan dulu.


"Baiklah. kalau kalian memaksa." berdiri menatap benda-benda di sekelilingnya. Ia bergerak cepat mengambil barang-barang berharga disana yang lebih unik dan membuat harga jual tinggi di pasaran.


"Kenapa kau membuat Nona kembali berulah? bisa saja nanti Sersan marah." decah Seung takut.


"Tak ada pilihan lain. ini bisa mengalihkan Nona sejenak, lagi pula tak mungkin Sersan akan pulang secepat ini. Kau ingatkan dia baru kembali setelah bertahun lamanya kesini?!" jawab Eva menghela nafas dalam sedikit lebih lega.


"Kalian menunggu apa???"


"Baik. Nona!!"


Mereka membantu Whuang berkeliaran mencari barang-barang. Mereka berpencar dengan Whuang yang melangkah ke tangga lantai atas.


"Aku yakin Ichi punya barang-barang berharga yang lebih dari yang dipajang disini." gumam Whuang menggenggam beberapa hiasan dinding emas itu meninggalkan Eva dan Seung di bawah sana.


Ia meraba-raba dinding atas dengan mata teliti dan sangat mahir mencari cela untuk mendapatkan uang.


"Kenapa masih belum ketemu? ini sangat menyebalkan." umpat Whuang melepas Heelsnya yang membuat pegal lalu melangkah gontai kemana saja kaki jenjangnya pergi.


"Kenapa ruangan-ruangan ini di kunci?"gumam Whuang menekan beberapa gagang pintu yang di kunci. Ia memilih mencari tempat lain yang lebih menarik sampai akhirnya Whuang sampai disatu pintu paling ujung dimana terlihat misterius.


"Apa isinya?"


Whuang meraba pintu kayu itu mencari cela membuka. Lagi-lagi di kunci seakan didalam sana terdapat hal yang sangat berharga atau penting.


"Tunggu! aku tak sebodoh itu Ichi." gumamnya lalu mengeluarkan jepitan rambut yang biasa ia gunakan di sela telinga. Ia mulai memasukan benda itu ke sela lubang kunci dan berusaha membukanya.


"Ayolah! terbuka dan beri aku jalan masuk." gumam Whuang terus memaksa hingga tak butuh waktu lama. Kelihaian Whuang akhirnya terbukti membuka benda itu membuatnya bersorak ria.


"Aku datang!!"


Whuang langsung masuk bersicepat kembali menutup pintu agar tak ketahuan. Ia perlahan berbalik melihat kearah ruangan yang tak terlalu luas dimana hanya ada deretan buku diatas lemari baca seperti perpustakaan dan meja disudut sana. Cahaya disini memang hanya memanfaatkan lampu ditengah langit-langit ruangan yang agak remang tanpa ada jendela atau fentilasi lain selain di atas pintu.


"Hanya buku?"


Sangat kecewa rasanya melihat isi dari dugaan istimewa yang sirna. Ada lemari Bir dan Wine juga yang berisi penuh di dekat meja sana.


"Apa istimewanya ini?! ternyata Naga Jantan itu punya minat baca yang lumayan." gumam Whuang melangkah gontai kesana masih memeggang tali Heelsnya santai melihat-lihat seisi ruangan.


"Apa ini ruang kerja khusus? atau ruang baca?"

__ADS_1


Whuang membolak-balikan sebuah kertas kosong diatas meja yang tampak rapi dan terurus. Ia beralih duduk di kursinya yang empuk membuat helaan nafasnya lega.


"Sangat membosankan."


Ia berusaha mencari hiburan dengan mengotak-atik laci meja. menarik dan mendorongnya sampai akhirnya Whuang melihat ada buku besar disana.


"Ini yang besar dari yang diatas meja."


Whuang mengambilnya perlahan. Dahinya menyeringit melihat buku seperti sebuah Album kenangan tapi ini tebal.


"Mungkin ini identitas Daychi! aku bisa tahu lebih jauh." gumam Whuang segera membukanya memperlihatkan halaman pertama yang buram dimana ada foto-foto anak kecil dan para orang dewasa sepertinya itu Tuan Khang dan Nyonya Mieng yang menggendong dua anak laki-laki berbeda umur.


"Emm.. aku rasa ini Ichi." tebak Whuang menunjuk bocah 4 tahunan yang berdiri sendiri dengan wajah tetap datar disamping Tuan Khang muda yang terlihat tampan menggendong satu bayi 2 tahunan yang terlihat dimanjakannya.


"Kenapa Ichi terlihat tak senang? mereka-kan utuh."


Whuang mencoba mencerna hingga ia melihat jika Tuan Khang sama sekali tak memeggang tangan mungil itu. Sosok kecil itu berdiri sendiri dengan jarak memang dekat tapi tak dengan aura didalam sana.


"Apa ini yang dikatakan Zuan. jika, Ichi diperlakukan keras oleh Ayahnya."


Halaman selanjutnya memperlihatkan foto-foto dimana sosok kecil tadi tampak duduk sendirian di sebuah kursi didepan meja yang ada tumpukan buku-buku yang sangat banyak dengan wajahnya terlihat ditekan.


"I...ini .."


Whuang semakin syok saat tiba dihalaman selanjutnya dimana sosok kecil itu lagi tengah berlumuran darah tergeletak diatas lantai dengan para macan hitam yang mengelilinginya, Nuansa gelap sangat kental dan semua foto-foto ini terlihat begitu mengingatkan akan sebuah siksaan.


"Apa begini cara Tuan Khang mendidik anaknya? tapi seharusnya tak perlu sekeras itu." geram Whuang tak tega melihat foto-foto penuh penyiksaan Daychi yang mengingatkanya akan perlakuan Tuan Jirom yang tak jauh berbeda.


"Aku tahu rasanya." gumam Whuang nanar. Berarti Daychi yang selama ini bersikap egois dan kasar ingin menang sendiri memang berdalih dari keadaan hidupnya. pantas jika pria itu sangat tak bisa di prediksi.


Lama Whuang melihat-lihat semua kenangan itu memantik simpati darinya. Ia semakin kagum pada Daychi yang mampu berdiri sendiri setelah mendapat kecaman seperti ini.


"Bunga?" pandang Whuang beralih kearah tengah halaman dimana ada satu tangkai mawar merah kering yang tampak sudah lama disini.


"Ichi suka Bunga?" gumamnya lagi menghirup aromanya yang tak lagi tercium. Ia memandanginya penuh heran sampai tangan Whuang tak sengaja menggeser lembaran berikutnya hingga ..


Degg....


Mata Whuang melebar melihat satu foto yang memperlihatkan gambaran mengejutkan.


"I..Ini..."


Whuang mengambilnya heran dan perasaan terkejut. Foto dimana Daychi mencium kening seorang wanita cantik yang tampak terlelap dan itu bukan wanita Tiongkok.


"A..Apa keluarganya? t..tapi.. " hatinya terasa berat dan begitu penasaran. Dilihat dari raut wajah Daychi begitu sangat lembut dan tak sama dengan Daychi yang bersamanya selalu.


"M..mungkin ini sepupu atau ponakannya! atau.. sebaiknya aku tanyakan langsung. yah, aku ... aku tak boleh menerka yang tidak-tidak." gumam Whuang meyakinkan diri sendiri.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2