
Langkah lebar wanita itu berjalan sempoyongan menerobos semak-semak yang ada dipinggir jalan. Sudah jauh ia dari Kediaman berjalan sendirian hanya di temani Kay yang sedia mengikuti dibelakang sana.
Tangis itu ia redam dikala rasa sesak dan sakit yang semakin nyata membelenggu hatinya. Whuang hanya menangis, ia menenggelamkan dirinya didalam kegelapan hutan hanya diterangi cahaya rembulan diatas sana.
Lama ia berlari sampai akhirnya Whuang jatuh didekat sebuah pohon besar yang langsung menjadi tempat sandarannya.
"Aaaaaa!!!!!" Ia menjerit sekuat tenaga untuk melepas semua beban yang ada didadanya. Air matanya lolos tak lagi mampu ia tahan.
"Kenapa???? Kenapa dia tak bisa mencintaiku???? hiks, Kenapa???" teriak Whuang membelah dinginnya malam.
Hatinya sakit dan begitu sakit tak mampu ia rasakan lagi tanah lembab dan kedinginan di sekujur kulitnya.
"A..apa aku salah. Ichi? aku...aku hanya ingin pernikahan ini berubah. h..hanya itu, hiks!" isak Whuang menekuk kedua lututnya membenamkan wajah sembab dan menyedihkan itu.
"K..kenapa? aku...aku sangat mencintaimu. aku..."
"Kenapa kau menangis?"
Degg...
Whuang tersentak mendengar suara itu dibelakangnya hingga ia mengangkat wajahnya menoleh kearah belakang dengan wajah memucat.
"K..Kau ..."
"Hm? kau masih mengenalku?"
Sosok itu keluar dari tempat persembunyiannya tadi. Seringaian liciknya muncul mendekati Whuang yang tampak gemetar pucat di tempatnya.
"A...Ayah!"
"Ayah?" tanya-nya dengan penuh keremehan lalu tertawa keras membuat rasa takut di tubuh Whuang kian meningkat.
"Kau masih berani memanggilku dengan kata itu?"
Whuang diam mencengkram kedua sisi Blazer-nya dengan wajah sudah dingin dan mata mengigil waspada.
"K...kau mau apa?" Whuang beringsut mundur saat langkah pria paruh bayah itu semakin mendekat membuatnya merapat ke pinggir pohon itu.
"Mau apa?"
Tanya-nya lagi dengan wajah benar-benar terlihat menyeramkan di pandangan mata abu Whuang yang sudah terlihat menahan takut.
"Kau masih ingat ini?"
"J..Jangan!!!"
Whuang terkejut saat Tuan Jirom mengeluarkan rantai yang sama persis dengan yang dulu membuat tubuh Whuang dingin dengan pikiran telah dikuasai ketakutan.
__ADS_1
"Ini sangat ingin menempel di tubuhmu!"
"J...Jangan!"
Whuang ingin berdiri tapi kakinya lemas hingga hanya bisa bersandar di pohon itu menekuk kedua kakinya ingin menjahui Tuan Jirom yang sudah terlihat puas dengan kondisi alatnya ini.
"Cobalah sedikit! kau pasti menyukainya!"
"T .tidak...a..ayah j.."
"Rasakan ini di kulitmu!"
Tuan Jirom menghantamkan benda itu ke lengan Whuang yang langsung histeris mencoba menghindar dengan menahan cambukan itu tapi tangannya malah di tusuk jarum itu.
"S...ssakit, hiks!"
"Masih belum!"
Tuan Jirom menggila mencambuk kaki Whuang sekuat tenaga sampai darah itu mengalir membasahi Gaun malamnya. Whuang hanya bisa menjerit menahan sakit karna bergerak-pun ia tak bisa karna tubuhnya tiba-tiba lemas.
"A..Ayah!!! hiks, s..sudah... s..sakit, Ayah!"
"Ini sakit? sakit. tapi kau masih menghianatiku!!!"
"S..Sakittt!!!" jerit Whuang menahan segalanya sampai ia merasakan kembali apa yang begitu menyiksa tubuhnya. Jarum-jarum itu seakan menusuk dalam dan begitu sangat mengoyak kulitnya.
Kay berusaha menolong dengan mencakar betis Tuan Jirom yang bahkan menendangnya sampai terhantam ke pohon didekat Whuang yang sudah tergorok na'as dengan tubuh kembali dipenuhi luka kecuali wajahnya.
"S...Sakit!"
"Kau memang bodoh!!! kau bodoh. Whuang!!" bentak Tuan Jirom dengan nafas memburu emosi. Whuang tak bisa berbuat banyak selain menahan semua sakit yang membelenggu jiwanya.
"Hanya demi Cinta yang tak berguna itu kau mengorbankan hidup-mu? apa itu berguna? apa dia juga membalasnya??"
"Aku sangat mencintainya!"
Kata-kata Daychi kembali terulang di benak Whuang yang mencengkram tanah di bawahanya. Ia sakit dan sekarat karna ini tapi kenapa ia tak bisa membencinya sama sekali.
"Kau hanya dimanfaatkan olehnya! kau tahu itu. ha???"
"T..tidak, d..dia tak seperti itu." bantah Whuang masih dengan suara ciutnya menahan sakit dimana-mana.
"Tidak. bagaimana? buka matamu dan lihat bagaimana dia memperlakukanmu!"
"Ichi tak begitu!!!! dia mencintaiku!!!! kau yang brengsek!!!" bentak Whuang sekali lagi mendapat gamparan diwajahnya oleh Tuan Jirom yang sudah berapi-api.
"Kau masih membelanya. hm?"
__ADS_1
"D..dia tak begitu, a..ayah! dia...dia baik padaku. dia.. melindungiku dan..."
"Melindungimu lalu memanfaatkanmu sebagai senjatanya!"
Whuang diam menatap lemah Tuan Jirom yang menggeleng dengan mata jijik melihat keadaan tak berdaya dirinya.
"Dimana pria itu sekarang? dimana pria yang begitu kau cintai itu ketika kau membutuhkannya?"
Nafas Whuang tercekat kuat. Bibirnya kembali bergetar mengingat kata-kata dan perlakuan Daychi tadi seakan memandangnya hanya sebagai penghangat ranjang saja.
"D ..dia..."
"Kemana? apa dia bersamamu? apa dia mencari-mu saat kau tak ada? tidak bukan?!" remeh Tuan Jirom menarik isak tangis Whuang yang tak tahan lagi hingga mencengkram dadanya.
K..kenapa? aku...aku sudah jatuh cinta padamu. k..kenapa kau lakukan ini?! kenapa Daychi?
"Tak ada yang namanya ketulusan dalam dunia ini!! mereka hanya akan dekat ketika kau sudah punya hal yang menguntungkan dan begitu berharga bagi mereka, saat-saat seperti ini tak ada yang akan mau menopangmu."
Whuang diam terus menangis meluapkan segala rasa sakit itu. Takdir yang buruk selalu menimpanya dan apa ia kutukan atau malapetaka itu sendiri?!
"Buka matamu. Whuang! mereka hanya ingin menggenggam dunia ini sendirian, mereka egois dan selalu membuat wajah baru setiap harinya. menipu mata semua orang lemah dan menjjikan sepertimu!!" geramnya seperti sudah mengalami. Ia seakan ikut menceritakan sebuah pengalaman hidup yang pahit di dunia kelam ini.
"B...Bagaimana dengan kau?" tanya Whuang menatap Tuan Jirom yang malah terkekeh pelan.
"Aku?"
"Hm. k..kau juga sama. bukan?"
Gelak tawa Tuan Jirom membeludak mendengar pertanyaan itu menggelitik perutnya. Whuang hanya diam menatap semua tingkah gila Ayahnya yang sampai saat ini tak ia mengerti.
"Kau itu alat bagiku. Whuang! kau peliharaan yang sangat menguntungkan-ku."
"Sebenarnya aku ini anakmu atau bukan. ha??? kenapa kau melakukan semua ini padaku??? kenapa???" bentak Whuang dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca mempertanyakan hal yang selama ini ingin ia keluarkan tapi takut bicara.
"Kenapa aku ...aku tak sama dengan anak-anak di luaran sana? aku...aku juga ingin seperti itu!!" sambung Whuang sedikit sendat karna sekugukan itu mulai kental di nafasnya.
"K..kenapa. Ayah? hiks. kenapa?"
"Kau ingin tahu?" desis Tuan Jurom berjongkok lalu mencengkram kuat kedua pipi Whuang yang tampaka leban dan bengkak dengan bibir berdarah akibat tamparan berubtun malam ini.
"Karna kau. BUKAN DARAH DAGINGKU!"
Duarrr....
.......
Vote and Like Sayang.
__ADS_1